Jinny pulang dengan motor bebek ayahnya, diikuti mobil bak toko di belakang, dan mobil sewaan Yuda di belakangnya lagi. Iring-iringan itu terlihat seperti rombongan pengantar pengantin yang salah jadwal. Di setiap lampu merah, Jinny bisa melihat ayahnya melirik ke spion, mengawasi mobil di belakang dengan wajah komandan perang.
Di gerbang rumah, Yuda tidak langsung masuk. Ia menurunkan kaca mobil dan memanggil Jinny.
"Saya pergi sebentar. Jam tujuh saya kembali."
"Mau ke mana, Mas?"
Yuda tidak menjawab. Mobilnya berbalik dan menghilang di tikungan.
Jinny masuk ke rumah dengan wajah kebingungan. Ibunya sudah berdiri di dapur dengan celemek dan wajan, wajahnya berseri-seri seperti orang yang baru menang undian.
"Dia ke mana?" tanya ibunya.
"Gak tahu, Bu. Katanya pergi sebentar."
"Kamu ngomong apa sama dia di pantai?"
Jinny berpikir. Lalu wajahnya memucat. Setelah ayahnya pergi tadi, sambil memakai sepatunya yang berpasir, Yuda sempat bertanya apa yang harus ia bawa untuk makan malam. Dan Jinny, yang masih setengah melayang, menjawab sambil tertawa: "Kata ibu, kalau Mas datang bawa pisang, ibu langsung setuju."
"Ya ampun," bisik Jinny. "Bu, kayaknya dia nyari pisang."
Ibunya menjatuhkan spatula.
***
Pukul tujuh kurang lima menit, mobil sewaan itu berhenti di depan rumah. Yuda turun dengan kemeja yang sudah diganti, rambut yang sudah disisir rapi, dan wajah yang sedikit berkeringat. Di tangannya, ia membawa setandan pisang raja yang begitu besar sampai harus dipeluk dengan dua tangan.
Ayah Jinny yang membuka pintu menatap pisang itu lama sekali.
"Ini apa?"
"Pisang, Pak."
"Saya tahu ini pisang."
"Untuk Ibu, Pak." Yuda melirik Jinny yang bersembunyi di balik punggung ayahnya. "Kata Jinny ini syaratnya."
Dari dalam dapur terdengar tawa ibu Jinny yang meledak tanpa bisa ditahan. Ayah Jinny menoleh ke dapur, lalu menoleh ke Jinny, lalu kembali menatap Yuda yang masih berdiri di teras sambil memeluk pisang seperti memeluk bayi.
"Kamu tahu cerita pisang itu?"
"Tidak, Pak. Saya cuma tahu harus bawa pisang."
"Beli di mana malam-malam begini?"
"Pasar Kebon Roek, Pak. Tiga pedagang sudah tutup. Yang keempat sedang beres-beres. Saya beli semua yang tersisa."
Ayah Jinny diam. Lalu, perlahan sekali, sudut bibirnya terangkat. Ia mengambil alih pisang itu dari pelukan Yuda dan menepuk bahunya dua kali, persis seperti ia menepuk kepala Jinny di bandara.
"Masuk," katanya. "Kamu lulus babak pertama."
***
Makan malam itu adalah peristiwa paling menegangkan sekaligus paling lucu yang pernah Jinny saksikan di meja makan rumahnya.
Ibunya memasak ayam taliwang, plecing kangkung, dan beberuk terong, semuanya dengan tingkat kepedasan khas Lombok yang bisa membuat orang Jakarta menangis. Ayahnya, dengan wajah polos tanpa dosa, terus menambahkan sambal ke piring Yuda setiap kali piring itu mulai kosong.
"Tambah lagi," kata ayahnya. "Orang Lombok makan sambal kayak minum air."
"Terima kasih, Pak."
Yuda makan semuanya. Wajahnya memerah, keringat mengucur dari pelipisnya, dan matanya mulai berair, tapi ia tidak berhenti dan tidak mengeluh sekali pun. Jinny menendang kaki ayahnya di bawah meja. Ayahnya pura-pura tidak merasakan apa-apa.
"Enak?" tanya ibu Jinny.
"Enak sekali, Bu."
Jinny menoleh dengan mata membulat. Enak. Bukan lumayan. Ia tidak pernah mendengar Yuda mengatakan enak tentang apa pun selama ia mengenalnya.
"Ayah," bisik Jinny, "cukup sambalnya."
"Biar dia tahu rasanya jadi orang Lombok."
"Dia udah tahu, Yah. Lihat, telinganya merah semua."
Yuda meneguk air putih yang ketiga, lalu menatap ayah Jinny dengan wajah serius meski hidungnya masih berair. "Pak, boleh saya minta sambalnya lagi?"
Ayah Jinny berhenti mengunyah. Ibu Jinny menutup mulutnya dengan tangan. Jinny menatap Yuda seolah pria itu sudah gila.
Lalu ayah Jinny tertawa. Tawa yang begitu keras dan begitu tulus sampai kucing tetangga yang tidur di jendela terlonjak kabur. Ia menyendokkan sambal ke piring Yuda sambil menggeleng-geleng.
"Erik bilang kamu galak," katanya di sela tawa. "Erik gak bilang kamu keras kepala."
"Om Erik juga keras kepala, Pak. Itu turunan."
***
Setelah makan, ayah Jinny mengajak Yuda duduk di kursi rotan di teras. Hanya berdua. Jinny dan ibunya diusir ke dapur untuk mencuci piring, yang tentu saja tidak mereka lakukan. Mereka berdiri di balik jendela dapur dengan telinga menempel ke kaca nako.
"Niatmu apa?" tanya ayah Jinny tanpa basa-basi.
Yuda diam sebentar. Jinny bisa melihat punggungnya yang tegak dari celah jendela.
"Saya ingin serius dengan Jinny, Pak," katanya. "Saya tidak akan bilang saya tidak pernah punya masa lalu. Jinny tahu semuanya. Tapi masa lalu saya sudah selesai. Saya selesaikan sendiri, baru dua minggu lalu. Saya datang ke sini untuk minta izin Bapak mendekati putri Bapak dengan benar."
Ayah Jinny bersandar di kursinya. Ia menatap pohon mangga di halaman yang daunnya bergoyang tertiup angin malam.
"Kamu tahu Jinny pernah bohong ke kamu? Soal kamu mirip saya waktu muda?"
"Tahu, Pak."
"Sudah lihat foto saya waktu muda?"
"Belum, Pak."
"Bagus. Jangan." Ayah Jinny menghela napas panjang. "Begini, Yuda. Jinny itu anak saya satu-satunya. Dia keras kepala, mulutnya lebih cepat dari otaknya, dan dia selalu mencintai orang dengan cara yang membuat orang lain bingung. Tapi kalau dia sudah sayang, dia sayang betulan. Saya sudah lihat dia patah hati sekali. Saya gak mau lihat lagi."
"Saya mengerti, Pak."
"Saya gak bisa kasih izin." Ayah Jinny menoleh menatap Yuda. Di balik jendela dapur, Jinny menahan napas. "Karena Jinny bukan barang. Kamu minta izinnya sama dia. Bukan sama saya. Saya cuma bisa bilang: kalau dia bilang iya, kamu jaga dia. Kalau dia bilang enggak, kamu pulang baik-baik."
Yuda mengangguk. "Terima kasih, Pak."
"Satu lagi." Ayah Jinny berdiri, menepuk-nepuk celananya. "Besok pagi bantu saya angkut karung kopi ke toko. Lima puluh kilo. Kalau kamu bisa angkat tanpa mengeluh, kamu boleh panggil saya ayah."
Ia masuk ke rumah, melewati jendela dapur, dan tersenyum pada istri dan putrinya yang langsung pura-pura sibuk mengelap piring yang sudah kering.
***
Jinny keluar ke teras setelah ayahnya masuk kamar. Yuda masih duduk di kursi rotan, menatap langit malam yang penuh bintang, sesuatu yang jarang terlihat di Jakarta.
Ia duduk di kursi sebelahnya.
"Mas denger kan kata ayah?" tanyanya pelan.
"Dengar."
"Jadi?"
Yuda menoleh padanya. Lampu teras yang redup membuat wajahnya terlihat lebih lembut. "Jinny, mau pacaran sama saya?"
Jinny menatapnya. Lalu, dengan senyum jahil yang sudah lama tidak ia pakai, ia menjawab: "Enggak."
Yuda terdiam. Lalu ia mengangguk, seolah sudah menduga.
"Ya sudah," katanya. "Saya tanya lagi besok."
Jinny tertawa sampai air matanya keluar. Ia memukul lengan Yuda pelan.
"Iya, Mas. Iya. Aku mau."
Dari dalam kamar, terdengar suara ayah Jinny yang berteriak, "Jangan lupa karung kopinya!"