"Bukan, Om! Yang biru!"
Bian menghentikan tangannya di atas kotak mainan. Di depannya, Kavin menunjuk sebuah kepingan dengan wajah serius. Rupanya pembangunan garasi untuk mobil mainan lebih rumit daripada dugaan pak arsitek.
"Ini?"
"Itu merah, Om."
Bhima yang lewat membawa gelas langsung tertawa. "Kalah sama klien kecil, lo."
"Ambilin sana kalau tahu."
"Saya dokter. Bukan kontraktor."
Bian melempar tatapan sebal, sementara Kavin sudah mengambil sendiri kepingan yang dimaksud. Ia meletakkannya dengan hati-hati, lidah sedikit terjulur karena berkonsentrasi.
Minggu siang itu rumah kembali ramai. Aliya sedang menidurkan Kenzie, si kembar menonton di dekat Papa, sedangkan Mama, Jasmine, dan Kani memenuhi dapur. Jihan duduk tidak jauh dari karpet tempat Bian dan Kavin bermain.
Sejak datang tadi ia belum mencoba mendekat. Kavin sempat melirik ketika Jihan menyapanya, lalu kembali menekuni mainan. Tidak ada teriakan, tetapi juga belum ada jawaban.
Jihan memilih menunggu.
Pikirannya masih cukup ringan setelah pertemuan singkat dengan Mama Nadia beberapa hari lalu. Bian benar-benar menemaninya, tetapi membiarkan Jihan berbicara lebih dulu. Mama Nadia mendengarkan, lalu membantu menghubungkannya dengan petugas keamanan agar kedatangan Dante sebelumnya tercatat dengan jelas.
Jihan belum bisa menganggap gangguan itu selesai. Setidaknya sekarang ia tahu harus menghubungi siapa kalau Dante muncul lagi. Ia juga tidak perlu mencari tempat bersembunyi sambil menahan panik sendirian.
Hari ini, masalah di depannya berbeda. Seorang anak kecil yang selalu menjauh darinya.
"Tante, bantu pilih warna dong," pinta Bryna sambil menyodorkan sekotak pensil.
Jihan bergeser. "Buat apa, dek?"
"Bajunya ini."
Di buku gambar Bryna ada beberapa orang dengan tangan saling terhubung. Jihan menebak-nebak siapa siapa, sampai Bryna menunjuk sosok paling pinggir.
"Ini tante. Sebelah Om Bian."
"Oh, tante tinggi sekali."
"Biar muat kerudungnya."
Jihan terkekeh, lalu mengambil pensil berwarna lembut. Dari sudut matanya ia melihat Kavin berhenti memasang kepingan. Anak itu menatap gambar Bryna sebentar, kemudian menunduk lagi.
.
.
Garasi kecilnya akhirnya berdiri, meskipun pintunya agak miring. Bian baru hendak membetulkan ketika Kavin lebih dulu menahan tangannya.
"Jangan dibongkar."
"Nggak, cuma digeser sedikit. Biar mobilnya bisa masuk."
Kavin menggeleng kuat. Tangannya menutupi atap garasi, matanya mulai berair. Bian langsung meletakkan kepingan yang dipegangnya.
"Oke. Nggak diubah."
Aliya yang sudah kembali dari kamar duduk di ujung karpet. Ia menatap putranya, lalu Bian, tetapi belum berkata apa-apa.
"Kalau Om pergi, jangan dibongkar juga," gumam Kavin.
"Om mau pergi ke mana?"
"Sama tante."
Bian melirik Jihan. Jihan tak menyela, hanya menurunkan pensil dari tangannya.
"Om nanti tinggal di tempat lain, tapi masih bisa main di sini, bang."
Kavin menggeser mobilnya, tidak menatap siapa pun. "Dulu Om juga pergi lama."
Kalimat itu membuat Bian terdiam. Ia teringat panggilan video dari Jerman, bagaimana Kavin kadang hanya sempat melambaikan tangan sebelum ia harus menutup telepon. Saat pulang, anak itu sudah lebih tinggi, bicaranya lebih jelas, mainannya pun berganti.
"Waktu di Jerman?"
Kavin mengangguk kecil.
"Nanti pergi lama lagi."
Aliya mengusap punggung putranya. "Jadi abang takut Om Bian nggak pulang?"
Kavin tak menjawab. Tetapi bibirnya sudah maju dan matanya kembali menggenang.
Bian menelan ludah. Selama ini ia sibuk menduga Kavin tidak suka Jihan karena belum terbiasa. Pernah pula terpikir soal penampilan Jihan yang berbeda dari para perempuan di rumah. Ia belum mendengar alasan dari anak itu sendiri.
"Tempat Om nanti dekat, bang. Bukan naik pesawat."
"Tapi boboknya nggak sini."
"Iya. Itu memang beda."
Bian tak bisa menjanjikan selalu tidur di rumah ini. Ia juga tak ingin asal mengangguk hanya supaya Kavin berhenti sedih.
"Kalau Om datang, kita bisa lanjut main. Garasinya simpan di sini. Boleh Om bantu lagi lain kali?"
Kavin memandang bangunannya cukup lama sebelum mengangguk sekali.
Jihan bergeser mendekat sedikit, masih menyisakan jarak.
"Tante duduk sini boleh?"
Kavin melirik Aliya. Setelah mommynya tersenyum, ia tidak mengusir ketika Jihan duduk di ujung karpet. Bagi Jihan itu sudah pencapaian yang cukup besar. Jangan mendadak berharap dipeluk juga, nanti targetnya kebanyakan.
"Tante nggak pintar bikin garasi," ujar Jihan, memperhatikan bangunan itu. "Kalau tante pegang yang salah, abang kasih tahu, ya."
"Jangan pegang atapnya."
"Nggeh. Atapnya nggak tante pegang."
Sebuah roda lepas menggelinding ke dekat kaki Jihan. Ia mengambilnya, lalu meletakkannya di karpet, tidak langsung menyodorkan ke tangan Kavin.
Anak itu meraih roda tersebut setelah beberapa saat. Bian menahan keinginan tersenyum terlalu lebar. Kalau semua orang tiba-tiba heboh, bisa-bisa Kavin kabur lagi.
Aliya membelai rambut putranya pelan.
"Bang, waktu dulu abang lempar mainan sampai kena tante, tante sakit. Kalau abang sedih, bilang sama mommy. Bukan dilempar, ya."
Kavin menunduk. Jarinya berhenti memutar roda.
"Maaf," gumamnya nyaris tak terdengar.
Jihan merasa tenggorokannya menghangat.
"Iya, tante maafin. Makasih sudah bilang."
Ia tidak meminta cium atau peluk sebagai balasan. Kavin kembali memainkan mobil, dan kali ini ketika Jihan bertanya mobil mana yang boleh dipakainya, anak itu mendorong sebuah mobil kecil ke arahnya.
Yang rodanya tinggal tiga.
Ya sudahlah. Diterima dulu, urusan bengkel belakangan.
.
.
Sesudah makan siang, Jihan membantu Jasmine merapikan piring sementara Bian membawa gelas ke dapur. Kani mengikuti dari belakang, matanya berbinar jahil.
"Gimana, mas? Konsultan garasinya sudah dibayar?"
"Belum. Kliennya tidur."
"Bayar pakai biskuit aja kali, mas."
Jihan tertawa sambil membilas tangannya. Di ruang tengah, Kavin sudah bersandar pada Aliya, lelah setelah sejak pagi mempertahankan garasi kecilnya. Tidak semuanya selesai dalam satu siang. Tadi ia masih menolak ketika Jihan menawarkan mengambilkan minum. Tapi setidaknya sekarang Jihan tahu ada rasa takut di balik wajah jutek itu.
Bian berdiri di sebelahnya, memperhatikan air yang mengalir dari keran.
"Maaf saya dulu cuma bilang jangan diambil hati."
Jihan menoleh. "Kamu juga belum tahu, mas."
"Saya harusnya dengarkan dia lebih sabar."
"Tadi sudah. Besok-besok tinggal dilanjut."
Bian mengangguk, lalu membantu mengeringkan piring. Gerakannya agak kaku karena Kani terus mengomentari cara ia memegang lap.
"Ini lap piring, mas. Bukan kain poles mobil."
"Kamu mau ambil alih?"
"Nggak. Aku bagian mengawasi."
Jihan tertawa sampai bahunya bergetar. Bian mengembuskan napas pasrah, terjebak di antara adik yang cerewet dan tunangan yang terang-terangan menikmati penderitaannya.
Ketika hendak pulang sore itu, Jihan melambaikan tangan pada Kavin. Anak itu masih setengah mengantuk di sofa.
"Tante pulang dulu, bang."
Kavin memandangnya, lalu menunjuk karpet.
"Mobilnya tinggal sini."
"Iya. Nanti tante main lagi kalau boleh."
Tidak ada jawaban. Tetapi kali ini Kavin mengangkat tangannya sedikit, membalas lambaian Jihan sebelum kembali menyandarkan kepala.
Jihan masuk ke mobil dengan senyum yang susah disembunyikan.
"Senang?" tanya Bian.
"Banget. Aku boleh main mobil, mas."
"Rodanya kurang satu."
"Biar. Jangan rusak kebahagiaanku."
Bian akhirnya tertawa pendek. Jihan menoleh cepat, seolah harus memastikan suara itu benar-benar berasal dari lelaki di sebelahnya. Hari ini, di tengah urusan pernikahan yang belum selesai, mereka membawa pulang sesuatu yang tak bisa dibeli dari toko mana pun.
Satu lambaian kecil dari Kavin.