"Mas," panggil Shavana saat dirinya terbangun dari tidur panjangnya. Shavana melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga pagi. Saat ini perutnya tak bisa diajak berkompromi. Shavana menatap Sang suami yang masih tengah terlelap di pagi hari. Ia lantas membangunkan suaminya dengan perlahan.
"Mas," panggilnya lagi saat ia tak mendapati jawaban dari Andre.
Tangan Shavana menggoyang-goyangkan tubuh Andre secara perlahan. Berniat untuk membangunkan Andre agar Andre membantunya untuk meringankan sakit perut. Shavana terus menerus menggoncang tubuh Andre agar Andre terbangun sampai telinga Shavana menangkap sebuah gumaman pelan dari bibir suaminya, "Hm?"
"Perutku sakit," Shavana terlihat mengadu pada Andre.
Andre tampak mulai terbangun. Melihat Shavana yang sudah lebih dulu terbangun dan duduk bersandar di sisi ranjang sembari tangannya memegangi perutnya, "Kenapa? Sakit kenapa?" tanya Andre dengan mata yang masih memicing.
Shavana terlihat menggeleng. Ia pun juga tak tahu mengapa perutnya sakit secara tiba-tiba dini hari seperti ini, "Nggak tau Mas, tiba-tiba perutku sakit. Kram juga," seru Shavana mengadu lagi pada Andre. Shavana menahan kram di perutnya dengan dua tangan. Berniat untuk meredakan sakitnya sendiri.
"Tadi habis makan apa?" tanya Andre seraya dahinya berkerut saat menatap Shavana. Apa mungkin karena program hamil Shavana jadi sakit perut secara tiba-tiba? Tapi tak mungkin. Karena waktu awal menikah, Shavana pun juga merasa baik-baik saja saat program hamil dulu.
"Aku makan nggak aneh-aneh perasaan," jawab Shavana seadanya.
Andre lantas turun dari ranjangnya untuk mengambil minum di atas nakas. Ia membiarkan Shavana masih terlentang di ranjangnya. Bibirnya kemudian mendarat singkat di dahi Shavana sebelum dirinya meminta Shavana untuk meminum air putih yang ada di gelas genggamannya, "Minum dulu," titah Andre.
"Kamu pasti makan aneh-aneh tadi makanya jadi sakit perut seperti ini," seru Andre lagi menerka-nerka bahwa Shavana makan jajanan yang tak sehat sampai membuat perutnya jadi sakit di pagi-pagi buta seperti ini.
Tetap saja Shavana menggelengkan kepalanya. Ia merasa ia makan dengan baik. Tak mungkin ia makan jajanan yang tak patut untuk dimakan. Ia sudah dewasa. Tak seperti anak kecil yang harus dititah harus melakukan apa sebelum bertindak, "Nggak ada. Aku makan kayak biasanya. Nggak pernah aneh-aneh," jawab Shavana.
"Terus kenapa sakit ini? Mana yang sakit?" tanya Andre seraya menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia melihat Shavana tengah beranjak duduk lagi usai berbaring terlentang. Shavana lantas mengambil air putih yang ada di gelas yang Andre pegang. Ia meneguk air putih itu dan menatap Andre dengan tatapan sayunya.
"Nggak tau," jawab Shavana lagi.
Usai meneguk minuman itu, Shavana terlihat membantu Andre untuk meletakkan minuman itu di atas nakas lagi, "Apa karena program hamil aku jadi sakit perut Mas?" tanya Shavana tiba-tiba pada Andre sampai membuat Andre menoleh ke arahnya.
Andre menggeleng menanggapi pertanyaan dari Shavana. Tangan kekarnya lantas merangkul tubuh Shavana ke dalam pelukannya di atas ranjang, "Kayaknya nggak, tapi nanti kalau masih nyeri terus, kita ke rumah sakit ya?" seru Andre.
Dan Shavana lantas menyetujui. Ia juga tak mau berburuk sangka pada dirinya sendiri. Tak mungkin karena masalah program hamil perutnya jadi kram seperti ini, "Iya," jawabnya.
"Mana yang sakit?" tanya Andre pada Shavana seraya tangannya meraba-raba perut Shavana.
Shavana tampak merintih sedikit. Dirinya membantu tangan Andre untuk ada di atas perutnya yang sakit. Shavana meminta Andre untuk mengusap perutnya pelan, "Perut sama punggung. Sakit semua," Shavana mengadu.
"Sebelumnya pernah gini waktu kamu program hamil dulu?" tanya Andre memastikan.
Dan Shavana menjawab pertanyaan itu dengan gelengan cepat, "Nggak. Baru ini yang pertama kali. Perut sama punggung sakit semua," jawab Shavana.
Andre mencoba untuk meraba-raba perut Shavana yang terlihat sakit. Tangannya menelusup di bawah piyama satin yang Shavana pakai agar lebih mudah mengusap perut Shavana. Saat Andre mencoba untuk membantu meringankannya, Shavana terlihat nyaman dengan posisi seperti itu, "Udah mendingan?" tanya Andre.
Dan ketika mendapatkan jawaban anggukkan dari kepala Shavana, "Ya udah sekarang tidur ya? Besok kamu ke kafe kan? Ngurus kafe lagi," titah Andre seraya tangannya masih fokus mengusap-usap perut Shavana.
"Kamu besok pulang malam dari kantor?" tanya Shavana dengan hati-hati sembari netranya masih nyaman terpejam di pelukan Andre.
Tangan Shavana melingkar di perut Andre juga. Meskipun Andre saat ini masih sibuk mengusap pelan perut Shavana, "Iya. Aku lembur lagi. Proyek kerjasama bareng investor harus aku selesaikan besok. Kalau nggak selesai. Citra perusahaan bisa hancur," jawab Andre pelan dengan netra yang ikut terpejam.
"Demi kepercayaan mereka pada perusahaan yang aku pimpin. Kamu sabar ya? Ada saatnya nanti aku nggak lembur dan punya waktu untuk kamu," tambahnya lagi mengatakan kalimatnya ke arah Shavana.
"Mas," panggil Shavana pelan.
Dan Andre yang masih meraba-raba perut Shavana lantas bergumam, "Hm?"
"Mas, Mama masih mengharapkan Theana ya?" tanya Shavana secara tiba-tiba. Entah apa yang ada dipikiran Shavana. Mengapa perempuan itu tiba-tiba melibatkan seseorang di masa lalu Andre dalam percakapan ini?
"Mama masih pengen Thea jadi menantunya?" tanya Shavana lagi. Sungguh, ia masih ingat-ingat kejadian di pesta acara teman Mama Andre. Mereka sangat asik membicarakan Theana. Bahkan sampai Shavana seperti tak dianggap. Padahal yang istri Andre adalah Shavana bukan Theana.
"Kamu kenapa ngomong gitu?" tanya Andre dengan dahi yang mengerut penuh. Karena terkejut saat Shavana tiba-tiba menyinggung mantan kekasihnya.
"Aku cuma tanya aja. Karena waktu kemarin di pesta acara temen Mama. Mama antusias banget nyebut nama Thea," seru Shavana menjawab pertanyaan dari Andre.
Tangan Andre yang bertengger di perut Shavana lantas pindah merangkul penuh tubuh Shavana untuk ia peluk di atas ranjang, "Nggak perlu dibahas. Mungkin Mama cuma masih terbayang masa lalu. Dan itu udah berlalu. Udah lama juga kan masalahku sama Theana. Nggak perlu kamu pikir terlalu jauh," jelas Andre.
Shavana masih was-was. Ia tak tenang. Takut Andre pun juga sama. Masih mengharapkan Thea padahal dirinya sudah menikah dengan Shavana, "Kalau kamu gimana?" tanya Shavana.
Dua alis tebal milik Andre bertautan lagi, "Apa?"
"Kamu bener-bener udah nggak ada perasaan sama Theana lagi?" tanya Shavana pelan.
Dan Andre sontak menggeleng cepat. Entah itu karena ingin menyenangkan Shavana atau memang benar, Andre telah membuang jauh kenangan masa lalunya bersama mantan kekasihnya, "Nggak ada. Theana itu masa laluku. Dia juga udah hidup dengan laki-laki yang menjadi pilihannya. Aku hidup dengan perempuan yang menjadi pilihanku. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Fokus program hamil aja ya? Aku pengen cepet-cepet kita punya buah hati," jelas Andre yang membuat Shavana menghela napas.
"Aku nggak tau. Gimana caranya jadi istri yang baik. Aku juga nggak tau gimana caranya membahagiakan Mama. Aku belum jadi istri dan menantu yang baik. Dan aku takut, apa yang aku lakukan ini ternyata sia-sia," sahut Shavana. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Andre. Tak tahu hari esok harus melakukan apa.
Sepertinya hidup yang biasa-biasa saja. Akan sulit sepadan dengan Andre yang punya kehidupan yang layak. Shavana meloloskan buliran bening dari kelopak matanya, dan saat Andre melihat istrinya yang tengah menitihkan air mata itu, ia lantas mendaratkan bibirnya di bibir ranum milik istrinya dengan khidmat.
Sepertinya setelah ini sambil menunggu pagi datang, mereka melanjutkan ritual suami istri pada umumnya. Memang, semua masalah lebih mudah dibicarakan di atas ranjang bersama pasangan. Andre perlahan memulai permainannya ...