"Iya. Theana sempat satu perusahaan sama saya," seru Andre ke arah para teman-teman Mamanya.
Sedari tadi, para wanita paruh baya itu selalu saja membahas tentang Theana, masa lalu Andre yang membuat Shavana merasa tersenyum getir mendengarnya. Shava berusaha menyahuti obrolan tersebut agar bisa diterima dalam keluarga Andre. Meskipun dirinya sendiri merasa sakit hati.
"Theana sekarang dimana? Kok jarang ketemu? Nggak di Jakarta?" tanya salah satu wanita paruh baya itu lagi ke arah Andre dan Shavana. Shavana heran, mengapa wanita paruh baya tersebut tak menganggap Shavana ada? Sedangkan jelas-jelas Andre sudah menikah. Mengapa yang dibahas selalu saja Theana. Apa mereka tak memikirkan perasaan Shavana?
"Saya nggak tau, Tante. Udah jarang ketemu," jawab Andre kemudian.
Andre menatap Shavana yang sedari tadi menunduk di antara teman-teman Mamanya. Tangan Andre kemudian mengambil tangan Shavana untuk ia taruh di atas pahanya. Dan dirinya tersenyum ke arah Shavana. Yang membuat Shavana yakin bahwa Andre memang benar-benar mencintainya. Dan Andre pasti telah melupakan Theana sebagai masa lalunya, "Udah ... Udah ... Kenapa jadi bahas orang lain. Ini kan acara kita. Yuk, nikmati hidangannya!" seru Andre memotong pembahasan itu.
"Aku izin ke toilet dulu ya, Mas?" pamit Shabana.
Andre terlihat mengerutkan dahinya. Dirinya menatap Shavana dengan tatapan penuh tanya, "Mau aku antar?" tanya Andre saat dirinya melihat guratan wajah dari istrinya yang tak bisa dipahami. Entah istrinya merasa tak nyaman disini atau hanya perasaan Andre saja?
"Nggak perlu. Aku ke toilet sendirian aja," jawab Shavana seraya tersenyum simpul.
Andre mengangguk ketika melihat istrinya yang berpamitan dengan teman-teman Mamanya. Ia menatap punggung Shavana yang berjalan menjauhinya. Dan Shavana terlihat sedikit berlari ke arah toilet terdekat.
Saat sampai di toilet tersebut. Dirinya mengeluarkam cairan bening yang ada dalam kelopak matanya. Entah deras atau tidak. Yang terpenting Shavana lega dengan perasaannya sendiri, "Ternyata selama dua tahun menikah, pernikahan ini masih gini-gini aja. Mas Andre dan orang-orang sekitarnya tetep memusatkan pembicaraan tentang Theana lagi. Padahal jelas-jelas Theana sama Mas Andre udah nggak ada hubungan yang terjalin lagi," gumannya seraya mengusap buliran bening yang menetes dalam kelopak matanya.
"Tuhan, Mama selalu nggak pernah menganggap aku ada. Aku harus gimana? Aku sendiri udah susah payah mencoba untuk sepadan dengan Mas Andre. Aku harus gimana dengan keterbatasanku untuk setara sama suamiku sendiri? Finansialku memang belum sepadan. Tapi aku bakalan berusaha," seru Shavana lagi.
Menikah dengan Andre memang bukan hal yang mudah untuk Shavana. Memang, dirinya sangat mencintai Andre. Dan Andre juga mencintainya. Tapi karena perbedaan derajat, membuat Shavana harus lebih bisa sabar menerima cemooh dari orang-orang sekitar Andre. Termasuk Ibu Andre sendiri.
Shavana mengusap sisa buliran bening yang ada dalam pipinya. Ia tak bisa terus-menerus berkubang dalam kesedihannya. Terlalu banyak mengeluh membuatnya terlihat lemah. Dirinya harus fokus memikirkan sebuah kafe yang ia dirikan bersama sahabatnya, dan kafe itu akan segera launching beberapa Minggu ke depan.
Tak ingin ada buliran bening dari kelopak matanya yang tadi hampir menetes deras, jari lentik milik Shavana tampak merogoh ponselnya untuk menghubungi seorang temannya. Ia menempelkan ponsel itu dan menunggu temannya mengangkat sambungan telepon, "Tata," serunya saat sambungan telepon itu diangkat oleh sahabatnya.
"Hallo Ta? Gimana? Kamu udah siapin semua resep baru di kafe kita? Lancar? Berhasil nggak?" tanya Shavana tanpa basa-basi dan secara tiba-tiba ke arah sahabatnya dalam sambungan telepon.
"Shavana? Ngapain telfon tiba-tiba nanyain kafe? Tumben?" sahut sahabatnya dalam sambungan telepon itu.
Shavana tampak terlihat tak enak dengan sahabatnya saat ingin mengatakan kalimat yang masih bernaung di bibirnya, "Eum ... Kita launching kafe Minggu ini ya?" tanya Shavana.
"Kenapa dimajukan?" Sahabatnya itu menanyakan balik alasan Shavana bersikukuh ingin memajukan tanggal peresmian kafe baru secara tiba-tiba.
"Persiapan kita kurang matang. Aku nggak mau acara kita gagal. Acara dua Minggu yang akan datang jangan di re-schedule. Aku nggak bisa, Shav!" tolak sahabatnya lagi dari sambungan telepon.
Dan guratan masam di wajah Shavana terlihat terbit. Shavana janji akan membantu peresmian kafe sampai selesai. Tapi lagi dan lagi sahabatnya itu tak mengizinkan tanggal peresmian kafe dimajukan, "Aku mohon, Ta! Aku usahakan semuanya beres dalam waktu satu minggu. Aku bakalan rela lembur untuk acara kita. Kamu nggak perlu khawatir," seru Shavana berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Lagi pula, ngapain kamu tiba-tiba mau memajukan tanggal peresmian sih? Sebelumnya kita belum rapat mengenai ini ke tim lainnya. Jangan membuat keputusan sendiri, Shav!" Sahabatnya itu tampak mengomel dari sambungan telepon.
Bukan. Bukan apa-apa Shavana ingin mengubah tanggal awal peresmian. Shavana ingin memajukan acara itu agar segera selesai dan dirinya bisa fokus membangun kafe yang ia rintis. Satu-satunya cara untuk sepadan dengan Andre adalah dengan mempunyai usaha sendiri. Meskipun itu kecil, "Aku minta maaf lagi. Aku bakalan agendakan jadwal rapat kita sebelum tanggal peresmian. Aku bener-bener butuh acara kita dimajukan," pintanya pada sahabatnya.
"Terserah kamu aja, lah! Asal kamu mau tanggung jawab buat atur semuanya sampai selesai," sahut sahabatnya lagi.
Meskipun nada bicara sahabatnya tampak malas berdebat, tapi akhirnya sahabatnya itu mau menyetujui permintaan Shavana. Shavana janji, setelah ini ia bakalan fokus dengan urusan kafenya. Sangat berat menerima kritikan dari mertuanya mengenai dirinya yang tak sebanding. Tapi mau gimana lagi? Ia mencintai Andre, ia juga yang haru berjuang mempertahankan cinta dalam pernikahannya sampai kapanpun, "Makasih, Ta!" seru Shavana sebelum dirinya memutuskan sambungan telepon itu.
Oh ayolah Shava, kamu harus bisa kali ini. Apapun yang dikatakan orang, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Kamu bisa sendiri tanpa bantuan mereka. Tak apa menangis. Tapi jangan terlalu menghabiskan buliran bening yang ada dalam kelopak matamu!
Sedari tadi Shavana terlihat menguatkan dirinya sendiri. Ia menunduk dalam mengusap cairan bening dalam kelopak matanya itu. Saat Shavana ada di ambang pintu keluar kamar mandi, sebuah tangan memegang pergelangan tangan Shavana.
"Shavana?" seru seseorang itu.
Shavana terlihat mendongak, mematikan siapa yang telah memegang tangannya. Dan ternyata dirinya sontak mengalihkan pandangannya saat tahu bahwa suaminya sendiri yang ada di dekatnya. Shavana hanya tak ingin Andre melihatnya selesai menangis. Ia perlahan mengusap sisa-sisa cairan bening tersebut yang masih menempel di pipinya, "Mas Andre? Kenapa kamu nyusul kesini?" tanya Shavana.
"Kamu ngapain ke toilet lama banget?" tanya Andre balik tanpa menjawab pertanyaan Shavana.
"Tadi telfon siapa?" tanyanya lagi.
Shavana menghela napasnya. Dirinya berusaha menarik sudut bibirnya agar Andre tak menanyakan hal yang tidak-tidak, "Aku telfon Tata, sahabat aku. Tanya keperluan soal launching kafe. Dan aku mau kafe itu segera dilaunching kalau persiapan udah matang semua," jawab Shavana seadanya.
"Kapan jadinya?" tanya Andre lagi.
"Nanti ya aku kasih tau," jawab Shavana tersenyum lagi ke arah suaminya. Dan berusaha untuk menutupi kesedihannya itu.
Tanpa aba-aba apapun Shavana terlihat merengkuh tubuh suaminya. Memberikan pelukan disana. Meskipun dirinya susah payah menahan kesedihannya, Andre tetap tahu, "Aku mau buat kejutan untuk Mama. Aku mau mempercepat tanggal peresmian kafe itu. Aku mau setidaknya Mama menganggap aku sebagai menantunya. Aku mau Mama menerima aku sebagai istri kamu," seru Shavana lagi.
Akankah rencana Shavana diterima mertuanya? Akankah kejutan itu berhasil? Dengan cara apalagi Shavana mendapatkan cinta dari Mama Andre jika rencana launching kafe tak berjalan dengan lancar?