POV KEVIN
Aku berjalan beriringan dengan Kak Bram menuju rumah utama. Malam ini, aku memutuskan satu hal: sebelum balik ke hotel, aku harus bertemu Anggel.
Kerinduanku padanya sudah sampai titik yang sulit kutahan. Sejak melihatnya di kamarnya tadi—dengan pakaian tidur tipis, mata merah karena lelah dan menangis—aku harus berjuang mati-matian untuk tidak membuka penyamaranku di hadapannya. Ada hal yang lebih penting yang harus kuselesaikan dulu.
Tapi sekarang, aku sudah tidak bisa menahan keinginanku untuk bertemu dia.
Dalam perjalanan, dari kejauhan aku melihat dua bayangan berlari ke arah kami. Gerakan mereka cepat dan tegang, jelas tidak bersahabat. Dari siluet dan cara berlari, aku langsung mengenali salah satunya—pengawal yang sempat bertarung denganku di kamar Anggel.
Anton.
“s**t,” gumam Kak Bram pelan. Ia buru-buru memasang kembali com di telinganya, yang tadi sempat dia lepas waktu “bermain” denganku di dojo.
Aku hanya tersenyum tipis.
Belum sempat Kak Bram bicara melalui com, dua orang yang berlari ke arah kami sudah mengangkat s*****a. Sepucuk pistol di masing-masing tangan, moncongnya mengarah lurus ke dadaku.
“Anton, stop!” suara Kak Bram meluncur cepat. Dia melompat ke depan, setengah menutupi tubuhku dengan tubuhnya sendiri.
“Dia tamu di rumah ini,” lanjutnya, tajam.
“Tapi, Kak, tadi dia menyusup ke kamar Nona dan menyerang Nona Anggel!” Anton membalas, napasnya masih berat karena berlari, tapi nada suaranya penuh emosi.
“Dia punya alasan untuk melakukan itu,” jawab Kak Bram. “Lagian, dia tidak melukai Nona Anggel dan dia tidak bakal melakukan itu. Kamu, Joko, dan Guntur juga nggak apa-apa, kan? Dengan kemampuannya, dia bisa dengan mudah melukai kalian.”
Anton terdiam sesaat. Pernapasannya pelan-pelan melambat. Ada keraguan yang jelas di matanya, tapi pada akhirnya, ia menurunkan pistol dan menyelipkannya kembali. Rekannya mengikuti.
“Sudah. Ayo balik ke rumah utama,” kata Kak Bram akhirnya.
Anton dan pengawal satu lagi tidak membantah, tapi dari cara mereka berjalan di belakang kami, aku tahu mereka masih sangat waspada. Langkah mereka sedikit lebih dekat dari jarak aman, seolah siap melompat kapan saja kalau aku melakukan sesuatu yang salah.
Begitu memasuki area rumah utama, aku melihat para pengawal tersebar di titik-titik strategis. Setiap kali aku lewat, aku bisa merasakan hasrat menyerang mereka—ketegangan di rahang, tangan yang mengepal, mata yang tidak pernah lepas dari gerakanku.
Dugaanku, Anton yang mengoordinasi ini semua.
Kak Bram hanya menggelengkan kepala pelan saat melihat mereka.
Aku menahan tawa kecil. Selama dia ada di sini, tidak ada satu pun dari mereka yang akan benar-benar menekan pelatuk.
“Beatrix, tolong ajak Nona Anggel ke ruang tamu. Ada yang mau ketemu,” aku mendengar suara Kak Bram berbicara melalui com, ketika kami sudah mendekati pintu rumah.
Begitu menginjak teras, aku melihatnya.
Anggel.
Dia berjalan perlahan, tubuhnya terbungkus selimut yang dililitkan Beatrix di sekelilingnya. Meski hampir seluruh tubuhnya tertutup, auranya tetap sama seperti tadi di kamar—menarik, hangat, dan entah bagaimana… menguasai ruangan.
Anggel bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu berlari di belakangku sambil memanggil “Kak Kevin” dengan suara melengking. Dia sudah menjadi wanita dewasa, dengan kecantikan yang matang. Kecantikan yang bisa membuat banyak pria bertekuk lutut tanpa perlu ia berusaha.
Pandangan kami bertemu.
Di wajahnya, aku melihat keterkejutan singkat—lalu berganti dengan sesuatu yang lain.
Mata itu… berbinar.
Kebahagiaan.
Rasa percaya.
Dan sesuatu yang dari dulu berusaha tidak terlalu kupikirkan.
Dia berlari.
Tanpa aba-aba, tanpa keraguan, tanpa memperhatikan siapa pun. Selimut di tubuhnya sedikit tersibak saat ia mulai mempercepat langkah. Beatrix, yang sejak tadi berdiri di sampingnya, jelas tidak menyangka reaksi itu.
“Non, tahan!” teriak Beatrix, tangannya terulur berusaha menghentikan.
Tapi terlambat.
Anggel sudah melewatinya, melepaskan diri dari jarak aman, berlari lurus ke arahku dengan kecepatan penuh.
Dia merentangkan tangan.
Dan selimutnya… melorot.
Instingku langsung bekerja.
Aku melepas jaket panjang hitam yang masih kupakai. Begitu jarak kami cukup dekat, aku memutar jaket itu, menyelimutkannya ke tubuh Anggel dari belakang, menutup pakaian tidur tipisnya, lalu dalam gerakan yang sama, membalas pelukannya.
“Kak Kevin!” serunya, suaranya pecah oleh emosi, masuk langsung ke dadaku bersama tubuhnya.
“Hallo, Anggel,” jawabku pelan, membelai kepalanya seperti dulu. Gerakan yang sama, rasa yang jauh berbeda.
“Kakak jahat,” gumamnya, masih menempel di dadaku. “Kenapa tadi pakai samaran?”
“Maafkan Kakak, ya,” kataku pelan, mendekatkan bibir ke telinganya.
Ia mengangkat wajah, menatapku. Lalu tersenyum manis sambil mengangguk kecil, seolah permintaan maaf itu lebih dari cukup.
Beatrix yang tadi ikut berlari, berhenti beberapa meter dari kami. Pandangannya bingung, tapi tubuhnya tetap bersiaga.
Di sisi lain, Anton yang semula berdiri agak jauh di belakang, juga langsung bereaksi. Dia melangkah mendekat, bahunya menegang, jelas tidak nyaman melihat Anggel menempel padaku seperti itu.
Aku mengerti reaksi mereka.
Bagi anggota PP, apa yang mereka lihat sekarang sangat tidak normal: target utama mereka memeluk erat seorang pria yang baru saja menyusup ke kamarnya.
Kalau aku di posisi mereka, mungkin reaksiku juga sama.
“Stand down, Bea. Anton.”
Suara Kak Bram memotong tegangnya udara. Nada suaranya datar, tapi tegas, dan berwibawa.
Keduanya langsung menahan langkah. Beatrix menghela napas pelan, sementara Anton menunduk sedikit, mencoba menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Setelah itu, Kak Bram membubarkan semua pengawal yang masih berkumpul di sekitar rumah utama. Satu per satu, mereka mundur, kembali ke pos masing-masing, meskipun aku tahu rasa curiga mereka belum hilang.
Aku, Anggel, Kak Bram, Beatrix, Anton, Joko, dan Guntur kemudian masuk ke dalam rumah, menuju ruang tamu.
Kami duduk di sofa yang melingkar.
Anggel—yang sepertinya belum puas memelukku—tidak mau berpisah. Dia duduk di atas pangkuanku, tangannya melingkari leherku, pipinya menempel di bahuku. Jaketku masih menyelimutinya.
Aku bisa merasakan pandangan menusuk dari Anton.
Bukan lagi sekadar kewaspadaan seorang pengawal.
Lebih seperti… rasa tidak suka seorang pria dewasa yang tidak nyaman melihat wanita yang ia kagumi begitu dekat dengan pria lain.
Aku pura-pura tidak memperhatikan.
“Perkenalkan, namaku Kevin. Maaf, tadi sudah membuat kehebohan dan merepotkan kalian semua,” ucapku akhirnya, memecah keheningan.
“Kevin bagian dari keluarga ini,” kata Kak Bram menyambung. “Lima tahun lalu, Pak Tua menugaskan dia ke Jakarta. Tadi pagi dia baru tiba dari sana. Selain Joko, kalian mungkin nggak mengenalinya.”
Pandangan semua orang sedikit melunak, kecuali Anton.
“Apa maksudnya tadi masuk ke kamar Nona Anggel dan menyerang Nona Anggel?” suara Anton menggema, sarat emosi. Matanya menatapku tajam.
“Aku tidak menyerang Anggel,” jawabku tenang. “Dia yang menyerang aku begitu melihat aku. Ya sudah, aku cuma berusaha mempertahankan diri.”
Joko menoleh sekilas ke arahku, wajahnya menahan senyum tipis, mungkin teringat bagaimana Anggel benar-benar langsung menghajarku tanpa tanya.
“Terus kenapa harus menghilang waktu lampu mati?” Anton belum puas. Nada suaranya meninggi sedikit. “Kalau niatmu baik, kenapa ngumpet?”
“Masih ada yang harus kulakukan,” jawabku singkat, menoleh padanya dengan senyum tipis—mungkin sedikit terlalu mengejek.
Ekspresi Anton mengeras.
“Anton.”
Nada suara Kak Bram kali ini penuh penekanan. Nama itu meluncur pelan, tapi cukup untuk membuat Anton menahan kata-kata yang hampir keluar.
“Aku bisa menjamin Kevin tidak punya agenda negatif hari ini,” lanjut Kak Bram. “Dia cuma ingin berkunjung dan ketemu Nona Anggel.”
“Aku kenal Kak Kevin,” Joko ikut angkat suara. “Dia nggak mungkin melakukan sesuatu yang bisa melukai atau mencelakakan Nona Anggel. Jadi… aku setuju sama Kak Bram. Kak Kevin nggak punya maksud jahat.”
Anton tidak langsung menjawab. Tapi rahangnya yang mengendur pelan-pelan menunjukkan kalau ia setidaknya mencoba menerima.
“Aku rasa semuanya sudah jelas,” kata Kak Bram kemudian. “Kevin cuma ingin melepas rindu ke Nona Anggel, dan… ya, kebetulan caranya agak berisik.”
Beatrix dan Joko tertawa kecil.
“Sekarang sudah malam. Sudah waktunya kita istirahat,” tutupnya.
Aku mengangguk pelan.
Anggel tidak bergerak.
Begitu suasana agak reda, aku berdiri, mengangkat tubuh Anggel yang ternyata sudah tertidur di pelukanku. Nafasnya teratur, wajahnya tenang.
Beatrix langsung ikut berdiri dan berjalan mendampingi.
Kami menuju ke salah satu kamar. Di sana, dengan bantuan Beatrix, aku melepaskan jaketku yang melilit tubuh Anggel, lalu membaringkannya pelan di atas ranjang, menyelimutinya dengan selimut yang tersedia di sana.
Sesaat, aku hanya berdiri di sisi ranjang, memandanginya.
Lima tahun.
Lima tahun aku meninggalkan dunianya.
Dan dalam beberapa jam saja, segala perasaan yang berusaha kupendam selama ini muncul lagi, seolah tidak pernah pergi.
Aku menunduk, mengecup keningnya.
“Selamat tidur, Nona kecil,” bisikku, meski dia sudah tidak “kecil” lagi.
Tanganku membelai pipinya sebentar sebelum akhirnya aku melangkah pergi.
“Aku titip dia, ya,” kataku pada Beatrix di ambang pintu.
“Siap, Kak,” jawab Beatrix singkat, namun matanya menunjukkan kesungguhan.
Aku meninggalkan kamar dan berjalan menuju pintu keluar rumah. Anton, Joko, dan Guntur sudah tidak terlihat—sepertinya mereka sudah kembali ke pos masing-masing.
Di depan, di dekat pintu, aku melihat Kak Bram berdiri bersandar di dinding, menikmati sebatang rokok. Asapnya melayang pelan di udara malam.
“Kamu ndak nginap?” tanyanya, menoleh sekilas. Ia mengulurkan bungkus rokok ke arahku.
“Ndak, Kak. Masih ada yang perlu kuselesaikan,” jawabku, menolak tawaran rokoknya dengan anggukan kecil.
“Langsung jalan?”
Aku mengangguk.
“Sampai Ketemu Besok,” katanya akhirnya.
Aku tersenyum, mengangkat tangan, memberi salam singkat.
Tanpa menoleh lagi, aku melangkah pergi, menuruni anak tangga, menyeberangi halaman yang mulai sepi, menuju tempat aku memarkir sepeda motorku.
Besok, semuanya akan mulai bergerak.
Dan besok… aku akan tetap di sini. Untuk Kakek. Untuk rumah ini.
Untuk Anggel.