POV KEVIN
Aku berlari kecil menyusuri jalur samping kediaman Candra, menjauh dari rumah utama menuju sebuah gedung terpisah di belakang dan hanya bisa diakses lewat jalur khusus.
Gedung di depanku berdiri tenang, sedikit tersembunyi di antara pepohonan dan tembok pembatas. Dari luar, bangunannya tampak biasa—dinding terang, kaca lebar, pintu geser. Tapi aku tahu persis apa yang ada di dalamnya. Dojo. Arena latihan yang Kakek bangun khusus, sebuah arena tempat kami mensimulasikan situasi pengawalan dan serangan seolah-olah sedang di lapangan sungguhan.
Udara malam terasa lembap di kulit, tapi kepala dan darahku masih sibuk dengan satu pemandangan yang menempel keras: seorang gadis bergaun tidur tipis, mata lelah tapi tajam. Anggel. Dari sini, rumah utama hanya tampak sebagai bayangan besar di kejauhan. Namun bayangan Anggel jauh lebih jelas di kepalaku.
Dari dekat, dia jauh lebih cantik daripada tadi sore saat aku hanya melihatnya dari kejauhan. Dan jauh lebih cantik dibanding lima tahun lalu, ketika dia pergi melanjutkan studi ke Singapura.
Lima tahun lalu dia sudah cantik—cantik dengan cara seorang remaja yang manja, cerah, dan sedikit kekanak-kanakan. Sekarang, kecantikannya berbeda. Lebih dewasa. Lebih tenang. Lebih… berbahaya. Kecantikan seorang wanita yang sudah tahu apa yang dia mau, dan tidak ragu menantang dunia.
Dan yang paling menggangguku malam ini bukan sekadar wajahnya.
Tapi tubuhnya.
Lima tahun lalu, hubungan kami sangat dekat. Aku sudah sering melihatnya dengan pakaian tidur bertali satu yang pendek dan tipis. Saat itu, semua itu tidak pernah benar-benar menggangguku. Saat itu, kami masih terlalu muda, dan aku masih terlalu sibuk dengan latihan dan misi.
Tapi malam ini, di kamarnya, pakaian tidurnya entah sudah berapa kali hampir mencelakakanku. Terutama ketika kami hanya berdua di kamar, dan dia bahkan tidak sadar seberapa berbahayanya dia sekarang. Karena yang bertumbuh pada diriku bukan hanya fisik tapi perasaanku padanya.
Aku mendecak kecil, mencoba mengusir gambaran itu dari kepala. Tidak sukses.
Begitu aku hampir sampai di pintu dojo, mataku menangkap kilatan benda kecil melesat dari arah kiri. Refleks, aku memutar tubuh, menghadap sumber serangan. Tiga pisau kecil melayang cepat: satu menuju kepala, satu ke d**a, satu ke perut.
Aku menunduk, menghindari pisau yang mengarah ke kepala, menepis yang menuju d**a dengan punggung tangan, dan menangkap pisau yang mengarah ke perut. Tanpa menunggu, pisau yang kutangkap langsung kulempar balik ke arah bayangan yang berlari ke arahku.
Dia menepis lemparanku, lalu melanjutkan serangan dengan sebuah tendangan lurus ke arah dadaku.
Aku memutar badan setengah lingkaran, membiarkan tendangan itu lewat di samping, lalu membalas dengan pukulan ke arah rahangnya. Dia memblok pukulanku dengan lengan bawah, dan saat yang sama menyalurkan hantaman ke rusuk kanan.
Aku menangkap pergelangan tangannya, memutar tubuh, dan mencoba membantingnya ke depan. Tapi dia mendorong punggungku dengan tangan satunya, memanfaatkan momentum bantingan itu untuk melompat dan berputar di udara sebelum mendarat ringan beberapa langkah di depanku.
Begitu kakinya menyentuh lantai, dia kembali mengirim tendangan rendah ke arah kakiku. Aku menarik kaki, bergeser setengah langkah. Serangan dan tangkisan bergantian mengisi udara. Bagi orang awam, ini mungkin terlihat seperti perkelahian serius di area belakang rumah. Tapi kalau ada anggota PP yang melihat, mereka akan tahu ini hanyalah latih tanding dua saudara seperguruan yang terlalu terbiasa saling menguji.
Beberapa pukulan dan tendangan mengenai sasaran, tapi tidak ada keluhan, tidak ada rintihan. Hanya tawa kecil yang sesekali muncul di sela-sela nafas. Kami menikmati ini.
Setelah beberapa menit, kami melompat mundur hampir bersamaan, dua langkah ke belakang, menurunkan sikap. Bukan untuk berhenti, hanya mengganti fase.
Masing-masing dari kami mengambil tongkat kayu sepanjang satu meter yang sudah disiapkan di rak samping arena. Begitu tongkat ada di tangan, kami kembali maju.
Kayu beradu kayu, menciptakan suara tajam berulang. Ujung tongkat menebas udara, menusuk, memutar, menangkis. Jurus-jurus s*****a yang puluhan kali kami ulang saat remaja mengalir lagi dari otot dan ingatan.
Tongkat kayu mungkin tidak setajam pisau atau semematikan pedang, tapi di tangan kami, tetap saja itu s*****a. Sudut bibirku mengeluarkan darah tergores oleh sabetan tongkatnya, sementara d**a kirinya juga terluka akibat tusukan tongkatku yang sempat masuk.
“Cukup, ah!” serunya akhirnya, melompat mundur dua langkah. Itu aba-aba yang sudah lama kupahami. Aku ikut melompat mundur dua langkah, menurunkan tongkat.
“Hahaha… kenapa, kak Bram? Udah capek?” tanyaku sambil mengusap sudut bibir, merasakan perih yang familiar.
Ya. Orang yang bertarung denganku dari tadi adalah kak Bram. Kepala keamanan kediaman Candra, sama sepertiku, dia yatim piatu. Orang tuanya meninggal saat dia berusia sepuluh tahun.
Aku dan kak Bram satu angkatan di PP. Kami tumbuh sebagai sahabat, sekaligus rekan kerja. Kami lulus bersama. Aku menjadi pengawal pribadi kakek, sementara dia menjadi bagian dari tim keamanan di rumah ini.
Satu tatapan dari Kak Bram sudah cukup untuk membuatku mengerti apa yang harus kulakukan. Dulu, kalau menyangkut keselamatan Kakek, aku hanya perlu melihat matanya, dan dia sudah tahu apa yang kupikirkan.
Lima tahun lalu, ketika aku pergi, dia sudah menjabat sebagai kepala keamanan Kakek. Dia juga yang bertanggung jawab merekrut para pengawal yang sekarang menjaga rumah ini.
Ia menyalakan satu batang dan menyodorkan bungkusnya padaku. “Ayo, sebat.”
Aku mengambil satu, menyalakannya, menghela asap pelan. Aku butuh nikotin, terutama setelah pemandangan di kamar Anggel tadi, aku butuh sesuatu untuk menghalau bayangan setiap lelukan tubuhnya tampak jelas di balik pakaiannya yang tipis.
“Kok baru muncul sekarang?” tanyaku. “Padahal dari pintu depan tadi aku sudah sadar Kakak ngikutin.”
“Ndak bebas main di sana,” jawabnya ringan.
Dia tidak perlu menjelaskan lebih jauh.
“Emangnya kamu mau ke mana?” tanyanya balik.
“Ke dojo,” jawabku. Jawaban yang sebenarnya tidak perlu, karena jalur ini memang hanya mengarah ke sana.
“Dojo udah banyak berubah,” komentar kak Bram sambil melirik ke sekeliling. “Tapi skormu tetap tertinggi.”
“Sekarang belum tentu,” sahutku.
Kak Bram mendengus, tersenyum miring. “Bukan masalah model dan banyaknya latihan, tapi insting. Aku aja yang ngerancang sistemnya cuma bisa dapat nomor dua.”
Aku ikut tersenyum tipis. Skor yang dia maksud adalah skor simulasi di dojo. Di sana, kami bisa berperan sebagai penyerang atau pengawal. Sistem penilaiannya rumit, tergantung jumlah kawan dan lawan, kelincahan, efisiensi, dan seberapa baik kami .
“Anggota baru banyak yang berbakat,” kataku, menyalakan rokok kedua.
“Kak Frans punya program baru buat ngeliat metode latihan yang paling efektif buat masing-masing anggota,” jelas kak Bram. “Hasilnya gila. Waktu training dasar bisa dipotong jadi satu tahun.”
Aku mengangguk pelan.
“Kamu ikut ke rumah utama?” Tanya kak Bram sambil mematikan rokok pertamanya.
Aku tidak menjawabnya, aku ragu, aku belum memutuskan.
“Vin, hari ini Anggel kehilangan orang terdekatnya” kak Bram berkata melihat keraguan di mataku.
“Kami,” lanjut kak Bram “bisa mengisi kekosongan yang di tinggalkan pak Tua”
Aku tau kami yang di maksud ada kak Bram, kak Frans, Eva dan bahkan pengawalnya wanita yang tadi menjadi tameng nya.
“Tapi,” kak Bram berhenti sedetik “kami tidak bisa memenuhi kekosongan itu, cuman kamu yang bisa menutup kekosongan yang dia rasakan karena kepergian pak Tua.”
Aku masih terdiam, rokok keduaku ku isap dalam-dalam. Bayangan Anggel tadi sore di rumah duka masuk kedalam pikiranku, bagaimana rapuhnya dia di sana, bagaimana dia berusaha untuk tegar mendengar bisikan-bisikan orang yang tidak suka karena iri dan dengki.
Bayangan itu berganti ke malam ini, bagaimana sorot matanya yang lelah tapi memancarkan keinginan untuk tidak mundur, tapi aku tahu dalam hatinya dia gentar, dia takut.
Aku akhirnya tersenyum, hati sudah bulat aku ingin bertemu kembali dengan Anggel, bukan sebagai penyusup, bukan sebagai bayangan yang menghilang, tetapi sebagai kak Kevin, kak Kevin yang bertumbuh bersamanya, melindunginya dan mengisi kekosongan akibat kematian kakek.
Melihat senyumku kak Bram ikut tersenyum, tidak perlu kata dia sudah mengetahui apa yang menjadi keputusanku.
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok sambil berbagi kabar, perkembangan teman-teman lama, orang-orang baru dan system keamanan tambahan yang ada di kediaman Candra ini. Aku dan kak Bram berbalik dan berjalan ke arah rumah utama.
Di tengah langkah kami, Kak Bram tiba-tiba merangkul pundakku.
“Akhirnya Kamu Muncul.” katanya pelan, lalu menatapku dengan senyum yang sudah lama tidak kulihat.
Aku tertawa kecil, mengangkat bahu. “Kemunculanku kali ini beda, Kak.”
“Beda gimana?” ia menyipitkan mata, meski aku tahu sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
“Aku ndak balik sebagai anggota PP.” Aku menahan tatapannya sebentar, sebelum menambahkan, “…Aku balik karena Anggel.”