'Jin, gue di coffee shop deket kantor lo. Bisa ketemu bentar? Ada yang mau gue omongin.'
Pesan dari Bimo itu masuk Rabu sore, tepat saat Jinny selesai menelepon panitia paviliun untuk ketiga kalinya hari itu. Jinny menatap layar ponselnya cukup lama sampai Bunga melongok dari meja sebelah.
"Siapa? Muka lo kayak abis lihat tagihan kartu kredit."
"Lebih parah," jawab Jinny. "Masa lalu."
Ia sempat berpikir untuk tidak membalas. Tapi Bimo bukan orang yang suka mengirim pesan semacam itu tanpa alasan. Lagi pula, bukankah ia sudah bilang pada Bimo bahwa semuanya sudah lewat? Orang yang sudah selesai dengan masa lalu seharusnya tidak takut minum kopi dengannya.
'Oke. Lima belas menit.'
***
Bimo duduk di meja yang sama dengan pertemuan mereka beberapa minggu lalu, di sudut ruangan dekat dinding kaca. Ia terlihat lebih kurus. Kemejanya kusut di bagian siku, dan ada lingkar gelap di bawah matanya yang tidak pernah Jinny lihat dulu.
"Makasih udah mau datang," katanya saat Jinny duduk.
"Lima belas menit," ulang Jinny. "Gue masih ada kerjaan."
Bimo tersenyum tipis. "Lo berubah."
"Lo juga. Kayak kurang tidur."
Bimo menghela napas panjang, memutar-mutar gelas kopinya yang sudah setengah kosong. "Gue sama Yuki udah selesai, Jin. Dua minggu yang lalu."
Jinny diam. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Dulu, mungkin bertahun-tahun yang lalu, kabar seperti ini akan membuatnya melompat kegirangan. Sekarang yang ia rasakan hanya semacam rasa iba yang sopan.
"Turut sedih," katanya akhirnya. Dan ia bersungguh-sungguh.
"Ternyata Andra benar. Yang udah retak gak bisa ditambal kayak baru." Bimo menatapnya. "Dan gue jadi sering mikir. Soal lo. Soal kita yang dulu."
"Bim."
"Gue cuma mau bilang, kalau dulu gue salah pilih."
Jinny meletakkan gelas yang belum sempat ia minum. Dadanya terasa sesak, bukan karena terharu, melainkan karena marah yang datang terlambat. Kalimat itu, kalimat yang dulu ia tunggu-tunggu sambil menangis di kamar kos, akhirnya datang. Tapi datangnya sekarang, saat Bimo sedang patah, saat Bimo sedang butuh tempat bersandar.
"Lo bilang itu karena lo baru putus," kata Jinny pelan. "Bukan karena lo kangen gue. Lo cuma kangen gak sendirian."
Bimo membuka mulut hendak menjawab, tapi seseorang lebih dulu menarik kursi kosong di meja mereka.
"Boleh saya duduk?"
Jinny mendongak. Rahangnya hampir jatuh untuk kedua kalinya di kafe yang sama. Yuda berdiri di sana dengan jas kerja dan wajah datar yang sangat ia kenal. Tanpa menunggu jawaban, pria itu sudah duduk di kursi ketiga, meletakkan ponselnya di meja, dan memanggil pelayan.
"Americano satu."
Bimo menatap Yuda, lalu menatap Jinny, lalu menatap Yuda lagi. "Oh. Yuda kan? Yang waktu itu."
"Iya."
"Gue Bimo. Kita pernah kenalan."
"Saya ingat."
Hening. Pelayan datang membawa Americano. Yuda menyesapnya dengan tenang, seolah ia duduk sendirian di meja itu dan dua orang lainnya hanyalah hiasan dinding.
Jinny menendang kaki Yuda di bawah meja. Yuda tidak bereaksi sama sekali.
"Kalian... lagi ada janji?" tanya Bimo canggung.
"Saya cuma mau minum kopi," jawab Yuda.
"Meja kosong banyak, Pak," desis Jinny.
"Meja ini dekat jendela. Saya suka jendela."
Jinny ingin membenturkan kepalanya ke dinding kaca yang katanya disukai Yuda itu. Bimo terlihat semakin bingung. Ia menggaruk tengkuknya, lalu meraih jaket di sandaran kursi.
"Kayaknya gue ganggu. Jin, nanti gue kabari lagi ya."
"Gak usah, Bim." Jinny menarik napas dalam. Kalau ia tidak mengatakannya sekarang, ia akan terus menundanya. "Gue serius. Gak usah kabari gue lagi soal ini. Gue doain lo baik-baik aja. Tapi gue gak bisa jadi tempat lo pulang cuma karena rumah lo yang lama runtuh. Itu gak adil buat gue."
Bimo terdiam. Wajahnya tampak tersentak, lalu perlahan berubah jadi sesuatu yang mirip penerimaan. Ia mengangguk pelan.
"Lo benar," katanya. "Maaf, Jin."
"Udah dimaafin dari dulu."
Bimo berdiri, mengangguk sopan pada Yuda, lalu berjalan keluar kafe. Jinny menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu. Ia menunggu rasa sakit itu datang, rasa sakit yang dulu begitu akrab. Tapi yang datang justru rasa lega yang aneh, seperti melepas sepatu hak tinggi setelah seharian berdiri.
Dulu ia pernah membayangkan adegan ini puluhan kali. Bimo datang menyesal, dan ia akan menjawab dengan kalimat yang dingin dan elegan seperti tokoh utama drama Korea yang sudah sukses. Ternyata kenyataannya jauh lebih sederhana. Musik latarnya cuma desis mesin espresso, dan langit di luar jendela cerah-cerah saja. Yang tersisa hanya kopi yang belum disentuh dan seorang teman lama yang berjalan pergi dengan bahu turun. Jinny bahkan tidak merasa menang. Ia hanya merasa selesai, dan ternyata selesai itu rasanya cukup enak.
Lalu ia menoleh pada Yuda dan rasa lega itu berubah jadi kesal.
"Bapak ngapain sih?"
"Minum kopi."
"Bapak sengaja duduk di sini."
"Ini tempat umum."
"Bapak nguping."
"Saya baru datang. Saya cuma dengar bagian kamu bilang tempat pulang." Yuda meletakkan gelasnya. "Kalimatnya bagus. Kamu bisa jadi penulis."
"Saya memang penulis, Pak. Wartawan itu penulis."
"Kalau begitu kenapa lamaran kamu cuma tiga kalimat?"
Jinny ternganga. Ia tidak menyangka Yuda akan mengungkit soal itu di sini, di tempat ini, dengan wajah sedatar itu. "Itu... karena Bapak keburu ngusir saya!"
Yuda menyesap Americano-nya lagi. Jinny bersumpah ia melihat bahu pria itu bergetar sedikit, seperti menahan tawa.
"Bapak ketawa ya?"
"Enggak."
"Bapak ketawa."
"Saya batuk."
"Batuk kok sambil senyum."
Yuda berdiri, meletakkan uang di meja yang cukup untuk membayar kopinya dan kopi Jinny yang belum diminum. "Sudah mau gelap. Ambil jalan yang ramai."
"Pak."
Yuda berhenti.
"Tadi Bapak duduk di sini karena Bapak khawatir sama saya, atau karena Bapak gak suka lihat saya sama Bimo?"
Yuda menatapnya. Lampu kafe yang kekuningan membuat wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Jinny saja.
"Mas Yuda," koreksi Yuda. "Ini sudah di luar jam kerja."
Lalu ia pergi, meninggalkan Jinny dengan pertanyaan yang tidak dijawab dan jantung yang berdetak seperti genderang marching band.
"Itu jawaban apa sih?" gumam Jinny pada gelas kopinya. "Ngeselin banget."
Tapi ia tersenyum sepanjang jalan pulang.