Sebulan setelah Lombok, pada hari Kamis sore yang mendung, Yuda duduk di sebuah toko perhiasan di lantai dua pusat perbelanjaan dengan tiga orang yang tidak pernah ia bayangkan akan ia mintai tolong untuk urusan sepenting ini.
Sarah duduk di sebelah kanannya dengan tisu di tangan, padahal mereka belum melihat satu cincin pun. Agatha duduk di sebelah kirinya dengan wajah serius seperti hakim lomba masak. Dan Andra berdiri di belakang mereka bertiga sambil menggendong Kia yang sedang sibuk mengunyah ujung kerah kemeja ayahnya.
"Saya cuma butuh pendapat," kata Yuda untuk ketiga kalinya.
"Iya, iya," kata Agatha tanpa mendengarkan. Ia sudah menunjuk lima cincin di etalase. "Mbak, yang ini, yang ini, yang ini, sama dua yang di pojok. Keluarin semua."
Pramuniaga toko itu mengeluarkan nampan beludru berisi lima cincin dengan senyum yang mulai kaku. Sarah langsung menangis.
"Mbak, belum juga dipilih," kata Yuda.
"Mbak gak nyangka aja," isak Sarah sambil mengusap matanya. "Adik Mbak. Mau ngelamar. Pakai cincin."
"Memangnya ngelamar pakai apa lagi?"
"Pakai Americano mungkin," celetuk Andra dari belakang.
Agatha menoleh dan memelototi suaminya. Andra langsung diam dan pura-pura sibuk mengelap air liur Kia.
Agatha mengambil cincin pertama, emas putih dengan berlian besar di tengahnya. Ia menatapnya sebentar, lalu meletakkannya kembali di nampan.
"Bukan."
Cincin kedua, emas kuning dengan ukiran bunga. "Bukan."
Cincin ketiga, platinum dengan tiga berlian berjajar. "Jelas bukan. Ini cincin buat istri pejabat."
"Agatha," kata Yuda sabar, "kamu tahu apa yang dia suka?"
Agatha meletakkan cincin ketiga dan menatap Yuda dengan pandangan yang membuat CEO itu merasa seperti mahasiswa yang lupa membawa tugas.
"Gue kenal Jinny dari hari pertama kuliah," katanya. "Dia gak suka yang mewah. Dia gak suka yang berkilau-kilau. Dia suka yang aneh. Yang ada ceritanya. Dia nyimpen tiket bioskop dari tahun 2015 karena filmnya jelek banget sampai dia ketawa. Dia nyimpen bungkus permen dari kafe tempat kami pertama ketemu. Dia..."
"Nyimpen kertas kuning dengan tulisan saya," kata Yuda pelan.
Agatha berhenti. Lalu ia tersenyum. "Nah. Lo udah tahu kan."
Yuda menatap nampan beludru itu. Lalu ia menoleh pada pramuniaga yang masih berdiri dengan senyum kaku.
"Mbak, di sini bisa pesan cincin khusus? Dengan ukiran di dalamnya?"
***
Ukuran jari ternyata adalah masalah terbesar.
"Gue tahu," kata Agatha sambil mengangkat tangannya sendiri. "Jari manis Jinny sama kayak gue. Kami pernah tukeran cincin pas kuliah buat iseng. Pas."
"Kamu yakin?" tanya Yuda.
"Yakin. Lagian kalau salah, bisa dikecilin."
"Atau dibesarin," tambah Andra, yang langsung mendapat pelototan kedua dari istrinya.
Pramuniaga itu mengukur jari Agatha, mencatat ukurannya, lalu menyodorkan formulir pesanan. Yuda mengisinya dengan pulpen bertinta biru. Di kolom ukiran, ia menulis tiga kata, lalu menunjukkannya pada Sarah.
Sarah membacanya dan langsung menangis lagi.
***
Sabtu siang, Jinny mampir ke rumah Agatha untuk menemani Kia yang sedang belajar merangkak. Agatha sedang ke dapur membuat jus, dan Jinny duduk di karpet bersama Andra yang sedang membaca koran di sofa.
"Jin," panggil Andra tiba-tiba tanpa menurunkan korannya.
"Hmm?"
"Lo suka emas putih atau emas kuning?"
Jinny berhenti menggoyang-goyangkan mainan kerincingan di depan Kia. Ia menoleh perlahan pada Andra. Koran itu masih menutupi wajahnya.
"Kenapa nanya?"
"Gak apa-apa. Penasaran aja." Koran itu bergetar sedikit. "Kalau ukuran jari lo, berapa ya? Tujuh? Delapan?"
Dari dapur, terdengar bunyi gelas yang dijatuhkan. Agatha muncul di ambang pintu dengan wajah horor.
"ANDRA!"
Andra menurunkan korannya. Wajahnya pucat. "Aku cuma nanya soal... soal..." Ia menatap Kia di karpet. "Soal cincin Kia. Buat ulang tahun pertamanya."
"Kia baru sembilan bulan," kata Jinny datar.
"Persiapan dini."
Agatha menarik suaminya ke dapur dengan kekuatan yang mengejutkan untuk perempuan bertubuh kecil. Jinny bisa mendengar bisik-bisik panik dari balik pintu dapur. Kata-kata seperti mulut ember dan dia bakal bunuh gue dan Yuda udah bayar lunas terdengar samar-samar.
Jinny menatap Kia. Kia menatap Jinny balik dengan mata bulatnya yang polos, lalu tertawa dan menjatuhkan kerincingannya.
"Kia," bisik Jinny, "papa kamu emang gak bisa jaga rahasia ya?"
Kia menjawab dengan gelembung air liur.
***
Senin sore, Jinny mampir ke coffee shop dekat kantor untuk membeli dua gelas kopi. Satu Americano, satu latte. Kebiasaan baru yang dimulai sejak mereka kembali dari Lombok. Ia sedang menunggu pesanannya saat seseorang menyapa dari belakang.
"Jin."
Ia menoleh. Bimo berdiri di sana dengan koper kecil di samping kakinya. Wajahnya terlihat lebih segar dari terakhir kali, lingkar hitam di bawah matanya sudah hilang.
"Bim. Mau ke mana?"
"Surabaya. Gue dapat kerjaan di sana. Kantor cabang baru." Bimo tersenyum. "Gue sengaja mampir ke sini. Siapa tahu ketemu lo. Gue mau minta maaf yang benar. Yang dulu itu gue egois."
"Udah dimaafin, Bim. Dari dulu."
"Gue tahu. Tapi gue yang perlu ngomong." Ia menatap dua gelas kopi yang baru saja diletakkan barista di depan Jinny. Americano dan latte. Lalu ia tersenyum lebih lebar. "Andra cerita. Selamat ya, Jin. Dia orang yang beruntung."
"Dia orang yang keras kepala."
"Lo juga." Bimo mengangkat kopernya. "Cocok."
Ia pergi dengan lambaian tangan, dan Jinny menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu. Kali ini dadanya terasa ringan. Yang tersisa hanya rasa hangat yang sederhana, seperti melambaikan tangan pada teman lama di stasiun.
Lalu ia teringat sesuatu. Andra cerita. Andra cerita apa?
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Agatha.
'Lo nyembunyiin sesuatu ya?'
Balasan datang dalam lima detik.
'Enggak.'
'Ayuklah ngaku.'
'Enggak.'
'Ya udah, kalau lo gak mau ngaku, biar gue aja yang nebak.'
'JANGAN NEBAK. Pokoknya jangan. Minum kopi lo. Jangan mikir apa-apa. Lo gak tahu apa-apa. Gue juga gak tahu apa-apa.'
Jinny menatap layar ponselnya, lalu tertawa sendirian di tengah coffee shop sampai barista menatapnya dengan khawatir. Ia membawa dua gelas kopi itu kembali ke kantor, naik ke lantai atas, dan meletakkan Americano di meja Yuda.
"Mas," katanya, "Andra mulutnya ember ya?"
Yuda yang sedang membaca dokumen mengangkat wajahnya. Ekspresinya tidak berubah sama sekali. Tapi ujung telinganya mendadak merah padam.
"Saya tidak tahu apa maksud kamu," katanya.
"Telinga Mas merah."
"AC-nya terlalu dingin."
Jinny tersenyum lebar, lalu keluar dari ruangan sambil bersenandung. Di belakangnya, Yuda meletakkan dokumennya dan menutup wajah dengan kedua tangan.