Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Shavana, Andre menghela napas. Andre merasa tak nyaman jika istrinya terus-menerus disindir oleh Mamanya. Tak direstui Mamanya karena istrinya berasal dari keluarga yang tak sepadan dengannya. Tapi mau bagaimanapun juga, Shava adalah perempuan yang tulus mencintainya. Shava selalu ada ketika perasaannya dipatahkan oleh perempuan lain yang dulu ia cintai, yaitu Theana.
Ya, sebagai seorang suami, Andre berhak memberi kebahagiaan untuk Shavana. Andre tahu, dia menikahi Shavana karena ingin mengobati lukanya yang dulu pernah remuk redam karena perempuan yang ia cintai menikah dengan orang lain. Tapi setidaknya, ia ingin berbalas budi dengan Shavana yang telah menyembuhkannya, "Jangan gitu, Shav! Aku berhak kasih kebahagian untuk kamu. Aku suami kamu. Aku nggak mau lihat Mama mencerca kamu lagi. Selama dua tahun menikah, kamu selalu menolak jika aku mengajakmu pindah."
Shavana membalas kalimat Andre dengan bibir yang tersungging lebar. Meskipun hatinya sebenarnya juga merasa tak nyaman menjadi bahan sindiran keluarga besar Andre. Tapi ia tak peduli. Ia mencintai Andre. Ia tak pernah membuat salah di keluarga besar Andre, kenapa ia harus merasa dibenci? Biarkan saja. Barangkali prestasi Shavana akan membungkam mulut keluarga besar Andre dan menerima Shava untuk tetap menjadi istri Andre.
"Mama nggak mencerca, Mas! Mama ada benernya juga, kamu dari keluarga berada sedangkan aku cuma berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. Aku nggak pernah sakit hati kalau Mama ngomong ini itu, yang jelas aku bisa beri kebahagian untuk kamu dengan caraku sendiri," jelas Shavana yang membuat Andre ikut bungkam.
Bagaimana bisa perempuan setulus ini harus ia sakiti nanti? Andre tak bisa membayangkan. Ia tak tega menyakiti hati istrinya lagi setelah keluarga besarnya terlalu banyak menyakiti hati Shavana.
"Doakan ya? Semoga launching toko kue nanti bisa berjalan lancar. Aku udah nyiapin semuanya. Dari resep baru sampai menagemen keuangan toko nanti. Aku mau buat toko itu toko paling melekat di hati pecinta kue. Dan aku mau, usahaku ini berbuah manis. Mama bisa menghargai aku sebagai menantunya," ucapnya bersorak tanpa rasa sedih sekalipun.
Oh ayolah Andre! Perempuan setulus Shavana tak patut untuk terluka. Ia sangat tulus. Dari ujung nadinya, Shavana perempuan yang teramat baik untuk disakiti.
"Aku bantu suntikan modalnya. Kalau ada yang kurang bilang aja. Biar toko kue kamu bisa berkembang pesat lebih dari kafe yang kamu bangun beberapa tahun yang lalu," Tawaran Andre membuat Shavana menggeleng.
Tangan Shavana memegang pelan tangan Andre yang tadi sempat terkena cairan panas. Meskipun sedikit melepuh tapi Andre masih bisa menahannya, "Nggak ada yang kurang kok. Baik modal ataupun SDM, semua udah aku urus. Uang kamu buat tabungan kelak aja. Aku masih punya uang cadangan untuk bangun toko kue. Dan uang tabungan aku sendiri sudah bisa mengcover kebutuhan semuanya. Aku nggak mau ngerepotin kamu," jelas Shavana pada suaminya.
Lagi-lagi Shavana ingin mengotak-atik usahanya sendiri. Tanpa bantuan Andre ia ingin melakukannya sendiri. Ia paham, kalau Andre ikut campur untuk menyuntik modal usaha, pasti Mama mertuanya tak akan pernah bisa terima hal itu. Dan itu yang akan menjadi kunci, Shavana dicaci maki oleh keluarga besar Andre. Selagi dirinya bisa sendiri, ia tak akan meminta bantuan suaminya untuk bangun usaha sendiri, "Kamu istriku Shavana, nggak mungkin aku nggak berperan ketika istriku mau launching usaha baru," seru Andre memaksa Shavana untuk tetap menerima bantuannya.
Shavana tetap menggeleng. Netranya mengisyaratkan Andre untuk memahaminya, "Mas, aku tahu. Bukannya aku mau nolak. Tapi aku pengen kamu fokus memberi nafkah untuk kehidupan kita sehari-hari aja. Urusan usahaku biar aku yang handel semuanya. Kamu udah terlalu banyak membantu Ibuku yang dulu kesusahan ekonomi. Jangan terlalu membantu banyak, aku merasa nggak enak sama keluarga besar," jelas Shavana.
"Ya udah. Kalau ada apa-apa langsung bilang," seru Andre.
"Pasti," sahut Shavana kemudian.
Sorot mata Shavana tertuju pada tangan Andre yang tadi terkena air panas. Jari jemarinya yang lentik, ia gunakan untuk mengusap lembut tangan kekar penuh urat itu, "Tangan kamu udah nggak papa kan?" tanyanya pelan pada suaminya.
Andre menggeleng. Ia sudah lebih nyaman saat Shavana mengoleskan salep antibiotik pada tangannya. Bibirnya mengembang pada perempuan yang sangat tulus mencintainya itu, "Nggak papa," sahut Andre.
Helaan napas terdengar dari bibir Shavana. Dirinya merasa bernapas lega ketika mendengar suaminya mengatakan kata itu, "Syukur deh kalau gitu. Kalau sakit langsung bilang ya Mas? Jangan dipendem sendiri. Jangan buat aku khawatir!" pinta Shavana ke arah Andre.
Tangan Andre yang tak terluka, ia gunakan untuk mengusap pelan salah satu pipi milik Shavana. Ia lantas perlahan beralih menjatuhkan tangannya di hidung Shavana, dan kemudian menariknya pelan karena terlalu gemas dengan kekhawatiran Shavana, "Tadinya perih, tapi sekarang udah nggak terlalu. Kamu nggak perlu khawatir. Nanti juga sembuh sendiri," ucap Andre pelan.
"Tapi kalau lukanya nanti makin parah, langsung bawa ke dokter ya?" Shavana masih terlihat sangat khawatir saat melihat luka ruam yang ada di tangan Andre. Meskipun luka itu terbilang kecil. Tapi Shavana tetaplah khawatir dengan keadaan luka itu. Takut jika Andre terlalu banyak menyepelekan lukanya, bisa semakin parah dan berujung infeksi. Shavana tak ingin hal itu terjadi.
"Iya. Pasti bakalan cepat sembuh. Kamu jangan terlalu khawatir! Aku nggak papa," seru Andre mencoba membuat Shavana tak khawatir dengan luka kecilnya.
Seorang pelayan yang mengantar makanan telah tiba di meja Andre dan Shava. Pelayan itu lantas meletakkan satu persatu makanan yang Shava pesan ke meja yang ada di depannya, "Ini makanannya Pak, Bu, sudah siap!" tuturnya sopan.
"Terima kasih ya?" ujar Shavana saat pelayan itu telah selesai mengantar makanan untuknya dan suaminya.
"Sama-sama," jawab pelayan itu sebelum dirinya beranjak meninggalkan meja makan Andre dan Shava.
Sembari menyendok hidangan yang tersaji, Shavana menatap samar makanan itu dan mengingat awal pertama saat dirinya menikah. Selama dua tahun. Dia dan Andre hanya bisa dihitung jari makan berdua di luar. Andre lebih banyak dinas ke luar kota dan meninggalkan Shavana di rumah. Baru beberapa bulan belakangan ini, Andre menetap di Jakarta. Dan Shavana sering sekali memasakkan makanan untuk suaminya agar suaminya tak makan di luar.
Ini kesempatan bagus. Saat ulang tahun pernikahannya kedua, Shavana mengajak Andre untuk sesekali makan bersama. Dan semoga ke depannya kehidipan mereka tak diterpa badai. Selama dua tahun juga Shava berharap Mama Andre yang dulunya tak merestuinya, tiba-tiba menurunkan egonya untuk menerima Shava sepenuh hati menjadi menantunya.
"Selama dua tahun menikah, kita jarang makan di luar kayak gini Mas, makanya aku ngajak kamu kesini. Kamu biasanya sibuk terus di kantor. Sering banget pulang malam karena lembur, jadi kita nggak punya waktu berdua. Makan di rumah kadang-kadang habis itu lanjut kerja lagi. Jadi kita nggak punya waktu bersama," tutur Shavana menatap Andre dengan tatapan dalamnya.
Andre membalas tatapan itu dengan senyum getirnya, merasa bersalah pada istrinya, "Setelah ini, aku janji bakalan otak-atik schedule kantor biar nanti nggak terlalu banyak lembur. Kalau pekerjaan selesai semua, aku langsung pulang. Ya?" balasnya.
Saat Andre ingin menyantap makanannya, tiba-tiba ia menerima sebuah pesan dari seseorang. Ponselnya yang ada di saku jasnya tiba-tiba berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Ia lantas merogoh ponsel itu dan membuka layar kunci ponselnya sebelum ia menyendok hidangan di meja itu.
Dan netranya mengerut saat nama Sang Mama yang tertera di layar ponsel itu sebagai pengirim pesan.
[From Mama : Andre, kamu dimana? Mama mau ngabarin kalau Mama ada undangan Familly Gathering bersama teman kerja Papa di kantor. Kamu bisa datang kan nanti malam di Mansion Atlantik? Kamu datang sendiri bisa kan?]
Bunyi pesan itu benar-benar menyakitkan jika dibaca oleh Shavana. Tapi Andre memilih untuk bungkam dan tak memberitahu Shavana agar Shavana tak sakit hati, "Pesan dari siapa Mas?" tanya Shavana sendiri. Sedari tadi Shavana melirik suaminya yang sedang memainkan ponselnya. Tak tahu jika yang mengirim pesan pada suaminya itu adalah mertuanya.