Sepanjang perjalanan pulang dari restoran, kalimat Sarah terus berputar di kepala Jinny seperti lagu iklan yang tidak bisa diusir. Ada cewek yang harus usaha buat bikin orang yang ia suka menyadari perasaannya. Jinny mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil sambil menunggu lampu merah. Usaha. Ia sudah pernah tidak berusaha, dan hasilnya ia malah menonton Bimo kembali pada Yuki sambil pura-pura tersenyum.
"Kali ini enggak," kata Jinny pada spion tengah. "Kali ini gue bilang duluan."
Pengendara motor di sebelahnya menoleh heran. Jinny buru-buru menaikkan kaca jendela.
Sesampainya di kantor, Jinny tidak langsung ke meja kerjanya. Kakinya justru membawanya ke lantai paling atas, tempat ruangan CEO berada. Ia masih ingat betul kalimat Yuda di hari pertama mereka bertemu. Lain kali kalau ada yang ingin dibicarakan, sampaikan dulu pada sekretaris saya. Saya disini CEO, bukan teman kamu. Semua ada aturannya.
Baik. Jinny akan ikut aturan.
Di depan ruangan Yuda ada meja kecil yang ditempati seorang perempuan berkacamata dengan rambut digelung rapi. Papan nama di mejanya bertuliskan Wulan. Ia sedang mengetik dengan kecepatan yang membuat Jinny curiga jarinya lebih dari sepuluh.
"Siang, Mbak Wulan," sapa Jinny dengan senyum paling profesional yang ia punya.
"Siang. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya Jinny dari redaksi. Saya mau minta waktu ketemu pak Yuda. Sebentar aja, lima menit."
Mbak Wulan membuka agenda di layar. "Keperluannya apa, Mbak? Saya harus tulis di jadwal."
Jinny menelan ludah. Ia tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. "Urusan... pribadi, Mbak."
Mbak Wulan mengangkat wajahnya dari layar, menatap Jinny dari balik kacamata selama dua detik yang terasa seperti dua tahun. Lalu ia mengetik sesuatu. "Pak Yuda kosong lima belas menit lagi, sebelum telepon dengan klien. Mbak tunggu di sofa ya."
Lima belas menit itu Jinny habiskan untuk menyesali keputusannya, membatalkannya di dalam hati, lalu membatalkan pembatalannya. Ia sempat berdiri hendak kabur ke lift, tapi bayangan Sarah yang tersenyum sumringah membuatnya duduk lagi. Aku coba deh, begitu katanya tadi. Kalau sekarang ia lari, ia akan jadi orang yang paling pengecut se-Jakarta Selatan.
"Mbak Jinny, silakan masuk."
Jinny bangkit terlalu cepat sampai lututnya membentur meja kopi. Ia meringis, tersenyum pada mbak Wulan seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mengetuk pintu.
"Masuk."
Kali ini Yuda tidak membelakanginya. Pria itu duduk tegak di balik meja kerja yang besar, kemeja putihnya digulung sampai siku, dan matanya langsung menatap Jinny dengan pandangan yang sulit diartikan. Di sudut meja ada gelas kopi yang sudah tinggal setengah. Americano, pasti. Hanya orang aneh yang sanggup minum kopi sepahit itu setiap hari.
"Wulan bilang kamu ada urusan pribadi," kata Yuda tanpa basa-basi. "Kalau soal anting lagi, saya sudah kembalikan."
"Bukan soal anting, Pak."
"Cardigan?"
"Bukan juga, Pak."
"Lalu?"
Jinny berdiri di depan meja dengan kedua tangan saling meremas. Semua kalimat yang ia susun di mobil tadi lenyap, seperti file yang belum sempat disimpan lalu listrik padam. Yang tersisa di kepalanya hanya satu kalimat. Kalimat paling bodoh yang bisa diucapkan seorang wartawan pada atasannya.
"Pak, nikah yuk."
Hening. Suara AC terdengar sangat jelas. Yuda tidak berkedip.
"Enggak," jawabnya datar.
Jinny bisa merasakan wajahnya terbakar. Tapi ia sudah terlanjur basah. Bukankah orang yang sudah basah lebih baik sekalian berenang?
"Ayuklah Pak, jadi suami saya."
"Enggak."
"Ya udah, kalau Bapak gak mau jadi suami saya, biar saya aja jadi istri Bapak."
"Keluar!"
Suara Yuda tidak terlalu keras, tapi cukup tegas untuk membuat nyali Jinny ciut seketika. Ia bahkan sempat melihat mbak Wulan di luar pintu kaca buram yang berhenti mengetik.
"Baik Pak, permisi Pak," kata Jinny secepat kilat. Ia berbalik, berjalan ke pintu dengan langkah yang ia usahakan tetap anggun, dan baru sadar di tengah jalan bahwa ia memakai sepatu yang berbunyi tak-tok-tak-tok di lantai marmer. Setiap langkahnya terdengar seperti hitungan mundur rasa malu.
Tepat sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi. "Tapi saya serius ya Pak."
"Jinny."
"Iya Pak, keluar. Saya keluar."
Pintu tertutup. Jinny berdiri di depan meja mbak Wulan dengan wajah merah padam. Mbak Wulan menatapnya, lalu menatap layar komputernya, lalu menatapnya lagi.
"Urusan pribadinya sudah selesai, Mbak?"
"Belum, Mbak. Baru mulai," jawab Jinny lemas, lalu melangkah ke lift.
***
"Lo ngomong apa?!"
Suara Agatha di seberang telepon begitu kencang sampai Jinny harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Di latar belakang terdengar Kia merengek, mungkin kaget mendengar ibunya berteriak.
"Gue bilang 'Pak, nikah yuk'," ulang Jinny pelan. Ia duduk di dalam mobilnya di parkiran basement, satu-satunya tempat di gedung ini yang cukup sepi untuk menyembunyikan rasa malu. "Terus dia bilang enggak. Terus gue bilang ayuklah jadi suami saya. Dia bilang enggak lagi. Terus gue bilang ya udah biar saya aja yang jadi istri Bapak."
"Terus?"
"Terus dia bilang keluar."
Hening sebentar. Lalu tawa Agatha meledak, begitu panjang dan begitu puas sampai Jinny menyesal sudah menelepon.
"Lo... lo nawarin jadi istri... habis ditolak jadi suami..." Agatha tersengal-sengal. "Jin, itu kan sama aja!"
"Ya gue panik!"
"Ya Allah, Kia, aunty kamu ini sudah gila. Mama harus gimana?"
"Agatha, gue serius. Gue harus gimana sekarang? Besok gue gak bisa masuk kantor. Gue resign aja kali ya. Gue balik ke Lombok, bantuin usaha ayah, nikah sama anak tetangga."
"Anak tetangga lo masih SMP."
"Tunggu dia lulus."
Agatha tertawa lagi, kali ini lebih pelan. "Jin, dengerin gue. Lo kan udah janji sama diri lo sendiri gak mau nyembunyiin perasaan lagi. Ya udah, sekarang dia tahu. Itu namanya berhasil."
"Berhasil diusir."
"Berhasil ngomong. Diusirnya bonus." Agatha berdeham. "Lagian ya, kalau dia beneran gak suka sama lo, dia gak bakal repot-repot ngembaliin anting, ngabarin atasan lo waktu lo sakit, sama nyuruh lo lewat jalan yang ramai. Cowok kayak gitu kalau gak peduli, ya diam aja."
Jinny terdiam. Ia tidak pernah memikirkannya dari sudut itu.
"Jadi gue lanjut?"
"Yuk bisa yuk, jangan semangat, tetap menyerah," kata Agatha dengan nada riang.
"Kebalik!"
"Nah, itu dia. Lo udah tahu jawabannya sendiri."
Jinny menutup telepon dan menyandarkan kepalanya ke setir. Di kepalanya, wajah datar Yuda saat mengucapkan kata enggak terus terputar. Anehnya, semakin sering diputar, semakin ia sadar bahwa pria itu tidak terlihat jijik atau marah. Ia hanya terlihat kaget. Dan Yuda yang kaget, entah mengapa, terlihat sedikit lebih manusiawi.
"Mungkin besok gue bisa coba lagi," gumam Jinny pada dirinya sendiri. Lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya ampun, gue beneran udah gila."