'Aunty Nini, hari Sabtu jadi lihat kelinci Sisi kan? Bunda bilang boleh. Aunty harus datang. Kalau gak datang kelincinya sedih.'
Pesan itu dikirim dari ponsel Sarah, tapi Jinny tahu persis siapa yang mengetiknya. Hanya anak delapan tahun yang bisa mengancam orang dewasa dengan kesedihan kelinci.
Maka di Sabtu pagi itu Jinny sudah berdiri di depan gerbang rumah Sarah yang tinggi, kali ini dengan pakaian yang layak. Kemeja santai, celana jeans, sepatu kets. Bukan piyama KW drama Korea. Ia sudah belajar dari pengalaman pertama.
"Aunty Nini!" Sisi berlari dari teras begitu pelayan membukakan gerbang. Rambutnya dikuncir dua, kakinya hanya beralaskan sandal jepit, dan ia langsung menarik tangan Jinny tanpa memberi waktu untuk menyapa siapa pun. "Ayo, ayo, kelincinya udah bangun!"
"Sisi, salim dulu sama Aunty," seru Sarah dari pintu. Ia tersenyum lebar pada Jinny, senyum yang sama persis dengan saat di restoran beberapa hari lalu. Jinny mendadak curiga Sarah sudah tahu soal kejadian di ruangan Yuda. Pasti tahu. Mbak Wulan pasti sudah bercerita pada seseorang, dan seseorang itu bercerita pada orang lain, dan dunia ini terlalu sempit untuk menyimpan rahasia.
Sisi menyalami Jinny dengan kilat, lalu kembali menyeretnya ke halaman samping.
Kandang kelinci itu jauh lebih besar dari bayangan Jinny. Ada empat ekor kelinci di dalamnya, masing-masing dengan warna berbeda, dan Sisi memperkenalkan mereka satu per satu dengan serius seperti guru memperkenalkan murid baru.
"Ini Mochi, ini Kentang, ini Bolu, yang paling gendut ini namanya Pak Bos."
Jinny hampir tersedak ludahnya sendiri. "Pak Bos?"
"Papa yang kasih nama. Soalnya dia paling galak, suka gigit wortel punya yang lain," jelas Sisi polos.
Jinny menatap kelinci gemuk berwarna abu-abu itu. Kelinci itu balas menatapnya dengan pandangan datar sambil mengunyah, tidak peduli sama sekali. Mirip sekali dengan seseorang.
"Pantes," gumam Jinny.
"Pantes apa?"
"Kamu sama Pak Bos di sini, ternyata."
Jinny menoleh. Yuda berdiri di dekat pintu samping dengan kaos abu-abu dan celana training, rambutnya sedikit basah. Kali ini ia memakai baju lengkap. Jinny tidak tahu harus bersyukur atau kecewa.
"Pagi Pak," sapa Jinny, mendadak kaku.
"Ini hari Sabtu."
"Iya Pak."
"Jadi jangan panggil Pak."
Jinny mengerjap. Apakah barusan ia diberi izin? Apakah ini artinya di luar jam kerja Yuda mau jadi teman? "Jadi saya panggil apa? Mas Yuda?"
Yuda terdiam sebentar. "Terserah. Asal jangan Pak Bos."
"Pak Bos kan nama kelinci, Papa," protes Sisi.
"Makanya."
Jinny menahan tawa sekuat tenaga. Untuk pertama kalinya ia mendengar Yuda bercanda, dan itu terjadi di depan kandang kelinci bernama Pak Bos.
***
Mereka menghabiskan satu jam di halaman samping. Sisi mengajari Jinny cara memegang kelinci tanpa membuatnya takut, cara memberi makan wortel dari ujung jari, dan cara membersihkan kandang yang membuat Jinny hampir muntah. Yuda duduk di bangku taman tidak jauh dari mereka, sesekali membaca sesuatu di ponselnya, sesekali menatap ke arah mereka saat mengira Jinny tidak melihat.
Jinny tentu saja melihat. Ia wartawan. Pekerjaannya adalah melihat.
Saat Sisi masuk ke rumah untuk mengambil wortel tambahan, Jinny mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Selembar kertas kuning dan pulpen. Ia menulis cepat, lalu menempelkannya di pintu kandang tepat di depan Pak Bos.
Yuda mengangkat wajahnya. "Apa itu?"
"Bukan apa-apa," jawab Jinny tanpa dosa, lalu menyusul Sisi ke dalam.
Yuda bangkit, berjalan ke kandang, dan membaca kertas itu.
Kelinci aja punya pasangan. Masa bosnya enggak?
Pak Bos mengunyah wortel dengan cuek di baliknya. Yuda melepas kertas itu, melipatnya dua, dan memasukkannya ke saku celana trainingnya.
***
"Papa, Aunty Nini cantik gak?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sisi di tengah makan siang. Jinny yang sedang menyuap sop buntut langsung terbatuk-batuk hebat. Sarah menyodorkan air sambil menggigit bibir menahan tawa.
Semua mata tertuju pada Yuda. Yuda meletakkan sendoknya dengan perlahan, menatap Sisi, lalu menatap Jinny yang wajahnya sudah semerah tomat.
"Lumayan," jawabnya.
Jinny menyipitkan mata. Lumayan. Kata yang sama yang ia ucapkan tentang putu terenak se-tata surya. Itu artinya enak tapi gengsi bilang.
"Lumayan itu cantik atau enggak, Pa?" desak Sisi yang tidak puas.
"Lumayan itu lumayan."
"Kalau Bunda?"
"Bunda cantik."
"Kalau Sisi?"
"Sisi paling cantik."
"Kalau Aunty Nini lumayan?" Sisi mengernyit, tampak berpikir keras. "Papa pelit."
Sarah akhirnya tertawa lepas. Yuda kembali mengambil sendoknya dengan wajah datar, tapi Jinny bisa melihat ujung telinganya memerah. Telinga tidak bisa berbohong. Jinny menyimpan pengamatan itu di kepalanya seperti wartawan menyimpan kutipan penting.
Di tengah tawa itu, ponsel Sarah yang tergeletak di meja bergetar. Sarah melirik layarnya, dan tawanya berhenti seketika. Wajahnya yang tadi merona mendadak pucat. Ia membalik ponsel itu dengan cepat, layarnya menghadap ke meja.
"Siapa Mbak?" tanya Yuda.
"Kantor. Nanti aja." Sarah tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Sisi, habisin sayurnya."
Ponsel itu bergetar lagi. Dan lagi. Sarah akhirnya bangkit, mengambil ponselnya, dan pergi ke dapur. Jinny melihat dari sudut matanya bagaimana Sarah menekan tombol tolak, lalu menekan beberapa kali lagi seperti sedang menghapus sesuatu.
Yuda juga melihatnya. Rahangnya mengeras sebentar.
"Orang iseng yang kemarin itu lagi?" tanyanya saat Sarah kembali.
"Udah, gak usah dipikirin," jawab Sarah, lalu dengan cepat mengalihkan pembicaraan ke les piano Sisi yang katanya akan ada pertunjukan kecil di rumah dua minggu lagi.
Jinny diam saja, tapi naluri wartawannya berdenyut. Orang iseng tidak membuat perempuan setangguh Sarah pucat seperti itu. Orang iseng juga tidak membuat seseorang menghapus jejak panggilan dengan tergesa-gesa.
***
Sore harinya, Yuda mengantar Jinny sampai ke mobilnya yang terparkir di depan gerbang.
"Makasih udah nemenin Sisi," katanya.
"Sama-sama, Mas," jawab Jinny, mencoba panggilan baru itu dengan hati-hati. Rasanya aneh di lidah, tapi aneh yang menyenangkan. "Pak Bos juga makasih udah ngizinin saya pegang."
"Pak Bos gak pernah ngizinin siapa-siapa. Dia cuma lagi kenyang."
Jinny tertawa. Ia membuka pintu mobilnya, lalu berhenti. "Mas, mbak Sarah gak apa-apa?"
Yuda terdiam. Untuk sesaat Jinny melihat sesuatu di matanya, kekhawatiran yang ia sembunyikan dengan sangat rapi.
"Hati-hati di jalan," jawabnya akhirnya, lalu berbalik masuk.
Jinny tahu itu bukan jawaban. Tapi ia juga tahu tidak semua pertanyaan harus dijawab di hari Sabtu yang sama.