Kamis pagi, sehari setelah acara tahunan itu ditutup, mbak Wulan turun ke lantai redaksi.
Kejadian itu saja sudah cukup membuat seluruh ruangan berhenti bekerja. Dalam sejarah perusahaan, sekretaris CEO hampir tidak pernah menginjakkan kaki di lantai redaksi kecuali ada pengumuman pemecatan massal atau pembagian bonus akhir tahun. Dan ini bukan akhir tahun.
Mbak Wulan berjalan menyusuri deretan meja dengan wajah lurus seperti biasa, membawa segelas kopi di satu tangan. Ia berhenti di depan meja Jinny dan meletakkan gelas itu di samping keyboard.
"Titipan, Mbak," katanya. Lalu, dengan suara yang lebih pelan: "Akhirnya gantian."
Ia pergi sebelum Jinny sempat bertanya. Jinny menatap gelas itu. Kopi latte, masih mengepul. Di badan gelas tertempel selembar kertas kuning dengan tulisan tinta biru yang huruf-hurufnya tegak dan rapi.
Coffee latte. Tidak terlalu pahit. Kamu yang menyarankan dulu.
Jinny teringat malam di coffee shop berminggu-minggu lalu, saat ia berpura-pura Yuda adalah pacarnya untuk mengusir Bimo. Americano pahit banget loh Pak, gak mau coffe late aja? Yang mau minum kamu atau saya? Ia tidak menyangka pria itu mengingatnya.
Di belakangnya, Arya mengeluarkan suara seperti balon yang dikempiskan. Bunga sudah berdiri dari kursinya dengan kedua tangan menutup mulut.
"Jin," bisik Bunga. "Itu dari..."
"Jangan."
"Itu tulisan tangan..."
"Bunga, gue mohon."
"PAK YUDA NGIRIM KOPI KE LO," teriak Arya akhirnya, terlalu keras, dan seluruh redaksi menoleh serentak. Mbak Dita yang sedang menelepon di mejanya bahkan menurunkan gagang telepon untuk melihat.
Jinny menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia ingin menghilang. Ia ingin berubah jadi debu dan terbang lewat AC. Tapi di balik telapak tangannya, ia merasakan pipinya memanas dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan.
***
Jumat pagi, gelas kedua datang. Kali ini kertas kuningnya berbunyi:
Saya mau bicara. Kapan saja kamu siap. Kalau belum, tidak apa-apa. Kopinya tetap diminum.
Jinny meminum kopinya. Ia tidak membalas. Bukan karena ia ingin menyiksa Yuda, melainkan karena ia tidak tahu harus membalas apa. Setiap kali ia mengambil pulpen, tangannya berhenti. Apa yang akan Yuda katakan? Bahwa Kirana sudah kembali? Bahwa ia minta maaf? Bahwa ia sekarang siap, karena yang lama sudah selesai?
Kalimat yang terakhir itulah yang paling ia takuti.
Arya dan Bunga tidak bertanya lagi. Mereka hanya saling melirik, lalu melirik Jinny, lalu melirik ke arah lift setiap kali pintunya terbuka. Arya bahkan membuat grup obrolan baru tanpa Jinny di dalamnya. Jinny tahu karena Bunga tidak sengaja menunjukkan layar ponselnya. Nama grupnya Operasi Kopi Latte.
***
Senin pagi, tulisan paviliun terbit. Judulnya Dua Pulau, Satu Perlawanan, dengan foto Pak Made yang menangis di samping menteri dan foto Bu Ratna yang tersenyum di balik alat tenunnya. Pukul sembilan, tulisan itu sudah dibagikan tiga ribu kali. Pukul sebelas, sepuluh ribu. Pukul satu siang, sebuah stasiun televisi nasional menelepon redaksi meminta izin mengutip.
Mbak Dita memeluk Jinny di depan semua orang. Arya membeli dua kotak martabak dengan uangnya sendiri, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Bunga memotret layar statistik situs dan mengirimnya ke grup keluarga.
Sore harinya, gelas ketiga datang. Bukan lewat mbak Wulan kali ini. Yuda sendiri yang membawanya turun, meletakkannya di meja Jinny di depan seluruh redaksi, lalu pergi lagi tanpa sepatah kata pun.
Tulisanmu dibagikan dua belas ribu kali. Data pembaca kamu benar. Kamu juga.
Jinny menatap kertas itu lama sekali. Lalu ia berdiri, mengambil kertas kuning dari laci mejanya, menulis satu kalimat, dan berjalan ke lantai atas.
Lima menit di tangga darurat. Sekarang.
Ia menyerahkan kertas itu pada mbak Wulan. Mbak Wulan membacanya, mengangguk, lalu tersenyum. Itu pertama kalinya Jinny melihat sekretaris itu tersenyum.
***
Tangga darurat antara lantai empat dan lima berbau debu dan cat lama. Lampunya berkedip-kedip. Jinny berdiri di bordes dengan punggung menempel ke dinding saat pintu di atasnya terbuka dan Yuda turun.
Mereka berdiri berhadapan, dipisahkan tiga anak tangga.
"Saya sudah ketemu dia," kata Yuda langsung. "Hari Minggu sebelum acara. Dia sudah menikah, punya anak, dan sekarang sudah pindah ke Melbourne. Dia pergi dulu karena keluarganya. Bukan salah saya." Ia berhenti. "Saya sudah dapat jawabannya. Semuanya selesai."
"Aku seneng Mas dapat jawaban," kata Jinny pelan. Ia sengaja memakai aku, bukan saya. Di tangga darurat ini mereka bukan atasan dan bawahan. "Beneran seneng."
"Jinny, malam itu di mobil kamu tanya apa saya mau balik sama dia. Saya bilang tidak tahu. Sekarang saya tahu. Jawabannya tidak."
Jinny merasakan matanya memanas. Ia menggigit bibir.
"Mas tahu gak aku takut apa?" tanyanya. "Aku takut jadi hadiah hiburan. Aku takut Mas milih aku karena yang lama udah selesai, terus kebetulan aku ada di sini. Kebetulan aku yang paling dekat. Aku udah pernah jadi orang yang ditinggal karena masa lalu balik. Aku gak mau jadi orang yang dipilih cuma karena masa lalunya pergi."
"Bukan begitu..."
"Mungkin bukan." Jinny menyeka matanya cepat. "Tapi aku gak bisa bedain sekarang. Kepalaku penuh. Minggu lalu aku baru tahu mbak Sarah dukung aku sebagian karena takut. Terus Mas ketemu Kirana. Terus sekarang Mas kirim kopi. Aku gak tahu mana yang beneran, mana yang cuma kebetulan."
Yuda menatapnya. Lampu tangga darurat berkedip, dan di setiap kedipan, wajahnya terlihat semakin tersiksa.
"Saya bisa jelaskan."
"Aku tahu. Tapi aku belum bisa dengar." Jinny mengeluarkan selembar formulir dari saku blazernya. Sudah ditandatangani mbak Dita tadi siang. "Aku ngajuin cuti. Seminggu. Ke Lombok. Yang dari dulu ketunda gara-gara proyek. Sekarang proyeknya udah selesai."
Yuda menerima formulir itu. Ia membacanya, lalu mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya. Pulpen bertinta biru. Ia menandatanganinya di atas lututnya sendiri, agak lama, dengan punggung sedikit membelakangi Jinny.
"Disetujui," katanya, dan suaranya terdengar serak.
"Makasih, Pak."
Jinny mengambil formulir itu kembali dan berbalik hendak turun. Tapi sebelum ia sampai di anak tangga pertama, suara Yuda menghentikannya.
"Jinny."
Ia berhenti tanpa menoleh.
"Dulu kamu yang selalu maju. Kertas kuning, kopi, nikah yuk." Ada jeda yang panjang. "Sekarang giliran saya. Kamu boleh pergi seminggu. Saya tidak akan lari ke mana-mana."
Jinny turun tangga dengan langkah cepat agar Yuda tidak melihat air matanya. Di lantai empat, ia membuka formulir cuti itu dan menemukan selembar kertas kuning kecil yang tadi tidak ada, tertempel di bagian bawah, di samping tanda tangan bertinta biru.
Selamat cuti. Salam untuk ayah kamu. Saya penasaran semirip apa.