Pagi itu meja makan rumah Jihan berubah fungsi. Ada map, kalender, pulpen, juga secarik kertas penuh coretan di dekat piringnya. Jihan mengunyah roti sambil memandangi semuanya, lalu menghela napas panjang.
Kemarin memilih cincin rasanya menyenangkan. Hari ini melihat daftar yang harus diurus, kok, mendadak ingin menarik selimut lagi?
"Dimakan dulu, nduk. Kertasnya nggak akan lari," ujar Ibuk.
"Ini nama teman ibuk semuanya?"
"Belum. Itu yang pengajian."
Jihan menatap ibunya. "Belum?"
Ibuk terkekeh, mengambil kalender yang sejak tadi ditindih map. "Yang akad sedikit, sesuai kemauan kalian. Ibuk ingat, kok. Makanya jangan langsung melotot begitu."
Jihan kembali menunduk, sedikit malu. Ia bukan tak ingin teman-teman Ibuk datang, hanya saja daftar panjang di depannya membuat bayangan acara sederhana semalam bergeser sedikit. Ia bahkan belum tahu harus memulai dari mana.
Ponselnya bergetar di samping gelas.
Mas Abiandra
Saya berangkat kantor dulu. Kamu masuk siang, kan?
Jihan tersenyum sebelum sempat menahan diri. Wah, pagi-pagi sudah ada laporan tanpa diminta. Kemajuan, saudara-saudara.
Ia mengetik balasan, memberitahu bahwa nanti Bapak akan mengantarnya. Setelah itu ia memotret meja makan dan mengirimkannya pada Bian.
Kirana Jihan
Calon istrimu sedang rapat sama kalender.
Balasannya datang ketika ia sedang mengambil roti kedua.
Mas Abiandra
Jangan sampai kalendernya menang.
Jihan tertawa pendek. Bapak yang baru bergabung di meja makan langsung menggeleng. Tadi dahinya berlipat, sekarang tertawa sendiri. Kalau bukan ulah calon menantu, siapa lagi?
"Masmu?"
"Iya, Pak. Sok lucu."
Tapi senyumnya belum juga hilang.
.
.
Di kantor, Bian meletakkan ponselnya setelah membaca pesan terakhir Jihan. Ia baru saja meminta Patricia menandai beberapa jadwal yang masih bisa dipindah. Ada urusan pernikahan yang harus ia kerjakan sendiri, bukan sekadar diserahkan pada Mama lalu tahu-tahu datang memakai beskap.
"Untuk Jumat sore jangan ditambah dulu, Pat. Saya masih menunggu jadwal dari Jihan."
"Baik, Pak. Kalau klien minta perubahan?"
"Konfirmasi ke saya dulu. Jangan langsung setuju."
Patricia mencatat, lalu mengangkat wajahnya ketika Bian menyodorkan satu map lagi.
"Yang ini bahan rapat besok. Tolong salin untuk tim, aslinya kembalikan ke saya."
"Baik."
Bian masih memeriksa lembar terakhir ketika Patricia tersenyum kecil.
"Semoga lancar persiapannya, Pak."
Tangannya berhenti. Rupanya senyumnya tadi ketahuan juga.
"Terima kasih."
Jawabannya tetap pendek. Ya, jangan berharap mendadak pidato soal cinta di depan sekretarisnya. Bisa bubar satu lantai.
Setelah Patricia keluar, Bian memandangi kalender di layar laptop. Ada nama klien, lokasi proyek, juga satu catatan yang baru ia tambahkan sendiri: telepon Jihan setelah makan malam.
Ia sempat merasa aneh melihat namanya di sela urusan kantor. Tapi kemudian teringat bagaimana Jihan menangis ketika ia pulang dari Jepang. Rasanya jauh lebih aneh kalau ia bisa mengingat puluhan ukuran ruangan, tetapi selalu lupa mengabari seseorang yang akan tinggal bersamanya.
Bian menggeser pengingat itu beberapa menit lebih awal. Lalu ia kembali bekerja.
.
.
Sore menjelang ketika Jihan mendapat waktu untuk membuka ponsel. Ia baru selesai merapikan tugasnya bersama Shasya, sementara Ranza masih berkutat dengan lembar yang harus diperbaiki.
"Han, lo senyum melulu. Ada apa, sih?" Shasya menyikutnya pelan.
"Gue sama mas udah lihat apartemen kemarin."
"Hah? Buat tinggal?"
Jihan mengangguk. Seketika tangan Shasya berpindah ke lengannya, mencengkeram karena terlalu semangat.
"Sya, tangan gue!"
"Ya ampun, maaf. Serius? Jadi kalian nggak tinggal sama orang tua?"
"Beberapa hari di rumah mama dulu setelah akad. Habis itu pindah. Dekat sini, kok."
Shasya bersandar sambil mengembuskan napas panjang, seolah dirinya yang baru selesai membeli tempat tinggal. "Teman gue mau punya rumah tangga. Gue masih salah bawa charger. Hidup emang macam-macam."
Jihan terkikik. Ranza yang mendengar ikut tertawa tanpa mengangkat wajah.
Tapi beberapa saat kemudian Jihan kembali diam. Di layar ponselnya ada foto ruang duduk apartemen yang kemarin diambilnya. Cantik, terang, dan rapi. Ia sudah membayangkan meletakkan tas di sana sepulang jaga, lalu mencari Bian.
Kalau Bian belum pulang? Kalau ia sedang kesal? Kalau mereka kembali saling diam?
"Kenapa lagi?" tanya Shasya.
"Nggak. Kepikiran aja. Selama ini kalau kesel gue bisa pulang ke rumah, ngadu sama ibuk. Nanti kan serumah sama orang yang bikin kesel."
Shasya menahan senyumnya. "Ya jangan cuma pilih gorden, Han. Obrolin juga itu."
Jihan menatap sahabatnya.
Tumben lagi benar. Jangan-jangan charger yang tertukar membawa pengaruh baik.
.
.
Malamnya, Bian datang membawa kotak makanan titipan Mama. Ia sudah mengirim pesan sebelum berangkat, jadi Jihan tak perlu berlari turun dengan wajah kaget ketika Bik Sri membuka pintu.
"Mama titip buat ibuk. Katanya wadahnya nanti saja dikembalikan."
"Nggeh. Mas duduk dulu, aku ambilin minum."
Setelah berbincang dengan Bapak dan Ibuk, mereka duduk di teras belakang. Pintu menuju ruang tengah dibiarkan terbuka. Bapak masih menonton berita, sesekali suara televisinya terdengar sampai ke luar.
Jihan membawa buku kecil. Bian meliriknya dengan alis terangkat.
"Mau ujian saya?"
"Kalau bisa, iya. Biar tahu lulus apa nggak."
"Sudah dilamar, baru diuji."
"Belum akad, masih bisa remedial."
Bian menggeleng pelan. Jihan membuka bukunya, memperlihatkan jadwal yang tadi sempat disalinnya. Ada ruang kosong di beberapa hari, ada pula coretan rapat yang membuat Bian spontan mendekat.
"Ini jadwal kamu?"
"Sementara. Bisa berubah. Aku nggak bisa janji setiap sore bebas buat fitting atau ketemu orang katering, mas."
"Ya kita cari yang sama-sama bisa."
"Dan kalau berubah, bilang."
Bian menatapnya. Jihan tak sedang bercanda lagi.
"Aku senang banget sama apartemennya. Serius. Tapi aku masih kepikiran kalau nanti kamu pergi lagi tanpa kabar. Aku nggak mau kita nikah sambil berharap itu bakal beres sendiri."
Bian menunduk pada buku di meja. Ada bekas penghapus di pinggir jadwal Jihan. Rupanya bukan cuma dirinya yang mencoba menyediakan waktu.
"Saya pasang pengingat tadi. Untuk telepon kamu."
"Oh. Jadi aku alarm?"
"Bukan. Saya yang perlu diingatkan."
Jihan menggigit bibir bawahnya, menahan komentar yang hampir keluar. Kali ini ia ingin mendengar sampai selesai.
"Kalau sedang di lapangan, mungkin saya nggak langsung jawab. Tapi sebelum masuk saya bisa kasih tahu. Kalau ada perjalanan, saya kabari begitu dapat tugasnya. Jangan sampai kamu tahu dari Mama lagi."
"Aku juga nggak akan sengaja matiin telepon buat bikin kamu khawatir. Kalau lagi marah, aku bilang butuh waktu."
Bian mengangguk pelan. Ia mengambil pulpen, lalu menulis jadwalnya di sebelah jadwal Jihan. Tulisannya kecil dan rapi, membuat coretan Jihan tampak semakin ramai.
"Ini tulisan calon dokter versus arsitek, ya?" Jihan menyipit.
"Saya nggak komentar."
"Mukamu komentar, mas."
Bian tersenyum sedikit. Sebelum pulang, ia memotret halaman itu untuk dibawa. Jihan menemaninya sampai teras depan, masih dengan buku di pelukan.
Baru dua langkah Bian menjauh, Jihan memanggilnya.
"Mas, besok atau lusa, aku mau cerita sesuatu. Agak panjang."
Bian berbalik. "Sekarang juga boleh."
Jihan menggeleng. Ia perlu mengumpulkan keberanian, dan malam ini ia tak ingin mengatakannya dengan terburu-buru.
"Besok. Kamu jangan marah duluan, ya."
Bian tak langsung menjawab. Lalu ia mengangguk, lebih lambat dari biasanya.
"Saya dengarkan dulu."