"Ini anak aku," seru Mama Andre saat memperkenalkan Andre pada teman-temannya yang ada di acara itu. Namanya sedikit tak bersemangat, karena istri Andre orang yang ia benci tiba-tiba diajak Andre untuk berkumpul dengan rekan-rekannya. Mama Andre hanya tak ingin Shavana mempermalukannya di depan teman-temannya. Ia masih belum bisa menerima Shavana sebagai menantunya meskipun pernikahan Andre sudah jalan dua tahun.
"Oh ini Andre?" seru salah satu teman Mama Andre saat mereka berkumpul di satu meja yang sama. Andre dan Shavana duduk bersebelahan di antara para teman-teman Mama Andre.
"Iya," jawab Andre sembari tersenyum simpul.
"Udah dewasa banget. Tante dulu tau kamu waktu kamu masih umur lima tahunan," jawab salah satu teman Mama Andre.
Seorang wanita paruh baya yang duduk di depan Andre dan Shavana terlihat ingin menanyakan sesuatu, "Sekarang Andre udah menikah?" tanya pada Andre tanpa berpikir bahwa Shavana adalah istri Andre. Ia kita Shavana bukanlah istri Andre melainkan adiknya.
"Udah Tante, ini istri saya. Shavana," jelas Andre menjawab pertanyaan dari teman Mamanya.
Wanita paruh baya itu terlihat menatap Shavana dengan bibir yang tersenyum tipis. Begitupun juga dengan Shavana yang membalas tatapan itu dengan tersenyum simpul juga, "Ah begitu ... Salam kenal ya? Tante Risma," serunya ke arah Shavana.
"Salam kenal juga Tante," sahut Shavana.
Wanita paruh baya yang baru saja tersenyum ke arah Shavana itu tampak mengalihkan pandangannya ke arah Mama Andre lagi, "Oh iya Jeng, kemarin Andre sempat mau aku jodohkan sama putriku. Tapi ternyata sekarang dapat kabar kalau Andre udah menikah," candanya seraya tertawa pelan. Dan Mama Andre hanya membalas candaan itu dengan senyum miringnya seraya kemudian terkekeh.
"Berapa lama kalau boleh tau usia pernikahannya?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Sudah dua tahun," jawab Andre seraya menggenggam tangan Shava. Ia sadar istrinya pasti tidak baik-baik saja ketika di antara teman-teman Mama Andre. Banyak sekali terlontar candaan-candaan yang sebenarnya membuat Shavana tak nyaman. Namun ia sadar, ia saat ini sebagai tamu. Jadi mau tak mau seharusnya belajar bersikap menerima apapun yang mereka katakan tanpa harus menghakimi.
"Loh, lama banget ya? Apa udah ada momongan?" tanya salah satu wanita paruh baya yang duduk di samping Mama Andre.
Pertanyaan itu adalah salah satu pertanyaan yang menyakitkan hati Shavana. Pasalnya, bukan Shavana tak ingin punya momongan. Tapi dulu, waktu Shavana awal pertama menikah dengan Andre, dirinya dihadapkan keperluan kursus tata boga, ia harus fokus dan ia tak mau jika kehamilannya terganggu karena dirinya ikut kursus. Jadinya Shavana menunda memiliki momongan terlebih dahulu.
"Belum Tante, masih berusaha," sahut Shavana pelan. Dengan senyum getirnya. Karena saat ini ia telah ada diambang pertanyaan seperti itu. Haruskah setelah ini Shavana dan Andre ikut program hamil?
Seorang wanita paruh baya yang duduk di depan Andre berceletuk ke arah Andre dan Shavana, "Loh ... Tante kira kalian udah mau punya momongan. Secara dua tahun menikah kan lama. Apa udah konsultasi ke dokter. Apa yang bermasalah? Cepet dikonsultasikan ya? Takutnya ada apa-apa," serunya memberi saran.
Bibir Andre tersungging tipis. Dirinya menatap Shavana dengan tatapan dalamnya. Seraya tangannya mengusap pelan pucuk kepala Shavana, "Waktu awal menikah memang rencana ingin menunda dulu karena Shavana masih ada keperluan kursus. Takutnya nanti menganggu. Setelah itu belum cek lagi. Rencananya mau cek ke dokter akhir bulan ini," jawab Andre.
"Oh begitu, Tante saranin kalian harus segera ikut program hamil ya? Sayang banget, pernikahan udah menginjak dua tahun tapi belum ada anak di antara kalian," seru salah satu teman Mama Andre.
"Iya Tante," Andre hanya mengiyakan saran-saran dari teman Mamanya. Ia kasihan pada Shavana yang harus menerima masukkan tersebut.
"Hallo Jeng, maaf nunggu lama ya? Tadi suamiku ada kerjaan lain jadi aku harus nunggu dulu sebelum berangkat kesini. Apa kabar kalian?" tanya salah satu seorang wanita paruh baya yang baru saja datang. Wanita paruh baya itu terlihat mengambil duduk di sebelah Andre. Dan ia tersenyum sebelum mengambil duduknya.
"Kabar baik," seru Mama Andre dan juga beberapa temannya secara bersamaan seraya terkekeh pelan ke arah wanita paruh baya yang baru saja datang itu.
"Ini siapa ini?" tanya wanita paruh baya itu.
Mama Andre lantas tersenyum mengembang, "Andre anakku," jawabnya tegas.
Wanita paruh baya yang ada di sebelah Andre tersebut terlihat mengerutkan dahinya saat menatap Andre. Ia masih begit pangling dengan penampilan Andre saat ini dibanding dulu, "Oh ya ampun! Kok makin gagah aja, Tante sampe pangling lihatnya," serunya memuji Andre. Dan Andre membalas pujian wanita itu dengan terkekeh pelan.
"Terus ini siapa? Adiknya Andre kah?" tanya wanita itu lagi.
Andre menggeleng saat menjawab pertanyaan itu. Tangannya merangkul pundak Shavana yang duduk di sampingnya seraya memperlihatkan ke semua teman-temannya bahwa Shavana adalah istrinya, "Dia istri saya," jawabnya yakin.
"Oh begitu, Tante kira tadi adiknya Andre!" sahut perempuan itu seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bukankah dulu seingat Tante, Andre pernah pacaran sama Theana ya? Tante pernah denger kabar itu dari Mama kamu. Tante pikir kamu masih pacaran sama dia," celetuk wanita paruh baya itu lagi. Dan kalimat itu juga lah yang membuat Shavana ikut tersenyum getir mendengarnya.
"Udah lama putusnya. Sekarang dia udah nikah," sahut Mama Andre dengan senyum sinisnya seraya menghela napas pelan.
Wanita paruh baya itu agak ternganga. Ia baru tahu kabar Andre yang menikah dengan perempuan lain. Padahal ia kira, Andre akan menikah dengan Theana, perempuan seumuran Andre yang ia kenal baik dulu. Namun saat ini entah dimana dia, "Oh, Tante kita Andre masih sama dia. Soalnya dulu Andre sama Theana kan kemana-mana berdua terus. Iya kan Jeng? Sampai Tante mikirnya pasti Andre sama Theana menikah. Tapi ternyata, udah putus dari lama ya?"
Andre mengangguk, "Udah Tante."
"Kalau boleh tau, istri Andre namanya siapa?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Shavana Tante. Panggil Shava aja," sahut Shavana dengan nada sopan.
"Oh Shava. Namanya bagus. Cantik juga orangnya. Shavana, kalau boleh tau kamu kerja di satu perusahaan sama Andre juga?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
Dan Shavana hanya bisa membalas kalimat itu dengan senyum tipisnya seraya menggeleng, "Bukan Tante. Saya pemilik kafe kecil di Jalan Kenanga. Saya bukan bekerja di perusahaan yang sama dengan Mas Andre," jawabnya pelan.
"Tante kita satu perusahaan juga sama Andre. Dulu Theana ya yang satu perusahaan sama kamu, Ndre?" tanya wanita paruh baya itu. Dan Andre hanya bisa mengangguk menyetujui apa yang dikatakan wanita paruh baya itu. Sedangkan Shavana merasa sesak saat mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari bibir teman Mama Andre.
Iya, Shavana paham dirinya tak sepadan dengan Andre. Tapi bisakah bayang-bayang Theana hilang dari kehidupan Andre? Shavana takut, Andre masih mencintai mantan kekasihnya. Dan cinta tulusnya akan hangus begitu saja. Selama menikah dengan Andre, ia susah payah menyetarakan perasaannya dengan Andre.
Lantas sampai kapan ia harus tak menerima restu dari Mama Andre? Ia benar-benar ingin hidup normal layaknya seseorang yang dicintai keluarga suaminya.