Senin pagi ruang rapat besar penuh sesak. Seluruh tim redaksi duduk berderet dengan buku catatan di pangkuan, dan di layar infocus terpampang logo acara tahunan bisnis yang akan mereka liput dua minggu lagi. Ini proyek yang membuat Jinny menunda cutinya ke Lombok. Proyek yang kata mbak Dita bisa menentukan nama perusahaan mereka di mata para pengiklan besar.
Jinny duduk di kursi tengah dan menjaga matanya tetap pada layar. Ia sudah belajar. Delapan puluh persen persentase rapat untuk memandangi bos adalah rekor yang tidak boleh diulang.
"Kita dapat akses penuh ke tiga hari acara," kata Yuda membuka rapat. "Lead utama kita adalah pidato pembukaan dari menteri dan keynote dari tiga konglomerat. Semua tulisan diarahkan ke sana. Itu yang dicari pembaca."
Mbak Dita mengangguk-angguk. Arya mencatat dengan semangat. Bunga sudah menggambar bintang-bintang di pinggir bukunya, tanda ia bosan.
Jinny mengangkat tangan sebelum otaknya sempat melarang.
"Ya, Jinny?"
"Maaf Pak, saya ada usul." Jinny berdeham. Ia bisa merasakan seluruh ruangan menoleh padanya, termasuk Arya yang matanya langsung berbinar seperti menemukan gosip segar. "Tahun lalu kita juga pakai lead konglomerat, dan tulisan kita sama persis dengan lima media lain. Saya sudah cek. Judulnya bahkan hampir mirip."
Yuda menyandarkan punggungnya ke kursi. "Lalu?"
"Tahun ini panitia membuka paviliun khusus untuk pelaku usaha kecil dari daerah. Ada dua ratus peserta. Saya usul kita pakai lead ganda. Satu dari panggung utama, satu dari paviliun itu. Biar pembaca dapat yang gak didapat di tempat lain."
"Siapa yang mau baca soal UMKM kalau ada menteri bicara?"
"Data pembaca kita bilang begitu, Pak." Jinny membuka laptopnya, memutar layar ke arah Yuda. Untung semalam ia iseng membuka laporan statistik situs. "Artikel kita yang paling banyak dibagikan tiga bulan terakhir justru yang soal pedagang kecil. Yang soal konglomerat cuma dibaca, gak dibagikan."
Ruangan sunyi. Mbak Dita mengernyit menatap layar laptop Jinny, lalu menatap Yuda.
Yuda diam cukup lama. Jinny mulai menyesal. Ia baru saja membantah CEO di depan seluruh redaksi, padahal minggu lalu ia melamar CEO itu di ruangannya sendiri. Orang ini pasti mengira ia sedang cari perhatian.
"Datanya kamu tarik dari mana?" tanya Yuda.
"Dari dasbor situs, Pak. Tiga bulan terakhir."
"Kirim ke saya habis rapat."
"Baik Pak."
"Dan siapkan kerangka lead ganda. Saya mau lihat malam ini." Yuda kembali menatap layar infocus. "Dita, atur ulang pembagian tim. Jinny pegang paviliun."
Arya hampir menjatuhkan pulpennya. Bunga berhenti menggambar bintang.
***
"Lo gila," bisik Bunga begitu rapat bubar. "Lo bantah pak Yuda di depan semua orang."
"Gue gak bantah. Gue kasih data."
"Bedanya apa?"
"Kalau bantah, gue bakal bilang 'Bapak salah'. Kalau kasih data, gue bilang 'Bapak belum lihat ini'. Beda nuansa, Bunga."
"Nuansa lo bikin gue jantungan," sahut Arya sambil mengelus dada. "Gue kira lo bakal diusir lagi."
Jinny menoleh tajam. "Lagi?"
Arya langsung pura-pura sibuk dengan ponselnya. Bunga bersiul. Jinny menghela napas panjang. Rupanya kata keluar dari ruangan CEO itu sudah tersebar sampai ke pantry lantai tiga.
***
Malam itu Jinny masih duduk di meja redaksi saat jarum jam menunjuk pukul sembilan. Seluruh ruangan sudah gelap kecuali lampu di atas mejanya. Kerangka lead ganda sudah ia kirim pukul tujuh, dan pukul delapan balasan dari Yuda masuk dengan tiga belas komentar. Tiga belas. Jinny menghitungnya dua kali.
Ia sedang memperbaiki komentar kesepuluh saat terdengar langkah kaki di belakangnya.
"Belum pulang?"
Jinny terlonjak. "Eh ayam... ayam..."
"Kamu selalu bilang ayam kalau kaget."
"Bapak selalu ngagetin saya dari belakang," protes Jinny sambil memegang dada. Yuda berdiri di sana dengan jas tersampir di lengan, tampaknya baru keluar dari ruangannya. "Komentar Bapak ada tiga belas. Saya baru sampai sepuluh."
"Sisanya besok."
"Nanggung Pak."
Yuda menatap jam tangannya, lalu menatap meja Jinny yang dipenuhi bungkus permen dan satu gelas kopi sachet yang sudah dingin. "Kamu sudah makan?"
"Sudah. Permen."
"Itu bukan makan."
"Bapak sendiri udah makan?"
Yuda tidak menjawab. Jinny ingat cerita Sarah bahwa adiknya itu jarang sekali makan malam. Ia menyipitkan mata.
"Belum kan? Bapak tuh ya, nyuruh orang makan tapi sendirinya enggak."
Dua puluh menit kemudian, mereka berdua duduk di pantry redaksi yang sepi dengan dua bungkus nasi goreng dari gerobak di depan gedung. Jinny yang memesan lewat satpam. Yuda yang membayar, karena ia menolak dibayari bawahannya. Jinny sempat menempelkan selembar kertas kuning di atas bungkus nasi goreng Yuda sebelum menyerahkannya.
Makan malam itu penting, Pak. Biar kuat menolak lamaran saya tiap hari.
Yuda membaca kertas itu, menghela napas, lalu melepaskannya dan memasukkannya ke saku kemeja tanpa berkomentar. Ia membuka bungkus nasi goreng dan mulai makan.
"Enak?" tanya Jinny.
"Lumayan."
"Bapak tuh kalau bilang lumayan artinya enak ya?"
Yuda berhenti mengunyah. "Siapa bilang?"
"Saya wartawan, Pak. Saya ngumpulin data. Putu lumayan, saya lumayan, nasi goreng lumayan. Bapak habisin semuanya. Kecuali saya, belum."
Yuda tersedak. Jinny buru-buru menyodorkan air mineral sambil tertawa terpingkal-pingkal sampai matanya berair. Ia tidak tahu apa yang merasukinya malam ini, mungkin efek lapar, mungkin efek lembur, mungkin efek melihat CEO paling galak di gedung ini makan nasi goreng bungkus dengan sendok plastik.
"Kamu," kata Yuda setelah batuknya reda, "sangat tidak sopan."
"Maaf Pak."
"Tapi usul kamu tadi pagi bagus."
Jinny berhenti tertawa. Yuda tidak menatapnya. Ia sibuk mengaduk nasi gorengnya.
"Saya sudah lama di luar negeri," lanjutnya pelan. "Saya belum terlalu kenal pembaca di sini. Kamu kenal. Itu berguna."
Jinny tidak tahu harus menjawab apa. Pujian dari Yuda rasanya seperti menemukan uang di saku celana lama. Tidak disangka, dan membuat senang berlebihan.
"Bapak kuliah di Jepang kan?" tanyanya akhirnya. "Pantes suka Ninja Hatori."
Yuda mendengus. "Saya nonton Ninja Hatori waktu kecil buat belajar bahasa Jepang. Versi aslinya. Tanpa sulih suara."
"Serius? Terus berhasil?"
"Kata pertama yang saya kuasai artinya 'tidak ada'." Yuda akhirnya menoleh. Ada sesuatu di sudut bibirnya yang hampir menyerupai senyum. "Mungkin itu sebabnya saya suka bilang enggak."
Jinny menatapnya lama. Lalu ia tertawa lagi, kali ini lebih pelan, lebih hangat.
"Nanti saya ajarin kata lain, Pak. Kata 'iya'. Gampang kok."
"Habiskan nasi goreng kamu."
"Iya, Pak."
"Nah," kata Yuda sambil berdiri membawa bungkusnya ke tempat sampah. "Kamu juga bisa."