Senin pukul enam pagi, balai sidang di pusat kota sudah dipenuhi orang berkemeja batik dan bertali leher panitia. Jinny berdiri di depan pintu masuk paviliun dengan kartu pers bertali biru tergantung di leher, recorder di tangan kanan, dan segelas kopi sachet dingin di tangan kiri. Ia tidur hanya tiga jam. Bukan karena kerja, melainkan karena pikirannya terus berputar pada satu pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan pada siapa pun.
Bagaimana pertemuan kemarin sore?
Ia menggeleng keras-keras, seolah bisa mengusir pikiran itu dari kepalanya. Hari ini hari kerja. Hari ini paviliun dua ratus pedagang dari seluruh Indonesia, dan ia yang memegangnya. Bukan saatnya memikirkan bos yang sedang bertemu cinta lamanya.
"Jin!" Bunga berlari kecil dari arah parkiran dengan kamera menggantung di leher. Wajahnya pucat. "Bu Ratna batal."
Jinny hampir menjatuhkan kopinya. "Apa?"
"Pesawatnya dari Lombok delay. Dia baru bisa sampai sore, sementara jadwal wawancara kita jam sepuluh. Panitia juga bilang stan tenunnya bakal dipegang keponakannya yang masih SMA."
Bu Ratna adalah penenun songket dari Sukarara yang menjadi tulang punggung seluruh tulisan paviliun. Kisahnya tentang menghidupkan kembali tenun di desanya dan menjualnya ke Jepang sudah Jinny siapkan sejak dua minggu lalu. Tanpa Bu Ratna, lead ganda yang ia bela mati-matian di depan Yuda akan pincang sebelah.
"Oke," kata Jinny, memaksa suaranya tetap tenang. "Oke. Kita cari cadangan. Arya mana?"
"Di panggung utama. Ngurusin akses menteri."
Jinny membuka buku catatannya, menggulir daftar dua ratus peserta paviliun dengan jari yang sedikit gemetar. Pedagang kopi. Pedagang keripik. Perajin perak. Semuanya bagus, tapi tidak ada yang punya cerita sekuat Bu Ratna. Tidak dalam tiga jam.
"Kamu kenapa pucat?"
Suara itu datang dari belakangnya. Tentu saja dari belakangnya. Jinny menoleh dan mendapati Yuda berdiri dengan setelan jas biru tua dan tanda pengenal tamu kehormatan. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang lebih ringan, lebih terbuka, seperti jendela yang baru saja dibuka setelah lama tertutup.
Jinny mengalihkan pandangannya cepat. "Narasumber utama saya batal, Pak. Pesawatnya delay."
"Bu Ratna?"
Jinny mengerjap. "Bapak tahu?"
"Saya baca draft kamu. Tiga belas komentar, ingat?" Yuda menatap daftar di buku catatan Jinny. "Siapa cadangannya?"
"Belum ada. Saya lagi cari."
Yuda diam sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya. "Ketua panitia teman sekolah saya. Pukul sebelas nanti menteri dijadwalkan langsung ke panggung utama. Kalau rutenya digeser lewat paviliun, kamu bisa dapat wawancara menteri dengan pedagang. Langsung di stan mereka. Itu belum pernah ada media yang dapat."
Jinny menatapnya tidak percaya. "Bapak bisa?"
"Saya bisa tanya. Bisa atau tidak, itu urusan panitia." Yuda menempelkan ponsel di telinga, lalu menatap Jinny. "Kamu yang pilih pedagangnya. Kamu yang kenal cerita mereka. Saya cuma buka pintu."
Jinny tidak sempat berterima kasih karena telepon itu sudah tersambung. Ia berbalik, menarik tangan Bunga, dan berlari menyusuri lorong paviliun yang mulai ramai.
***
Pukul sebelas lewat lima menit, rombongan menteri berbelok masuk ke paviliun. Para wartawan dari media lain yang menunggu di panggung utama tampak kebingungan, sementara Jinny sudah berdiri di depan stan kopi milik seorang bapak tua dari Kintamani bernama Pak Made. Lelaki itu sudah tiga puluh tahun menanam kopi dan baru tahun ini berani menjual sendiri tanpa tengkulak.
Jinny tidak memilihnya secara acak. Dalam dua jam terakhir, ia sudah berbicara dengan tujuh pedagang, dan hanya Pak Made yang membuat matanya berkaca-kaca saat bercerita tentang anak perempuannya yang kini kuliah dari hasil kebun yang dulu hampir dijual.
Menteri berhenti di stan itu, mencicipi kopi, dan bertanya. Pak Made menjawab dengan suara gemetar tapi lantang. Jinny merekam semuanya. Bunga memotret dari sudut yang sempurna. Selama lima belas menit, paviliun kecil di ujung gedung itu menjadi pusat perhatian seluruh balai sidang.
Ketika rombongan pergi, Pak Made duduk di kursi plastiknya dan menangis. Jinny ikut duduk di sebelahnya. Ia tidak menulis apa-apa selama beberapa menit. Ia hanya memegang tangan lelaki tua itu dan membiarkannya menangis.
Dari ujung lorong, Yuda melihat semuanya.
***
Bu Ratna akhirnya tiba pukul empat sore. Jinny tetap mewawancarainya, dan ternyata kisah penenun dari Lombok itu justru menjadi pasangan sempurna untuk kisah petani kopi dari Bali. Dua orang tua, dua pulau, dua puluh tahun lebih berjuang melawan tengkulak. Lead ganda yang Jinny bayangkan berubah menjadi lead kembar yang lebih kuat dari rencana awal.
Bu Ratna bahkan sempat memegang kedua pipi Jinny setelah wawancara selesai, menatapnya lama, lalu bertanya dalam bahasa Sasak apakah ia anak Mataram. Jinny menjawab iya, dan perempuan tua itu tertawa sambil menepuk-nepuk lengannya seperti menepuk cucu sendiri.
Malam itu, saat lampu-lampu balai sidang mulai dimatikan, Jinny berjalan ke parkiran dengan kaki yang rasanya sudah lepas dari tubuh. Bunga sudah pulang lebih dulu. Arya masih di ruang media mengirim foto.
Yuda bersandar di mobilnya di bawah lampu parkir yang kuning. Ia sudah melepas jasnya.
"Jinny."
Jinny berhenti. Jantungnya, yang sudah lelah seharian, mendadak berdetak kencang lagi. Ia ingin bertanya. Ia ingin tahu apa yang terjadi kemarin sore. Ia ingin tahu apakah perempuan bernama Kirana itu membuat Yuda bahagia, atau patah, atau keduanya.
Tapi ia juga takut pada jawabannya.
"Terima kasih buat tadi siang, Pak," katanya. "Tanpa Bapak, saya gak akan dapat menteri."
"Kamu yang dapat Pak Made. Itu bukan karena saya." Yuda menegakkan tubuh. "Bisa bicara sebentar?"
"Ini masih jam kerja, Pak," jawab Jinny pelan. "Besok masih ada hari kedua. Saya harus nulis malam ini."
Yuda terdiam. Ia menatap Jinny lama, dan untuk pertama kalinya Jinny melihat sesuatu di matanya yang mirip dengan yang ia rasakan beberapa minggu lalu, saat berdiri di depan meja mbak Wulan dengan tangan saling meremas. Gugup. Takut ditolak.
"Baik," kata Yuda akhirnya. "Hati-hati di jalan. Ambil yang ramai."
"Iya, Pak."
Jinny masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan menyetir keluar parkiran tanpa menoleh. Baru di lampu merah pertama ia sadar bahwa tangannya gemetar di atas setir. Bukan karena lelah.
Di kaca spion, ia melihat mobil hitam itu mengikuti di belakang. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Mengikutinya di sepanjang jalan yang ramai sampai ke ujung gang kosnya, lalu berhenti sebentar, dan berputar pulang setelah lampu kamar kos Jinny menyala.