[Mama : Kamu dimana, Ndre?]
Sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke dalam ponsel Andre saat Andre ada di parkiran Hotel Aston bersama Shava, Sang Istri. Pesan itu dari Sang Mama yang memintanya untuk menyusul ke Hotel. Sebenarnya Mama Andre tak ingin Andre membawa Shavana. Tapi Andre juga tak bisa bersikap terus-terusan mendukung Mamanya.
Shavana, adalah istrinya yang benar-benar mau menerima dirinya di kala dulu dirinya terpuruk karena ditinggalkan wanita lain. Mungkin jika seratus persen cinta, Andre memang belum bisa sepenuhnya. Namun jika berusaha, Andre akan bisa berdamai dengan takdir untuk mencintai Shava setulusnya.
[Andre : Ini udah ada di parkir mobil. Bentar lagi Andre nyusul]
Andre terlihat membalas pesan dari Mamanya dengan kalimat singkatnya. Pesan itu telah terkirim, dan Andre lantas melanjutkan jalannya untuk masuk ke dalam sebuah lift yang tersedia di hotel.
"Ayo Sayang," ajaknya pada Shavana. Dan Shava lantas mengangguk seraya tersenyum simpul ke arah Andre.
"Ayo!" sahutnya lembut.
Saat mereka masuk berdua di sebuah lift, Shava terlihat menggandeng lengan suaminya seraya menyunggingkan senyum manisnya ke arah Andre, "Disini ada Mama?" tanyanya pada Andre.
Dan Andre terlihat mengangguk-anggukan kepalanya seraya membalas senyuman dari Shava, "Iya. Aku tadi diminta Mama untuk nyusul kesini," jawab Andre berbohong. Sebenarnya Andre hanya diminta untuk dagang sendiri. Tapi jika dia meninggalkan Shavana sendirian di kafe tadi, dia akan terus merasa bersalah.
"Tempatnya dimana?" tanya Shavana lagi.
"Ballroom, tadi Mama bilang kalau tempatnya di Ballroom hotel," jawab Andre.
Shavana yang sedikit tak tahu banyak tentang Hotel Aston, dirinya hanya mengikuti arah jalan Andre yang ingin menuju Ballroom Hotel. Dan saat mereka sampai di sebuah tepi Ballroom, netra Andre menemukan sosok Mamanya yang berdiri di salah satu gerombolan tamu undangan, "Itu Mama sama temen-temennya," seru Andre.
"Sayang, seharian ini kamu pasti lelah karena ngurus persiapan pembukaan kafe baru. Kamu duduk di kursi ini dulu ya? Biar aku yang nyusul Mama disana," pinta Andre pada Shavana.
"Iya," jawab Shavana.
"Mau minum?" Andre terlihat menawarkan minuman ke arah istrinya. Namun istrinya itu menggelengkan kepalanya, istrinya menolak tawaran minuman itu karena belum merasa haus ataupun lapar, "Nggak perlu. Nanti kalau aku haus, aku ambil sendiri aja," jawab Shavana.
Andre tersenyum. Dirinya mendaratkan bibirnya ke arah kening Shava dengan lembut. Dan setelah itu Shava mengecup singkat punggung tangan milik Andre, "Ya udah aku kesana dulu ya Sayang?"
"Iya," jawab Shavana.
Andre lantas berjalan ke arah Mamanya. Dirinya terlihat menyisir beberapa orang yang berlalu lalang di dalam Ballroom itu. Saat langkahnya hampir dekat dengan Sang Mama, Andre lantas memanggil Mamanya, "Mama," panggil Andre sedikit keras, sengaja agar Mamanya mendengar panggilannya.
"Lama banget. Tadi ngapain aja?" sahut Mamanya yang baru saja menoleh ke arah Andre.
"Tadi Andre sebenernya Andre ada acara sendiri sama Shavana. Hari ini ulang tahun pernikahan Andre. Andre sama dia merayakannya dulu. Baru Andre kesini," seru Andre menjelaskan ke arah Mamanya. Namun guratan wajah milik Mamanya terlihat kusut saat Andre tak mendengarkan pesan Mamanya.
"Terus sekarang istri kamu ada dimana?" tanya Mamanya dengan nada tak suka.
Andre menoleh ke arah Shavana. Ia memperlihatkan istrinya tengah duduk di salah satu kursi yang disediakan pemilik acara, "Itu. Tadi Andre minta dia duduk disana dulu. Takut kecapekan. Hari ini dia sibuk menyiapkan persiapan pembukaan kafe. Terus dia menyiapkan juga kejutan ulang tahun pernikahan," serunya pada Mamanya.
Tetap saja. Mau berapapun kata yang terlontar untuk memuji Shavana, Sang Mama tetap tak menyetujuinya. Dari awal pernikahan, Shavana sulit untuk menerima restu dari Mama Andre, "Mama kan udah bilang ke kamu untuk pergi ke pesta ini sendiri karena Mama mau memperkenalkan kamu sama teman-teman Mama. Kenapa kamu ngajak istri kamu?" ucap Mama Andre dengan bibir yang masih menggerutu.
"Ma, sekarang hari ulang tahun pernikahan Andre sama Shava, nggak mungkin Andre tinggalin Shava sendirian di kafe tadi. Mama tolong lah, kurang-kurangi acuh sama Shava. Udah dua tahun Ma Andre menikah sama Shava, tolong terima Shava," pintanya pada Mamanya.
Helaan napas keluar dari bibir Mama Andre. Wanita paruh baya itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk menerima Shavana. Dirinya juga yakin Andre belum mencintai istrinya sepenuhnya. Andre dulu sangat mencintai mantan kekasihnya. Dan Mamanya masih mengira, cinta Andre sepenuhnya untuk mantan kekasih Andre. Meskipun mantan kekasih Andre telah dimiliki orang lain saat ini, "Theana lebih baik dari dia. Thea nggak sebanding sama dia. Mama tetep nggak bisa setuju kalau dia ada di bagian keluarga kita," tegas Mamanya.
"Theana jauh lebih baik dari pada Shavana yang lahir berasal dari keluarga yang tidak sepadan sama kita, Ndre! Apa salahnya sih Mama nggak bisa terima dia? Yang paling jadi bahan cemooh keluarga besar kita itu keluarga kita. Dan semua gara-gara istri kamu," tambah Mamanya lagi.
Sorot mata Mamanya berkilat tajam. Selalu saja seperti itu saat Mamanya berdebat tentang istrinya. Seakan-akan tak ada celah untuk Shavana masuk ke dalam anggota keluarganya. Padahal Andre berusaha ingin mencintai perempuan yang saat ini telah menjadi istrinya. Setidaknya cinta yang ia torehkan untuk Theana, akan berpindah ke Shavana sepenuhnya, "Kamu menikah dengan perempuan yang nggak sepadan sama kita. Apa yang mau kamu harapin sama dia? Nggak ada Ndre. Kamu cuma butuh pelampiasan kan menikahi dia?"
Andre membulatkan matanya saat Mamanya mengatakan kalimat itu di tengah-tengah acara. Andre memegang lengan Mamanya, "Ma, ini tempat umum. Nggak sepatutnya Mama ngomong gitu. Ayo lah Ma, dewasa sedikit. Masalah pernikahan Andre biar Andre sendiri yang menyelesaikannya. Andre minta Mama cukup mendukung Andre," serunya pelan. Namun dengan sorot mata yang menatap Mamanya dengan tatapan dalam.
"Kamu yang buat Mama emosi tiap melibatkan istri kamu dimana pun itu. Mama pengen kamu sendiri di acara pesta teman Mama," sahut Mamanya tetap dengan alasannya tadi.
"Udah lah, terserah kamu! Mama mau kesana dulu," serunya lagi sebelum dirinya meninggalkan Andre di tempat.
"Ma," panggil Andre. Namun panggilannya itu terputus saat sebuah tangan menggenggam tangannya tiba-tiba.
"Mas?" panggil Shavana.
Andre menoleh saat dirinya merasa dipanggil, "Shava? Kamu nyusul kesini?" tanyanya pada istrinya.
"Iya. Aku lihat dari kejauhan kamu sama Mama sempat beradu pendapat. Ada apa? Kenapa Mama tiba-tiba pergi?" tanya Shavana pada Andre. Perempuan cantik itu sebenarnya sudah punya firasat bahwa Mama Andre belum sepenuhnya menerima dia sebagai calon menantu. Tapi mau bagaimana lagi? Memang benar, dirinya dan Andre tak sepadan. Makanya, Shava berusaha keras untuk membangun kafe dan coffee shop agar dirinya merasa sepadan dengan suaminya. Setidaknya dirinya tak merepotkan suaminya dari segi finansial.
"Nggak papa," sahut Andre.
[Mama : Andre, sebentar lagi kamu Mama kenalkan sama teman-teman Mama. Jangan pulang dulu]
Sebuah pesan mencuat dari layar ponsel Andre yang membuat Andre mengerutkan dahinya karena Mamanya tiba-tiba mengirim pesan tersebut. Dan pasti, Mamanya memintanya untuk tak mengajak Shavana lagi untuk bertemu teman-teman Mamanya. Lantas, Andre harus tegas dengan cara seperti apa lagi? Mamanya terlalu keras kepala untuk membenci istrinya.