Tanpa berpikir lagi Alishia segera berbalik dan menutup pintu kamar mandi itu dengan keras. Saking kerasnya dinding pintu kamar mandi itu terlihat sedikit retak.
Reyhan tidak dapat lagi menahan tubuhnya yang terasa lemas. Ia tersimpuh di lantai dengan wajah memerah padam, tubuhnya yang basah oleh guyuran air shower bercampur dengan keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya.
Reyhan bergegas bangkit kembali, ia meraih handuk yang ada di sana, lalu melilitkan handuk tersebut di pinggang. Matanya terpejam sejenak dengan tubuh yang disandarkan di dekat pintu kamar mandi tersebut.
“Pantas saja sebelum masuk aku merasa hawa dingin yang mencekam. Tubuhku bahkan menolak untuk masuk ke dalam sini, karena memang pemilik kamar mandi ini adalah iblis bertanduk merah!” gerutunya.
Reyhan dan Alishia memiliki kesan buruk untuk satu sama lain di awal pertemuan mereka. Reyhan tidak habis pikir kenapa kepala pelayan itu sampai bisa membuatnya masuk ke dalam kamar Alishia tanpa izinnya.
Reyhan terus mengusap tengkuknya yang basah. Ia bahkan takut untuk melangkahkan kakinya untuk keluar dari sana, rasa takutnya terhadap kemarahan Alishia menahannya untuk tetap bergeming di sana.
Alishia berdiri di depan pintu kamar mandinya cukup lama, ia menatap lekat pintu yang tertutup ibu dengan kedua bola matanya yang menyala. Wajahnya memerah padam karena emosinya yang mulai naik ke ubun-ubun.
Gadis itu kini benar-benar sangat marah, kehadiran Reyhan di kamar mandinya tanpa mendapatkan izinnya semakin membuat hatinya dipenuhi kebencian. Ia berjalan menuju ke pintu kamarnya, lalu berdiri tepat di depan sana.
“Kenapa dia bisa ada di dalam kamar mandiku?” tanya Alishia kesal seraya menyandarkan kepalanya di dinding dekat pintu kamarnya.
Tidak lama kemudian, Alishia melihat Kepala pelayan datang menuju pintu kamarnya. Bersama dengan dua pelayan yang membawa perlengkapan baju ganti Reyhan.
Mata gadis itu tampak membulat tajam dengan garis kerutan di dahinya. Ia menarik tubuhnya untuk berdiri tegak seraya berkacak pinggang di hadapan mereka.
“Oh, Pak Yun!” erangnya.
“Anda sudah kembali?” tanya Kepala pelayan Yun.
“Jadi, Anda yang membiarkan pria kurang ajar itu masuk ke dalam kamar mandiku?” tanya Alishia dengan sorot mata tidak bersahabat.
“Nona bersikaplah lebih baik padanya, dia adalah pemilik tahta selanjutnya. Harusnya Anda memiliki rasa hormat padanya.” Kepala pelayan Yun menatap Alishia dengan tatapan heran.
“Dengarkan aku! Di dalam hidupku, aku hanya akan menghormati orang-orang yang patut dihormati! Jika dia ingin rasa hormatku, maka dia harus memperlihatkan kepribadiannya sebagai seorang pemimpin, bukan sebagai pangeran manja yang di manja oleh semua orang!” pekik Alishia seraya melengos pergi meninggalkan tempat itu.
Kepala pelan Yun menghela napasnya panjang. Ia benar-benar bingung tentang apa yang dipikirkan oleh Alishia, tetapi gadis memang memiliki prinsip dalam hidupnya. Sebelum ia pun bersikap begitu terhadap orang-orang baru yang bergabung di markas besar The King.
Pria tua itu masuk ke dalam kamar Alishia, ia berjalan menuju pintu kamar mandinya. Kemudian mengetuknya beberapa kali, ia membuka pintu kamar mandi ketika Reyhan menyahuti ketukan darinya.
“Tuan muda.” Kepala pelayan Yun menunduk kecil ke arah Reyhan.
“Pak, tolong bawa saya pergi dari kamar ini,” ujarnya.
“Tentu, Tuan muda,” timpal kepala pelayan Yun.
Reyhan menarik kakinya untuk keluar dari kamar mandi. Ia melirik ke ranjang tempat tidur Alishia di mana terdapat baju ganti miliknya.
Sebelum mendekati ranjang tersebut, ia melirik kiri dan kanan kamar itu terlebih dahulu. Reyhan sangat waspada jika sampai Alishia datang lagi ke sana untuk memaki-maki dirinya lagi.
“Tuan, silakan pakai baju Anda di ruang ganti baju.” Kepala pelayan Yun menunjuk ke arah pintu ruangan yang ada di samping pintu kamar mandi di ruangan itu.
Ia menggelengkan kepalanya, lalu mendekati ranjang yang menyimpan baju miliknya. “Aku akan ganti di sini saja. Aku takut wanita itu semakin marah kalau aku menunda-nunda banyak waktu di kamarnya.”
Reyhan bergegas meraih pakaiannya, ia memakai sehelai demi sehelai pakaian itu ke tubuhnya. Matanya biru miliknya tampak terus melirik ke arah pintu kamar Alishia, ia takut jika tiba-tiba saja terbuka dan memperlihatkan sosok wanita yang seusia dengannya itu kembali terlihat oleh matanya.
Tanpa bertanya lagi, Reyhan pun bergegas keluar dari kamar mandi. Ia bahkan tidak sampai mengancingkan kemeja putih yang dipakainya, d**a bidangnya yang cukup mulus terlihat berbentuk roti sobek karena memang ayahnya selalu mengajarkan Reyhan untuk berolahraga.
Ketika Reyhan hendak membuka pintu kamar itu, ternyata ada seseorang di balik pintu kamar yang sudah mendorongnya lebih dulu. Reyhan pun refleks menundukkan tubuhnya beberapa langkah untuk menghindari benturan dari pintu yang terbuka cukup keras tersebut.
“Kau!” erang Alishia. Gadis itu bahkan tampak tidak malu ketika melihat baju Reyhan yang masih memperlihatkan d**a bidangnya yang mulus.
“Ak–aku akan pergi dari sini!” Reyhan tampak tergugup seraya menyilangkan tangannya di dadanya.
Gadis itu mendekati Reyhan, kakinya terus melangkah hingga membuat tubuh Reyhan pun ikut melangkah mundur untuk menghindarinya. Namun, Reyhan tampak tidak memperhatikan jalannya hingga kakinya menginjak bekas langkah kakinya yang basah tadi.
Reyhan terpeleset, sehingga membuat Alishia ikut terjatuh di lantai. Reyhan mengedipkan matanya ketika kedua tangan gadis itu menahan tubuhnya dengan menekan bagian d**a Reyhan agar tidak menempel pada tubuhnya. Mata mereka saling bertemu satu sama lain dengan pandangan mata yang terlihat begitu serius.
Tidak lama kemudian kepala pelayan Yun keluar dari kamar mandi Alishia, ia berlari mendekati mereka dan menarik bahu Alishia yang menindik tubuh Reyhan.
“Nona!” erang kepala Yun ketika sudah membantu Alishia berdiri. “Apa Anda akan terus menyakiti, Tuan muda?” tanyanya seraya menarik tangan Reyhan untuk bangkit.
“Itu bukan disengaja,” ujar Reyhan melerang.
“Ya, seharusnya bukan begitu posisinya!” Alishia mendelik ke arah Reyhan, “harusnya aku mencekik lehernya agar dia mati!” pekiknya seraya melengos pergi meninggalkan mereka. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting kasar pintu itu seperti tadi.
Reyhan menatap nanar pintu kamar mandi yang tertutup itu. Ia sedikit menunduk karena melihat sikap Alishia yang benar-benar membenci dirinya.
“Aku tidak mengerti, kenapa dia bersikap begitu kasar padaku,” keluh Reyhan seraya tersenyum getir.
“Tuan, dia memang memiliki sikap angkuh, tapi sebenarnya dia sangat baik dan juga pengertian. Namun, gadis itu memilih prinsip yang tidak bisa diubah oleh siapa pun.” Kepala pelayan Yun menepuk bahu Reyhan lembut.
“Prinsip?” tanya Reyhan seraya mendongak menatap ke arah pria tua di hadapannya.
“Prinsipnya adalah selalu menghormati siapa pun yang pantas dihormatinya, ia merasa saat ini Anda belum bisa dihormati olehnya. Mungkin karena dia belum melihat kehebatan Anda, dan yang dilihatnya baru sikap Anda yang tidak membuatnya bisa menghargai Anda,” ujar kepala Yun dengan sangat jujur.
“Hemm.” Reyhan mulai mengerti dengan semua yang terjadi. Ia memang memiliki posisi tertinggi, tetapi ia belum memiliki kemampuan untuk menduduki posisinya sebagai pemimpin tertinggi di markas The King.
“Anda tenang saja, Tuan muda. Suatu hari Anda akan tahu bagaimana Alishia. Dia adalah gadis yang patuh dan juga memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Apalagi dia adalah salah satu dari dua orang yang akan menjadi tangan kanan Anda di masa depan.”
Rayhan mengangguk mengerti, ia pun tersenyum kecil seraya menatap lekat pintu kamar mandi Alishia.
Bersambung ....