"Selamat ulang tahun pernikahan ke dua tahun!" sorak Shavana saat dirinya masuk ke dalam ruang kerja milik Andre, suaminya. Shava berdiri di ambang pintu. Jari tangannya yang lentik ia gunakan untuk merangkum sebuah pancake yang tersaji di piring cantik yang ia pegang itu.
Pancake itu ia tujukan untuk suami tercintanya dalam merayakan ulang tahun pernikahan. Meskipun hanya perayaan kecil. Tapi Shava bahagia, dirinya bisa mempertahankan pernikahannya selama satu tahun. Dan mereka tampak baik-baik saja dalam pernikahannya.
Shava mencintai laki-laki bertubuh tegap yang telah resmi menjadi suaminya dua tahun yang lalu. Laki-laki yang tengah terduduk di kursi kerjanya itu tampak tersenyum simpul ke arahnya. Langkah kaki laki-laki itu perlahan beranjak mendekat ke arah Shava. Bibirnya sedari tadi tersenyum simpul ke arah Shava yang meletakkan pancake di meja kerjanya. Tangannya spontan merangkum pinggang Shava untuk ia dekap. Dan bibirnya mendarat di kening Shavana, "Kamu kesini?" tanyanya pelan pada Shava.
"Iya," balas Shava cepat.
"Sendirian?" tanya laki-laki itu lagi. Karena tak seperti biasanya, Shava berkunjung ke perusahaan milik suaminya. Selama dua tahun menikah, Shava lebih nyaman di rumah, menunggu suaminya pulang dan memasakkan makanan kesukaan suaminya. Shava hanya ikut berkunjung ke kantor suaminya jika ada acara besar di kantor yang harus melibatkan dirinya.
Shava melingkarkan tangannya di leher Andre, suaminya. Bibirnya sedari tadi mengembang menelisik guratan wajah lelah milik suaminya pasca bekerja. Jari lentiknya kemudian bertengger di pipi laki-laki itu seraya mengusap lembut cambang-cambang tipis yang ada disana.
"Iya Mas, aku sendirian kesini. Tadi aku maunya kasih kejutan di rumah aja. Tapi ternyata waktu aku telfon sekretaris kamu, kamu nggak ada jadwal banyak hari ini. Ya udah, aku ke kantor kamu aja sekalian ngerayain ulang tahun pernikahan kita," serunya lembut seraya bibirnya mengembang penuh.
"Maaf ya? Belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu. Kasih kejutannya juga yang ala kadarnya pakai kue buatan sendiri," tutur Shavana lagi.
Andre membalas kalimat istrinya dengan anggukan mengerti. Tak masalah. Sungguh, justru dirinya lah yang begitu beruntung mendapatkan Shavana yang dulu pernah mengobati lukanya dari kerasnya sebuah hubungan percintaan dengan orang lain. Dulu Andre telah mati-matinya mempertahankan kisah cintanya bersama perempuan yang sangat ia cintai. Tapi ternyata, rasa cinta yang ia torehkan itu berubah menjadi duka. Perempuan yang sangat ia cintai itu, ternyata memilih menerima perjodohan dari orang tuanya dan akhirnya perempuan itu menikah dengan orang lain.
Benar-benar membuat Andre terpuruk. Pasalnya perempuan yang menemaninya dari nol dulu telah meninggalkannya dan menikah dengan orang lain. Perempuan itu juga yang mengobatinya pasca ia mendapatkan masalah besar dalam keluarganya. Masa-masa kuliah yang seharusnya ia gunakan untuk mengejar pendidikannya. Nyatanya membuat Andre ingin mengakhiri hidupnya karena sebuah masalah keluarga yang begitu besar. Iya, Andre terlahir dalam keluarga broken home yang membuatnya hampir tak bisa menjalani hidup dulunya.
Dan mungkin perempuan pertama yang Andre cintai bukan lah Shava. Tapi Shavana yang mengobati dirinya saat kisah percintaannya kandas begitu saja dulu, "Nggak papa. Justru aku yang minta maaf sama kamu karena belum jadi suami yang terbaik," balasnya pada Shavana.
"Ini apa?" tanya Andre saat sorot matanya mengarah ke kue yang dibawa oleh istrinya.
Bibir Shavana tertarik lebar. Tangannya lantas membuka kotak kue itu untuk mengeluarkan pancake yang ada di dalamnya. Pancake itu terlihat enak. Semerbak bau yang tercium disana membuat Andre ingin cepat-cepat menyantap makanan itu, "Ini pancake yang aku buatin khusus untuk kamu," serunya.
"Istriku memang pinter kalau disuruh masak," puji Andre saat perlahan tangannya menyendok kue itu dan memakannya lahap.
Tawa shava pecah ketika dirinya melihat sisa krem yang ada di kue itu belepotan di tepi bibir suaminya. Jari lentiknya perlahan mengusap pelan sisa krem itu dan bibirnya masih betah menyunggingkan senyuman, "Ya kan dari dulu aku lulusan sekolah memasak, Mas! Selesai SMA waktu kamu pindah ke Singapore, aku di Jakarta kuliah ambil tata boga. Dan sekarang impian aku udah terwujud beberapa tahun belakangan ini. Aku punya kafe sendiri. Pengennya sih tahun depan aku mau launching toko kue. Tapi nggak tau juga, lihat nanti ke depannya aja!" jelasnya pada Andre.
"Kamu nggak sibuk kan hari ini?" tanya Shava lagi.
Andre menggeleng. Netranya mengarah ke istrinya lagi seraya menyendok kue itu, "Nggak. Jadwal meeting di kantor cuma ada satu. Jadi nggak terlalu sibuk," jawabnya pada Shavana.
Bibir Shava mengembang lagi. Senangnya, setidaknya di hari ulang tahun pernikahannya ini, suaminya menyempatkan waktu untuk berduaan dengannya, "Bagus deh, aku mau ajakin kamu jalan-jalan. Mau nggak? Selama kita menikah. Kita jarang memiliki waktu berdua Mas, kita selalu sibuk kerja masing-masing," ajak Shavana.
"Kemana?" Andre mengerutkan dahinya saat istrinya itu mengajaknya makan bersama.
Shava yang sedari tadi ditatap Andre dengan tatapan penuh tanya lantas terkekeh geli. Tatapan yang diberikan Andre membuat Shava ingin meluapkan tawanya. Pasalnya, suaminya itu seperti terlihat terheran-heran karena Shava mengajaknya jalan, "Makan-makan. Sekali-kali aku mau kita makan di luar berdua. Bosen kan kalau makan masakanku terus?"
"Oke," sahut Andre seraya bibirnya mendarat lagi di kening Shavana, yang membuat Shavana tersenyum simpul ke arah suaminya sebelum mereka memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Andre.
"Berangkat sekarang?" tanya Shava pelan saat dirinya telah siap menenteng tasnya untuk pergi dari ruangan.
Dan Andre mengangguk. Ia mengacak-acak pelan surai hitam milik istrinya sebelum dirinya mengambil jasnya yang tergantung di atas kursi kerjanya, "Ayok! Bentar aku ambil jas dulu," balasnya pada Shava.
Andre lantas melangkah untuk mengambil jasnya yang terselempang di kursi kerjanya. Jas hitam itu ia ambil dan ia pakai sebelum mengajak istrinya keluar dari ruangan. Sungguh, jika hari ini adalah hari bahagia Andre dan Shavana maka Andre tak akan menyia-nyiakan hari ulang tahun pernikahannya, "Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Shava saat melihat suaminya menyunggingkan senyum simpul ke arahnya. Entah senyum penuh arti seperti apa yang diberikan suaminya itu. Shava juga tak tahu apa yang dipikirkan suaminya.
"Soalnya istriku cantik," sahut Andre yang membuat rona pipi milik Shavanya bersemu merah.
Shavana menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, memaklumi sikap suaminya yang menebar gombalan bak anak remaja. Padahal keduanya sudah saling dewasa, tapi kata-kata gombalan itu selalu saja bertebaran di bibir suaminya, "Kamu gombal mulu kerjaannya," tandas Shavana.
"Ya nggak papa. Nggak masalah," jawab suaminya itu dengan nada enteng.
Andre menggenggam tangan Shava untuk ia ajak keluar dari ruangannya. Setelah berjalan beberapa langkah dari ruang kerjanya, seseorang memanggil Andre, "Pak Andre," panggilnya keras.
Andre menoleh ke sumber suara. Dan ternyata netranya terpaku pada salah satu sekretarisnya di kantor. Iya, yang telah memanggilnya adalah sekretarisnya sendiri, "Iya, ada apa?" tanyanya pelan pada perempuan itu.
"Berkas meeting bersama clien Minggu kemarin saya taruh ke ruangan Pak Andre ya?" seru perempuan itu ke arah Andre lagi. Tangannya sedari tadi tampak merangkul beberapa berkas urusan kantor yang memang sangat penting untuk penunjang pekerjaan kantor.
Kepala Andre mengangguk menyetujui, "Iya silahkan. Taruh disana dulu. Saya mau makan siang sama istri saya dulu," jawabnya mengarah ke perempuan itu.
"Baik Pak Andre," sahut perempuan itu sebelum dirinya pergi beranjak meninggalkan Andre yang masih berdiri di tempat.
Andre menggandeng tangan Shavana lagi untuk berjalan menuju lift kantor. Saat tak menghabiskan banyak menit, ia dan istrinya sampai di lift itu dan lantas menekan tombol lantai paling bawah untuk turun dari lift, "Kita jadi makan dimana?" tanyanya.
"Restoran Alaska?" Tawaran dari istrinya membuat Andre mengangguk seketika. Pasalnya restoran Alaska memang sudah menjadi restoran favorite-nya dari dulu. Jelas saja Andre tak menolak, "Boleh," jawabnya pada Shava.
"Restoran itu restoran paling deket sendiri dari kantor. Biar nggak makan waktu banyak. Dan restoran itu juga makanannya enak-enak dari dulu. Aku suka," Kalimat Andre ini menggema bertepatan saat dirinya keluar dari lift. Dan Andre berjalan mendahului Shava untuk keluar.
Shava mengembangkan senyum lebarnya. Laki-laki yang berjalan di depannya itu kini sudah menikah dengannya selama dua tahun ini. Dan Shava sangat mencintai laki-laki itu, "Aku paham suamiku orangnya super sibuk. Jadi mau nggak mau aku harus memanfaatkan waktuku dengan baik," serunya pelan.
Saat keduanya sampai di parkiran kantor, Andre maupun Shavana masuk ke dalam mobil. Laki-laki itu terlihat mengemudikan kecepatannya dengan kecepatan rata-rata karena tahu jika restoran itu tak begitu jauh. Dan tak berlangsung lama, restoran itu sudah terlihat di depan mata keduanya.
Andre lekas memarkirkan mobilnya di tempat parkir restoran. Ia mengisyaratkan istrinya untuk turun setelah dirinya menghentikan mobilnya, "Udah sampai," ujarnya pelan.
"Kamu mau pesen apa biar aku pesankan?" tanya Shava ketika dirinya dan suaminya perlahan masuk ke dalam restoran itu. Shava meminta suaminya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di restoran cepat saji itu. Ia sengaja meminta Andre untuk duduk terlebih dahulu, sedangkan dirinya yang akan memesan makanan.
"Aku mau Americano aja," jawab Andre saat netranya menelisik satu persatu menu yang tertera di papan besar yang terpajang di dinding restoran.
"Oke. Makanya terserah aku ya?" sahut Shavana dengan senyum manisnya.
Andre mengangguk, "Iya."
Saat menunggu Shavana memesan makanan, Andre memainkan ponselnya. Selama dua tahun menikah, ia ingin sekali berada di sisi Shavana. Tapi entah mengapa, rasanya terkadang sesekali perasaan yang dulu pernah ada untuk Theana, mantan kekasihnya itu muncul dipikirannya. Andre harus cepat membuang perasaan itu seluruhnya. Shavana perempuan tulus yang tak bisa ia sakiti begitu saja. Sedangkan Theana perempuan yang sudah memilih jalannya sendiri untuk menikah dengan orang lain.
"Mas, udah aku pesenkan. Tinggal kita tunggu aja, paling nggak sampai 15 menit makanannya udah diantar," ucap Shavana yang tiba-tiba mengagetkannya dari belakang.
Andre tersadar dari lamunannya. Dirinya melihat Sang Istri yang telah mengambil duduk di depannya. Bibir manis dari perempuan itu terlihat sangat tulus. Tak tega jika Andre melukainya, "Aarrkhhhh!" pekik Andre saat tiba-tiba tangannya tak sengaja kena tumpahan teh panas yang dibawa salah satu karyawan resto.
Guratan wajah Shavana tampak khawatir saat melihat suaminya secara tak sengaja terkena tumpahan air panas itu, "Kamu nggak papa?" tanyanya.
Karyawan resto itu memohon maaf pada Andre karena ia tak sengaja membawa teh panas yang terkocah mengenai tangan Andre, "Maaf Mas, tadi saya nggak sengaja. Saya ambilkan obat dulu ya?" seru karyawan resto itu.
Bibir tipis milik Shavana tersungging. Ia menahan tangan pelayan restoran itu, "Nggak usah Mbak. Nggak papa biar saya yang obati suami saya. Saya kebetulan bawa obat," ucapnya menahan pelayan itu.
Berkali-kali pelayan itu menundukkan kepala karena merasa bersalah. Tapi Shavana tetap tak marah. Dan Andre tak terlalu fokus pada pelayan itu karena dirinya menahan tangannya yang kesakitan, "Maaf ... Saya minta maaf sekali lagi ya, Mbak, Mas?" ucap pelayan itu lagi.
"Lain kali kalau jalan hati-hati," pinta Andre dengan tatapan tajamnya karena pelayan itu sangat ceroboh membawa sebuah minuman.
Pelayan itu mengangguk patuh, "Iya. Saya minta maaf Mas."
"Nggak papa. Biar aku yang obati. Ini aku kebetulan bawa salep antibiotik. Bisa meredakan tangan kamu yang luka," Ucapan Shavana lembut membuat Andre mendongak. Shavana perlahan memegang tangan Andre yang terkena cipratan air teh tadi. Dan dengan lihai ia mengobati tangan Andre dengan sangat lembut karena kebetulan ia selalu membawa salep antibiotik dimana pun ia pergi.
"Shava, Besok kita pindah ke rumah baru ya? Aku merasa nggak nyaman kalau kamu di rumah, tapi Mama selalu ikut campur urusan kita," seru Andre pada istrinya. Andre dan Shavana memang masih tinggal di rumah orang tua Andre. Melihat ketulusan Shavana ini, Andre merasa sangat tak enak hati jika melihat istrinya menjadi bahan gunjingan keluarga besarnya.
Terkadang Andre merasa kasihan pada Shavana yang selalu tak mendapatkan restu dari orang tuanya untuk menjadi seorang istri Andre, pewaris tunggal Keluarga Farhan Group. Selama dua tahun, Shava memendam kesabaran untuk terus belajar menjadi istri terbaik Andre meskipun dirinya tak sempurna di mata keluarganya, "Nggak papa, Mas! Kita masih bisa berbakti tinggal sama orang tua. Nggak perlu pisah rumah," tolak Shavana.