Langit sudah berwarna jingga saat Sarah keluar ke taman samping. Matanya sembab, bedaknya luntur di bagian pipi, dan ia berjalan pelan seperti orang yang baru turun dari kapal setelah badai. Sisi sudah tertidur di pangkuan Jinny dengan boneka kelinci di pelukan, napasnya masih sesekali tersendat sisa tangis.
"Mbak Tini, tolong bawa Sisi ke kamar ya," kata Sarah pada pengasuh yang mengikutinya. Perempuan itu mengangkat Sisi dengan hati-hati dari pangkuan Jinny. Sisi menggeliat sebentar, bergumam sesuatu tentang Pak Bos, lalu kembali terlelap.
Setelah mereka masuk, Sarah duduk di bangku di sebelah Jinny. Lama sekali tidak ada yang bicara. Pak Bos di dalam kandang sudah ikut tidur bergelung bersama tiga temannya.
"Makasih udah jagain Sisi," kata Sarah akhirnya.
"Sama-sama, Mbak."
"Yuda pergi. Mbak gak tahu ke mana." Sarah menatap gerbang yang sudah tertutup. "Dia gak mau ngomong sama Mbak."
Jinny diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tamu di rumah ini. Seharusnya ia sudah pamit sejak tadi, tapi tubuhnya tidak bisa meninggalkan Sisi yang menangis, dan sekarang tidak bisa meninggalkan Sarah yang terlihat seperti akan runtuh kapan saja.
"Kamu pasti bingung," lanjut Sarah. "Kirana itu..."
"Mas Yuda udah cerita, Mbak. Jumat minggu lalu. Di mobil."
Sarah menoleh cepat. Ada keterkejutan di wajahnya, lalu sesuatu yang lain, semacam rasa bersalah yang semakin dalam.
"Dia cerita sama kamu?"
"Sedikit. Soal Tokyo. Soal dia yang hilang."
Sarah memejamkan mata. Ketika ia membukanya lagi, air matanya kembali menetes. "Mbak harus jujur sama kamu, Jinny. Sebelum kamu dengar dari orang lain, atau lebih parah, sebelum kamu nebak-nebak sendiri."
Jinny menegakkan punggungnya. Entah mengapa ia merasa harus bersiap.
"Kirana pertama kali telepon Mbak lima minggu yang lalu. Dia dapat nomor Mbak dari teman lamanya Yuda. Dia minta nomor Yuda. Katanya mau ngomong sekali aja." Sarah menghela napas yang gemetar. "Mbak tolak. Mbak blokir. Dia ganti nomor. Mbak blokir lagi. Gitu terus."
"Kenapa Mbak gak bilang Mas Yuda?"
"Karena Mbak takut." Suara Sarah pecah. "Kamu gak lihat dia sembilan tahun yang lalu, Jinny. Dia pulang ke Jakarta waktu papi meninggal, terus dia tinggal di sini berbulan-bulan buat nemenin Mbak. Mbak lagi hamil Sisi, suami Mbak baru meninggal. Yuda yang ngurus semuanya. Pemakaman, perusahaan, rumah sakit. Dia gak pernah ngeluh. Terus waktu dia balik ke Tokyo dan Kirana udah gak ada..." Sarah menggeleng. "Dia berubah. Dia jadi Yuda yang kamu kenal sekarang. Yang dingin, yang gak mau makan malam, yang kerja terus. Dulu dia gak begitu. Dulu dia suka bercanda."
Jinny teringat lelucon soal kelinci bernama Pak Bos. Teringat bahu Yuda yang bergetar menahan tawa di coffee shop. Jadi itu bukan sesuatu yang baru tumbuh. Itu sesuatu yang lama terkubur, lalu perlahan-lahan menggali jalan keluar.
"Mbak pikir," lanjut Sarah sambil menyeka air matanya, "kalau Yuda bisa jatuh cinta lagi, dia bakal berhenti nyari. Dia bakal lupa. Terus waktu itu Mbak ketemu kamu di minimarket, dan Mbak lihat cara kamu lihat dia di rumah ini, cara dia lihat kamu waktu kamu gak sadar..." Ia tertawa kecil di sela tangisnya. "Mbak pikir, ini dia. Ini jalan keluarnya."
Jinny merasakan sesuatu yang dingin merayap dari ujung jari ke dada.
"Jadi waktu di restoran," katanya pelan, "waktu Mbak bilang Mbak dukung aku..."
"Mbak dukung kamu karena Mbak sayang kamu. Itu beneran."
"Tapi juga karena Mbak butuh seseorang buat bikin Mas Yuda lupa sama Kirana."
Sarah tidak menjawab. Diamnya adalah jawaban.
Jinny berdiri. Ia merapikan bajunya yang kusut bekas dipeluk Sisi, mengambil tas dari bangku, lalu menatap Sarah. Ia tidak marah. Ia terlalu lelah untuk marah. Yang ia rasakan justru rasa malu yang aneh, seperti orang yang baru sadar ia sudah menari dengan semangat di pesta yang ternyata bukan untuknya.
"Aku suka Mas Yuda beneran, Mbak," katanya. "Bukan buat jadi obat. Bukan buat jadi pengalih. Aku cuma suka. Sesederhana itu. Tapi ternyata aku masuk ke cerita yang udah ada naskahnya, dan peran aku udah ditentuin sebelum aku datang."
"Jinny, bukan gitu maksud Mbak..."
"Aku pulang dulu ya, Mbak. Salam buat Sisi."
Ia berjalan ke gerbang tanpa menoleh, masuk ke mobilnya yang baru tadi siang keluar dari bengkel, dan baru menangis setelah ia berbelok di ujung jalan.
***
Minggu pagi, Jinny terbangun karena ketukan di pintu kamar kosnya. Ia membuka pintu dengan rambut seperti sarang burung dan mata bengkak, lalu terpaku.
Sarah berdiri di sana dengan termos merah di tangan. Ia tidak memakai riasan sama sekali. Wajahnya terlihat lebih muda dan lebih lelah sekaligus.
"Mbak bawain kopi," katanya. "Kopi Lombok yang dulu kamu kasih. Mbak seduh sendiri tadi subuh. Mbak gak tahu takarannya bener apa enggak."
Jinny menatap termos itu, lalu menatap Sarah. Tetangga kos di kamar sebelah melongok dari balik pintu dengan penasaran, lalu buru-buru menutupnya lagi.
Lima menit kemudian, mereka duduk berdua di tangga kos dengan dua gelas plastik berisi kopi yang kepahitan. Jinny meminumnya tanpa mengeluh.
"Mbak salah," kata Sarah. "Mbak gak cuma salah sama Yuda. Mbak juga salah sama kamu. Mbak pakai rasa sayang Mbak ke kamu buat nutupin rasa takut Mbak. Itu gak adil."
"Iya, Mbak. Gak adil."
"Mbak gak minta kamu langsung maafin."
Jinny menatap gelas plastiknya. Di bawah, abang tukang sayur lewat sambil berteriak menawarkan kangkung. Hidup berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang retak di tangga kos ini.
"Aku maafin, Mbak," katanya akhirnya. "Aku tahu Mbak ngelakuin itu karena sayang sama Mas Yuda. Kalau aku jadi Mbak, mungkin aku juga bakal gitu." Ia menarik napas. "Tapi aku butuh waktu buat tahu aku ini sebenarnya apa di cerita kalian. Teman? Atau cuma alat yang kebetulan pas?"
Sarah mengangguk pelan. Ia tidak membantah, dan Jinny menghargai itu.
"Yuda kirim pesan tadi malam," kata Sarah setelah beberapa saat. "Cuma satu kalimat. Dia bilang dia nginap di rumahnya sendiri. Dan dia bilang sore ini dia ketemu Kirana."
Jinny merasakan perutnya melilit. Ia meneguk kopi kepahitan itu sampai habis, berharap rasa pahitnya bisa menutupi yang lain.
"Semoga Mas Yuda dapat jawabannya, Mbak," katanya. Dan ia bersungguh-sungguh, meskipun mengatakannya terasa seperti menelan kerikil.
Sarah memegang tangannya sebentar, lalu pamit. Jinny tetap duduk di tangga kos sampai matahari naik dan termos merah di sampingnya mulai hangat terkena sinar. Sarah lupa membawanya pulang. Atau mungkin sengaja ditinggal.