"Kalian pacaran?"
Mbak Dita meletakkan pulpennya perlahan, menatap Jinny, lalu menatap Yuda yang duduk di kursi sebelah Jinny di ruang kerjanya yang sempit. Senin pagi, pukul delapan lewat sepuluh, dan atasan langsung Jinny itu baru saja mendapat kabar yang tampaknya lebih mengejutkan dari berita pergantian menteri.
"Iya, Mbak," jawab Jinny. "Sejak Selasa kemarin."
"Di Lombok," tambah Yuda.
"Di Lombok," ulang mbak Dita datar. Ia menatap Yuda dengan pandangan yang tidak pernah berani dilemparkan karyawan mana pun pada CEO-nya. "Bapak ke Lombok?"
"Iya."
"Waktu Jinny cuti?"
"Iya."
Mbak Dita memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang, lalu membukanya lagi. "Oke. Saya gak mau tahu detailnya. Yang saya mau tahu, kenapa kalian bilang ke saya?"
"Karena Mbak atasan langsung Jinny," kata Yuda. "Mulai hari ini, semua penilaian kerja Jinny sepenuhnya di tangan Mbak dan Om Erik di dewan komisaris. Saya tidak akan ikut menilai, tidak akan ikut membagi tugasnya, dan tidak akan ikut rapat yang membahas kenaikan jabatannya. Saya sudah bicara dengan bagian personalia tadi pagi. Surat resminya menyusul siang ini."
Mbak Dita menatapnya lama. Lalu, perlahan, wajahnya melunak.
"Itu keputusan yang benar, Pak," katanya. Lalu ia menoleh pada Jinny dan tersenyum untuk pertama kalinya pagi itu. "Dan kamu. Kalau kualitas tulisanmu turun sedikit aja karena pacaran, saya pindahin kamu ke rubrik horoskop."
"Siap, Mbak."
***
Kabar itu menyebar lebih cepat dari kebakaran hutan di musim kemarau. Pukul sembilan, seluruh redaksi sudah tahu. Pukul sepuluh, kabar itu sudah sampai di lantai tiga. Pukul sebelas, office boy yang mengantar kopi ke meja Jinny memberi selamat sambil mengedipkan sebelah mata.
Arya dan Bunga, anehnya, adalah yang paling tenang.
"Kami udah tahu," kata Bunga sambil memakan keripik dengan santai.
"Dari mana?"
"Dari sepatu pak Yuda hari Kamis kemarin. Ada pasirnya." Bunga menunjuk ke arah lift. "Orang Jakarta gak punya pasir di sepatu kecuali habis ke pantai. Terus lo cuti ke Lombok. Gue sama Arya tinggal hitung."
"Operasi Kopi Latte resmi dihidupkan lagi," tambah Arya. "Sekarang namanya Operasi Pasir Pantai."
Jinny menatap mereka berdua dengan perasaan campur aduk antara terharu dan ngeri. "Kalian tuh ya, harusnya jadi detektif, bukan wartawan."
"Wartawan yang baik itu detektif yang gajinya kecil," kata Arya bijak.
***
Tapi tidak semua orang menyambut kabar itu dengan keripik dan julukan operasi.
Rabu siang, saat Jinny mengambil air di pantry lantai tiga, ia mendengar suara dari balik sekat. Suara laki-laki yang ia kenal. Mas Teguh dari desk ekonomi, wartawan senior yang terkenal dengan mulutnya yang tidak pernah ia saring.
"Pantes tulisan paviliun itu meledak," kata Mas Teguh pada dua orang lain. "Menteri dibelokin ke paviliun. Siapa yang belokin? Bosnya sendiri. Ya jelas aja dapat eksklusif. Pacaran sama bos, liputan lancar."
Gelas di tangan Jinny bergetar. Air tumpah sedikit ke lantai.
Dua orang di balik sekat itu tertawa canggung. Satu di antaranya berdeham, seolah mencoba memberi isyarat bahwa ada orang lain di pantry. Mas Teguh tidak menangkapnya.
Jinny meletakkan gelasnya di meja. Ia bisa saja pergi. Ia bisa saja menangis di toilet, menelepon Agatha, atau naik ke lantai atas dan meminta Yuda menyelesaikan semuanya. Ia tahu Yuda akan melakukannya. Ia tahu Yuda bisa memanggil Mas Teguh ke ruangannya dan membuatnya menyesal seumur hidup.
Tapi itu justru yang akan membuktikan omongan Mas Teguh benar.
Jinny melangkah ke balik sekat. Ketiga orang di sana langsung membeku.
"Siang, Mas Teguh," katanya tenang.
Wajah Mas Teguh berubah pucat, lalu merah, lalu pucat lagi.
"Saya mau koreksi sedikit, Mas, biar beritanya akurat," lanjut Jinny. Ia sendiri terkejut betapa stabil suaranya. "Pertama, rute menteri ke paviliun itu dibuka untuk semua media. Ada sembilan wartawan dari media lain yang ikut masuk. Mas bisa cek daftar hadir panitia. Kedua, yang milih Pak Made sebagai narasumber itu saya. Saya ngobrol sama tujuh pedagang selama dua jam sebelum menteri datang. Rekamannya ada, Mas boleh dengar. Ketiga, saya dan pak Yuda baru resmi pacaran Selasa minggu lalu, hampir dua minggu setelah acara itu selesai. Dan keempat..."
Ia berhenti sebentar, menatap Mas Teguh lurus-lurus.
"Kalau Mas mau bilang tulisan saya bagus karena saya pacaran sama bos, tolong bawa datanya. Kita kan wartawan. Kita gak nulis tanpa data."
Pantry hening. Salah satu dari dua orang lainnya, seorang reporter muda yang Jinny tidak kenal namanya, menunduk dalam-dalam menatap gelas kopinya.
"Jin, gue cuma bercanda," gumam Mas Teguh akhirnya.
"Saya tahu, Mas. Makanya saya koreksi pakai fakta, bukan pakai marah." Jinny mengambil gelasnya kembali. "Permisi, Mas."
Ia berjalan keluar pantry dengan langkah yang ia usahakan tetap stabil. Baru di dalam lift, saat pintu tertutup dan ia sendirian, kakinya mulai gemetar. Ia bersandar ke dinding lift dan memejamkan mata.
***
"Kenapa kamu tidak bilang saya?"
Yuda menatapnya di parkiran sore itu, wajahnya keras. Berita tentang pantry lantai tiga sudah sampai ke telinganya. Tentu saja. Di gedung ini, gosip bergerak lebih cepat dari lift.
"Karena kalau aku bilang Mas, Mas pasti panggil dia," jawab Jinny.
"Tentu saja saya panggil dia."
"Dan semua orang bakal bilang, tuh kan, pacarnya bos. Dibelain bos." Jinny menggenggam tangan Yuda. "Mas, ini kerjaan aku. Nama aku. Kalau aku gak bisa jaga sendiri, aku gak pantas jadi wartawan andalan."
Yuda menatapnya lama. Rahangnya masih keras, tapi perlahan, genggamannya melunak.
"Kamu tahu kamu menyebalkan?"
"Tahu. Mas juga."
Ponsel Jinny berdering. Nomor tak dikenal. Ia mengangkatnya dan mendengar suara yang serak dan bersemangat dari seberang.
"Mbak Jinny? Ini Made. Pak Made, yang kopi Kintamani."
"Pak Made! Apa kabar?"
"Mbak, kopi saya habis! Pesanan dari internet sampai tiga ratus bungkus! Anak saya sampai harus izin kuliah buat bantu ngepak!" Suara Pak Made pecah oleh tawa dan tangis sekaligus. "Saya cuma mau bilang terima kasih. Tulisan Mbak... tulisan Mbak bikin orang tahu kami ada."
Jinny menutup mulutnya dengan tangan. Matanya panas. Di sebelahnya, Yuda mendengar semuanya, dan untuk pertama kalinya sejak ia membaca kabar tentang pantry lantai tiga, ia tersenyum.
Keesokan paginya, sebuah kardus kecil berisi sepuluh bungkus kopi Kintamani tiba di meja redaksi dengan sepucuk surat tulisan tangan. Surat itu ditempel di papan pengumuman oleh mbak Dita, tepat di sebelah daftar piket kebersihan, tempat semua orang bisa membacanya. Termasuk Mas Teguh.