"Makasih ya Bu?" ucap Shavana seraya memeluk Ibunya. Shavana benar-benar sangat bersyukur memiliki Ibu kandung yang selalu ada untuk dirinya. Tak apa jika dirinya masih sangat sulit menerima cinta dari mertuanya. Setidaknya, Ibu kandungnya masih peduli dengannya.
Sang Ibu memeluknya dengan erat. Wanita itu seakan-akan mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya. Ia juga bakalan sakit hati jika ada orang lain yang menyakiti hatinya, "Nggak papa. Kamu jangan kecil hati kalau mertua kamu masih belum menerima kamu. Kamu anak yang baik sayang, kamu juga anak yang mandiri. Kamu udah bisa buka kafe ini aja, Ibu udah bangga sama kamu," jelas wanita itu yang dibalas Shavana dengan anggukan mengerti.
Helaan napas yang keluar dari bibir Shavana membuat Sang Ibu memeluk anaknya lagi. Shavana lebih mengeratkan pelukan itu. Ia ingin sekali tinggal bersama Ibu kandungnya. Tapi mana mungkin? Shavana saat ini sudah menikah. Dan dirinya harus ikut dengan Andre. Ibunya pun juga tak akan mau jika harus ikut tinggal bersama Shavana di rumah Andre. Ibunya lebih suka tinggal di rumah sendiri. Meskipun rumah itu sedikit sederhana, "Makasih ya Bu, aku beruntung punya Ibu yang sangat mendukung apapun yang aku lakukan," seru Shavana.
Wanita yang Shavana peluk itu lantas mengangguk, "Iya, kamu jangan sedih lagi. Kejutan apa yang pengen kamu berikan ke Ibu tadi?" tanya Ibunya pada Shavana seraya perlahan menguraikan pelukannya itu.
Shavana baru ingat. Dirinya juga tadinya mau memberi kejutan pada Sang Ibu. Mumpung sang Ibu masih ada disini, dirinya ingin memberikan kejutan itu secara langsung. Meskipun sedikit sederhana, tapi kejutan itu sangat berarti bagi Shavana, "Sini Bu!" ajak Shavana masuk ke dalam untuk melihat hadiah yang ia siapkan tadi.
Saat Shavana telah sampai di sebuah meja yang ada di dekat panggung, Shavana lantas mengambil sebuah tas hitam yang ia simpan disana. Ia juga lantas memberikan tas hitam itu ke arah Ibunya agar ibunya bisa membukanya, "Ini dia, aku nyiapin ini buat Ibu. Sebenernya sekalian buat Mama, tapi Mama kayaknya ada keperluan lain. Jadinya Beliau nggak bisa lama-lama disini," seru Shavana pada Ibunya. Sama sekali tak ada rasa marah ataupun kecewa pada Mama mertuanya.
"Apa ini?" tanya Ibunya saat menerima uluran Tote bag besar yang tak tahu isinya apa.
Shavana tersenyum tipis, "Buka aja biar Ibu tahu sendiri isinya," titah Shavana pelan.
Wanita paruh baya itu lantas membuka Tote bag yang diberikan Shavana. Dirinya tersenyum tipis sebelum membuat Tote bag itu dengan sempurna. Ada rasa senang ketika menerima hadiah dari anak perempuannya itu, "Iya, itu aku pesen dari rajutan temenku. Dan aku merasa ini bagus banget. Jadi aku mau kasih ke Ibu sama Mama di acara launching kafe ini," serunya Shavana saat ibunya telah membuka sempurna Tote bag itu.
Tote bag itu berisi tas rajut yang teramat bagus. Bahkan, tas rajut itu sengaja Shavana pesan dari seorang teman jauhnya. Shavana membalas senyum ibunya seraya mengangguk pelan, "Makasih sayang, ini bagus banget. Ibu suka sama model tasnya," seru Ibunya ke arah Shavana.
"Beneran Bu? Ibu seneng sama hadiahnya?" tanya Shavana memastikan.
Dan anggukan yang mencuat dari dagu Ibunya membuat Shavana tersenyum senang lagi. Pasalnya, dirinya merasa sangat berharga ketika mendapatkan sebuah hadiah dari anaknya, "Iya," jawab Ibunya lagi.
"Makasih ya, Bu? Shavana seneng dengernya," sahut Shavana seraya menggenggam tangan Ibunya.
"Sama-sama," jawab Ibunya kemudian.
Dan usai berbincang dengan Ibunya, Shavana mengajak Ibunya ke arah suaminya yang masih ada di sudut kafe. Duduk sendirian sembari memainkan ponselnya, "Ke Mas Andre yuk?" ajak Shavana pada Ibunya.
"Ayo!" balas Ibunya menyetujui.
Shavana menarik tangan Ibunya dan berjalan perlahan ke arah Andre yang masih terduduk di salah satu sudut kafe. Shavana sudah bisa menebaknya, jika Andre saat ini tengah memeriksa pekerjaannya melalui ponsel pintarnya. Memang, sangat sulit sekali menikah dengan seorang direktur di sebuah perusahaan. Dirinya harus dituntut untuk memahami suaminya yang super sibuk itu, "Mas," panggil Shavana pada Andre.
"Hey," sahut Andre saat dirinya menyadari bahwa Sang Istri ada di sampingnya.
"Tadi kamu ketemu Mama? Mama kenapa? Biar nanti aku sendiri ya bicara sama Mama ya?" seru Andre.
Shavana berusaha menarik sudut bibirnya. Ia tak perlu meminta bantuan ke Andre untuk berbicara dengan Mamanya mengenai masalah ini. Yang ada masalah semakin runyam. Dan Shavana tak mau hal itu terjadi, "Mama udah pamit duluan. Mama pulang. Mungkin ada keperluan lain jadi Mama pulang duluan. Hadiah tasnya udah aku kasihkan ke Ibu. Nanti tas Mama nitip ya?" seru Shavana pada Andre.
"Iya. Nanti aku kasihkan ke Mama. Nanti sekalian aku bicara sama Mama. Kalau Mama tadi mungkin sempat nyakitin perasaan kamu, aku minta maaf ya? Mama tadi nggak bicara aneh-aneh sama kamu?" Andre menghujani pertanyaan dari bibirnya.
"Nggak nggak papa. Aku titip tasnya ya? Jangan lupa dikasihkan ke Mama," seru Shavana lagi tak mau memperpanjang masalahnya. Meskipun kerap beberapa kali Andre tahu Mamanya melontarkan kalimat menyakitkan ke arah Shavana, namun Shavana memilih tak mau mempersulit dirinya. Ia tetap berbuat baik pada mertuanya. Meskipun sangat sulit.
"Nak Andre!" panggil Ibu Shavana pada Andre yang berdiri di dekat anaknya itu.
"Iya Bu?" jawab Andre pelan.
Bibir wanita paruh baya seusia Mamanya itu terlihat mengembang sebelum meluapkan kalimatnya, "Kalian udah hampir berjalan sempurna waktu pernikahan kalian. Ibu dan Mama kalian kan udah renta, pasti sangat mengidam-idamkan cucu. Kalau nggak keberatan, kalian mau program hamil lagi? Tapi jangan tersinggung dulu ya? Ibu nggak memaksa program hamil itu berhasil atau tidak. Yang penting, kalian tetep sehat. Dan program hamil itu nggak menggangu kesehatan Shavana. Ibu doakan yang terbaik untuk pernikahan kalian," pinta Ibu Shavana secara ta tersirat.
"Iya Bu, nanti Shava dan Mas Andre bicarakan masalah itu lagi. Kebetulan kemarin Shava dan Mas Andre sempet diskusi masalah ini. Ibu tenang aja ya?" balas Shavana mengarah ke Ibunya yang mulai menginginkan seorang cucu hadir di tengah-tengah kehidupannya.
"Iya," jawab wanita paruh baya itu.
"Kalau begitu Ibu tinggal ke toilet dulu ya? Kalian ngobrol-ngobrol dulu aja disini," pamit Ibunya sebelum beranjak.
"Hati-hati Bu. Mau Shavana temenin?" tawaran Shavana itu mengarah ke Ibunya namun dibalas Ibunya dengan gelengan kepala pelan sebelum wanita itu benar-benar beranjak meninggalkan Shavana dan Andre di tempat.
Andre memeluk Shavana secara tiba-tiba. Dirinya mencium kening milik istrinya dengan lembut sebelum mengatakan kalimatnya, "Nggak papa. Bener kata Ibu, kita tetep melakukan program hamil, tapi nggak perlu memaksa diri bahwa kita harus berhasil melakukannya," jelas Andre.
"Kapan jadinya konsultasinya?" tanya Shavana pelan.
"Besok aja ya? Barangkali besok aku nggak ada lembur di kantor," balas Andre saat menanggapi kalimat dari Shavana.
Akankah program hamil itu berjalan dengan baik? Apakah program itu berhasil? Dan akankah Shavana mendapatkan cinta dari mertuanya usai dirinya berhasil melakukan program hamil nanti? Bagaimana kehidupan pernikahan mereka setelah ini?