"Mas, kamu udah selesai mandi?" tanya Shavana saat dirinya melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Suaminya itu hanya memakai celana pendek berwarna cream dengan bagian atas tubuhnya yang tak terbalut benang sedikitpun. Rambut laki-laki itu terlihat sedikit basah usai mandi. Dan Shavana tersenyum kecil melihat suaminya yang memancarkan kadar ketampanan saat usai mandi.
"Udah," jawab Andre seraya tersenyum simpul ke arah Shavana.
Andre tampak mengambil kaus polos berwarna abu-abu untuk ia pakai sebelum ia menyusul Shavana yang sudah duduk di atas ranjang, "Besok lembur kerja lagi apa nggak?" tanya Shavana pada Andre yang saat ini sudah memakai baju lengan pendeknya dan tak lupa suaminya itu juga menyemprotkan sebuah parfum vanilla ke sela-sela tubuh atletisnya.
"Nggak. Lembur kerjanya cuma hari ini aja," jawab Andre kemudian.
Andre terlihat menyunggingkan senyumnya lagi ke arah istrinya. Dirinya lantas naik ke atas ranjang untuk menyusul Shavana. Wanita yang ada di samping Andre itu adalah wanita yang benar-benar tulus mencintai Andre. Andre terlihat bahagia ketika dulunya dirinya terpuruk masalah cinta, Shavana hadir membawa seribu kebahagiaan yang tak pernah Andre kira, "Kamu sendiri gimana?" tanya Andre seraya membantu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Shavana.
"Aku besok ke kafe lagi ya?" izin Shavana agar Andre tak mencarinya besok. Shavana benar-benar ingin membuat kejutan pada mertuanya. Agar mertuanya bisa menerima dirinya sebagai seorang menantu. Dua tahun Shavana mencari cinta yang diberikan mertuanya, tapi ternyata cinta itu sulit untuk ia dapatkan. Ia tak pernah mendapatkan hal itu terjadi selama menikah dengan Andre. Shavana ingin, kejutan pembukaan kafenya ini menjadi sebuah kejutan yang bermakna untuk mertuanya itu.
"Aku mau fokus menyiapkan launching kafe. Nanggung banget kalau enggak aku yang menyelesaikan. Kasihan Tata kalau dia yang kerja sendirian. Kejutan Mama juga hampir jadi, semoga Mama suka ya?" seru Shavana pada Andre yang membuat Andre tersenyum ke arahnya.
Andre sadar. Shavana masih sangat mengharapkan cinta Sang Mama. Ia sebagai suami merasa gagal tak bisa menyatukan dua wanita yang ia cintai itu, "Makasih ya? Kamu udah peduli sama Mama. Justru aku yang merasa bersalah sama kamu. Aku belum bisa jadi suami yang baik," tutur Andre ke arah Shavana.
"Nggak papa," jawab Shavana membalas kalimat itu.
"Shav," panggil Andre pelan.
Shavana terlihat menoleh ke arah suaminya. Dahinya lantas berkerut seraya menatap Andre yang memanggilnya, "Hm?" gumam Shavana.
"Tawaran untuk program hamil gimana? Kamu berubah pikiran untuk menyetujui?" tanya Andre menyinggung persoalan mengenai program hamil itu lagi. Shavana tadinya sedikit menolak saat Andre menanyakan hal itu di mobil. Jadi Andre menanyakan hal ini lagi, barangkali Shavana berubah pikiran.
"Iya," jawab Shavana yang membuat Andre menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Andre menarik tubuh Shavana untuk bersandar di tubuh bidangnya. Ia merangkul pundak wanita itu dan mengatakan kalimatnya pelan, "Jadi keputusanmu?" tanya Andre lagi.
Shavana menghela napas panjangnya saat ingin memberi penjelasan ke arah Andre. Tangannya melingkar di pinggang Andre dan napasnya berderu pelan sebelum kalimat yang bernaung dalam bibirnya keluar, "Aku awalnya ragu untuk melakukan itu. Soalnya kalau misalkan aku hamil, aku takut fokusku terbagi antara menjadi istri sekaligus ibu. Aku takut nggak bisa maksimal menjaga anakku ataupun aku takut nggak becus jadi istri kamu kalau misalkan aku nggak bisa melaksanakan keduanya secara bersamaan. Tapi aku sadar, kalau misalkan kita menikah tujuannya juga untuk memiliki anak kan?"
"Barangkali Mama seneng kalau misalkan kita punya momongan. Aku bakalan coba Mas, aku bakalan bersedia menjadi Ibu untuk anak kamu. Aku bakalan coba untuk ikut saran kamu, kita lakukan program hamil secepatnya," jawab Shavana memberi keputusan.
Mendengar jawaban Shavana seperti itu. Rasanya Andre tak berhak menyakiti perempuan tulus seperti Shavana. Ia terlihat merengkuh tubuh Shavana untuk mendekat ke arahnya, "Terima kasih ya?"
"Bantu aku Mas, bantu aku untuk terus berbakti sama Mama kamu. Aku kadang sakit hati waktu Mama dan temen-temennya kemarin bahas Theana di acara hotel kemarin. Dan aku pengen menggantikan posisi Theana. Kamu beneran kan udah nggak ada perasaan sama Theana lagi waktu menikah denganku?" tanya Shavana pelan.
"Nggak ada. Aku udah memiliki keputusan kalau aku tetep mencintai kamu. Theana itu cuma masa lalu. Dan aku udah memutuskan juga kalau aku menikahi kamu berarti aku harus melepas Theana dari hidupku," jawab Andre meyakinkan Shavana.
Shavana terlihat menatap sorot mata Andre dengan lekat. Mencari celah kebohongan disana. Dan semoga saja apa yang Andre katakan memang berasal dari hatinya yang paling dalam. Ia takut jika Theana hadir di tengah-tengah pernikahannya dengan Andre. Takut Andre mengingkari janjinya. Karena Andre dulunya sangat mencintai Theana, "Serius?"
"Hm," gumam Andre mengiyakan pertanyaan dari Shavana.
Tangan Andre mengusap-usap pelan pundak Shavana yang hanya terbalut tali spaghetti strap pada gaun tidur yang ia pakai. Tali itu terlihat sangat tipis sampai berkali-kali jatuh di pundak bawah Shavana saat tangan Andre mengusapnya, "Besok kita ke dokter untuk konsultasi program hamil ya?" ajaknya.
Kepala Shavana sedikit mendongak saat Andre tiba-tiba menawarkan ajakan untuk pergi ke salah satu dokter kandungan, "Dokter siapa?" tanya Shavana.
"Dulu kita pernah konsultasi ke Dokter Tara. Berarti besok kita kesana aja sekalian. Habis aku meeting pagi, aku usahakan jemput kamu di kafe," jawab Andre.
Shavana terlihat sedikit berpikir saat menyimak kalimat yang keluar dari bibir Andre. Tak apa, meskipun keraguan masih menyelimuti hatinya, Shavana tetap setuju dengan program hamil itu. Ia ingin menyenangkan hati suami. Toh, perkara hidup dan menikah, ia tetap adalah seorang istri yang harus patuh dengan permintaan suami, "Hm," jawab Shavana.
"Tanggal terakhir kamu menstruasi kapan?" tanya Andre yang membuat Shavana membulatkan matanya.
Shavana terlihat bergumam sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari Andre, "Tiga hari yang lalu," jawabnya.
Tepat. Berarti jika malam ini Andre ingin menyalurkan kebutuhan biologisnya, Shavana ada di masa subur? Andre benar-benar sudah sangat merindukan memiliki seorang anak diantara pernikahannya dengan Shavana. Sudah dua tahun ia menikah, rasanya hampa ketika di tempat tidur hanya dirinya dan Shavana saja. Ingin rasanya, seorang buah hati mungil ada di antara mereka, "Berarti sekarang kamu—"
Shavana paham apa yang akan ditanyakan Andre. Ia lantas tersenyum dengan pipi ronanya seraya mengangguk pelan, "Iya," jawab Shavana.
"Aku boleh?" Kode dari Andre membuat Shava terkekeh.
Shavana terlihat mengalungkan kedua tangannya di leher Andre. Hidung bangir ya lantas ia sejajarkan dengan hidung Andre sembari menggesek-gesekkan pelan, "Boleh. Kapanpun kamu boleh menyentuhku. Kamu suamiku. Dan kamu berhak menyalurkan kebutuhan biologis kamu ke aku. Aku bersedia," jawab Shavana menyetujui.
Bibir Andre lantas mengembang. Dirinya mendaratkan bibirnya ke arah dahi Shavana dengan lembut sebelum mengucapkan rasa terima kasihnya, "Terima kasih. Terima kasih udah selalu ada ketika aku membutuhkan apapun itu," jawab Andre.
Andre terlihat memulai ritual suami istri itu dengan pelan. Membiarkan Shavana menikmatinya. Satu persatu benang yang melekat di tubuh mereka terlepas. Membuat mereka mudah menjelajahi tubuh satu sama lain. Dan akankah malam panjang itu menjadi saksi bahwa cinta mereka tumbuh dengan sempurna?