Beberapa hari berlalu, Shavana terlihat sibuk dengan pekerjaannya di kafe, kafe yang akan launching beberapa hari ke depan. Hampir larut malam dirinya belum juga pulang. Itung-itung menunggu Sang Suami yang juga lembur kerja di kantornya. Shavana mengisi waktunya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Shava," panggil Tata, sahabat Shavana yang sedari tadi menemani Shavana untuk menyiapkan acara launching kafe itu.
Sahabatnya datang menghampiri Shavana yang terlihat tengah menggunting hiasan dinding untuk mendekor ruangan yang ada di kafe. Terlihat jelas sekali guratan wajah sahabatnya yang tercetak, sangat muram. Sahabatnya itu terlihat letih menyiapkan acara launching kafe. Mereka hanya berdua. Tak ada siapapun, karena Shavana sendiri tak mau merepotkan banyak orang dalam mempersiapkan semuanya.
"Shav, kita pulang aja yuk! Udah hampir mau larut. Nggak baik ah perempuan lembur malam-malam," seru sahabatnya. Tata sedari tadi menata area dapur, sedangkan Shavana menatap area ruang pengunjung. Mereka dari pagi menyiapkan itu semua untuk kelangsungan acara.
"Ngapain repot-repot sih, Shav? Lagian kamu ngapain udah malam masih pengen di kafe? Nanti suami kamu nyariin. Acaranya kan empat hari lagi. Masih bisa kita kerjakan sama-sama. Jangan kamu sendiri yang mengerjakan," tambah sahabatnya lagi saat netranya melihat Shavana yang tak ingin beranjak. Dasar keras kepala!
Mungkin memang bagi orang lain Shavana terlihat keras kepala. Namun ini semua ada alasannya. Shavana berkerja keras untuk bisa sepadan dengan suaminya. Dua tahun menikah dirinya belum mendapatkan sebuah cinta dari keluarga suaminya. Mau tak mau, mulai dari nol Shavana harus memulai semuanya.
"Nggak kok, aku nyicil kerjakan hiasan dinding ini. Biar besok kita tinggal nempelin sama dekor dindingnya. Kalau udah aku cicil, kan besok gampang. Kita nggak perlu banyak waktu buat dekor dindingnya," balas Shavana mengarah ke sahabatnya yang masih berdiri tak jauh dari Shavana.
"Tapi kan ini udah malam. Kamu pulang aja dulu, besok kesini lagi," sahut sahabatnya yang masih bersikukuh meminta Shavana untuk pulang ke rumah. Dan dirinya sendiri juga bisa istirahat di rumah.
Bibir Shavana terlihat mengembang. Dirinya tersenyum simpul ke arah Tata, "Iya habis ini ya?" ucapnya yang masih tak ingin pulang.
Dengusan kasar keluar dari bibir Tata. Ia heran dengan sahabatnya yang masih ingin di kafe, "Lagian kamu ngapain sih begini? Tumben banget kerja keras," ledek Tata pada Shavana yang masih sibuk memotong satu persatu puzzle dinding yang besok akan ia tempel untuk dekorasi dinding.
Shavana berdiri. Ia lantas berjalan ke arah Tata yang masih ada disana, "Aku mau acara launching kafe kita jadi launching yang berkesan, Ta! Jadi aku bela-belain lembur buat nyiapin ini semua," serunya menjawab pertanyaan Tata. Tak hanya alasan yang keluar itu, Shavana juga ingin memberi kejutan pada orang-orang yang ia cintai. Shava juga ingin bisa dianggap orang lain, bahwa dirinya sepadan dengan keluarga suaminya.
"Nggak usah terlalu memaksa. Nanti kamu capek sendiri," seru sahabatnya.
"Shav?" Panggilan dari seseorang mengejutkan Shava dan Tata yang masih sibuk berdebat. Shava yang terlihat menoleh ke sumber suara, sedangkan Tata yang melirik siapa yang memanggil sahabatnya itu.
"Mas Andre?" seru Shavana saat dirinya ternyata melihat Sang Suami tengah berada di ambang pintu kafe. Kebetulan kafe itu tak terkunci jadi Andre mudah untuk masuk ke dalam sana.
"Kenapa belum pulang?" tanya Andre seraya menghampiri istrinya.
Shava masih terkejut. Karena ternyata Andre menyusulnya kesini. Ia pikir, Andre masih lama pulangnya. Dan nanti saat dirinya ingin pulang, Shavana bisa naik kendaraan umum. Ternyata suaminya menjemputnya kesini, "Kamu udah selesai kerjanya?" tanya Shavana.
"Aku nyusul kesini karena pesan terakhir kamu tadi, kamu bilang masih ada di kafe. Jadi setelah pulang dari kantor, aku langsung kesini. Ayo pulang bareng," seru Andre mengajak Shavana agar pulang bersama.
"Ini udah malam. Kamu masih sibuk nyiapin acara launching?" tanya Andre lagi saat Shavana hanya membalas pertanyaan suaminya dengan senyum yang merekah di bibir tipisnya.
Shava mengangguk. Dirinya terlihat menata dasi suaminya yang terlihat kusut disana. Tanpa mempedulikan Tata yang ada di satu ruangan dengannya, Shavana terlihat manja saat di dekat Andre, "Iya. Soalnya ini nanggung banget Mas. Biar besok Tata sama aku nggak terlalu berat kerjanya. Jadi aku cicil sekarang aja. Kamu tenang aja, aku nggak bakalan capek. Lagian ini kan tanggung jawabku. Jadi aku yang harus menghandel semuanya," jawab Shavana.
"Aku beresin ini dulu. Setelah itu kita pulang. Aku yakin kamu juga pasti capek," seru Shavana yang terlihat mulai membereskan hiasan dinding yang berserakan di atas lantai. Dan beberapa menit kemudian, dirinya terlihat selesai membereskan pekerjaan itu.
"Ta, aku pulang dulu ya? Ayo pulang!" ajak Shavana pada sahabatnya.
"Iya, hati-hati! Kamu pulang duluan aja. Nanti kafe biar aku yang kunci," jawab Tata kemudian.
Shavana terlihat tersenyum simpul ke arah Tata sebelum dirinya menarik tangan Andre untuk keluar dari kafe tersebut, "Ayo Mas," ajak Shavana.
Saat berjalan menuju mobil Andre, Andre terlihat mengeratkan genggaman tangannya di tangan Shavana, "Kamu kenapa memforsir diri kamu untuk lembur kayak tadi?" tanyanya.
Alih-alih langsung menjawab, Shavana malah memasang senyum simpulnya ke arah Andre seraya langkah kakinya masih berjalan untuk menuju mobil Andre yang terparkir di depan kafe, "Aku cuma mau nyiapin kejutan buat Mama kamu. Setidaknya kafe yang bakalan berdiri itu jadi saksi bahwa aku bisa sepadan sama kamu. Aku menghormati beliau sebagai mertuaku," seru Shavana yang membuat Andre tertegun. Andre merasa bersalah saat Shava menyinggung persoalan Mamanya yang belum bisa menerima Shavana. Bibirnya tersenyum getir karena dirinya merasa belum bisa menjadi suami yang baik untuk Shavana.
"Nanti Ibuku juga bakalan aku ajak ke kafe. Aku mau dia lihat kafe itu berdiri untuk pertama kalinya," tambah Shavana lagi.
Andre menghentikan langkahnya untuk menatap Shavana. Dirinya menyunggingkan senyum simpul itu seraya menatap istrinya dengan lekat, "Tapi ingat! Jangan terlalu memaksa diri kamu sampai kamu sendiri kecapekan," ujarnya mengikuti.
"Iya pasti," sahut Shava lembut.
Sorot mata Andre masih menatap istrinya dengan lekat. Andre juga ingin mengatakan hal yang selalu Mamanya tagih saat tak ada Shavana, "Shav," panggil Andre pelan.
"Hm?" gumam Shavana.
"Ada hal penting yang mau aku bicarakan disini," seru Andre mengawali yang dibalas Shavana dengan dahi yang berkerut.
"Apa?" tanya Shavana.
Lidah Andre seakan kelu ingin mengatakannya. Karena takut istrinya merasa tersinggung. Dulu mereka pernah melakukan program hamil, namun belum berhasil, "Bisa kita mulai program hamil lagi?" tanya Andre dengan hati-hati.
Shavana terlihat sedikit terkejut. Pasalnya, ia masih bingung menjawab apa saat Andre mengajaknya melakukan program hamil. Ada rasa sedikit trauma saat gagal dalam melaksanakan program hamil itu lagi, "Program hamil?"
Andre mengangguk. Dirinya tersenyum tipis dengan tatapan memohon pada Shavana, "Iya, pernikahan kita membutuhkan seorang anak untuk melengkapi hidup kita. Kamu mau melakukan program hamil itu lagi?" tanya Andre.
Shavana diambang kebingungan. Dirinya ingin fokus menatap kafenya. Takut jika saat dirinya hamil, ia tak bisa terlalu kecapekan untuk menatap ulang kafe yang akan launching beberapa hari lagi itu. Takut jika saat ia memiliki buah hati, dirinya tak bisa bekerja keras untuk menyetarakan finansialnya. Dan itu akan membuat mertuanya semakin tak bisa menerima dirinya sebagai menantu yang baik.