Jihan sudah membaca pesan Bian tiga kali sebelum akhirnya memasukkan ponsel ke dalam tas. Bian akan datang setelah magrib. Tidak ada rencana keluar, tidak ada kejutan. Hanya datang untuk mendengarkan cerita yang semalam belum jadi diucapkannya.
Masalahnya, sekarang giliran Jihan yang ingin menunda.
"Lo mau nunggu sampai kapan?" tanya Shasya saat mereka berdua berjalan menuju tempat ganti.
"Nggak tahu."
"Han."
"Iya, gue cerita nanti. Gue cuma... takut dia ngamuk."
Shasya berhenti di sebelahnya. Keriuhan koridor terdengar dari balik pintu, sementara Jihan sibuk merapikan ujung kerudung yang sebenarnya sudah rapi.
"Lo waktu itu nggak ngundang Dante datang, kan?"
Jihan menggeleng cepat.
"Ya udah. Jangan ngomong seolah lo yang salah."
Jihan menatap lantai sebentar. Nasihat itu terdengar gampang ketika diucapkan Shasya. Begitu ia membayangkan wajah Bian di dalam mobil setelah kondangan Jennita, perutnya malah terasa mengeras.
Ia ingat bunyi kemudi yang dipukul, suara bentakan, juga bagaimana ia menutup telinga sambil menangis. Bian bilang marah pada dirinya sendiri. Tapi yang duduk ketakutan di sebelahnya tetap Jihan.
"Gue pulang dulu, Sya. Bapak udah nunggu."
"Kabari gue nanti."
Jihan mengangguk sebelum berjalan keluar.
.
.
Bian datang tepat ketika Bik Sri selesai membereskan meja. Ia sempat menyapa Bapak, lalu duduk di ruang tengah bersama Jihan. Ibuk ada di ruang sebelah, memeriksa sesuatu di laptopnya.
Tidak ada yang mendesak Jihan untuk mulai. Justru karena Bian diam, ia jadi semakin sadar bahwa kali ini perhatian lelaki itu utuh padanya.
"Mau minum lagi?" tanyanya.
"Masih penuh, Ji."
"Oh, iya."
Bian melirik gelasnya, lalu kembali menatap Jihan. "Soal apa?"
Jihan menarik napas. "Dante datang ke rumah sakit waktu kamu di Cirebon."
Raut Bian berubah seketika. Bahunya menegang, tangan yang semula berada di sandaran sofa turun ke lutut.
"Kapan?"
"Waktu itu. Dua kali. Yang pertama aku bisa menghindar, dibantu suster. Yang kedua dia nemuin aku di depan poli."
"Dia ngapain?"
Jihan menjelaskan perlahan. Bagaimana Dante mencoba menyentuh wajahnya dan ia menepis, bagaimana ia berjalan menjauh tetapi terus diikuti. Sampai akhirnya ia berteriak dan satpam datang. Mama Nadia membawanya ke ruangan setelah Dante dikeluarkan.
Bian hendak berdiri. Jihan langsung mengangkat wajah.
"Mas, duduk dulu. Aku belum selesai."
Ada jeda sebelum Bian kembali bersandar. Rahangnya masih mengeras.
"Kenapa saya baru tahu sekarang?"
Pertanyaan itu sudah Jihan duga, tetapi tetap membuat ujung jarinya dingin.
"Karena aku takut. Bukan cuma sama Dante. Aku takut kamu marah kayak waktu di mobil."
Bian menatapnya tanpa bicara.
"Waktu itu kamu ngebut, mas. Kamu bentak-bentak. Aku tahu kamu bilang marah sama diri sendiri, tapi aku yang ada di situ. Aku nggak tahu harus ngomong apa supaya kamu berhenti."
Kali ini Bian tak punya jawaban cepat. Ia ingat amarahnya sendiri lebih jelas daripada wajah Jihan. Mendengar Jihan menceritakan sisi yang lain membuat ingatan itu terasa berbeda.
Ia menunduk, mengusap kedua telapak tangannya perlahan.
"Saya bikin kamu takut cerita."
Jihan mengangguk kecil. Matanya mulai berkabut, tetapi ia tak ingin kembali menghabiskan percakapan ini dengan menangis.
"Aku mau kita terbuka. Makanya sekarang aku cerita. Tapi tolong jangan langsung pergi nyari dia. Aku nggak mau kamu berkelahi terus semuanya tambah ribut."
Bian meraih gelasnya, minum sedikit. Ia perlu sesuatu untuk membuat tangannya berhenti mengepal.
"Saya marah," katanya akhirnya. "Sama dia. Tapi saya nggak akan cari dia malam ini."
Jihan mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
"Dan soal di mobil itu... saya salah. Seharusnya kamu nggak perlu menenangkan saya waktu kamu sendiri sedang takut."
Ia menatap Jihan ketika mengatakannya, tanpa menyelipkan alasan pekerjaan atau kalimat bahwa dirinya memang begitu. Jihan menyeka sudut matanya dengan ujung jari.
"Dia tahu tempat koasmu dari mana?" tanya Bian, lebih pelan.
"Grup alumni SMP. Aku pernah jawab di sana. Baru sadar dia juga ada di grup."
"Setelah kejadian itu dia datang lagi?"
"Sejauh yang aku tahu, nggak. Tapi aku masih kepikiran kalau pulang sendirian."
Bian mengangguk, kemudian mengambil ponselnya. Jihan spontan melirik gerakannya, membuat tangan Bian berhenti.
"Mau catat, Ji. Bukan telepon dia."
Jihan merasa sedikit malu, tetapi Bian tidak menertawakannya.
Mereka menuliskan urutan kejadian yang masih Jihan ingat. Tidak semuanya rinci, dan Bian tidak memaksanya mengingat jam yang sudah lupa. Ia hanya bertanya siapa yang ada saat itu, lalu membiarkan Jihan menjelaskan dengan kalimatnya sendiri.
"Besok saya temani kalau kamu mau ngomong lagi sama Mama Nadia. Bukan untuk bikin heboh. Supaya kalau dia datang, orang di depan tahu kamu nggak mau ditemui."
"Boleh. Tapi aku yang cerita, ya."
"Iya."
"Dan jangan larang aku koas."
Bian mengangkat wajah. Jihan menatapnya sungguh-sungguh.
"Saya nggak akan minta kamu berhenti."
Baru setelah mendengar jawaban itu Jihan bersandar. Ada lelah yang terasa sampai ke bahunya, seperti baru menurunkan tas berat setelah perjalanan jauh.
.
.
Ibuk datang membawa potongan buah beberapa menit kemudian. Beliau berhenti ketika melihat mata Jihan memerah, tetapi tidak langsung bertanya di depan Bian.
Justru Jihan yang memanggilnya duduk.
"Buk, adek mau cerita. Soal Dante."
Wajah Ibuk langsung berubah. Beliau ingat nama itu, juga hari ketika putrinya pulang sekolah dalam keadaan menangis. Jihan menggenggam tangan Ibuk sebelum beliau sempat berdiri memanggil Bapak.
"Sekarang adek aman. Dengar dulu, ya."
Bian bergeser, memberi ruang. Kali ini ia mendengarkan Jihan mengulang ceritanya tanpa mengambil alih satu kalimat pun. Sesekali Jihan menoleh padanya, seolah memastikan ia masih tenang.
Ia berusaha tetap begitu.
Setelah Bapak ikut duduk, pembicaraan berlangsung lebih lama. Bukan soal menyalahkan Jihan karena terlambat bercerita. Bapak justru bertanya jemputan apa yang paling membuatnya nyaman sementara ini.
"Kalau adek selesai sebelum mas, bisa bareng Shasya atau Bapak. Nanti adek kasih tahu. Jangan semuanya datang terus saling tunggu," jawab Jihan.
Ibuk mengangguk sambil mengusap punggung tangannya.
"Kalau ada apa-apa lagi, bilang. Nggak usah ditahan sendirian."
"Nggeh, Buk."
Ketika Bian pamit, Jihan mengantarnya sampai dekat pintu. Wajah lelaki itu masih tampak serius, tetapi suaranya tak lagi keras.
"Besok saya bisa datang sebelum jam kantor. Kamu tanya dulu Mama Nadia ada waktu atau nggak. Jangan mendadak mengganggu praktiknya."
"Iya, mas."
Jihan memainkan ujung lengan bajunya sebelum melanjutkan.
"Kamu nggak kecewa sama aku?"
Bian menatapnya lama. Pertanyaan itu membuatnya teringat ucapan Jihan di mobil dulu, seolah ia harus meminta maaf atas perlakuan Dante.
"Saya sedih kamu sampai takut cerita. Tapi kamu nggak salah karena dia mengganggu kamu."
Jihan diam, lalu mengangguk perlahan. Bian tak menariknya mendekat. Ia menunggu sampai Jihan sendiri meraih tangannya untuk berpamitan seperti biasa.
"Makasih udah dengerin, mas."
"Terima kasih sudah cerita."
Setelah mobil Bian pergi, Jihan mengirim pesan singkat pada Shasya. Ia sudah bercerita, dan malam ini tidak ada suara bentakan di ruang tengah.
Balasan Shasya segera muncul.
Bagus. Sekarang tidur. Besok muka jangan kayak habis jaga tiga hari.
Jihan mendengus, lalu tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak melihat Dante di koridor rumah sakit, ia merasa tidak harus terus mengawasi pintu sendirian.