Udara Lombok menyambut Jinny dengan cara yang selalu sama setiap kali ia pulang: hangat, sedikit asin, dan membawa wangi tanah yang tidak bisa ditemukan di Jakarta. Ia menarik koper kecilnya keluar dari pintu kedatangan bandara Praya, dan dalam hitungan detik sudah mendengar suara yang paling ia rindukan.
"Jinny!"
Suara itu datang dari seorang perempuan bertubuh mungil berkerudung biru yang kini berlari kecil ke arahnya dengan tangan terentang. Di belakangnya, ayah Jinny berjalan lebih santai dengan kemeja batik yang kancingnya salah satu.
Jinny memeluk ibunya erat-erat. Ia baru sadar betapa lelah tubuhnya saat bahunya akhirnya bisa turun di pelukan itu.
"Kurus," kata ibunya sambil mencubit pipinya. "Kamu makan apa di Jakarta? Angin?"
"Seblak, Bu."
"Itu bukan makanan. Itu hukuman."
Ayahnya sampai, menepuk kepala Jinny dua kali seperti dulu saat ia masih SD dan membawa pulang rapor. "Bawa oleh-oleh?"
"Yah, yang orang Lombok kan kita. Masa Jinny bawa oleh-oleh ke Lombok?"
"Siapa tahu bawa calon," kata ayahnya enteng, lalu mengambil alih koper Jinny dan berjalan duluan ke parkiran.
Jinny membeku di tempat. Ibunya terkikik.
"Ayahmu udah nunggu bilang itu sejak subuh," bisiknya.
***
Rumah orang tua Jinny di Mataram tidak pernah berubah. Masih ada pohon mangga yang terlalu besar untuk halamannya, masih ada toko oleh-oleh di bagian depan dengan papan nama yang catnya mulai mengelupas, dan masih ada kursi rotan di teras tempat ayahnya membaca koran setiap pagi. Toko itu sudah berdiri sejak Jinny masih bayi. Dari toko itulah kopi Lombok yang dulu ia berikan pada Sarah berasal.
Mengingat Sarah membuat dadanya sedikit nyeri. Ia buru-buru mengusir pikiran itu.
Tiga hari pertama berlalu seperti mimpi yang lambat. Jinny membantu ibunya menata dagangan di toko, menimbang kopi bubuk, membungkus dodol rumput laut, dan mendengarkan ibu-ibu pelanggan yang bertanya kapan ia menikah dengan intensitas yang membuat wawancara menteri terasa seperti obrolan santai.
"Anaknya Bu Siti itu umurnya sama kayak kamu loh, Jin. Kemarin udah lahiran anak ketiga."
"Iya Bu, selamat buat Bu Siti."
"Kamu kapan?"
"Kapan-kapan, Bu."
Ia tidur siang setiap hari, sesuatu yang di Jakarta hanya bisa ia lakukan di dalam mimpi. Ia makan ayam taliwang buatan ibunya sampai bibirnya kepedasan. Ia membiarkan ponselnya tergeletak di meja kamar berjam-jam tanpa disentuh.
Tapi setiap malam, sebelum tidur, ia membuka dompetnya dan menatap kertas-kertas kuning bertinta biru yang terselip di sana. Kopinya terlalu manis. Saya tidak dibayar untuk membaca catatan. Tiga catatan dari gelas kopi latte. Lalu yang paling baru, yang tadinya menempel di formulir cutinya sebelum formulir itu ia serahkan ke bagian personalia. Salam untuk ayah kamu. Saya penasaran semirip apa.
Ia belum menyampaikan salam itu. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada ayahnya bahwa seorang CEO di Jakarta mengirim salam karena dulu ia pernah berbohong bahwa CEO itu mirip ayahnya waktu muda.
***
Hari Senin sore, ibunya mengajak Jinny ke Senggigi. Hanya berdua. Mereka duduk di atas tikar di bawah pohon kelapa, kaki telanjang di pasir, menatap matahari yang perlahan turun di balik Gunung Agung di seberang selat.
"Kamu kenapa?" tanya ibunya tiba-tiba.
"Kenapa apa, Bu?"
"Kamu pulang dengan muka kayak abis kehilangan dompet. Tiap malam lampu kamarmu nyala sampai jam dua." Ibunya menatapnya. "Ibu bukan wartawan, tapi ibu ibumu. Ibu tahu kalau anak ibu lagi patah hati."
Jinny menatap laut. Ombak datang dan pergi, membawa buih yang pecah di ujung kakinya. Lalu, tanpa ia rencanakan, semuanya keluar begitu saja. Pak Yuda. Kantor. Kopi dan kertas kuning. Lamaran tiga kalimat yang membuatnya diusir. Kelinci bernama Pak Bos. Malam hujan di bawah jembatan layang. Kirana. Sarah yang menangis di bangku taman. Kopi latte yang datang di pagi hari. Tangga darurat yang lampunya berkedip.
Ibunya mendengarkan tanpa memotong sekali pun.
"Jinny takut, Bu," kata Jinny akhirnya, suaranya serak. "Jinny takut dipilih cuma karena yang lama udah pergi. Kayak waktu sama Bimo dulu, tapi kebalik. Dulu Jinny ditinggal karena yang lama balik. Sekarang Jinny takut diambil karena yang lama pergi. Dua-duanya sama. Jinny tetap bukan pilihan pertama."
Ibunya diam lama. Matahari sudah tinggal separuh.
"Kamu tahu ayahmu bukan pacar pertama ibu?"
Jinny menoleh dengan mata membulat. "Hah?"
"Ibu dulu pacaran sama anak juragan tembakau di Lombok Timur. Tiga tahun." Ibunya tersenyum kecil, menatap laut. "Terus dia pergi kerja ke Malaysia, dan gak pernah pulang. Ibu nangis setahun. Terus ayahmu datang, bawa sepeda butut sama setandan pisang buat nenekmu. Ibu juga pernah mikir, apa ibu cuma pelarian? Apa dia cuma kebetulan ada?"
"Terus?"
"Terus ibu sadar, yang penting bukan siapa yang datang duluan. Yang penting siapa yang tinggal." Ibunya mengusap rambut Jinny. "Ayahmu gak pernah tanya soal anak juragan itu. Dia cuma datang tiap hari. Bawa pisang, bawa ubi, bawa cerita lucu. Sampai ibu lupa pernah nangis."
Jinny tertawa di sela air matanya. "Bawa pisang?"
"Setandan. Tiap minggu. Nenekmu sampai bosan."
"Terus Bapak... eh, Mas Yuda harus bawa pisang?"
"Ibu gak bilang begitu." Ibunya mengangkat bahu. "Tapi kalau dia datang ke sini bawa pisang, ibu langsung setuju."
Mereka berdua tertawa sampai pasangan turis di sebelah menoleh. Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit berwarna jingga keunguan.
***
Malam itu di meja makan, ayah Jinny melipat korannya dan menatap putrinya dengan alis terangkat.
"Tadi ibumu cerita soal bos kamu."
Jinny melirik ibunya dengan tatapan pengkhianatan. Ibunya pura-pura sibuk menuang sayur bening.
"Yuda Fahrezi, kan? Keponakannya Erik?" lanjut ayahnya. "Erik pernah cerita. Katanya keponakannya galak, pintar, dan gak bisa diajak bercanda."
"Bisa kok, Yah. Dia cuma gengsi."
"Hmm." Ayahnya menyuap nasi. "Terus kata ibumu, kamu pernah bilang ke dia kalau dia mirip ayah waktu muda?"
Jinny tersedak. Ia batuk-batuk sampai ibunya menyodorkan air. Ayahnya menunggu dengan wajah yang sangat serius, terlalu serius untuk orang yang sedang tidak menahan tawa.
"Itu... itu alasan doang, Yah. Jinny ketahuan ngelihatin dia di rapat."
"Jadi gak mirip?"
"Gak tahu, Yah. Jinny gak pernah lihat foto ayah waktu muda."
Ayahnya meletakkan sendok, bangkit, dan masuk ke kamar. Ia kembali beberapa menit kemudian dengan sebuah album foto tua yang sampulnya sudah lapuk. Ia membukanya di halaman tengah dan menyodorkannya pada Jinny.
Di sana ada foto seorang pemuda kurus berambut gondrong dengan kemeja bunga-bunga yang terlalu besar, berpose di samping sepeda butut dengan setandan pisang di boncengan.
Jinny menatap foto itu. Lalu menatap ayahnya. Lalu kembali menatap foto itu.
"Sama sekali gak mirip," katanya.
"Berarti kamu bohong ke bos kamu," kata ayahnya puas. "Kalau dia datang ke sini, kamu harus minta maaf."
"Dia gak akan datang, Yah."
Ayahnya hanya tersenyum misterius dan kembali membaca koran. Di sampingnya, ibu Jinny terbatuk-batuk kecil yang terdengar sangat mirip dengan tawa.