Kamis pagi, Jinny datang ke kantor dengan segelas Americano panas di tangan kanan dan segepok kertas kuning di tas. Ia berhenti di depan meja mbak Wulan, menempelkan satu lembar kertas kuning di badan gelas, lalu menyodorkannya.
"Mbak, titip buat pak Yuda ya."
Mbak Wulan membaca tulisan di kertas itu. Alisnya naik sedikit. "Selamat pagi, Pak. Tawaran kemarin masih berlaku. Tanpa batas waktu. Salam, Jinny dari redaksi."
"Kalau Bapak nanya, bilang aja dari fans."
"Mbak, saya bisa dipecat."
"Mbak Wulan gak akan dipecat. Yang dipecat paling saya," kata Jinny riang, lalu melenggang ke lift sebelum mbak Wulan sempat menolak.
Jinny tidak tahu apa yang terjadi pada gelas itu sesudahnya. Yang ia tahu, siang harinya gelas kosong itu dikembalikan ke mejanya oleh seorang office boy, lengkap dengan kertas kuning yang masih menempel. Di bawah tulisannya ada tambahan dengan tinta biru dan huruf yang sangat rapi.
Kopinya terlalu manis.
Jinny menatap tulisan itu lama. Tinta biru, huruf tegak, persis seperti tanda tangan di surat tugasnya. Americano tidak pakai gula. Ia yakin betul. Ia bahkan sudah memastikan pada barista dua kali.
"Kopinya gak manis," gumamnya. "Yang manis kan tulisannya."
"Apaan tuh?" Bunga sudah berdiri di belakang kursinya, matanya menyipit seperti detektif yang menemukan sidik jari. "Kok gelas lo dibalikin OB? Kertas apaan itu?"
Jinny buru-buru menyimpan gelas itu di laci. "Kertas tagihan."
"Tagihan apa pakai tulisan tangan?"
"Tagihan perasaan," celetuk Arya yang lewat sambil membawa setumpuk koran. "Gue lihat tadi pagi Jinny naik ke lantai atas bawa kopi. Lantai atas cuma ada satu orang yang minum Americano."
Bunga menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Jinny. Jangan bilang..."
"Kalian berdua gak ada kerjaan ya?"
"Ada. Kerjaan kami ngurusin lo," jawab Arya enteng.
***
Jumat pagi, Americano kedua berangkat ke lantai atas dengan kertas kuning yang berbunyi: Pak, saya sudah cek ke barista. Americano tidak pakai gula. Berarti yang manis bukan kopinya.
Siangnya gelas kosong kembali lagi. Tulisan tinta biru di bawahnya: Saya tidak dibayar untuk membaca catatan. Kamu juga tidak.
Jinny melepas kertas itu dengan hati-hati dan menyelipkannya ke dompet, di sebelah kertas yang kemarin. Dua balasan bertinta biru. Ia tahu itu kekanak-kanakan, tapi siapa yang peduli.
Senin pagi, Americano ketiga: Kalau Bapak tidak dibayar membaca, berarti Bapak membacanya gratis. Terima kasih sudah meluangkan waktu, Pak.
Gelas itu kembali tanpa tambahan apa-apa. Tapi kertasnya sudah tidak ada.
Jinny memutar-mutar gelas kosong itu di tangannya. Ke mana kertasnya? Dibuang? Disobek? Atau jangan-jangan dibakar sambil membaca mantra pengusir wartawan centil? Ia memandang ke arah lift dengan perasaan campur aduk.
Selasa pagi, Americano keempat: Pak, kertas kemarin ke mana? Itu kertas impor, satu pak lima belas ribu.
Pukul sepuluh, telepon di meja Jinny berdering. Suara mbak Wulan di seberang terdengar sangat datar, sangat profesional, dan sedikit menahan tawa.
"Mbak Jinny, pak Yuda minta Mbak ke ruangannya sekarang."
Seluruh redaksi tiba-tiba sunyi. Jinny bahkan bisa mendengar Arya berhenti mengunyah keripik.
***
"Duduk."
Jinny duduk. Di atas meja Yuda, gelas Americano keempat masih penuh, dengan kertas kuning yang masih menempel. Yuda menatapnya dengan kedua tangan terlipat di atas meja, persis seperti hakim yang hendak membacakan putusan.
"Ini sudah lima hari," kata Yuda.
"Empat, Pak. Hari ini yang keempat."
"Jinny."
"Iya Pak."
"Kamu tahu apa yang orang bicarakan di pantry lantai tiga?"
Jinny menggeleng, meskipun ia bisa menebak. Arya pasti sudah menyebarkan teori konspirasi ke seluruh gedung.
"Mereka bilang wartawan redaksi sedang melakukan pendekatan dengan metode kopi. Ada yang bertaruh berapa hari lagi saya menyerah." Yuda mengetuk gelas itu dengan jarinya. "Saya tidak suka jadi bahan taruhan."
"Maaf Pak," kata Jinny, dan kali ini ia sungguh-sungguh. "Saya gak bermaksud bikin Bapak malu."
"Saya tidak malu. Saya hanya tidak suka." Yuda diam sebentar. "Di kantor, saya atasan kamu. Kamu karyawan saya. Kalau saya menerima kopi kamu setiap pagi, orang akan berpikir kamu mendapat perlakuan khusus. Itu tidak adil untuk kamu, dan tidak adil untuk yang lain."
Jinny terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengar alasan sepanjang dan semasuk akal itu dari mulut Yuda. Biasanya pria ini hanya bicara dalam satu atau dua kata.
"Jadi berhenti," lanjut Yuda.
"Berhenti kirim kopinya, atau berhenti sukanya, Pak?"
Yuda membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya Jinny melihat pria itu kehilangan kata-kata.
"Soalnya kalau yang kedua, saya gak bisa janji," lanjut Jinny cepat. "Itu di luar kendali saya. Tapi kalau yang pertama, saya bisa. Mulai besok saya gak kirim kopi ke kantor."
"Bagus."
"Tapi kalau di luar jam kerja boleh kan, Pak?"
"Jinny."
"Kan di luar jam kerja Bapak bukan atasan saya. Bapak adiknya mbak Sarah. Saya temannya mbak Sarah. Jadi secara teknis kita juga teman."
"Saya tidak berteman dengan orang yang melamar saya di ruang kerja saya sendiri."
"Berarti kita lebih dari teman dong, Pak?"
"Keluar."
Jinny berdiri, menunduk sopan, lalu berjalan ke pintu. Sebelum keluar ia menoleh. "Pak, kopinya diminum ya. Sayang, tiga puluh lima ribu."
Yuda tidak menjawab. Tapi saat pintu hampir tertutup, Jinny sempat melihat tangan pria itu terulur ke arah gelas.
***
Setelah pintu tertutup, Yuda menatap gelas di depannya cukup lama. Lalu ia menarik kertas kuning dari badan gelas, membaca tulisannya sekali lagi, dan membuka laci kiri mejanya.
Di dalam laci itu sudah ada selembar kertas kuning lain, yang kemarin, tergeletak di samping pulpen cadangan dan stempel perusahaan. Yuda meletakkan lembar keempat di atasnya, lalu menutup laci dengan perlahan.
Ia sendiri tidak tahu kenapa ia menyimpannya. Mungkin karena tulisan tangan Jinny yang miring ke kanan terlihat lucu. Mungkin karena tidak ada orang yang pernah menulis padanya dengan cara seberani itu. Atau mungkin karena ia lupa membuang, dan lupa itu terjadi dua hari berturut-turut.
Ponselnya bergetar. Nama Reza muncul di layar.
"Gimana?" tanya Yuda langsung.
"Bandung juga bukan, Yud. Alamat yang dikasih orang itu ternyata sudah dijual dua tahun lalu. Pemilik barunya gak tahu ke mana yang lama pindah."
Yuda memejamkan mata. "Ya udah. Makasih, Za."
"Lo yakin masih mau lanjut? Udah berapa tahun ini?"
Yuda tidak menjawab. Ia menatap laci kiri mejanya yang tertutup, lalu menatap jendela kaca di belakangnya, tempat Jakarta terbentang abu-abu di bawah langit siang.
"Nanti gue kabari," katanya, lalu menutup telepon.
Americano di depannya sudah mulai dingin. Yuda meminumnya juga. Rasanya pahit, seperti biasa. Tapi entah kenapa, hari ini ia tidak terlalu keberatan.