"Sarapan dulu," ucap Andre pada Shavana saat Shavana terlihat terduduk di sebuah meja makan. Andre terlihat lihai menyiapkan hidangan nasi goreng untuk mereka makan. Sengaja, ia tak meminta bantuan asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makanan karena pagi ini Andre sendiri yang ingin menyiapkan makanan untuk istrinya.
Shavana tersenyum saat ia melihat Andre tengah meletakkan beberapa hidangan nasi goreng beserta telur goreng pada piring yang ada di depan Shavana. Sangat jarang sekali melihat pemandangan ini dari awal pernikahan mereka. Karena awal pernikahan mereka, Andre dirundung kesibukan terus-menerus sampai kebersamaan itu seakan dilupakannya, "Makasih ya Mas?" jawab Shavana.
"Iya. Sama-sama," sahut Andre sembari dirinya ikut duduk di samping istrinya.
Shavana meletakkan ponsel yang ia mainkan tadi di atas meja makan. Netranya menelisik beberapa hidangan yang tersaji. Baunya saja sudah terlihat bagaimana sedapnya hidangan itu sampai Shavana tak henti-hentinya tersenyum ke arah Andre, "Kok jadi kamu yang nyiapin semuanya? Biar aku aja sini!"
Andre menggeleng. Dirinya tetap menyiapkan satu paket nasi goreng beserta pencuci mulutnya di hadapan Shavana. Shavana benar-benar beruntung saat ini. Terkadang dalam batinnya, dirinya merasa Andre telah mencintainya secara sempurna akhir-akhir ini. Meskipun dulu, dia harus mati-matian menikah dan hidup bersama Andre yang super sibuk dan tak pernah pulang ke rumah karena pekerjaannya yang terlalu banyak, "Nggak papa, nggak perlu. Kamu kan lagi program hamil. Jadi harusnya aku yang nyiapin. Pokoknya aku nggak mau tau. Dia harus sehat. Anak papa harus sehat terus jangan sakit ya?"
"Kan belum ada anaknya di perutku," protes Shavana saat Andre mengusap perutnya seakan-akan program hamilnya telah berjalan lancar. Padahal terisi janin aja belum.
Andre terkekeh geli. Dirinya lantas mengecup pucuk kepala istrinya sembari berucap, "Ya nanti. Sebentar lagi pasti ada isinya. Pokoknya kamu sabar aja. Sebentar lagi. Ingat dokter, kalau kamu harus jaga pola makan kamu. Harus jaga konsumsi asam folat biar program hamilnya berjalan dengan lancar," tutur Andre mengingatkan ke Shavana bahwa Shavana harus menjaga pola makannya.
"Kamu juga. Kan kamu yang berkontribusi juga untuk program hamil ini. Kamu kan Ayahnya," sahut Shavana balik.
Andre mengangguk dirinya mengecup pelan bibir istrinya itu dengan singkat, "Iya. Makanya ayo sama-sama berjuang biar program hamilnya berjalan dengan lancar," seru Andre menatap Shavana dengan lembut.
Shavana lantas ikut mengangguk patuh. Dirinya tersenyum simpul sembari tangannya mulai menyendok hidangan yang tersaji pada meja yang ada di depannya, "Shavana," panggil Andre saat Shavana melahap makanan itu secara perlahan.
"Iya?" tanya Shavana mendongak ke arah suaminya.
Tangan Andre lantas memegang pelan tangan Shavana yang ada di atas meja. Ia mengusap-usap tangan itu sembari menatap Shavana dengan tatapan dalamnya, "Untuk masalah Mama. Kemarin hadiah dari kamu udah aku kasih ke Mama. Aku udah bilang sama dia untuk selalu menghargai kamu sebagai calon menantunya. Aku minta maaf juga ke kamu ya? Kadang sikap Mama kayak anak kecil yang buat kamu jadi sakit hati," seru Andre pada Shavana.
Shava terlihat mengangguk lagi. Seakan dirinya paham, ia harus terus bersabar untuk mendapatkan cinta dari mertuanya. Mau bagaimana lagi? Bukankah beberapa persen masalah pernikahan bersumber dari ketidaktertarikan mertua pada seorang menantu? Shavana juga mengalaminya. Dirinya tak pernah mendapatkan cinta itu dari mertuanya, "Iya. Nggak papa Mas. Mungkin aja sebentar lagi Mama juga bakalan mengubah sikapnya. Jadi kamu tenang aja. Selagi aku bisa membahagiakan orang-orang sekitar kita. Kamu nggak perlu khawatir terlalu berlebihan," tutur Shavana.
Andre sebagai penengah saja terkadang sulit untuk meminta Mamanya berubah. Dan Andre sebagai suami seakan gagal menjadi penengah, "Tapi Mama terlalu banyak menyakiti kamu. Selama dua tahun menikah, dia belum bisa menerima kamu. Aku janji, aku bakalan terus bicara sama Mama. Meyakinkan Mama biar hidup keluarga kita saling mencintai satu sama lain," ucap Andre.
"Bisa. Mama pasti bisa menerima sebagai menantunya nanti. Kamu sabar aja. Aku yakin Mama pasti bisa menerima itu semua. Memang sulit Mas, karena status sosial kita nggak sepadan. Tapi aku juga bakalan janji, dengan kafe yang aku buka kemarin, aku berharap Mama mau perlahan menerima aku," sahut Shavana seraya membalas genggaman tangan dari Andre.
"Makasih ya, atas pengertian kamu. Aku beruntung punya kamu Shavana. Dari dulu waktu aku terpuruk. Kamu selalu bisa menenangkan," jawab Andre.
Shavana lantas mengabaikan hidangan yang tersaji dalam piringnya itu. Ia memeluk tubuh Andre dengan erat. Mengangguk pelan dalam pelukannya, "Iya. Kita udah kenal dari waktu kita masih sekolah. Aku tahu persis sikap kamu. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Apapun yang bakalan terjadi nanti, semuanya bakalan baik-baik aja. Termasuk hubungan Mama dengan aku," seru Shavana perlahan.
"Aku berharap program hamil kita jadi saksi bahwa buah hati kita itu tanda cinta biar Mama bisa menghargai kamu," seru Shavana lagi. Shavana berharap ada celah untuk masuk ke dalam hati mertuanya. Ia berharap terus menerus agar Mamanya mau membuka hatinya untuk menerima Shavana.
Andre terlihat membalas pelukan itu. Dirinya pun juga mengecup pelan pundak Shavana dan mengeratkan tubuh Shavana untuk terus memeluknya, "Kadang aku juga lelah, aku udah bujuk Mama, aku udah bicara sama Mama tapi sikap Mama tetep nggak bisa seperti mertua baik pada umumnya ke kamu," sahut Andre pelan.
"Nggak papa. Ini bagian dari proses. Kita dulu awal pernikahan terlalu sibuk mengejar impian kita sampai kita lupa melakukan hal-hal romantis kan? Sekarang kita diberi kesempatan Tuhan untuk memperbaiki. Begitupun juga dengan Mama, mungkin Tuhan belum kasih kesempatan Mama untuk berubah. Jadi kita harus lebih bersabar lagi ya, Mas?" jelas Shavana menenangkan Andre.
Terkadang jika melihat kebaikan Shavana, Andre merasa tak enak. Dalam pernikahannya, Shavana telah berjuang mendapatkan cinta Mamanya. Tapi hasilnya tetap nihil. Berbeda sekali, waktu dulu Andre berpacaran dengan Theana. Mama Andre sangat menyetujuinya. Sayangnya Shavana beda orang. Shavana punya cara untuk mencintai Andre dengan tulus. Hanya saja, status sosial Andre dan Shavana saja yang kalah dari Theana. Makanya Mama Andre sulit untuk menerima Shavana sebagai menantunya.
Tapi sampai kapan? Apakah semua mertua pada umumnya seperti ini? Sulit untuk menerima orang baru yang tak ia sukai? Sampai kapan Shavana harus berusaha untuk mengambil hari Mama mertuanya itu? Terkadang Shavana juga lelah, tapi Shavana tak ingin hanya karena dirinya pernikahannya yang ia bangun selama dua tahun tiba-tiba kandas.
"Aku mau fokus sama program hamil kita aja. Semoga semuanya berjalan dengan baik," bisik Shavana di telinga Andre yang membuat Andre mengangguk pelan dalam pelukan itu.