POV ANGGEL
Suasana gaduh terdengar dari luar kamarku. Penyusup tadi menciptakan kehebohan besar. Selama ini, tidak pernah ada penyusup yang berhasil menembus pintu rumah utama—apalagi sampai masuk ke kamar Kakek atau kamarku. Tapi hari ini, bukan hanya dia bisa masuk ke kamarku, dia juga menghilang begitu saja tanpa jejak.
Semua pengawal disiagakan untuk mencegah kemungkinan serangan susulan. Penyusup itu misterius dan menakutkan. Bisa dipastikan dia bukan orang biasa.
Dia bisa masuk ke kamarku tanpa terdeteksi. Aku yakin dia sudah ada di dalam sebelum aku masuk, karena begitu masuk tadi aku langsung mengunci pintu kamar sebelum mandi. Tapi entah kenapa, aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
Saat lampu mati, dia masih sempat membisikkan sesuatu di telingaku… lalu lenyap. Padahal listrik padam tidak sampai satu menit. Begitu lampu menyala dan kami sadar dia sudah menghilang, Anton, Joko, dan Guntur langsung keluar kamar, menyisir seluruh bagian rumah untuk mencari jejaknya. Hasilnya nihil.
Dari semua itu, kami menyimpulkan satu hal: penyusup ini sangat paham dengan kondisi dan area rumah ini.
Begitu lampu menyala, bagian pengawas CCTV menginformasikan kalau ada sekelebat bayangan di sisi luar rumah, di jalur menuju pos pengawas. Anton langsung meluncur ke arah sana setelah mendapat info itu. Tapi pada akhirnya, dia harus kembali dengan tangan kosong.
Anton adalah tangan kanan Kak Bram di rumah ini. Dia sangat familiar dengan setiap sudut tempat ini. Kalau bahkan dia saja tidak bisa menemukan penyusup itu, berarti orang itu benar-benar tahu apa yang dia lakukan.
Anton segera berkoordinasi dengan semua pengawal, mengatur posisi mereka. Bersama Joko dan Guntur, mereka bertiga berbagi tugas menyisir area, sambil terus saling melaporkan perkembangan lewat alat komunikasi.
Teknologi yang kami pakai termasuk level militeri grade. PP adalah salah satu perusahaan pengamanan terbesar di negeri ini, dengan klien-klien VVIP kelas internasional.
Aku duduk di sofa di kamarku, memegang segelas s**u hangat yang Bi Ana bawakan untuk menenangkan sarafku yang masih tegang setelah pertarungan dengan penyusup tadi.
Beatrix berdiri di depanku, siaga penuh. Sesekali ia menempelkan jari ke alat komunikasi kecil di telinganya, mendengarkan laporan para pengawal, lalu menanyakan sesuatu kembali dengan suara pelan.
Beatrix masuk ke PP di usia lima belas tahun. Dia dipilih melalui program perekrutan yang dirancang Kak Frans. Setiap tahun, PP mendatangi beberapa SMP untuk melakukan tes kualifikasi awal. Anak-anak yang terpilih akan dihubungi lewat orang tua mereka dan dijelaskan apa yang PP tawarkan.
Jika mereka setuju, mereka akan mendapat dua hal: pelatihan intensif untuk menjadi pengawal, dan kesempatan bersekolah di SMA elit milik keluarga kami—sekolah yang Kakek bangun khusus untuk mendukung program ini.
Ayah Beatrix adalah pegawai di sebuah perusahaan swasta dengan penghasilan pas-pasan. Ibunya ibu rumah tangga yang menjual kue secara online untuk menambah penghasilan. Beatrix punya seorang kakak laki-laki, dua tahun lebih tua darinya.
Saat tawaran itu datang, kedua orang tuanya sangat senang, karena mereka tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah Beatrix. Dan Beatrix… dia bahkan lebih senang. Dia selalu tertarik dengan dunia pengamanan dan pelatihan di PP.
Aku dan Beatrix bersekolah di SMA yang sama, dan kami seangkatan. Karena dia berlatih di PP, aku sering berpapasan dengannya dan akhirnya berteman.
Dengan rambut sebahu yang praktis dan gaya berpakaian sporty yang cenderung tomboy, Beatrix mungkin tidak tampil seperti gadis feminin kebanyakan. Tapi wajahnya cantik. Sangat cantik.
Itu juga yang membuat banyak laki-laki mencoba mendekatinya.
Tapi Beatrix selalu menolak. Bahkan ketika seorang putra pengusaha terkemuka di negeri ini mendekatinya dengan cukup serius, dia tetap menutup hatinya.
Setelah lulus SMA dan menuntaskan pelatihan di PP dengan predikat lulusan terbaik wanita, Kakek bilang padaku bahwa Beatrix akan menemaniku sekaligus menjadi pengawalku ketika aku kuliah di Singapura.
Lamunanku mulai memperlihatkan dampak kelelahan yang menumpuk; kelopak mataku terasa berat dan aku nyaris terlelap sebelum suara gaduh di luar kamar menyentakku bangun.
“Ada apa, Bea?” tanyaku.
“Com Kak Bram mati. Kita kehilangan kontak dengannya,” jawab Beatrix cepat. Wajahnya menegang, tubuhnya langsung bersiaga.
Kantukku hilang seketika, berganti dengan kewaspadaan penuh.
Kalau alat komunikasi Kak Bram—kepala pengawal di sini—sampai mati begitu saja, artinya sesuatu sudah terjadi.
“Anton bilang apa?” tanyaku. Sebagai tangan kanan, seharusnya Anton tahu perkembangan terakhir.
“Katanya, lima belas menit yang lalu dia ketemu Kak Bram. Kak Bram bilang ada yang mau dicek dan pergi ke arah dojo,” jawab Beatrix.
“Terus com-nya mulai mati sejak kapan?”
“Sepuluh menit yang lalu.”
“Jadi sekarang gimana?”
“Ini Anton dan Wandi lagi mengarah ke sana,” jawab Beatrix.
Perasaanku langsung tidak karuan.
Kemampuan bela diri Kak Bram sangat tinggi. Aku, Beatrix, dan Anton bergabung saja belum tentu bisa mengalahkannya. Tapi kemampuan penyusup itu… sulit kuprediksi.
Secara penampilan, dia sama sekali tidak terlihat berbahaya.
Tapi begitu bertarung, aku tahu—dia jauh di atas rata-rata.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Di kepala, kekhawatiran berputar tanpa henti. Aku percaya pada kemampuan Kak Bram. Dia bukan orang biasa. Tapi penyusup itu juga bukan orang biasa. Aku merasakannya saat bertarung dengannya.
Selain khawatir akan keselamatan Kak Bram, ada ketakutan lain yang mengusik.
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Kak Bram?
Bagaimana dengan perusahaan? Bagaimana dengan rumah ini? Siapa yang akan memegang kendali di lapangan?
Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba aku teringat padanya.
Orang yang selalu bisa menenangkan hatiku.
Yang selalu bisa kupercaya.
Yang selalu bisa kuandalkan.
Kak Kevin… aku mohon pulanglah, batinku berbisik pelan.
Sepuluh menit setelah laporan kehilangan kontak dengan Kak Bram, kegelisahanku mencapai batas. Duduk diam terasa seperti siksaan. Aku merasa harus melakukan sesuatu.
Tapi sebelum aku sempat membuka mulut, kulihat Beatrix menegakkan tubuh, fokus mendengarkan sesuatu dari alat komunikasinya.
“Siap, Kak. Oke, kami ke sana sekarang,” katanya singkat.
“Siapa, Bea? Kak Bram?” tanyaku cepat.
Ia mengangguk.
“Kenapa? Mau ke mana?” desakku.
“Kak Bram minta aku bawa Nona turun. Katanya… ada yang mau ketemu,” jawab Beatrix sambil membantuku berdiri. Selimut yang menutupi tubuhku sempat menghambat gerak, jadi dia membantuku mengatur supaya tetap sopan tapi lebih leluasa.
Aku mengikuti langkah Beatrix dengan hati campur aduk.
Siapa yang mau bertemu denganku?
Seingatku tidak ada yang bilang ingin menemuiku malam ini. Dan biasanya, setiap orang yang ingin bertemu denganku pasti lewat Beatrix dulu.
Begitu kami sampai di ruang tamu, aku melihat Kak Bram berjalan masuk.
Di sampingnya… seseorang melangkah tenang.
Orang itu adalah penyusup yang tadi masuk ke kamarku.
Kali ini tanpa masker. Tanpa kacamata hitam. Wajahnya terlihat jelas.
Sekejap, semua pengawal di sana langsung bersiaga. Tangan mereka refleks mendekati s*****a, tubuh condong sedikit ke depan, siap bergerak kapan saja. Beatrix pun otomatis menggeser posisinya ke depanku.
Tapi aku… tidak bergerak mundur.
Aku justru terdiam.
Menatap.
Orang itu menghapus kebingunganku.
Menghancurkan keteganganku.
Mengubah rasa takut… menjadi sesuatu yang lain.
Kerinduan.
Tanpa peduli apa pun, tanpa memikirkan siapa saja yang melihat, aku berlari ke arahnya.
Itu Benar-Benar Dia.
Itu… Kak Kevin.