Tiga bulan kemudian, halaman rumah orang tua Jinny di Mataram berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Pohon mangga yang terlalu besar itu kini dililit lampu-lampu kecil berwarna kuning. Tenda putih berdiri di bawahnya. Toko oleh-oleh di bagian depan ditutup selama tiga hari, dengan papan kertas bertuliskan tangan ayahnya yang berbunyi: Tutup, anak saya nikah.
Jinny duduk di kamarnya yang dulu, di depan cermin yang sama tempat ia dulu belajar memakai lipstik untuk pertama kalinya, dan menatap pantulan dirinya dengan kebaya putih dan untaian melati di sanggulnya. Ia hampir tidak mengenali perempuan di cermin itu.
"Jangan nangis dulu," kata Agatha di belakangnya sambil merapikan ujung kain. Matanya sendiri sudah merah. "Maskara lo mahal. Gue yang beliin."
"Lo sendiri udah nangis."
"Gue boleh. Gue sahabat. Pengantin gak boleh."
Pintu kamar terbuka sedikit. Kepala Sisi menyembul dari celahnya, lengkap dengan bando bunga melati dan gaun putih kecil yang mengembang. Di pelukannya ada dua boneka kelinci abu-abu. Satu boneka Pak Bos kecil yang dulu, satu lagi boneka baru yang lebih besar dan jelas dibeli khusus untuk acara ini.
"Aunty Nini, Bunda bilang lima menit lagi. Papa udah duduk. Papa mukanya pucat kayak kertas."
Jinny tertawa, dan air matanya hampir jatuh. Agatha buru-buru menyodorkan tisu.
***
Akad nikah dilangsungkan di ruang tamu rumah yang sudah dikosongkan, dengan karpet merah dan meja kecil berhias melati di tengahnya. Ruangan itu sempit dan penuh sesak. Keluarga besar dari Lombok duduk berdesakan dengan tamu-tamu dari Jakarta. Mbak Dita duduk di barisan kedua dengan kebaya hijau dan wajah yang terus berusaha terlihat tegas meski hidungnya sudah memerah. Mbak Wulan duduk di sebelahnya, memegang ponsel untuk merekam, kacamatanya berembun. Bunga dan Arya berdempetan di sudut dekat jendela, Arya sudah menangis sejak Jinny keluar kamar.
Pak Erik duduk di kursi saksi. Kumisnya masih seperti kumis lele, persis seperti yang Jinny ingat. Saat Jinny melewatinya, ia mengedipkan sebelah mata.
"Dulu saya yang bujuk kamu pindah ke Singapura," bisiknya. "Ternyata saya juga yang bikin kamu ketemu keponakan saya. Kamu harus terima kasih sama saya."
"Nanti Jinny kirimin dodol, Pak."
"Dua kotak."
Yuda duduk di depan meja kecil itu dengan jas putih dan peci hitam. Sisi benar. Wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya yang terletak di atas lutut terlihat sedikit gemetar. Saat Jinny duduk di sebelahnya, pria itu menoleh, dan selama beberapa detik ia hanya menatap tanpa berkedip.
"Mas," bisik Jinny, "napas."
Yuda menarik napas.
Ayah Jinny duduk di seberang meja sebagai wali. Ia menjabat tangan Yuda. Jinny bisa melihat genggaman ayahnya yang terlalu erat, dan Yuda yang menahan diri untuk tidak meringis.
Ijab kabul diucapkan. Suara ayahnya bergetar di tengah kalimat, dan ia harus berhenti sebentar untuk menelan sesuatu di tenggorokannya. Lalu Yuda menjawab. Suaranya jelas, mantap, dalam satu tarikan napas yang panjang, tanpa tersendat sedikit pun. Seolah ia sudah berlatih ribuan kali. Mungkin memang begitu.
"Sah?" tanya penghulu.
"SAH!" Seruan itu datang dari seluruh ruangan sekaligus, dan yang paling keras adalah suara Sisi yang melompat dari pangkuan Sarah sambil mengangkat kedua boneka kelincinya tinggi-tinggi.
Sarah menangis begitu keras sampai Andra harus menyodorkan seluruh kotak tisu. Agatha memeluk Kia yang kebingungan dan ikut menangis karena semua orang menangis. Ibu Jinny menangis dalam diam di sudut ruangan, tangannya meremas ujung kerudung. Dan ayah Jinny, yang sepanjang acara berusaha keras untuk tidak menangis, akhirnya melepaskan genggamannya dari tangan Yuda, menepuk bahu menantunya dua kali, lalu memalingkan wajah ke jendela.
"Ada debu," katanya pada siapa pun yang melihat.
***
Resepsi digelar di halaman di bawah pohon mangga saat matahari mulai tenggelam. Meja-meja panjang dipenuhi ayam taliwang, plecing kangkung, dan beberuk terong. Ibu Jinny sengaja memasak dengan tingkat kepedasan yang sudah dikurangi, karena kata beliau ia tidak ingin tamu dari Jakarta pingsan.
Dan di sudut halaman, ada meja khusus dengan kukusan bambu yang mengepul. Putu. Ibu Jinny memesannya dari pedagang putu terbaik di Mataram. Tapi yang membuat Jinny menangis lagi adalah sebuah papan kecil di depan meja itu, ditulis dengan spidol dan huruf yang miring-miring.
Selamat ya Jin. Akhirnya calon beneran. Dari Abang Putu Jakarta.
Di sebelahnya, Bunga menunjukkan layar ponselnya. Sebuah video pendek. Abang tukang putu langganan Jinny berdiri di depan gerobaknya di gang kos, melambai-lambai ke kamera dengan kipas bambu yang sudah robek, lalu berteriak, "Jin! Jangan lupa bagi putu buat bos lo! Eh, buat suami lo!"
Sarah memberikan sambutan singkat atas nama keluarga Yuda. Ia hanya bicara dua menit, tapi suaranya pecah di tengah-tengah saat ia berkata bahwa adiknya akhirnya tertawa lagi. Lalu ia menatap Jinny dan berkata bahwa keluarga mereka tidak kehilangan siapa-siapa hari ini. Mereka bertambah.
Sisi, yang duduk di pangkuan Yuda sepanjang resepsi, mengangguk-angguk dengan serius. "Kayak Pak Bos kecil," katanya pada semua orang yang mau mendengar. "Nambah."
***
Malam sudah larut saat tamu terakhir pulang. Lampu-lampu kecil di pohon mangga masih menyala. Jinny dan Yuda duduk di kursi rotan di teras, kursi yang sama tempat Yuda dulu duduk bersama ayahnya, menatap halaman yang berantakan oleh sisa pesta.
Jinny sudah melepas melati dan kebayanya, berganti dengan kaos longgar dan celana panjang. Yuda masih memakai kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka dan lengan digulung sampai siku.
"Capek?" tanya Yuda.
"Banget." Jinny menyandarkan kepala di bahunya. Wangi citrus itu masih ada, bercampur wangi melati dan asap kukusan putu. "Mas?"
"Hmm?"
"Pak, nikah yuk."
Yuda menoleh padanya dengan alis terangkat. "Udah, Jinny."
"Oh iya." Jinny tertawa. "Lupa."
Yuda menggeleng-geleng, tapi senyumnya tidak bisa ia sembunyikan. Senyum yang dulu hanya untuk Sisi, sekarang juga untuknya. Mungkin untuk seterusnya.
Jinny merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Ia membukanya dan mengeluarkan setumpuk kertas kuning yang sudah mulai lecek. Dua lembar bertinta biru dari minggu pertama. Enam lembar dari amplop cokelat di pantai Senggigi. Tiga lembar dari gelas kopi latte. Satu lembar kecil dari formulir cuti. Semuanya ia simpan di dompet, terselip di balik kartu nama kantornya.
"Mas tahu gak," katanya, "ini semua bakal aku tempel di kulkas rumah kita nanti."
"Rumah saya kulkasnya dua."
"Ya udah, dua-duanya."
Yuda tertawa. Tawa yang lepas, yang keras, yang membuat kucing tetangga yang sedang tidur di atap mobil bak toko terbangun dan melompat kabur. Dari dalam rumah, terdengar suara ayah Jinny yang berteriak dari kamarnya.
"Tidur! Besok bantu angkat karung kopi!"
Jinny dan Yuda saling pandang, lalu tertawa lagi, lebih pelan kali ini, berusaha meredamnya dengan tangan. Di atas mereka, lampu-lampu kecil di pohon mangga berkedip-kedip seperti bintang yang turun terlalu rendah.
Jinny menggenggam tangan suaminya. Cincin di jarinya terasa hangat. Di bagian dalamnya, tiga kata itu masih terukir, dan akan selalu terukir.
Tawaran tetap berlaku.
TAMAT