"Tiga puluh?"
"Itu dari kelompok pengajian ibuk saja, nduk."
Jihan meletakkan pulpen. Di hadapannya, Ibuk masih menghitung nama dengan tenang, sementara Mama membaca daftar dari kacamatanya. Dua ibu itu tampaknya jauh lebih siap daripada kedua calon pengantin yang duduk berdampingan.
"Buk, rumah kita nggak bisa melebar," gumam Jihan.
"Makanya dihitung. Belum semuanya diundang."
Mama terkekeh. "Anakmu sudah panik duluan, Fit."
"Lha, anakmu diam saja dari tadi, Mai."
Bian yang sedang memeriksa kalender langsung mengangkat kepala. Salah apa lagi dirinya? Dari tadi juga mendengarkan, hanya tak ikut berkomentar setiap satu nama disebut.
"Saya dengar, Buk."
"Nah. Menurutmu gimana?"
Bian mendekatkan lembar daftar ke tengah meja. "Yang akad tetap keluarga dekat dan teman dekat, ya. Pengajian boleh lebih banyak, tapi kita lihat ruangnya dulu. Jangan sampai tamu nggak nyaman."
Ibuk mengangguk. Beliau tidak keberatan, hanya perlu menentukan siapa hadir pada acara yang mana. Jihan merasa sedikit lega, lalu menuliskan dua judul di kertas berbeda supaya nama-namanya tak bercampur lagi.
Di ruang makan, Bapak dan Papa sedang membahas tempat parkir. Sesekali suara mereka terdengar, diselingi bunyi sendok dari dapur. Bik Sri sibuk menyiapkan tambahan teh untuk rapat keluarga yang entah kenapa selalu membuat gelas cepat kosong.
Malam itu mereka akhirnya bisa duduk dengan jadwal masing-masing di tangan. Setelah urusan berkas ditindaklanjuti, pilihan hari untuk akad sudah bisa dibicarakan lebih pasti. Jihan telah menanyakan izin kepada pembimbingnya, sementara Bian membawa jadwal proyek yang tidak bisa ditinggal begitu saja.
"Sabtu yang ini?" Mama menunjuk kalender.
"Aku bisa, Ma. Izinnya sudah dibicarakan, tinggal menyerahkan tanggal pastinya," jawab Jihan.
Bian memeriksa catatannya sekali lagi. Masih ada beberapa minggu untuk bersiap. Cukup dekat untuk membuat dadanya hangat, cukup dekat pula untuk membuatnya sadar bahwa seluruh daftar ini benar-benar akan menjadi hidupnya.
"Saya juga bisa."
Jihan menoleh. "Bener? Nggak besok ada Jepang lagi?"
Ruangan mendadak hening sesaat sebelum Mama menghela napas. Bian menatap Jihan, tahu pertanyaan itu bukan sepenuhnya gurauan.
"Saya sudah bicara dengan Papa. Kalau ada penugasan lain, kita atur dari sekarang."
Papa yang mendengarnya dari meja makan langsung menyahut.
"Iya. Tapi pekerjaan sebelum cuti tetap dibereskan, mas. Jangan semua dilempar sehari sebelum akad."
"Nggeh, Pa."
Jihan mengulum senyum. Kali ini Bian tidak sekadar berkata nanti diusahakan. Ada jadwal yang sudah ia bawa dan seseorang yang mengetahui rencananya.
Ibuk melingkari hari itu dengan pulpen merah. Jihan memperhatikan lingkarannya, mendadak tak ingin bercanda lagi.
Ia akan menikah pada hari itu.
Astaga. Rasanya baru kemarin ia menggerutu karena harus berkenalan dengan laki-laki pilihan Mama dan Ibuk. Sekarang ia ikut menentukan berapa kursi yang perlu disiapkan untuk akad mereka.
"Kok diam, nduk?"
"Deg-degan, Buk."
Ibuk mengusap punggungnya. "Wajar. Ibuk juga."
.
.
Pembicaraan berikutnya ternyata lebih sulit daripada memilih hari: undangan siapa yang harus dikurangi.
Jihan ingin Shasya dan Ranza datang. Bian juga memiliki beberapa teman dekat yang ingin dihubunginya sendiri. Mama mencatat anggota keluarga yang akan membawa anak, sementara Ibuk beberapa kali mencoret lalu menulis ulang jumlah orang.
"Kalau teman kantor semua datang, nggak muat," ujar Bian.
"Ya pilih yang dekat saja. Sisanya kamu sampaikan baik-baik," jawab Papa.
Jihan memutar cincin pertunangannya pelan. Ada satu hal yang sejak tadi mengganjal, tetapi ia malu mengatakannya di depan semua orang.
"Aku nggak mau undangannya dibagikan ke grup besar dulu," ujarnya akhirnya.
"Grup kampus?" tanya Mama.
"Teman dekat aku kabari satu-satu saja, Ma. Alamat sama jam acaranya juga."
Bian menoleh sebentar, lalu mengangguk. Ia paham tanpa Jihan perlu menyebut Dante di meja itu.
"Saya juga begitu. Biar jumlahnya jelas."
Ibuk menyetujui. Tidak ada yang memaksa Jihan membagikan hari pribadinya pada semua orang. Ia kembali menunduk, menyelesaikan daftar dengan perasaan lebih tenang.
Shasya ia tandai lebih dulu, lalu Ranza. Jihan perlu menanyakan jadwal mereka sebelum menganggap keduanya bisa datang. Ia tahu betul repotnya meninggalkan rumah sakit tanpa mengatur pengganti. Setelah itu ia menggeser daftar pada Bian, meminta lelaki itu memeriksa ejaan nama teman-temannya sendiri.
Setelah urusan tamu, barulah warna pakaian dibahas. Mama menunjukkan beberapa contoh dari ponselnya. Jihan menyukai yang sederhana, sedangkan Ibuk mempertimbangkan agar kainnya nyaman dipakai seharian.
Bian hanya mengangguk pada tiga foto pertama.
"Mas, semua kamu iyain."
"Semuanya bagus."
"Ini modelnya beda-beda."
"Yang kamu nyaman."
Jihan memiringkan kepala, menatapnya curiga. "Kamu lihat fotonya apa lihat email?"
Bian langsung membalik ponselnya di meja. Terlambat. Mama sudah menggeleng, sementara Ibuk menahan tawa di balik cangkir.
"Sebentar, tadi pesan tim. Saya lihat sekarang."
Ia mendekat sungguhan, memperhatikan gambar yang ditunjukkan Jihan. Pilihannya akhirnya jatuh pada model yang paling sedikit hiasannya. Jihan mengangguk, lalu menandainya untuk dibawa saat mengukur pakaian nanti.
"Tuh, bisa milih kalau ponselnya ditaruh," gumamnya.
"Iya, Bu."
"Belum ibu-ibu."
"Calon."
Pipi Jihan mendadak hangat. Bian kembali memasang wajah datar, seolah bukan dirinya yang barusan membuat Jihan kehilangan kata-kata.
Dasar. Giliran begini saja lancar.
.
.
Ketika para orang tua beralih membicarakan makanan, Jihan keluar sebentar ke teras depan. Udara malam terasa lebih dingin setelah hujan. Ia memandangi halaman yang beberapa minggu lagi akan menjadi tempat tamu-tamu berdatangan.
Ada pot yang perlu digeser. Sepatu Bapak di dekat pintu. Bangku tempat ia biasa menunggu jemputan. Semuanya terasa sangat biasa, tetapi malam itu Jihan tiba-tiba ingin memperhatikannya lebih lama.
"Jih?"
Bian berdiri di ambang pintu, membawa gelas air putih untuknya.
"Ini. Tadi tehmu belum habis. Mau yang ini saja?"
Jihan menerimanya. "Makasih."
"Capek?"
"Nggak. Kepikiran nanti aku nggak tiap hari di sini."
Bian duduk di bangku sebelahnya. Ia mengikuti arah pandang Jihan menuju tanaman di dekat pagar.
"Saya juga bakal kangen rumah."
"Padahal apartemennya bagus, ya. Aku senang, tapi sedih juga. Aneh nggak?"
"Nggak."
Jihan mengusap embun di sisi gelas dengan ibu jarinya. "Aku anak satu-satunya, mas. Kalau ibuk sama bapak butuh apa-apa, aku mau tetap bisa datang."
"Bisa."
"Jangan dihitung harus nunggu minggu kunjungan, ya. Yang kemarin kita omongin itu buat rutin aja."
Bian menoleh, lalu mengangguk sungguh-sungguh. "Iya. Kalau mereka perlu kita, ya kita datang. Mama Papa juga begitu."
Jihan tersenyum tipis. Di dalam, suara Ibuk masih terdengar berdebat kecil soal porsi sambal dengan Mama. Hal yang sangat akrab, sampai rasanya mustahil suatu hari ia akan merindukannya dari tempat lain.
"Jangan sedih terus. Nanti dikira saya belum apa-apa sudah bikin nangis," ujar Bian.
Jihan mendelik. "Memang udah sering."
Bian terdiam, lalu mengangguk pasrah. "Iya juga."
Jihan akhirnya tertawa. Ia menyenggol lengan Bian pelan, kemudian bangkit ketika Ibuk memanggil dari dalam.
Di meja, kalender itu masih terbuka. Lingkaran merahnya tampak jelas di antara coretan lain.
Jihan memotretnya sebelum kembali duduk. Bukan untuk dibagikan pada semua orang. Malam ini, ia hanya ingin menyimpan bukti bahwa setelah sekian banyak penundaan, akhirnya ada satu hari yang benar-benar mereka pilih bersama.