Jinny hampir tidak datang.
Ia sudah menyiapkan alasan sejak Kamis. Ada liputan mendadak. Ada janji dengan narasumber. Ada kucing tetangga kos yang sakit dan butuh dijenguk. Tapi lalu voice note Sisi diputar ulang di kamarnya untuk kesepuluh kalinya, suara cempreng yang berkata, "Aunty Nini harus duduk paling depan ya, soalnya Sisi mau main lagu yang paling susah," dan semua alasan itu runtuh seperti menara balok yang ditendang.
Maka Sabtu sore pukul empat kurang sepuluh, Jinny sudah duduk di ruang tengah rumah Sarah dengan bingkisan kecil di pangkuan. Isinya boneka kelinci abu-abu yang ia beli di toko mainan dekat kantor. Ia memilihnya karena warnanya mirip Pak Bos.
Ruangan itu sudah diubah jadi panggung kecil. Kursi-kursi berjajar menghadap grand piano hitam di sudut, dan beberapa tamu sudah duduk. Ada guru les piano Sisi, dua orang tua murid lain, dan seorang nenek yang ternyata tetangga sebelah. Sarah sibuk mondar-mandir dengan nampan kue, wajahnya cerah tapi ada lingkar tipis di bawah matanya yang ditutupi bedak.
Yuda duduk di kursi paling ujung. Saat Jinny masuk, mata mereka bertemu sebentar. Yuda mengangguk. Jinny mengangguk balik, lalu memilih kursi di barisan depan yang jauh darinya. Persis seperti permintaan Sisi.
Pertunjukan dimulai. Sisi muncul dengan gaun putih dan pita merah di rambut, membungkuk kaku ke arah penonton, lalu duduk di bangku piano yang terlalu tinggi untuknya. Kakinya menggantung, tidak sampai ke pedal. Ia memainkan tiga lagu. Lagu pertama lancar. Lagu kedua sedikit tersendat di tengah. Lagu ketiga, yang katanya paling susah, dimainkan dengan wajah serius sampai lidahnya menjulur keluar di sudut bibir.
Jinny bertepuk tangan paling keras. Ia bahkan berdiri. Sisi melambai-lambai dari bangku piano dengan wajah semerah pitanya.
***
Setelah tamu-tamu lain pulang, Sisi langsung menyerbu Jinny dan merobek bungkus kado dengan semangat.
"Pak Bos!" pekiknya begitu melihat boneka kelinci abu-abu itu. "Aunty, ini Pak Bos versi gak gigit!"
"Iya, yang ini jinak. Bisa dipeluk."
Sisi memeluk boneka itu erat-erat, lalu berlari ke arah Yuda yang masih duduk di kursinya. "Papa, lihat! Pak Bos kecil!"
Yuda menatap boneka itu, lalu menatap Jinny dari seberang ruangan. Jinny buru-buru membuang pandangan ke arah jendela.
Di atas meja samping sofa, ponsel Sarah bergetar. Sarah sedang di dapur membereskan piring bersama pelayan. Ponsel itu berhenti, lalu bergetar lagi. Berhenti. Bergetar lagi.
"HP Bunda bunyi terus, Pa," lapor Sisi.
Yuda melirik layar ponsel itu. Nomor tidak dikenal. Getaran keempat. Kelima. Rahangnya mengeras, dan Jinny melihat pria itu bangkit dengan wajah yang sama seperti malam ketika ia bertanya apakah Sarah baik-baik saja.
"Biar Papa angkat."
"Mas," Jinny berdiri tanpa sadar. "Itu kan HP mbak Sarah..."
Tapi Yuda sudah menempelkan ponsel itu di telinga. "Halo. Siapa ini? Jangan ganggu kakak saya lagi."
Hening di seberang. Lalu terdengar suara perempuan, kecil dan bergetar, cukup keras untuk bisa Jinny dengar dari tempatnya berdiri.
"Yuda?"
Seluruh tubuh Yuda membeku. Jinny melihatnya. Melihat bagaimana bahu pria itu berhenti bergerak, bagaimana tangannya yang memegang ponsel mendadak memutih di bagian buku-buku jari.
"Kirana?"
Di ambang pintu dapur, nampan di tangan Sarah terlepas. Piring-piring kecil berjatuhan ke lantai marmer dengan bunyi pecah yang memekakkan telinga. Sisi menjerit kaget dan memeluk boneka kelincinya.
"Yuda, kasih HP-nya ke Mbak," kata Sarah dengan suara gemetar.
Yuda tidak bergerak. Ia menatap kakaknya dengan pandangan yang tidak pernah Jinny lihat sebelumnya. Bukan marah. Lebih buruk dari marah. Seperti orang yang baru sadar lantai yang selama ini ia pijak ternyata kosong.
"Saya telepon balik," katanya pada ponsel itu dengan suara rendah, lalu menutup sambungan. Ia menatap layar, menggulir sesuatu, dan wajahnya semakin pucat. "Tujuh nomor berbeda, Mbak. Riwayatnya dihapus semua, tapi yang hari ini masih ada. Sejak kapan?"
"Yuda..."
"Sejak kapan, Mbak?"
Sarah menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya sudah menetes. "Sebulan. Lebih sedikit."
"Orang iseng," ulang Yuda pelan. "Mbak bilang orang iseng. Waktu itu aku mau angkat, Mbak bilang gak usah."
"Mbak takut!"
"Mbak tahu aku cari dia bertahun-tahun. Mbak tahu aku bayar orang keliling Jawa. Mbak tahu..."
"Mbak tahu!" Suara Sarah pecah. "Mbak yang lihat kamu waktu itu! Mbak yang lihat kamu pulang dari Tokyo kayak mayat hidup! Kamu gak makan, gak tidur, kerja sampai pingsan! Mbak baru kehilangan suami, papi juga baru meninggal, dan Mbak hampir kehilangan kamu juga! Terus sekarang dia telepon seenaknya, minta nomor kamu, kayak sembilan tahun itu gak pernah ada?"
Sisi menangis. Tangis anak kecil yang ketakutan, yang tidak mengerti mengapa dua orang yang paling ia sayangi berteriak satu sama lain di ruang tamu yang barusan penuh tepuk tangan.
Jinny tidak berpikir dua kali. Ia berjalan cepat ke arah Sisi, berlutut, dan merentangkan tangan. Sisi langsung menghambur ke pelukannya.
"Sisi, kita lihat Pak Bos yang asli yuk," bisik Jinny. "Pak Bos kecil harus kenalan sama Pak Bos besar."
Ia menggendong anak itu, yang ternyata jauh lebih berat dari dugaannya, dan membawanya keluar lewat pintu samping. Di belakangnya, suara Yuda dan Sarah masih terdengar, lebih pelan sekarang, tapi tidak kalah tajam.
***
Kandang kelinci itu sepi. Mochi, Kentang, dan Bolu sedang tidur bergelung di pojok. Pak Bos duduk sendirian di dekat pintu kandang, mengunyah daun kangkung dengan malas.
Jinny duduk di bangku taman dengan Sisi di pangkuannya. Anak itu masih sesenggukan, wajahnya terbenam di bahu Jinny, boneka kelinci terjepit di antara mereka.
"Papa marah sama Bunda," isak Sisi. "Gara-gara Sisi mainnya jelek ya, Aunty? Lagu yang kedua Sisi salah."
Hati Jinny mencelos. Ia memeluk anak itu lebih erat.
"Bukan, Sayang. Sisi mainnya bagus banget. Aunty sampai berdiri tadi, kamu lihat kan?"
Sisi mengangguk di bahunya.
"Papa sama Bunda lagi beda pendapat soal urusan orang dewasa. Bukan soal Sisi. Sama sekali bukan." Jinny mengusap punggung kecil itu pelan-pelan. "Kadang orang dewasa juga bisa marah, terus nangis, terus baikan lagi. Kayak Sisi kalau berantem sama teman sekolah."
"Nanti baikan?"
"Pasti baikan. Papa sayang banget sama Bunda. Bunda juga."
Sisi mengangkat wajahnya yang basah. "Aunty Nini janji?"
Jinny menatap mata bulat itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam rumah itu. Ia tidak tahu siapa Kirana, apa yang perempuan itu inginkan, atau apa artinya semua ini bagi pria yang baru saja menatap kakaknya seperti orang asing. Tapi ia tahu satu hal: anak ini butuh sesuatu untuk dipegang.
"Aunty janji," katanya.
Dari arah depan rumah terdengar pintu mobil dibanting, lalu mesin dinyalakan. Jinny menoleh dan sempat melihat mobil hitam itu keluar dari gerbang dengan kecepatan yang terlalu tinggi.
Sisi ikut menoleh. "Papa pergi ke mana?"
Jinny tidak menjawab. Ia hanya menatap gerbang yang perlahan menutup, sementara di dalam kandang, Pak Bos berhenti mengunyah dan ikut menatap ke arah yang sama.