Kafe di lobi hotel dekat bandara itu sepi di hari Minggu sore. Hanya ada sepasang turis yang sibuk dengan peta di meja seberang dan seorang pianis yang memainkan lagu-lagu lama tanpa ada yang benar-benar mendengarkan.
Yuda datang lima belas menit lebih awal. Ia memilih meja di sudut, memesan Americano, dan tidak menyentuhnya sama sekali.
Sembilan tahun. Ia sudah membayangkan pertemuan ini dalam ratusan versi. Di beberapa versi ia marah. Di versi lain ia menangis. Di versi yang paling sering muncul saat ia tidak bisa tidur, Kirana kembali padanya dan semuanya menjadi seperti dulu. Ia tidak tahu versi mana yang akan terjadi hari ini. Ia bahkan tidak tahu versi mana yang ia inginkan.
Pukul empat tepat, seorang perempuan masuk dari pintu putar.
Yuda mengenalinya dengan segera, dan sekaligus tidak mengenalinya sama sekali. Rambut panjang yang dulu selalu dikepang kini dipotong pendek sebahu. Wajahnya lebih tirus. Ia memakai kemeja linen krem dan celana panjang, dan di jari manis tangan kirinya ada cincin emas yang berkilau setiap kali ia bergerak.
"Yuda," kata Kirana. Suaranya masih sama. Hanya itu yang masih sama.
"Duduk."
Kirana duduk. Mereka saling menatap untuk beberapa saat yang terasa terlalu panjang, dua orang asing yang dulu pernah berbagi payung di jalanan Shinjuku.
"Aku terbang ke Melbourne hari Selasa," kata Kirana akhirnya. "Suamiku dapat kerja di sana. Kami pindah sekeluarga."
"Suami," ulang Yuda.
"Namanya Arief. Kami punya anak laki-laki. Umurnya enam tahun." Kirana menunduk menatap tangannya. "Aku gak tahu kamu masih nyari aku. Aku baru tahu dua bulan lalu, dari teman lama kita yang ketemu temanmu di Semarang. Katanya kamu nyuruh orang ke mana-mana. Bertahun-tahun."
Yuda tidak menjawab.
"Maaf," bisik Kirana. "Aku tahu itu kata yang terlalu kecil. Tapi aku gak punya kata lain."
"Kenapa?"
Hanya satu kata. Kata yang sudah ia simpan sembilan tahun. Kirana menarik napas panjang, seperti orang yang hendak menyelam.
"Waktu kamu pulang ke Jakarta, papaku bangkrut. Utangnya banyak sekali, ke banyak orang. Salah satunya ke keluarga Arief." Ia tertawa getir. "Kedengarannya kayak sinetron ya? Tapi itu kejadian. Keluargaku bilang kalau aku menikah sama Arief, semua urusan selesai. Aku umur dua puluh tiga. Aku takut. Dan kamu... kamu lagi berduka. Papimu baru meninggal, kakakmu baru kehilangan suami. Aku gak sanggup nambahin beban kamu. Aku gak sanggup lihat muka kamu waktu aku bilang aku mau nikah sama orang lain karena utang."
"Jadi kamu pergi."
"Jadi aku pergi. Kayak pengecut." Kirana mengusap sudut matanya. "Itu bukan salahmu, Yuda. Sama sekali bukan. Aku tahu kamu pasti pernah mikir begitu. Kamu selalu nyalahin diri sendiri kalau ada yang salah. Tapi ini bukan salahmu."
Yuda menatap Americano di depannya yang sudah dingin. Kalimat itu. Itu bukan salahmu. Ia tidak sadar betapa lama ia menunggu seseorang mengucapkannya, sampai akhirnya kalimat itu diucapkan, di kafe hotel yang sepi, oleh orang yang paling berhak mengucapkannya.
Kirana mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah menguning dari tasnya. Tepiannya lecek, seperti sudah dibawa ke banyak tempat.
"Aku tulis ini seminggu setelah aku pulang. Aku gak pernah berani kirim." Ia meletakkan amplop itu di meja. "Terapisku bilang aku harus menyelesaikan yang belum selesai sebelum mulai hidup baru di tempat baru. Jadi aku cari nomor kakakmu. Aku tahu Mbak Sarah gak mau kasih. Aku ngerti kenapa."
Yuda membuka amplop itu. Tulisan tangan di dalamnya miring dan tergesa-gesa. Ia membaca tiga baris pertama. Yud, aku minta maaf. Aku gak bisa jelasin semuanya. Kamu pantas dapat yang lebih berani dari aku. Lalu ia melipatnya kembali. Ia tidak perlu membaca sisanya. Semua yang perlu ia dengar sudah diucapkan langsung di meja ini.
"Kamu bahagia?" tanyanya.
Kirana terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Awalnya enggak. Sekarang iya. Arief orang baik. Kami belajar saling sayang pelan-pelan."
"Bagus," kata Yuda. Dan anehnya, ia bersungguh-sungguh.
"Kamu?"
Yuda membuka mulut hendak menjawab, lalu berhenti. Di kepalanya muncul gambar yang tidak ia undang. Kertas kuning di badan gelas kopi. Kelinci gemuk bernama Pak Bos. Seorang perempuan yang berteriak eh ayam setiap kali kaget, yang makan putu seperti Sisi, yang melamarnya dengan tiga kalimat bodoh lalu menawar menjadi istri setelah ditolak menjadi suami.
Yang kemarin menggendong Sisi keluar dari ruang tamu yang penuh teriakan tanpa diminta siapa pun.
"Saya lagi belajar," jawab Yuda akhirnya.
***
Di parkiran, Yuda duduk di balik setir cukup lama tanpa menyalakan mesin. Kertas kuning di dasbornya masih menempel, sedikit melengkung di ujung karena panas.
Makasih tumpangannya, Mas. Tawaran tetap berlaku.
Ia teringat pertanyaan Jinny di bawah jembatan layang. Kalau Mas ketemu dia, Mas mau balik sama dia? Dan jawabannya yang jujur sekaligus bodoh. Saya tidak tahu.
Sekarang ia tahu. Ia tahu sejak Kirana masuk lewat pintu putar dan ia tidak merasakan apa-apa selain lega. Yang ia cari selama sembilan tahun ternyata bukan Kirana. Yang ia cari adalah jawaban. Dan jawaban itu sekarang terlipat di saku jasnya, di dalam amplop yang sudah menguning.
Ia melepas kertas kuning dari dasbor dengan hati-hati, menyimpannya di dompet, lalu menyalakan mesin.
***
Sarah sedang duduk di teras saat mobil Yuda masuk ke halaman. Ia berdiri, ragu, lalu duduk lagi. Yuda keluar dari mobil, berjalan ke teras, dan duduk di kursi di sebelahnya.
Mereka diam cukup lama. Di dalam rumah terdengar suara Sisi yang sedang berlatih piano, mengulang bagian yang salah kemarin, lagi dan lagi.
"Udah ketemu?" tanya Sarah pelan.
"Udah."
"Terus?"
Yuda mengeluarkan amplop menguning dari sakunya dan meletakkannya di pangkuan Sarah. "Simpan atau buang, terserah Mbak. Aku udah gak butuh lagi."
Sarah menatap amplop itu, lalu menatap adiknya. Matanya kembali berkaca-kaca. "Yud, Mbak minta maaf. Mbak gak berhak nyembunyiin itu dari kamu."
"Aku juga minta maaf. Aku gak seharusnya teriak di depan Sisi." Yuda menyandarkan kepala ke sandaran kursi. "Mbak cuma takut aku hancur lagi. Aku tahu."
"Mbak juga udah ngomong sama Jinny."
Yuda menoleh cepat. "Ngomong apa?"
Sarah menceritakan semuanya. Restoran. Dukungan yang bercampur takut. Wajah Jinny saat bertanya apakah ia hanya alat. Termos merah yang ia tinggalkan di tangga kos. Dengan setiap kalimat, Yuda merasakan dadanya semakin berat.
"Dia pikir dia cuma pengalih," kata Sarah. "Dia pikir dia cuma dipakai Mbak buat bikin kamu lupa."
"Bukan begitu."
"Mbak tahu. Tapi Mbak bukan orang yang harus ngebuktiin itu ke dia." Sarah menatap adiknya lurus-lurus. "Kalau kamu mau dia, Yud, kamu yang harus maju. Sendiri. Bukan karena Mbak dorong. Bukan karena Kirana udah gak ada. Karena kamu milih dia."
Yuda menatap dompetnya, tempat kertas kuning terakhir itu tersimpan. Lalu ia memikirkan laci kiri meja kantornya, tempat lima lembar lainnya tertumpuk rapi.
"Aku udah milih dia sebelum Kirana telepon, Mbak," katanya pelan. "Aku cuma gak tahu cara bilangnya."
Sarah tersenyum. Senyum pertama hari itu yang sampai ke matanya.
"Ya udah, belajar," katanya. "Dia aja berani ngomong 'Pak, nikah yuk' di ruangan kamu. Masa kamu kalah sama dia?"
Di dalam rumah, Sisi akhirnya berhasil memainkan bagian yang salah itu dengan benar. Ia berteriak senang, dan suaranya terdengar sampai ke teras.