Jumat pagi mobil Jinny menolak hidup. Ia memutar kunci tiga kali, menepuk-nepuk setir, bahkan sempat membujuknya dengan suara lembut seperti membujuk Sisi makan sayur. Mesinnya hanya terbatuk-batuk lalu diam. Tukang bengkel langganan di ujung gang bilang bukan cuma akinya yang soak, dinamonya juga, dan suku cadangnya baru datang minggu depan.
Maka Jinny berangkat dengan ojek, tiba di kantor dengan rambut berantakan, dan menghabiskan seharian menelepon pedagang-pedagang paviliun sampai telinganya panas. Acara tahunan itu tinggal sepuluh hari lagi. Dua narasumber minta jadwal diundur, satu tidak bisa dihubungi sama sekali, dan panitia mengirim denah baru yang membuat seluruh rencana liputan harus disusun ulang.
Saat Jinny akhirnya menutup laptop, jam dinding menunjuk pukul setengah sepuluh malam dan di luar jendela hujan turun seperti ditumpahkan dari ember raksasa.
"Mampus," gumamnya sambil membuka aplikasi ojek. Tidak ada pengemudi yang mau mengambil pesanan. Ia mencoba taksi daring. Waktu tunggu empat puluh lima menit.
"Mobil kamu mana?"
Jinny tidak terlonjak kali ini. Ia sudah mulai hafal bunyi langkah di belakangnya. "Di bengkel, Pak. Akinya ngambek."
Yuda berdiri dengan payung hitam di satu tangan dan kunci mobil di tangan lain. Ia menatap layar ponsel Jinny yang menampilkan angka empat puluh lima menit, lalu menatap jendela.
"Saya antar."
"Gak usah Pak, nanti juga..."
"Kamu mau tidur di kantor?"
Jinny menimbang sebentar. Sofa di ruang tamu redaksi memang empuk, tapi ada rumor bahwa sofa itu juga tempat tidur favorit tikus gedung. "Makasih Pak."
***
Di dalam mobil Yuda, hujan mengetuk-ngetuk kaca seperti sedang marah. Wiper bergerak cepat. Radio menyala pelan, memutar lagu lama yang Jinny tidak tahu judulnya. Wangi citrus yang sama seperti dulu, wangi yang membuatnya menggila waktu kakinya terkilir, kembali memenuhi hidungnya.
Jinny mengeluarkan selembar kertas kuning dari tasnya, menulis cepat, dan menempelkannya di dasbor tepat di depan setir.
Makasih tumpangannya, Mas. Tawaran tetap berlaku.
Yuda melirik kertas itu, lalu kembali menatap jalan. Ia tidak melepasnya.
"Kamu bawa kertas itu ke mana-mana?"
"Sejak minggu lalu. Satu pak lima belas ribu, Mas. Investasi."
"Investasi apa?"
"Investasi biar Mas berubah pikiran."
Yuda tidak menjawab. Lampu-lampu jalan yang buram oleh hujan membuat wajahnya tampak bergaris-garis cahaya. Jinny menatapnya diam-diam, lalu memutuskan untuk berhenti bercanda. Sudah dua minggu ia melempar kalimat nikah yuk dalam berbagai bentuk. Sudah dua minggu Yuda menjawab enggak, keluar, dan pulang. Tapi ia juga sudah dua minggu melihat Yuda menyimpan kertas-kertasnya, duduk di mejanya saat Bimo datang, dan mengaku salah di depan seluruh redaksi.
Ada yang tidak cocok. Dan sebagai wartawan, ia tidak suka cerita yang tidak cocok.
"Mas," katanya pelan. "Boleh saya tanya serius? Bukan bercanda."
Yuda melirik sebentar. "Tanya apa?"
"Kenapa enggak?"
Wiper bergerak tiga kali sebelum Yuda menjawab.
"Kenapa kamu pikir ada alasan?"
"Karena Mas gak buang kertas saya. Karena Mas duduk di meja saya waktu Bimo datang. Karena Mas tadi lihat saya di kantor jam setengah sepuluh dan langsung bawa payung." Jinny menarik napas. "Kalau Mas memang gak suka sama saya, saya bakal berhenti. Saya janji. Tapi kalau ada alasan lain, saya cuma mau tahu. Biar saya gak salah baca."
Yuda menepikan mobilnya di bawah jembatan layang tempat hujan tidak bisa menyentuh kaca. Ia mematikan radio. Hening yang tersisa hanya diisi suara mesin dan napas mereka berdua.
"Namanya Kirana," katanya akhirnya.
Jinny tidak bergerak.
"Kami kenal waktu kuliah di Tokyo. Tiga tahun bersama." Yuda menatap lurus ke depan, ke arah gelap di ujung jembatan. "Sembilan tahun lalu papi meninggal. Saya pulang ke Jakarta. Beberapa bulan kemudian suami mbak Sarah juga meninggal, waktu Sisi masih di kandungan. Saya tinggal di sini lebih lama dari rencana. Mbak Sarah sendirian. Perusahaan kacau."
Ia diam sebentar.
"Waktu saya kembali ke Tokyo, apartemennya sudah kosong. Nomornya mati. Teman-temannya bilang dia pulang ke Indonesia tanpa pamit. Dia tidak pernah menjelaskan apa-apa. Tidak ada pesan, tidak ada surat."
"Dan Mas cari dia," kata Jinny pelan. Bukan pertanyaan.
"Bertahun-tahun." Yuda tertawa kecil, tawa yang tidak terdengar lucu sama sekali. "Saya punya teman yang membantu. Setiap kali ada alamat baru, dia datang. Setiap kali selalu salah. Minggu lalu Bandung. Sebelumnya Semarang."
Jinny teringat telepon yang dulu Yuda terima. Teringat wajahnya yang lelah. Teringat Sarah yang berkata ia ingin adiknya merasakan hangatnya cinta lagi. Lagi. Kata itu tiba-tiba terasa sangat berat.
"Saya tidak bisa mulai sesuatu yang baru," lanjut Yuda, "kalau pertanyaan lama saya belum dijawab. Itu tidak adil buat orang itu."
"Kalau Mas ketemu dia," Jinny mendengar suaranya sendiri bergetar, "Mas mau balik sama dia?"
Yuda menoleh padanya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap Jinny langsung.
"Saya tidak tahu," jawabnya jujur.
Tiga kata itu jatuh di dada Jinny seperti batu. Ia mengangguk, lalu menatap ke luar jendela, ke hujan yang masih menggantung di ujung jembatan. Ia tidak menangis. Ia tidak akan menangis di mobil bosnya. Tapi di kepalanya, sebuah adegan lama terputar tanpa izin. Bimo di kafe, sebelum ia pindah ke Singapura, berkata bahwa Yuki sudah kembali. Bahwa ia minta maaf. Bahwa ia masih mencintai seseorang dari masa lalunya.
Lagi. Ternyata hidup memang suka mengulang lelucon yang sama pada orang yang sama.
"Makasih udah jujur, Mas," katanya akhirnya. "Kita jalan lagi yuk. Udah malam."
***
Hujan sudah reda saat mobil Yuda berhenti di depan gang kos Jinny. Gerobak putu langganannya masih buka, lampu petromaksnya bergoyang tertiup angin.
"Jinny..."
"Makasih tumpangannya, Mas. Hati-hati pulangnya." Jinny membuka pintu dan turun sebelum Yuda sempat berkata apa-apa lagi. Tasnya tersangkut sebentar di sabuk pengaman, ia menariknya kasar, lalu menutup pintu.
Mobil hitam itu menunggu beberapa detik, seperti ragu, sebelum akhirnya melaju pelan dan menghilang di tikungan.
"Wah, sama yang ganteng lagi," seru abang tukang putu sambil mengipasi kukusannya. "Itu calon yang waktu itu kan, Jin?"
Jinny berhenti di depan gerobak. Wangi pandan dan gula merah menyergap hidungnya, wangi yang biasanya membuatnya bahagia.
"Bukan, Bang," jawabnya. "Bukan calon."
Ia berjalan masuk ke gang tanpa membeli putu. Abang tukang putu menatap punggungnya dengan kening berkerut, karena selama bertahun-tahun berlangganan, belum pernah sekali pun Jinny Nissya melewati gerobaknya begitu saja.
Di dalam mobil yang melaju di jalan basah, Yuda menatap kertas kuning di dasbornya. Di lantai di bawah kursi penumpang, tergeletak sebuah kartu pers bertali biru dengan foto Jinny yang tersenyum lebar. Terjatuh dari tasnya saat ia menariknya terlalu keras. Yuda belum melihatnya.