"Kamu kenapa?"
Yuda mengangkat wajah dari laptopnya. Sarah berdiri di ambang pintu ruang kerja di rumahnya dengan dua cangkir teh di tangan dan tatapan yang terlalu penasaran untuk seorang kakak.
"Kenapa apanya?"
"Dari tadi kamu ngetik, hapus, ngetik, hapus. Mbak hitung udah enam kali." Sarah meletakkan satu cangkir di samping laptop Yuda, lalu duduk di sofa. "Kamu kayak Pak Bos waktu Bolu dipindah ke kandang sebelah."
"Mbak, aku bukan kelinci."
"Iya, kelinci lebih jujur."
Yuda menghela napas dan menutup laptopnya. Ia sudah tahu tidak ada gunanya berbohong pada Sarah. Kakaknya itu bisa membaca wajahnya sejak ia masih SD, sejak ia menyembunyikan rapor merah di bawah kasur dan Sarah menemukannya dalam lima menit.
"Tadi sore aku ke coffee shop," katanya akhirnya.
"Terus?"
"Jinny ada di sana. Sama cowok."
Mata Sarah langsung membulat. Ia meletakkan cangkirnya dan mencondongkan tubuh ke depan seperti penonton sinetron di episode final. "Cowok siapa?"
"Namanya Bimo. Dulu pernah ketemu sekali." Yuda memijat pelipisnya. "Dia bilang dia salah pilih. Ke Jinny."
"Terus kamu ngapain?"
"Duduk."
"Duduk di mana?"
"Di meja mereka."
Sarah terdiam dua detik. Lalu ia tertawa begitu keras sampai pelayan di dapur menengok dari pintu. Ia memegangi perutnya, matanya berair, dan Yuda hanya bisa menatapnya dengan wajah datar yang semakin datar.
"Kamu... duduk... di meja mereka..." Sarah tersengal. "Yuda, itu namanya cemburu!"
"Bukan."
"Terus apa?"
"Aku cuma mau minum kopi."
"Di meja orang?"
"Mejanya dekat jendela."
Sarah menyeka air matanya. "Adik Mbak yang pintar, yang sekolah di Jepang, yang bisa ngatur perusahaan sebesar itu, ternyata kalau cemburu alasannya jendela."
Yuda bangkit, mengambil laptopnya, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah besar-besar. Di belakangnya, tawa Sarah masih terdengar sampai ke lorong.
***
Kamis pagi, rapat redaksi terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, melainkan karena wajah Yuda. Jinny bisa merasakannya sejak pria itu masuk ke ruangan. Ada sesuatu yang berbeda. Rahangnya lebih kaku, dan matanya tidak sekali pun mengarah ke kursi tempat Jinny duduk.
"Draft paviliun," kata Yuda sambil membuka dokumen di layar. "Terlalu panjang. Sumbernya juga kurang meyakinkan. Lima pedagang dari tiga provinsi, tapi tidak ada data omzet. Bagaimana pembaca tahu ini penting?"
Jinny mengerjap. Draft itu sudah ia kirim semalam, dan tiga belas komentar Yuda sebelumnya sudah ia perbaiki semua. Tidak ada yang menyinggung soal panjang tulisan.
"Maaf Pak, datanya ada di lampiran," kata Jinny hati-hati. "Halaman dua. Saya pisahkan biar narasi gak terganggu angka."
"Pembaca tidak membuka lampiran."
"Lampirannya untuk Bapak dan mbak Dita, Pak. Di tulisan finalnya nanti datanya masuk ke infografis. Itu sudah saya tulis di catatan paling atas."
Hening. Mbak Dita membuka dokumen di laptopnya sendiri, menggulir ke atas, lalu berdeham.
"Benar Pak. Ada catatannya. Saya sudah setujui juga konsep infografisnya kemarin sore."
Yuda menatap layar. Jinny melihat pria itu membaca catatan di bagian atas dokumen, catatan yang jelas sekali terlewatkan. Untuk sesaat ruangan terasa seperti menahan napas. Arya bahkan berhenti memutar-mutar pulpennya.
"Baik," kata Yuda akhirnya. "Saya yang terlewat. Lanjutkan sesuai rencana."
Bunga menginjak kaki Jinny di bawah meja. Jinny tidak menoleh, tapi ia tahu persis apa yang ada di kepala Bunga. CEO paling galak se-gedung ini baru saja mengaku salah di depan umum. Itu kejadian yang lebih langka dari gerhana matahari total.
Begitu rapat bubar, Arya menyusul Jinny ke meja dengan wajah orang yang baru menyaksikan keajaiban dunia kedelapan. "Jin, gue rekam gak tadi? Bilang gue rekam. Itu harus masuk arsip perusahaan."
"Lo gak rekam, Ar."
"Sayang banget. Anak cucu gue gak bakal percaya."
***
Sore harinya, saat Jinny berjalan ke parkiran, ia mendapati Yuda bersandar di mobil hitamnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Jinny. Pria itu tampak sedang menunggu seseorang. Dan karena di parkiran itu hanya ada mereka berdua dan seekor kucing belang yang sedang tidur di kap mobil orang lain, Jinny cukup yakin orang yang ditunggu adalah dirinya.
"Jinny."
"Iya Pak."
Yuda menegakkan tubuh. Ia terlihat canggung, sesuatu yang belum pernah Jinny lihat sebelumnya. Tangannya masuk ke saku celana, keluar lagi, lalu masuk lagi.
"Soal rapat tadi," katanya. "Saya tidak membaca catatan kamu dengan teliti. Itu kesalahan saya. Maaf."
Jinny menatapnya. Lalu menatap kucing belang di kap mobil sebelah, seolah meminta konfirmasi bahwa ia tidak sedang bermimpi.
"Bapak minta maaf sama saya?"
"Saya baru saja bilang begitu."
"Boleh diulang Pak? Saya mau rekam buat kenang-kenangan."
"Jinny."
"Bercanda, Pak." Jinny tersenyum. Lalu senyum itu berubah menjadi sesuatu yang lebih jahil. "Tapi Pak, boleh saya tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Bapak tadi coret-coret draft saya gara-gara kemarin di kafe kan?"
Yuda terdiam. Terlalu lama untuk orang yang tidak bersalah.
"Bapak cemburu ya?"
"Enggak."
"Ayuklah Pak, ngaku."
"Enggak."
"Ya udah, kalau Bapak gak mau ngaku cemburu, biar saya aja yang ngaku seneng."
Yuda membuka mulut, menutupnya, lalu membuka pintu mobilnya. "Pulang."
"Iya Pak. Tapi Pak, ini kan sudah lewat jam kerja."
Yuda berhenti dengan satu kaki sudah masuk ke mobil.
"Jadi saya panggil Mas, kan?" lanjut Jinny polos. "Mas Yuda cemburu ya?"
Pintu mobil tertutup dengan bunyi yang agak lebih keras dari seharusnya. Jinny tertawa sendirian di parkiran, membuat kucing belang itu terbangun dan menatapnya dengan tidak senang.
Sebelum mobil Yuda keluar dari parkiran, Jinny sempat berlari kecil dan menyelipkan selembar kertas kuning di bawah wiper kaca depan. Ia melambai pada kaca gelap itu dan berjalan ke mobilnya sendiri tanpa menoleh lagi.
***
Di lampu merah pertama, Yuda menyalakan wiper tanpa sengaja. Kertas kuning itu terselip, berkibar, dan hampir terbang. Dengan refleks yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya, Yuda menurunkan kaca jendela, menjulurkan tangan, dan meraihnya tepat sebelum lampu berganti hijau.
Pengendara motor di sebelahnya menatapnya heran. Yuda menaikkan kaca jendela dan membaca kertas itu.
Permintaan maaf diterima. Cemburunya juga.
Klakson berbunyi di belakangnya. Lampu sudah hijau. Yuda meletakkan kertas itu di dasbor dan menginjak gas, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia menyetir sambil tersenyum sendiri.