Jumat malam, hampir dua minggu setelah Andra hampir membocorkan segalanya, Yuda mengantar Jinny pulang seperti biasa.
Jinny sudah menunggu sepanjang minggu. Setiap kali Yuda mengajaknya makan malam, ia berdandan sedikit lebih rapi. Setiap kali mereka berdua saja, ia menunggu pria itu merogoh saku jasnya. Tapi yang keluar dari saku jas itu selalu ponsel, dompet, atau kunci mobil. Sekali, bahkan, permen jahe.
Ia mulai curiga Andra memang hanya menanyakan cincin untuk Kia.
"Mas," katanya saat mobil berbelok ke jalan menuju kosnya, "Mas lagi sibuk banget ya minggu ini?"
"Lumayan."
"Lumayan itu sibuk banget atau gak sibuk?"
"Lumayan itu lumayan."
Jinny mendengus dan menatap ke luar jendela. Lampu-lampu jalan bergerak lewat seperti biasa. Hari ini hari Jumat biasa. Mungkin besok juga Sabtu biasa. Mungkin ia terlalu banyak menonton drama Korea dan berharap hidup akan selalu memberinya adegan puncak di episode enam belas.
Mobil berhenti di depan gang kosnya. Gerobak putu masih buka, lampu petromaksnya bergoyang seperti biasa. Abang tukang putu sedang mengipasi kukusan dengan kipas bambu yang sudah robek di ujungnya.
"Mau putu?" tanya Yuda.
Jinny menoleh. Yuda tidak pernah menawarkan putu. Biasanya ia yang memaksa, dan Yuda yang mengalah sambil bilang lumayan.
"Mas yang traktir?"
"Saya yang traktir."
Mereka turun dari mobil. Abang tukang putu langsung menegakkan punggungnya begitu melihat mereka, dan entah mengapa, wajahnya terlihat gugup. Abang tukang putu yang selama bertahun-tahun selalu menggoda Jinny dengan santai kini menatap Yuda seperti prajurit yang menunggu aba-aba.
"Malam, Bang," sapa Jinny.
"Ma... malam, Jin." Abang tukang putu berdeham. "Mau putu?"
"Ya iyalah, Bang. Masa mau bensin."
"Dua puluh ribu?"
"Biasa, Bang."
Abang tukang putu mengangguk terlalu cepat, lalu berbalik dan mulai membungkus putu dengan tangan yang sedikit gemetar. Jinny mengernyit. Ia melirik Yuda. Yuda berdiri dengan kedua tangan di saku celana, menatap kukusan putu dengan konsentrasi yang terlalu tinggi untuk orang yang hanya menunggu kue.
"Ini, Jin," kata abang tukang putu sambil menyodorkan kotak karton kecil. "Dua puluh ribu. Spesial."
"Spesial apanya, Bang? Biasanya juga sama."
"Buka aja."
Jinny membuka kotak karton itu. Wangi pandan dan gula merah langsung menyergap hidungnya, wangi yang selalu membuatnya bahagia. Di dalamnya ada putu hijau yang tersusun rapi seperti biasa. Dan di tengah-tengahnya, terselip di antara dua potong putu, ada sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua.
Jinny membeku.
Ia menatap kotak beludru itu. Lalu menatap abang tukang putu yang kini tersenyum lebar sampai gigi depannya yang ompong kelihatan. Lalu, perlahan sekali, ia menoleh pada Yuda.
Yuda berdiri saja di depan gerobak putu di pinggir gang kos yang sempit, di bawah lampu petromaks yang bergoyang, dengan wajah yang paling gugup yang pernah Jinny lihat. Lebih gugup dari saat ia bertemu ayahnya di pantai. Lebih gugup dari saat ia makan sambal Lombok.
"Jinny," katanya. Suaranya sedikit bergetar. "Nikah yuk."
Jinny menatapnya. Di dadanya, jantungnya berdetak begitu keras sampai ia yakin abang tukang putu bisa mendengarnya. Matanya panas. Tenggorokannya tersumbat.
Dan kemudian, dengan sisa-sisa kejahilan yang sudah mendarah daging, ia menjawab:
"Enggak."
Abang tukang putu menjatuhkan kipas bambunya.
Yuda terdiam sedetik. Lalu sesuatu berubah di wajahnya. Bukan kecewa. Justru sebaliknya. Sudut bibirnya mulai terangkat, karena ia mengenali permainan ini. Ia sudah memainkannya dari sisi yang lain berbulan-bulan lalu, di ruangan berdinding kaca dengan Americano yang setengah habis.
"Ayuklah," katanya, "jadi istri saya."
"Enggak," jawab Jinny lagi, air matanya mulai menetes meski bibirnya tersenyum.
"Ya sudah." Yuda melangkah lebih dekat. "Kalau kamu tidak mau jadi istri saya, biar saya saja yang jadi suami kamu."
Tawa Jinny pecah bersama tangisnya. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih memegang kotak putu dengan erat.
"Itu sama aja, Mas!"
"Saya tahu," kata Yuda. "Kamu yang ngajarin."
"Jadi jawabannya apa, Jin?" seru abang tukang putu, yang tampaknya sudah tidak tahan lagi. "Abang udah tiga hari latihan buat ini!"
Jinny menatap Yuda melalui air matanya yang buram. Pria yang dulu menyuruhnya keluar. Pria yang diam-diam menyimpan enam lembar kertas kuningnya di laci kiri meja kantor, jauh sebelum berani mengaku. Pria yang terbang ke Lombok, memeluk setandan pisang, dan makan sambal sampai telinganya merah demi bisa duduk di kursi rotan di teras rumahnya.
"Iya," katanya. "Iya, Mas. Aku mau."
Yuda mengambil kotak beludru dari tengah-tengah putu, membukanya dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil, dan mengeluarkan sebuah cincin. Emas kuning, sederhana, tanpa berlian besar. Ia memasangkannya di jari manis Jinny. Ukurannya pas sekali.
"Ada ukirannya," bisik Yuda. "Di dalam."
Jinny melepas cincin itu sebentar dan memiringkannya ke arah cahaya petromaks. Di bagian dalam lingkaran emas itu, terukir tiga kata dalam huruf kecil yang rapi.
Tawaran tetap berlaku.
Jinny tidak bisa bicara lagi. Ia memasang kembali cincin itu dan melompat memeluk Yuda begitu erat sampai kotak putu di tangannya hampir terjatuh. Abang tukang putu menangkapnya tepat waktu.
"AUNTY NINI BILANG IYA!"
Suara cempreng itu datang dari seberang jalan. Jinny melepaskan pelukannya dan menoleh, lalu ternganga.
Dari balik sebuah mobil putih yang terparkir di depan warung yang sudah tutup, muncul satu per satu kepala. Sisi yang melompat-lompat dengan piyama bergambar kelinci. Sarah yang menangis tersedu-sedu dengan tisu di kedua tangan. Agatha yang menggendong Kia sambil merekam dengan ponselnya. Andra yang mengacungkan kedua jempol. Dan dari balik gerobak bakso yang kebetulan lewat, muncul Bunga dan Arya dengan wajah merah dan napas terengah-engah.
"Kalian ngapain di sini?!" teriak Jinny.
"Operasi Petromaks!" balas Arya bangga.
"Kami udah ngumpet satu jam!" tambah Bunga. "Nyamuknya banyak banget, Jin!"
Sisi berlari menyeberang jalan dengan Sarah yang buru-buru menyusul di belakangnya, lalu memeluk kaki Jinny dan kaki Yuda bersamaan.
"Papa sama Aunty Nini nikah! Sisi boleh bawa Pak Bos ke nikahan?"
"Pak Bos yang mana?" tanya Yuda.
"Dua-duanya!"
Di tengah kekacauan itu, ponsel Jinny berdering. Panggilan video. Wajah ayah dan ibunya memenuhi layar, berdesakan dalam satu bingkai dengan latar belakang toko oleh-oleh di Mataram.
"Gimana?" tanya ibunya tidak sabar. "Udah? Dia udah ngomong?"
Jinny menatap layar dengan mata membulat. "Ibu tahu?"
"Dia telepon ayahmu minggu lalu," jawab ibunya bangga. "Minta izin. Lama sekali. Ayahmu sampai ketiduran di tengah-tengah."
"Saya gak ketiduran," protes ayahnya. "Saya merenung."
Jinny menoleh pada Yuda. Pria itu hanya mengangkat bahu dengan wajah tanpa dosa.
"Waktu di Lombok," katanya, "ayah kamu bilang saya harus minta izin ke kamu. Bukan ke dia. Tapi saya pikir sopan juga kalau ayah kamu tahu duluan."
Ayah Jinny berdeham di layar ponsel. Ia menatap Yuda dengan wajah serius yang hanya bertahan dua detik sebelum berubah menjadi senyum lebar.
"Yuda," katanya. "Pisangnya mana?"