Kepala pelayan itu duduk di samping Reyhan. Ia merangkul erat bahu Reyhan yang masih dalam kondisi sangat bersedih, karena ternyata dia tidak benar-benar mengenal ayahnya.
“Tuan muda, ada banyak hal yang harus Anda lakukan untuk bisa menebus semua rasa bersalah di hati Anda. Untuk itu saya minta Anda untuk tetap bersama kami. Jangan ragu ataupun sungkan, karena kami di sini ada untuk Anda,” ujar Kepala pelayan itu dengan nada sangat bersahaja.
Reyhan menangis di bahunya, ia tidak pernah serapuh ini sebelumnya. Namun, kenyataan pahit tentang keluarganya membuat hatinya begitu hancur berantakan.
Dalam kondisi ini Reyhan hanya memiliki satu pilihan. Yaitu, balas dendam atas apa yang dilakukan orang-orang terkasihnya kepada kedua orang tuanya.
“Kenapa mereka begitu bodoh karena melakukan hal jahat kepada orang tuaku? Apa karena aku ini lemah dan tidak berdaya di mata mereka?” Reyhan menatap Kepala pelayan itu dengan wajah yang sangat sendu. Namun, tatapan itu memberikan sebuah pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab oleh orang di sampingnya itu.
“Hidup ini memang tidak cukup adil bagi orang-orang baik seperti Nona Jennifer dan Tuan Paul, tetapi cukup mereka saja yang memiliki nasib untuk menjadi korban. Kisah Anda harus berbeda dengan mereka, jangan sampai ada yang meremehkan Anda dan membuat sejarah terulang kembali seperti nasib kedua orang tua Anda.” Kepala pelayan itu mengusap lembut pucuk kepala Reyhan.
Reyhan mengangguk kecil, walaupun dia tidak begitu paham untuk apa yang dikatakan oleh kepala pelayan itu. Namun, ia hanya tahu tujuan perkataannya adalah untuk melawan orang-orang yang meremehkannya. Bukan seperti ayah dan ibunya yang terus berempat hingga harus mati di tangan Pamannya yang kejam, Abimanyu Amarta.
“Tuan, apa Anda tidak merasa bahwa Anda harus mandi?” tanya Kepala pelayan itu.
“Hah?” Reyhan berhenti dalam isak tangisnya, lalu mengangkat sedikit tangannya dan mencium sekilas aroma ketiaknya. Ia bahkan menggelengkan kepalanya ketika aroma tidak sedap itu tercium di tubuhnya yang berkeringat dan bajunya yang terlihat lusuh.
“Ah, kenapa dicium begitu?” tanya kepala pelayan itu seraya mengibaskan tangannya di wajahnya.
Reyhan tertawa kecil, lalu mengusap wajahnya yang basah oleh air matanya. Gurauan yang diberikan Kepala pelayan itu ternyata mampu mengundang kembali senyuman manis dari pemilik mata biru itu.
“Baiklah, saya harus mandi di mana?” tanya Reyhan.
Kepala pelayan itu berpikir sejenak. “Hari ini pelayan belakang baru akan memperbaiki saluran air di kamar ini. Kemungkinan, Anda tidak bisa mandi di sini untuk hari ini saja.”
“Lalu aku harus mandi besok?” tanya Reyhan seraya mengernyitkan keningnya.
“Tidak juga, saya akan mengajak Anda mandi di tempat lain.” Kepala pelayan itu bangkit dari duduknya, “mari ikuti saya!” pintanya seraya menunjuk ke arah pintu besar yang menutup kamar itu.
Reyhan mengikuti langkah kaki Kepala pelayan, hingga mereka sampai di sebuah pintu kamar yang mungkin tidak sebesar pintu kamar milik ayahnya. Pintu berwarna hitam mengkilap itu bahkan membuat Reyhan sedikit berdebar. Entah kenapa ia merasa akan mendapatkan masalah ketika masuk ke dalam sana.
Kepala pelayan itu membuka pintu tersebut, lalu mempersilakan Reyhan untuk masuk ke dalam. Namun, Reyhan masih bergeming di luar pintu, ia masih merasa bahwa nalurinya berkata untuk tidak masuk ke dalam sana.
“Anda kenapa?” tanya Kepala pelayan itu.
“Kepala pelayan, aku tidak ingin masuk ke sini. Apa ada tempat lain untuk mandi?” tanya Reyhan.
Kepala pelayan itu mengernyitkan dahinya. “Memang kenapa dengan tempat ini?”
Reyhan mengamati sejenak, ia menatap ke arah dalam ruangan yang merupakan kamar salah seorang dari kelompok mafia The King. Namun, nuansa yang dirasakan di sana sangat mencekam bahkan atmosfer yang terasa di sana sanggatlah berbeda dengan ruangan yang tadi dimasukinya.
Walaupun ruangan itu sangat rapi dan nyaman. Namun Reyhan tetap takut untuk masuk ke dalam sana. Hal tersebut membuat kepala pelayan itu sangat kebingungan.
“Tuan, ayo masuk dan mandi. Anda tidak memiliki waktu yang banyak, karena setelah ini Anda harus mengikuti makan malam bersama dengan beberapa pemimpin utama kelompok The King,” ujar kepala pelayan itu seraya mempersilakan Reyhan untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Kepala pelayan membawa Reyhan ke sebuah pintu kamar mandi yang ada di ruangan itu. Kemudian, ia membuka pintu kamar mandi untuk Reyhan.
“Silakan, Tuan.” Kepala pelayan itu sangat ramah hingga Reyhan hanya mengangguk kecil untuk menanggapinya.
“Terima kasih,” ujar Reyhan seraya menunduk kecil ke arah kepala pelayannya.
“Tuan, Anda tidak perlu formal begitu. Di sini saya hanya seorang kepala pelayan dan tugas saya memang untuk melayani Anda,” ujarnya masih dengan sangat sopan.
“Baiklah, kalau begitu saya akan mandi,” ujar Reyhan.
“Silakan, saya akan kembali dengan pakaian ganti untuk Anda.” Kepala pelayan itu menutup pintu kamar mandi, lalu melengos meninggalkan kamar tersebut.
*
Di dalam kamar mandi Reyhan terus menyentuh bagian tengkuknya yang terasa merinding. Ia bahkan sangat gugup ketika melihat kamar mandi yang sangat bersih dan rapi tersebut.
Matanya tertuju ke arah bak mandi yang berada di dekat dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan indah markas besar. Kakinya melangkah menuju ke arah sana dengan bibir yang mengeluarkan senyuman tipisnya.
Ia berdiri di sebelah bak mandi tersebut. Matanya masih fokus menatap ke arah luar di mana hutan belantara yang dipenuhi pepohonan besar terlihat jelas di sana.
Reyhan berpikir bagaimana bisa manusia di zaman modern ini tinggal di tengah-tengah hutan belantara. Tepatnya, tempat terpencil yang bahkan akan sangat sulit dicari karena sangat tersembunyi dibalik pohon-pohon besar dengan alamnya yang masih sangat terjaga.
“Ayah, kenapa sampai terpikir olehmu untuk bersembunyi di tempat seindah ini?” tanya Reyhan seraya menggerakkan tangannya seperti tengah meraih sesuatu di hadapannya.
Reyhan berhenti berpikir, ia pun segera mengisi air bak mandinya. Kemudian menuangkan sabun dan aroma terapi ke dalam air dalam baknya.
“Sudah hampir sepekan aku tidak mandi. Huh, aku bahkan tidak percaya bahwa ternyata tubuhku bisa sebau ini,” ujarnya seraya mulai membuka baju yang dipakainya.
Reyhan menggeletakkan baju itu di sembarang tempat bahkan walaupun dia melihat ada kerang baju di sekitar bak mandi itu. Namun, kebiasaannya yang selalu dilayani oleh pelayan-pelayannya membuatnya terbiasa dengan hal tersebut.
Reyhan memasukkan tubuh polosnya ke dalam bak mandi. Ia merendam tubuhnya di dalam sana dengan mata terpejam, Reyhan sangat menikmati mandinya hingga terdengar suara senandung kecil di bibirnya.
Setelah beberapa saat, Reyhan mengangkat tubuhnya dari kamar mandi. Ia bahkan terkejut melihat air bak yang tadinya sangat jernih berubah menjadi hitam kecokelatan.
“Astaga! Ini kotoran di tubuhku?” tanyanya sendiri seraya mengusap tengkuknya sendiri.
Reyhan pun tidak acuh lagi dengan hal tersebut, ia melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan shower yang ditutupi kaca transparan untuk membilas tubuhnya yang dipenuhi busa.
Reyhan menghidupkan shower yang mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Kemudian ia juga menggunakan shampo dan sabun yang ada di sana untuk membersihkan kembali kotoran yang masih menempel di tubuhnya.
Ketika Reyhan tengah asyik dengan mandinya. Pintu kamar mandi itu terbuka lebat, seorang di balik pintu itu menjerit ketika melihat tubuh Reyhan yang polos ada di tempat shower miliknya.
“Ahhh! Si–siapa kau?” Alishia menutup matanya dengan kedua tangannya.
Mendengar teriakannya Reyhan pun menutup k*********a dengan kedua tangannya. “Ah! Gadis m***m!”
Bersambung ....