Siang ini Andre dan Shavana ada di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Jakarta. Andre sengaja mengajak Shavana kesini untuk melakukan program hamil. Saran dari Ibu Shavana, rumah sakit ini menjadi saksi dulu Ibunya juga melakukan program hamil. Karena tadinya Shavana dan Andre ingin berkonsultasi dengan Dokter Tara, sedangkan dokter Tara tengah cuti. Jadi Andre mengganti dokternya menjadi Dokter Claudia, "Hallo Dokter Claudia," panggil Andre saat netranya menemukan Dokter Claudia yang berjalan ke arahnya.
Dokter Claudia ini memang salah satu kenalan Andre setelah Dokter Tara. Wanita itu tampak tersenyum manis ke arah Andre dan Shavana, "Hey, Andre! Ayo masuk!" ajaknya pada Andre sebelum dirinya masuk mendahului.
Andre lantas mengikuti arah jalannya Dokter Claudia dengan menggandeng tangan Shava, "Gimana kabarnya?" tanya Andre pada dokter itu saat dirinya masuk ke dalam ruangan Dokter Claudia.
"Baik," jawab Dokter itu seraya mengambil duduk di kursinya dan Andre pun ikut mengambil duduk di depan Dokter Claudia. Diikuti Shavana yang duduk di samping Andre.
"Lama ya kita nggak ketemu," sahut Dokter Claudia yang membuat Andre terkekeh.
"Tadinya mau janjian sama dokter Tara juga. Karena dulu waktu awal menikah, saya sama istri saya konsultasi ke dokter Tara. Tapi ternyata Dokter Tara hari ini lagi cuti," ucap Andre pada Dokter Claudia yang dibalas dokter itu dengan anggukan mengerti.
"Oh begitu," sahutnya kemudian.
Dokter Claudia terlihat mengambil secarik kertas beserta bolpoint miliknya, "Kalau boleh tau sudah berapa tahun menikah?" tanya Dokter itu.
"Dua tahun, Dok!" jawab Andre.
"Dua tahun? Lama juga ya? Berarti saya yang lupa. Saya kita baru tahun kemarin menikah," seru Dokter itu lagi.
Andre terlihat terkekeh pelan saat menyimak kalimat yang keluar dari bibir Dokter itu. Sedangkan Shavana hanya tersenyum tipis mendengarkannya, "Iya, kami sempet menunda punya momongan awalnya karena banyak pekerjaan yang harus kami berdua urus. Tapi sekarang, saya dan istri saya memutuskan untuk melaksanakan program hamil karena sepertinya pernikahan kami sudah saatnya memiliki buah hati," jelas Andre.
Dokter itu mengangguk-anggukan kepalanya lagi saat mendengar jawaban dari Andre. Ia lantas menatap Shavana secara bergantian untuk menanyakan tindakan sebelumnya saat dirinya menunda program hamil tersebut, "Sebelumnya Ibu mengambil tindakan metode kontrasepsi apa?" tanya Dokter itu ke arah Shavana.
"Pil Dok," jawab Shavana singkat dan pelan.
Dokter itu mengangguk lagi. Ia menyahut jawab Shavana dengan tersenyum ke arah Evan ataupun Shavana, "Oh begitu. Kalau misalkan metodenya pil. Kebanyakan mudah untuk melepasnya dari pada metode kontrasepsi lainnya," terang Dokter itu memberi tahu Evan dan Shavana.
"Ibu tinggal menghentikan konsumsi pil dan lebih sering melakukan hubungan suami istri paling tidak seminggu tiga kali ya?" jelas dokter itu lagi ke arah Shavana. Dirinya lantas ikut tersenyum menggoda saat berhadapan dengan Evan dan Shavana.
"Lebih romantis antara suami istri juga bisa mempercepat kehamilan itu terjadi. Dan untuk membantu kelancaran program hamil itu sendiri, nanti saya tuliskan beberapa resep asam folat dan vitamin, beserta makanan apa saja yang harusnya dikonsumsi," ujar dokter itu.
"Baik Dok," balas Andre saat dirinya telah banyak menyimak dokter itu berbicara. Andre terlihat mengusap pelan tangan istrinya yang sedari tadi memilih diam. Entah apa yang dipikirkan istrinya sedari tadi. Dirinya sama sekali tak mengetahuinya.
"Kalau bisa Ibu sama Bapak makan makanan yang mengandung serat ya. Karena serat itu juga salah satu makanan penunjang untuk kelancaran program hamil. Asam folatnya tetap dikonsumsi beserta makanan yang bergizi lainnya," jelas dokter itu lagi.
Giliran Shavana yang mengangguk pelan. Ia juga menyahut tatapan Andre dengan menatap suaminya sekilas sebelum dirinya menatap dokter itu lagi, "Iya Dok terima kasih," jawab Shavana.
Dokter itu tersenyum. Sebelum ia melontarkan kalimatnya lagi, dirinya menuliskan beberapa resep dan makanan untuk mereka konsumsi saat menjalankan program hamil itu sendiri, "Untuk melakukan hubungan suami istri, dilihat dan diperhatikan ya tanggal ovulasi istri. Biasanya pada saat tangga ovulasi, itu angka kehamilan lebih tinggi muncul dari pada saat tanggal non ovulasi. Pak suami harus lebih detail. Kalau bisa download aplikasi pengingat," perintah dokter itu pada Andre.
Andre ikut terkekeh. Sudah lama dirinya tak memperhatikan tanggal ovulasi istrinya. Justru terlalu sibuk bekerja kadang membuat Andre jarang romantis terhadap istrinya. Bahkan jika Shavana tak memberikan kejutan tentang perayaan hari jadi pernikahan, Andre juga pastinya akan sangat lupa karena terlalu sibuk memikirkan pekerjaannya, "Terima kasih ya Dok?" jawab Andre.
"Iya sama-sama," sahut dokter itu.
Dokter itu melanjutkan tulisannya yang tercetak di salah satu kertas yang ada di hadapannya. Dirinya menuliskan semua resep yang harus dikonsumsi oleh Shavana. Andre pun juga disarankan untuk mengkonsumsi beberapa makanan penunjangnya. Jadi tak hanya fokus pada calon Ibu saja. Calon ayah pun juga harus berkontribusi dalam program hamil ini, "Kalau begitu, ini resep asam folat dan vitaminnya nanti ditebus di apotik rumah sakit ini aja nggak papa. Dan ini saya tuliskan makanan penunjang agar gak lupa untuk dikonsumsi bersamaan," seru dokter itu mengulurkan dua lembar kertas yang bertuliskan resep dan makanan penunjang.
"Terima kasih sekali lagi dok," jawab Shavana.
"Sama-sama semoga lancar," sahut dokter itu sembari tersenyum simpul ke arah Andre dan Shavana yang akan beranjak dari duduknya untuk meninggalkan ruangan dokter itu.
"Ayo Sayang," ajak Andre seraya merangkul pundak Shavana untuk berjalan keluar secara beriringan. Andre terlihat tersenyum sopan ke arah dokter itu lagi sebelum dirinya benar-benar menghilang dari ruangan itu.
"Berarti setelah ini kita ke apotik rumah sakit ini aja Mas?" tanya Shavana pada Andre yang dibalas Andre dengan anggukan pelan.
"Iya. Di rumah sakit ini aja. Kalau di apotik luar. Nanti kamu terlalu capek dan belum tentu obatnya tersedia," jawab Andre.
"Hari ini kamu nggak ke kantor?" tanya Shavana pada Andre.
Dan Andre menggeleng. Dirinya lantas tersenyum ke arah istrinya, "Nggak. Hari ini aku nggak sesibuk kemarin-kemarin," jawabnya.
"Mas," panggil Shavana lagi.
Andre tampak mengerutkan dahinya saat istrinya memanggilnya. Ia menatap manik-manik mata istrinya itu sebelum ia bergumam menyahut panggilannya, "Hm? Ada apa?" tanyanya.
Shavana terlihat menghentikan langkahnya. Tangannya lantas melingkar di pinggang Andre. Dan sorot matanya menatap Andre secara perlahan yang membuat Andre semakin mengerutkan dahinya, "Gimana kalau program hamil kita nggak berjalan dengan lancar? Kamu kecewa?" tanya Shavana pelan.
Andre menghela napas seraya menggeleng. Kecewa ataupun bukan. Itu adalah sebuah proses. Kalau nantinya gagal, mungkin Andre dan Shavana kurang berusaha lebih keras lagi, "Nggak. Karena kita bisa melakukan berbagai cara untuk melakukan program hamil ini," jawab Andre seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
Namun Shavana tetap takut jika program hamil ini tak berjalan sesuai apa yang ia kehendaki. Ia takut Mama mertuanya kecewa terhadapnya. Takut juga jika Andre bakalan ikut kecewa padanya. Akankah program hamil yang Andre dan Shavana susun ini akan berjalan normal adanya? Lantas bagaimana Shavana menetralkan detak jantungnya agar dirinya tak terus-terusan berpikir negatif?