Hari ini tepat hari dimana Shavana meresmikan kafe yang ia bangun. Shavana terlihat begitu senang saat ada di sebuah podium untuk melakukan pidato di atas sana. Shavana benar-benar berbinar menatap orang-orang yang ia cintai. Suaminya, Ibu kandungnya, sahabatnya dan bahkan Ibu mertuanya yang nantinya akan ia beri kejutan itu, "Kafe Moccano Resmi dibuka!" tutur Shavana membuka resmi kafe itu.
Shavana menghela napasnya di sela-sela ia membuka pidatonya. Dirinya teramat begitu percaya diri saat mengatakan sepatah demi sepatah kalimat yang bernaung di bibirnya, "Saat ini saya bersyukur. Ada di tempat ini untuk meresmikan kafe yang saya rintis sendiri. Kafe ini meskipun kecil tapi saya berharap, bisa berkembang sebagaimana mestinya," tutur Shavana lagi dalam pidatonya.
Bibir Shavana mengembang penuh menatap orang-orang yang ia cintai, "Berkat orang-orang yang saya cintai, kafe ini berdiri tegak disini. Saya bersyukur ada orang-orang yang mencintai saya, mendukung saya untuk membangun kafe ini. Mereka sangat supportif dalam mendukung saya, apapun yang saya lakukan," jelas Shavana lagi.
Shavana menatap mertuanya saat dirinya berpidato. Tatapan itu terlihat sangat dalam dengan senyum yang merekah dalam bibirnya, "Mungkin acara ini terlihat buru-buru dan dadakan, tapi sungguh saya memang ingin buru-buru karena tak sabar membuka kafe ini untuk dioperasikan. Mama, aku mengundang Mama disini karena ingin memberi hormat pada Mama. Mama satu-satunya orang yang saya harapkan hadir disini. Mama dan Ibu adalah dua perempuan yang saya harapkan untuk berdiri disini," jelas Shavana.
"Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan disini. Saya minta maaf kalau misalkan kata-kata saya kurang berkenan. Terima kasih," tutup Shavana saat ia selesai membuka acara peresmian kafe dengan pidato-pidatonya.
Shavana terlihat turun dari panggung seraya berjalan menuju Sang Suami yang berdiri di antara orang-orang yang hadir disana. Guratan senyum di wajahnya terlihat jelas sampai Shavana sendiri tak pernah menghilangkan senyum itu dalam bibirnya, "Pidato kamu keren juga," puji suaminya.
Tangan Shavana menepuk pundak suaminya sembari terkekeh saat suaminya itu terlihat memujinya terus. Ia menjadi seorang yang paling beruntung saat ini karena banyak orang-orang sekitarnya yang mensupport dirinya, "Bisa aja kamu mujinya," sahut Shavana.
Sorot mata Shavana terlihat menelisik sudut demi sudut kafe untuk mencari mertuanya. Aneh, tadi perasaan Shavana melihat mertuanya ada di sekitar sini. Kenapa saat ini tak ada? Padahal Shavana berharap Mama mertuanya hadir di acaranya sampai selesai. Shavana juga telah menyiapkan kejutan spesial untuk mertuanya dan Ibu kandungnya sendiri, "Mas, Mama udah kemana? Udah pergi?" tanya Shavana pada Andre.
Andre menggeleng. Ia mengisyaratkan istrinya untuk menatap sudut kafe sebelah kiri. Disana terlihat Mamanya telah berdiri tegap seraya memainkan ponselnya. Entah siapa yang dihubungi Mamanya. Kenapa Namanya menghindar di acara Shavana?
"Belum. Mama masih disini. Itu dia lagi ambil minuman," jawab Andre.
Bibir Shavana terlihat tersenyum. Ia bisa bernapas lega. Syukurlah Mama mertuanya masih ada disini. Setidaknya kejutan yang ia berikan nanti tak sia-sia. Shavana bisa melihat dirinya memberi kejutan pada mertuanya. Dan berharap jika kejutan itu diterima baik oleh mertuanya, "Aku ke Mama dulu ya?" pamit Shavana pada suaminya.
"Mau aku temenin?" tanya Andre saat Shavana ingin menyusul Sang Mama.
Shavana menggeleng. Kedua tangannya memegang pundak Andre sebelum dirinya menyusul mertuanya, "Nggak usah, biar aku sendiri aja yang kesana!" seru Shavana.
Sungguh. Meskipun saat ini Shavana belum mendapatkan cinta dari Mama mertuanya. Namun Shavana tetap berusaha keras untuk menjadi seorang menantu yang layak dicintai. Kadang Shavana lelah harus dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tapi mau bagaimana lagi? Shavana memang tak banyak memasukkan kata-kata pedas itu ke dalam hatinya, "Mama," panggilnya.
Mama mertuanya itu terlihat menoleh ke arah Shavana saat Shavana memanggilnya, "Ada apa?" tanya Shavana.
Shavana terlihat berjalan ke arah Mama mertuanya. Bibirnya lagi-lagi tersenyum meskipun wanita yang ada di hadapan Shavana tak menampilkan senyum sama sekali saat menatap Shavana. Shavana harus tetap dalam pendiriannya. Ia harus menerima baik mertuanya meskipun mertuanya berbanding terbalik dengan dirinya, "Terima kasih ya udah datang ke kafe Shava. Shavana harap Mama sering-sering kesini. Mama support Shavana biar Shavana terus buka kafe ini sampai sukses. Makasih ya, Ma! Shava janji bakalan jadi menantu yang baik untuk Mama," tutur Shavana dengan nada lembutnya.
Tak ada jawaban dari perempuan paruh baya itu. Ia hanya menyimak tanpa menyahut yang membuat Shavana ingin meletupkan kata-katanya lagi ke arah Mama mertuanya, "Ma, setelah ini Shavana ingin memberi hadiah kecil untuk Mama sama Ibu. Mama jangan pulang dulu ya?" serunya pelan pada Mama mertuanya yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
"Nggak punya waktu banyak. Dan harus ke acara lain," sahut Mama mertuanya dengan nada dinginnya yang membuat Shavana mengubah bibirnya menjadi tak tersenyum lagi.
Bibir Shavana kembali tertarik tipis saat menatap Ibu mertuanya. Ia menelan salivanya dalam-dalam, berharap Mama mertuanya berubah pikiran, "Tolong Ma, Shavana mohon Mama tetep stay disini ya? Sebentar lagi, Shavana urus acara dulu. Setelah acara ini selesai Shavana bakalan ke Mama lagi untuk kasih hadiahnya," seru Shavana memohon.
Bola mata wanita paruh baya itu terlihat berputar malas. Dirinya menghela napas panjangnya sebelum meluapkan kalimat yang bernaung di bibirnya, "Nggak terlalu penting. Kamu bisa titipkan hadiah itu ke Andre. Saya nggak ada waktu banyak untuk itu," jawabnya cepat tanpa ekspresi sedikitpun.
"Ma," panggil Shavana.
"Permisi," balas Mama mertuanya sebelum Mama mertuanya itu meninggalkan kafe Shavana.
"Ma Shavana mohon!" pinta Shavana berusaha mengejar Mama mertuanya agar tetap menetap disini sampai acara ini selesai. Namun nihil, Mama mertuanya telah meninggalkan acara itu dan mempercepat jalannya untuk keluar dari kafe Shavana.
"Shavana," panggil Sang Ibu saat Shavana berusaha mengejar mertuanya.
"Bu," sahut Shavana menoleh ke belakang saat dirinya merasa dipanggil seseroang. Ia lantas menghentikan langkahnya. Tak mengejar lagi mertuanya yang pergi meninggalkan kafenya.
"Biar Ibu aja ya yang menerima hadiah itu ya?" pinta Ibunya yang seakan-akan paham bahwa Shavana ingin memberi kejutan pada mertuanya. Tapi mertuanya sama sekali tak mau menerima kejutan itu.
Shavana terlihat merengkuh tubuh wanita paruh baya yang sangat ia cintai itu. Ia mendekapnya erat dan terlihat meneteskan buliran bening yang ada di kelopak matanya saat memeluk wanita itu, "Makasih Bu," sahut Shavana.
Wanita paruh baya yang Shavana peluk itu terlihat tersenyum. Ia mengangguk mengerti. Dan lantas mengerutkan pelukannya, "Iya Nak, Ibu bangga sama kamu. Kamu udah bangun kafe secantik ini. Ibu bener-bener merasa bangga punya anak kamu. Anak Ibu yang sangat baik ini," jawab Ibunya masih dengan posisi memeluk Shavana erat.
Sampai kapan Shavana tak mendapatkan cinta dari mertuanya. Apa keluarga suaminya sampai kapanpun tak menerima dirinya untuk hadir melengkapi hidup Andre? Lantas Shavana harus melakukan apa untuk mendapatkan cinta itu? Selama dua tahun, Shavana menunggu cinta itu namun tak pernah hadir untuk dirinya.