Senin pagi Jinny datang ke kantor dengan tangan kosong. Ia melewati coffee shop di depan gedung tanpa menoleh, dan segepok kertas kuningnya ia tinggalkan di laci meja kos. Ia naik lift langsung ke lantai redaksi, menyalakan komputer, dan mulai mengetik daftar pertanyaan untuk pedagang paviliun seolah dua minggu terakhir tidak pernah terjadi.
Bunga yang datang setengah jam kemudian langsung berhenti di depan mejanya.
"Lo gak naik ke atas?"
"Ngapain?"
"Biasanya jam segini lo udah nyari-nyari alasan buat naik ke lantai atas, terus turun lagi sambil senyum-senyum kayak orang abis menang arisan."
"Mulai hari ini gue fokus kerja," jawab Jinny tanpa menoleh dari layar. "Acara tinggal seminggu."
Bunga menatapnya curiga, lalu menatap Arya yang baru datang. Arya mengangkat bahu. Keduanya bertukar pandang dengan wajah orang yang mencium bau gosong tapi tidak tahu dari dapur mana.
Pukul sembilan, Jinny mulai mengobrak-abrik tasnya. Kartu persnya tidak ada. Ia membongkar semua isi tas di atas meja, memeriksa saku jaket, bahkan merogoh ke balik bantal kursi. Tidak ada. Padahal besok ia harus menyerahkan fotokopi kartu pers itu ke panitia untuk verifikasi akses paviliun.
"Nyari apa sih?" tanya Arya.
"Kartu pers gue."
"Terakhir lo pakai kapan?"
Jinny berhenti. Terakhir ia memakainya hari Jumat, tergantung di tasnya, saat ia turun dari mobil Yuda dengan tergesa-gesa. Wajahnya memucat.
"Gak tahu," dustanya.
Pukul sepuluh, pintu lift berbunyi dan seluruh redaksi mendadak sunyi seperti kelas yang kedatangan kepala sekolah. Yuda berjalan menyusuri deretan meja dengan langkah tenang, lalu berhenti tepat di depan meja Jinny. Ia meletakkan sesuatu di atas keyboard. Kartu pers bertali biru, dengan foto Jinny yang tersenyum lebar.
"Ketinggalan di mobil saya," katanya.
Di belakang Jinny, Arya menjatuhkan pulpennya. Bunga menutup mulut dengan kedua tangan. Seorang reporter magang di ujung ruangan sampai berdiri dari kursinya untuk melihat lebih jelas.
Jinny menatap kartu itu, lalu menatap Yuda. Ia tidak tersenyum.
"Terima kasih, Pak."
"Ini yang ketiga," kata Yuda pelan. Ada sesuatu di matanya, semacam harap yang ragu-ragu, seolah ia menunggu Jinny membalas dengan celetuk seperti biasa. Seolah ia ingin Jinny bilang kartu itu sengaja ditinggal biar Bapak punya alasan turun ke redaksi.
"Maaf Pak," jawab Jinny. "Gak akan ada yang keempat."
Yuda terdiam. Untuk sesaat ia terlihat seperti orang yang salah naik lift. Lalu ia mengangguk sekali dan berbalik pergi. Redaksi tetap sunyi sampai pintu lift tertutup, lalu meledak dalam bisik-bisik yang bergemuruh.
"Mobil saya," desis Arya dengan mata membelalak. "MOBIL SAYA, Bunga. Lo denger kan?"
"Gue denger. Satu lantai denger."
"Jin, lo naik mobil pak Yuda?"
"Hujan," jawab Jinny singkat. "Mobil gue di bengkel. Dia kebetulan lewat."
"Kebetulan lewat dari lantai atas ke lantai bawah malam-malam?"
Jinny memasang earphone tanpa menyalakan musik. Bunga dan Arya saling pandang lagi. Kali ini wajah mereka bukan wajah penggosip, melainkan wajah teman yang khawatir.
***
Selasa malam, Jinny duduk di lantai ruang keluarga rumah Agatha dengan Kia di pangkuannya. Bayi itu sibuk menggigiti mainan berbentuk jerapah, sesekali menepuk-nepuk lengan Jinny dengan tangan mungilnya yang basah.
"Jadi dia bilang gak tahu," ulang Agatha pelan.
"Gak tahu," Jinny mengangguk. "Kalau ketemu cewek itu, dia gak tahu mau balik atau enggak."
Agatha menghela napas panjang. Ia duduk di sofa dengan kaki bersila, segelas teh hangat di tangan. Dari dapur terdengar Andra yang sedang mencuci botol susu sambil bersenandung sumbang.
"Setidaknya dia jujur," kata Agatha.
"Itu masalahnya, Tha. Gue jadi gak bisa marah." Jinny mengusap kepala Kia. "Kalau dia bohong, gue bisa benci. Gue bisa nangis tiga hari, makan seblak level lima, terus move on. Tapi dia jujur. Dan jujurnya bikin gue sadar gue lagi berdiri di tempat yang sama kayak dulu."
"Dulu?"
"Bimo. Yuki." Jinny tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mata. "Gue selalu jadi orang yang datang pas yang lama belum selesai. Terus pas yang lama balik, gue yang disuruh minggir. Gue capek, Tha. Gue gak mau jadi orang yang nunggu di ruang tunggu sambil berharap nama gue dipanggil."
Agatha diam lama. Kia mulai menguap, menyandarkan kepalanya ke dada Jinny. Andra muncul di ambang pintu dapur dengan celemek bergambar beruang dan wajah yang tampak ingin ikut bicara, tapi satu tatapan Agatha membuatnya mundur lagi.
"Lo inget gak," kata Agatha akhirnya, "waktu gue dulu hampir nyerah sama Andra karena ada orang ketiga?"
Jinny mengangguk. Tentu saja ia ingat. Ia yang menemani Agatha menangis di kamar kos sambil makan martabak.
"Lo bilang ke gue, kalau dia emang buat gue, dia bakal milih gue. Bukan karena yang lain pergi, tapi karena dia sadar yang dia mau itu gue." Agatha tersenyum. "Gue gak bilang Yuda pasti milih lo. Gue gak tahu. Tapi lo berhak dapat orang yang milih lo dengan sadar. Bukan karena kebetulan yang lama gak ketemu."
"Terus gue harus ngapain?"
"Mundur dulu. Bukan buat ngambek. Buat jaga hati lo." Agatha meneguk tehnya. "Kalau dia beneran mau, dia yang maju. Gantian."
Dari dapur, Andra berseru, "Gue setuju!"
"Gak ada yang nanya!" balas Agatha dan Jinny bersamaan.
Kia terbangun karena kaget, lalu menangis. Andra buru-buru masuk mengambil anaknya sambil meminta maaf berkali-kali, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Jinny tertawa dengan sungguh-sungguh.
***
Rabu pagi, Yuda berdiri di depan kasir coffee shop dekat kantor.
"Americano satu," katanya.
Barista mengangguk. Saat kopinya jadi, Yuda membawanya ke kantor, naik ke lantai atas, dan meletakkannya di meja. Lalu ia duduk dan menatap gelas itu. Gelas yang sama, ukuran yang sama, dari kedai yang sama. Tapi ada yang kurang.
Ia menyesapnya. Pahit. Lebih pahit dari biasanya, padahal ia tahu itu tidak masuk akal.
Mbak Wulan mengetuk pintu dengan map di tangan. Sebelum menyerahkan map itu, ia berdeham.
"Pak, tadi Bapak tanya ada titipan atau enggak. Gak ada, Pak. Kan sudah dari minggu lalu Bapak sendiri yang larang."
"Saya tidak tanya."
"Bapak tanya kemarin, Pak. Kemarinnya lagi juga."
Yuda menatap sekretarisnya. Mbak Wulan menatap balik dengan wajah lurus, menyerahkan map, lalu keluar tanpa menunggu jawaban.
Setelah pintu tertutup, Yuda membuka laci kiri mejanya. Lima lembar kertas kuning tertumpuk di sana sekarang. Dua dari gelas kopi, satu yang agak kusut bekas terlipat di saku celana training, satu yang ada noda minyak nasi goreng di sudutnya, satu yang ujungnya sobek karena hampir terbang dari wiper. Lembar keenam masih menempel di dasbor mobilnya. Ia belum sanggup melepasnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Sarah.
'Sabtu jangan lupa, resital piano Sisi jam 4. Sisi udah undang Jinny juga lewat voice note. Kamu jangan bikin dia gak datang ya.'
Yuda menatap pesan itu lama. Lalu ia menutup laci, menyesap Americano yang terlalu pahit, dan mulai bekerja dengan kepala yang tidak bisa diajak bekerja sama.