Sisi tidak berlari menyambut di gerbang hari Sabtu itu.
Jinny menyadarinya begitu mobil Yuda masuk ke halaman rumah Sarah. Biasanya anak itu sudah menunggu di teras dengan sandal jepit dan kuncir dua, siap menyeret Jinny ke kandang kelinci sebelum siapa pun sempat menyapa. Hari ini teras kosong. Hanya ada Sarah yang berdiri di ambang pintu dengan senyum yang terlihat sedikit canggung.
"Sisi di kamar," kata Sarah sebelum Jinny sempat bertanya. "Dari kemarin sore dia diam aja. Mbak tanya kenapa, dia gak mau jawab."
Yuda dan Jinny bertukar pandang.
"Kemarin sore ada apa, Mbak?" tanya Yuda.
Sarah menghela napas. "Mbak lagi telepon sama Agatha di ruang tengah. Ngomongin kalian. Mbak gak sadar Sisi ada di balik sofa main boneka." Ia menatap adiknya dengan rasa bersalah. "Dia dengar Mbak bilang mungkin sebentar lagi Yuda nikah."
***
Kamar Sisi bercat merah muda dengan stiker bintang yang menyala dalam gelap di langit-langitnya. Anak itu duduk di atas kasur dengan boneka kelinci abu-abu di pelukannya, Pak Bos kecil yang dulu Jinny berikan. Ia tidak menoleh saat pintu terbuka.
Yuda duduk di tepi kasur. Jinny tetap berdiri di dekat pintu, tidak yakin apakah ia diizinkan masuk lebih jauh.
"Sisi," panggil Yuda pelan.
Tidak ada jawaban. Sisi semakin mengeratkan pelukannya pada boneka itu.
"Papa dengar Sisi diam dari kemarin. Sisi marah sama Papa?"
Sisi menggeleng. Lalu, setelah lama sekali, ia bergumam sesuatu dengan suara sangat pelan.
"Apa, Sayang?"
"Kalau Papa nikah," kata Sisi, suaranya mulai bergetar, "nanti Papa pindah ke rumah Aunty Nini ya? Nanti Papa gak jemput Sisi les piano lagi. Nanti Papa gak main trampolin sama Sisi lagi. Nanti Papa jadi Papa orang lain."
Kalimat terakhir itu pecah menjadi tangis. Sisi melempar boneka kelincinya ke lantai dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Jinny merasakan dadanya diremas. Ia teringat cerita Sarah di hari pertama ia datang ke rumah ini. Ayahnya Sisi meninggal satu bulan sebelum Sisi lahir. Sejak lahir, selain mbak, ya Yuda yang bantuin jagain Sisi. Bagi anak ini, Papa bukan sekadar panggilan. Papa adalah satu-satunya laki-laki yang selalu ada sejak ia membuka mata pertama kali. Dan sekarang ia takut laki-laki itu akan diambil.
Diambil oleh Aunty Nini.
Yuda mengangkat Sisi ke pangkuannya. Anak itu meronta sebentar, lalu menyerah dan menangis di dada pamannya.
"Sisi, dengar Papa," kata Yuda. Suaranya lembut, lebih lembut dari yang pernah Jinny dengar. "Papa gak akan ke mana-mana. Kalau Papa nikah nanti, Papa tetap jemput Sisi les piano. Papa tetap main trampolin, walaupun Papa lompatnya malas-malasan. Papa tetap Papa Sisi. Selamanya. Gak ada yang bisa ganti itu."
"Beneran?"
"Papa pernah bohong sama Sisi?"
Sisi berpikir keras di sela isaknya. "Pernah. Papa bilang lupa janji trampolin."
Jinny tidak bisa menahan tawa kecilnya. Yuda menoleh padanya dengan tatapan minta tolong.
Jinny memungut boneka kelinci dari lantai, lalu duduk di sisi kasur yang lain. Ia meletakkan boneka itu di pangkuan Sisi.
"Sisi, Aunty boleh ngomong?"
Sisi menatapnya dengan mata merah dan hidung berair. Ia tidak mengangguk, tapi juga tidak menolak.
"Aunty gak mau ambil Papa," kata Jinny. "Aunty gak bisa ambil Papa, karena Papa itu punyanya Sisi duluan. Aunty cuma mau ikut. Kayak Pak Bos kecil ini. Dia gak gantiin Pak Bos besar di kandang kan? Dia cuma nambah. Sekarang kelinci Sisi ada lima."
Sisi menatap boneka di pangkuannya, lalu menatap Jinny. Keningnya berkerut, seperti sedang menghitung sesuatu yang sangat rumit.
"Jadi nanti Sisi punya Papa, sama Aunty Nini juga?"
"Iya. Dua-duanya. Plus Bunda. Plus Pak Bos. Plus Mochi, Kentang, Bolu."
"Aunty Nini nanti datang tiap hari Minggu?"
"Kalau Sisi mau."
"Mau." Sisi menyeka hidungnya dengan lengan baju. "Tapi Aunty harus ikut main trampolin. Soalnya Papa malas."
"Deal."
Sisi akhirnya tersenyum, kecil dan basah. Ia turun dari pangkuan Yuda, lalu naik ke pangkuan Jinny dan memeluknya erat. Jinny memeluknya balik, dan di atas kepala anak itu, matanya bertemu mata Yuda. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Tapi cara ia menatap Jinny membuat seluruh tubuhnya terasa hangat sampai ke ujung jari kaki.
***
Satu jam kemudian, saat Sisi dan Yuda sudah berada di kandang kelinci memperkenalkan Pak Bos kecil pada Pak Bos besar, Jinny menemukan Sarah di dapur. Perempuan itu sedang mencuci piring dengan gerakan yang terlalu lambat, seperti orang yang sedang berpikir keras.
Jinny meletakkan sesuatu di atas meja dapur. Termos merah. Termos yang Sarah tinggalkan di tangga kos hampir sebulan lalu.
Sarah menoleh dan menatap termos itu.
"Isinya kopi Kintamani, Mbak," kata Jinny. "Dari Pak Made, narasumber aku. Aku seduh tadi pagi. Takarannya bener, soalnya aku orang Lombok."
Sarah tertawa kecil, tapi matanya berkaca-kaca. Ia mematikan keran, mengelap tangannya, lalu menuang kopi itu ke dua cangkir. Mereka duduk berhadapan di meja dapur yang sama tempat Sarah dulu menyiapkan capcay dan telor ceplok untuk adiknya.
"Makasih udah ngomong sama Sisi tadi," kata Sarah. "Mbak gak kepikiran pakai kelinci."
"Aku juga gak kepikiran, Mbak. Keluar sendiri."
Mereka menyesap kopi dalam diam. Di luar jendela dapur, terdengar suara Sisi yang tertawa dan suara Yuda yang memprotes karena digigit kelinci.
"Jinny," kata Sarah akhirnya. "Waktu itu kamu tanya, kamu ini apa di cerita kami. Teman atau alat."
Jinny meletakkan cangkirnya.
"Mbak udah mikir lama. Dan Mbak salah dua kali. Salah pertama, Mbak pakai rasa sayang Mbak buat nutupin takut. Salah kedua, Mbak gak pernah bilang ke kamu yang sebenarnya." Sarah menggenggam tangan Jinny di atas meja. "Kamu bukan alat. Kamu bukan pengalih. Kamu orang yang nemuin anak Mbak waktu dia nangis sendirian di negara orang. Kamu orang yang bawa Sisi keluar waktu Mbak sama Yuda berantem. Kamu orang yang tadi bikin Sisi berhenti nangis dalam lima menit, padahal Mbak udah coba dari kemarin sore."
Air mata Jinny jatuh ke dalam cangkir kopinya.
"Kamu keluarga," kata Sarah. "Udah dari dulu. Mbak aja yang telat sadar."
Jinny tidak bisa bicara. Ia hanya mengangguk, lalu bangkit dan memeluk Sarah dari samping. Sarah memeluknya balik dengan erat, dan untuk beberapa saat dua perempuan itu menangis bersama di dapur yang berbau kopi Kintamani.
Pintu dapur terbuka. Yuda berdiri di sana dengan jari yang sedikit berdarah dan wajah yang kebingungan melihat kakak dan kekasihnya menangis berpelukan.
"Kenapa?" tanyanya panik.
"Gak apa-apa," jawab Sarah dan Jinny bersamaan sambil tertawa di sela tangis.
"Jari kamu kenapa?" tanya Sarah.
"Pak Bos," jawab Yuda singkat. "Dia gak suka ada Pak Bos kecil."
Dari halaman samping, Sisi berteriak, "Papa! Pak Bos minta maaf! Katanya dia cemburu!"
Jinny tertawa begitu keras sampai ia harus berpegangan pada meja. Sarah menatap adiknya dengan alis terangkat penuh arti.
"Tuh kan," kata Sarah. "Pak Bos aja ngaku cemburu."