Selasa siang, Jinny sedang menimbang kopi bubuk di toko saat ponselnya bergetar di saku daster. Ia hampir mengabaikannya. Tiga hari terakhir yang mengirim pesan hanya Agatha, yang rajin mengirim foto Kia dengan berbagai ekspresi, dan Bunga, yang rajin melaporkan bahwa Operasi Kopi Latte sudah dibubarkan karena tidak ada lagi kopi yang dikirim.
Tapi nama yang muncul di layar kali ini membuat timbangan di tangannya miring dan kopi bubuk tumpah ke lantai.
'Saya di Senggigi. Hotel di ujung utara pantai. Kalau kamu mau ketemu, saya di pantai depan hotel sampai matahari terbenam. Kalau tidak, saya pulang besok pagi dan tetap menunggu di Jakarta. Kamu tidak perlu membalas pesan ini.'
Jinny membaca pesan itu lima kali. Lalu ia menatap kopi bubuk yang berserakan di lantai, lalu menatap ibunya yang sedang melayani pembeli di meja kasir.
"Bu."
"Hmm?"
"Mas Yuda di Senggigi."
Ibunya berhenti menghitung kembalian. Pembeli di depannya, seorang bapak berkacamata, ikut berhenti seolah ia juga ingin tahu siapa itu Mas Yuda.
"Terus kamu ngapain masih di sini?" tanya ibunya.
"Jinny belum tahu mau ketemu atau enggak."
Ibunya menyerahkan kembalian pada bapak berkacamata itu, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke arah Jinny dan merebut timbangan dari tangannya.
"Laki-laki yang terbang dari Jakarta ke Lombok terus bilang kamu gak perlu balas pesannya," kata ibunya, "itu laki-laki yang pantas ditemui. Sekali. Biar kamu tahu."
"Kalau Jinny nyesel?"
"Kalau gak ketemu, kamu juga bakal nyesel. Pilih nyesel yang ada isinya."
***
Jinny meminjam motor bebek ayahnya dan menyetir ke Senggigi dengan helm yang kebesaran dan jantung yang berdebar lebih keras dari mesin motor itu. Ia sempat berhenti dua kali di pinggir jalan untuk berpikir ulang. Dua kali pula ia menyalakan mesin lagi.
Ia menemukan Yuda duduk di atas pasir di depan hotel itu, tidak jauh dari bibir pantai. Pria itu memakai kemeja putih dengan lengan digulung, celana panjangnya dilipat sampai betis, dan kakinya telanjang. Sepatunya diletakkan rapi di sampingnya. Di pangkuannya ada sebuah amplop cokelat berukuran besar.
Ia terlihat sangat tidak cocok dengan pantai. Seperti CEO yang tersesat dari ruang rapat ke film liburan.
Jinny berdiri di belakangnya beberapa detik. Kali ini dialah yang datang dari belakang.
"Mas."
Yuda menoleh begitu cepat sampai amplop di pangkuannya hampir jatuh. Ia berdiri, membersihkan pasir dari celananya dengan canggung, lalu berdiri diam di depan Jinny seolah lupa apa yang harus dilakukan selanjutnya.
"Kamu datang," katanya.
"Ibu yang nyuruh."
"Oh."
"Bercanda. Aku sendiri yang mau." Jinny menatap amplop di tangan Yuda. "Itu apa?"
Yuda tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan amplop itu. Jinny membukanya, dan napasnya tertahan.
Kertas kuning. Enam lembar. Tertumpuk rapi, masing-masing dengan cacatnya sendiri. Satu masih bersih dengan bekas lem di ujungnya. Satu lagi bertuliskan kertas impor, satu pak lima belas ribu. Satu kusut bekas terlipat. Satu bernoda minyak di sudut. Satu sobek di ujung. Dan satu lagi yang melengkung, yang masih ia ingat ia tempel di dasbor mobil malam itu, sebelum semuanya berubah.
"Mas simpan semua?" bisik Jinny.
"Yang pertama saya simpan hari Senin," kata Yuda. "Waktu kamu tanya saya dibayar atau tidak untuk membacanya. Saya ingat karena besoknya Reza menelepon dan bilang Bandung juga bukan."
Jinny mengangkat wajahnya.
"Waktu itu saya belum tahu Kirana sudah berminggu-minggu menelepon mbak Sarah. Saya bahkan tidak tahu dia masih ada di Indonesia atau tidak. Saya masih mencarinya. Masih yakin saya harus menemukannya dulu sebelum bisa hidup lagi." Yuda menatap laut. "Tapi saya tetap menyimpan kertas kamu. Satu, lalu dua, lalu enam. Saya tidak membuangnya karena saya tidak mau. Dan itu yang membuat saya takut."
"Takut?"
"Takut saya jatuh cinta sama kamu sambil saya masih menoleh ke belakang. Itu sebabnya saya bilang enggak. Itu sebabnya saya bilang tidak tahu di mobil malam itu. Saya tidak mau kamu jadi orang yang saya pilih sambil sebelah mata saya masih mencari orang lain. Kamu pantas dapat yang lebih dari itu."
Ombak datang, membasahi ujung kaki mereka berdua. Tidak ada yang bergerak mundur.
"Kamu bilang di tangga darurat, kamu takut jadi hadiah hiburan," lanjut Yuda, suaranya lebih pelan sekarang. "Kamu bukan hadiah hiburan, Jinny. Kamu yang membuat saya berani menelepon balik nomor itu. Kalau tidak ada kamu, saya mungkin masih mencari sampai sepuluh tahun lagi. Saya menyelesaikan masa lalu saya karena saya ingin punya masa depan. Dan masa depan yang saya bayangkan..." Ia berhenti, menelan ludah. "Ada kertas kuningnya."
Jinny tidak bisa menahannya lagi. Ia menangis. Lalu, di tengah tangisnya, ia tertawa. Tangis dan tawa itu bercampur jadi satu suara aneh yang membuat sepasang turis yang lewat menoleh khawatir.
"Mas nyimpen kertas yang ada minyak nasi gorengnya," isaknya.
"Itu yang paling saya suka."
"Kenapa?"
"Karena malam itu pertama kalinya saya makan malam sambil tertawa, setelah bertahun-tahun." Yuda akhirnya tersenyum. Bukan senyum tipis, bukan senyum yang ditahan, melainkan senyum penuh yang membuat matanya ikut menyipit. Senyum yang dulu hanya ia berikan pada Sisi. "Dan pertama kalinya ada yang bilang lumayan saya itu artinya enak."
Jinny menyeka matanya dengan punggung tangan. Ia memeluk amplop cokelat itu di dadanya seperti memeluk sesuatu yang rapuh.
"Mas," katanya. "Aku masih takut."
"Saya tahu."
"Tapi aku mau coba."
Yuda menatapnya, dan untuk sesaat Jinny melihat pria yang dulu suka bercanda sebelum semuanya hilang. Pria yang menamai kelinci gemuk dengan Pak Bos. Pria yang belajar bahasa Jepang dari Ninja Hatori.
"Boleh saya pegang tangan kamu?" tanya Yuda.
Jinny mengulurkan tangannya. Yuda menggenggamnya. Telapak tangannya hangat dan sedikit berpasir, dan genggaman itu begitu hati-hati seolah ia takut Jinny akan berubah pikiran.
Mereka berdiri seperti itu sampai matahari mulai menyentuh garis laut.
***
"JINNY!"
Suara itu datang dari arah jalan. Jinny menoleh dan hampir menjatuhkan amplopnya. Sebuah mobil bak terbuka bertuliskan nama toko oleh-oleh keluarganya terparkir di pinggir jalan, dan ayahnya berdiri di sampingnya dengan kedua tangan di pinggang.
"Ibumu suruh jemput," seru ayahnya. "Katanya kamu gak bawa jaket. Udah magrib."
Jinny melepaskan tangan Yuda secepat kilat. Terlambat. Ayahnya sudah melihat, dan kini berjalan menuruni pasir dengan langkah besar-besar.
Yuda menegakkan punggung. Ia merapikan kemejanya, menurunkan lipatan celananya, lalu teringat bahwa kakinya masih telanjang dan sepatunya masih di atas pasir dua meter di belakang. Ia memutuskan untuk tidak mengambilnya.
Ayah Jinny berhenti tepat di depannya. Ia menatap Yuda dari ujung rambut sampai ujung kaki yang berpasir, lalu kembali ke wajahnya. Lama sekali.
"Selamat sore, Pak," kata Yuda sambil mengulurkan tangan. "Saya Yuda."
Ayah Jinny tidak menyambut tangannya dulu. Ia memiringkan kepala, menyipitkan mata, lalu menoleh pada putrinya.
"Ini yang katamu mirip ayah waktu muda?"
Jinny ingin tenggelam ke dasar laut.
"Gak mirip," lanjut ayahnya, menjawab pertanyaannya sendiri. Lalu ia menjabat tangan Yuda dengan erat. "Ayah dulu jauh lebih ganteng. Makan malam di rumah. Jam tujuh. Jangan telat."