Reyhan kembali lagi ke kamarnya ditemani oleh Kepala pelayan Yun. Mereka berdua berjalan santai menuju kamar besar peninggalan dari Bos besar The King, di saat pintu kamar itu terbuka, Reyhan menarik napasnya yang terasa sesak.
Pria tampan itu masuk dan berdiri tegak di depan sebuah pigura foto berukuran besar, yang memperlihatkan kebahagiaan keluarga kecilnya. Di sana sang ibu yang merupakan wanita yang paling dirindukan Reyhan terlihat, raut wajah penuh keceriaan di tambah dengan senyuman indah di wajah wanita itu membuat air mata Reyhan menetes.
Kerinduan untuk seseorang yang belum pernah ditemuinya lebih dalam dibandingkan kerinduan untuk sang ayah yang baru beberapa hari ini meninggalkannya. Namun, bukan berarti Reyhan juga tidak merindukan sosok ayahnya, melainkan ia hanya lebih banyak menyimpan kerinduan untuk sang ibu yang belum pernah dilihatnya.
Reyhan menundukkan kepalanya, ia menyeka air matanya. Netranya kembali menatap nanar gambar di dinding kamar peninggalan ayahnya tersebut, di sana terdengar sebuah gumam kecil yang hampir tidak terdengar oleh siapa pun termasuk dirinya sendiri.
“Ma, Pa, aku harap kalian sudah bertemu di surga. Tolong jangan merindukan aku sampai aku berhasil membalas dendam atas kematian kalian, gigi di balas dengan gigi dan mata dibalas dengan mata. Aku harap kalian bersabar sampai aku bisa mewujudkan semuanya untuk kalian,” gumam-gumam Reyhan lirih.
“Tuan muda, sepertinya sudah waktunya makan malam. Anda harus bersiap untuk melakukan makan malam bersama keluarga besar The King. Di sana Anda akan mengenal banyak orang-orang setia yang akan mengabdikan hidupnya untuk Anda,” ujar Kepala pelayan Yun seraya menepuk bahu Reyhan pelan. “Anda harus bersiap, saya akan menunggu di luar ruangan.” Kepala pelayan Yun meninggalkan kamar Reyhan, ia berdiri tepat di luar kamar Reyhan.
Dari apa yang diucapkan oleh Kepala pelayan tersebut, Reyhan mengerti bahwa kepala pelayan memintanya untuk menyiapkan mentalnya. Karena pertemuan ini pasti akan menjadi hal yang mengejutkan untuknya. Terlebih semua orang yang hadir di sana belum ada satu pun yang dikenalnya kecuali Vans.
Reyhan mondar-mandir di sekitar ranjangnya, otaknya terus berpikir keras terhadap tujuan hidupnya. Ia bertanya pada hatinya sendiri apa semua yang dilakukannya kali ini sudah benar? Namun, ketika melihat kembali foto di pigura besar itu, jantungnya berdetak kencang seraya mengepalkan tangannya.
“Okey, aku akan melakukannya, aku siap untuk menjadi seorang mafia dan menjaga darah mafia ini sampai akhir hayatku, aku juga akan balas dendam atas apa yang terjadi kepada kedua orang tuaku.” Reyhan berbalik dan melihat ke arah pintu, wajahnya terlihat dipenuhi oleh peluh yang bercucuran. Entah, apa yang terjadi, karena saat ini Reyhan merasa sangat sesak dan jantungnya pun berdegup sangat kencang.
Pria tampan itu melangkahkan kakinya perlahan, suara ketukan lantai dengan sepatu pantofel yang dipakainya terdengar begitu jelas. Ia menarik hendel pintu untuk membukanya, beberapa orang yang ada dibalik pintu pun menatapnya dengan lekat, lalu menundukkan kepalanya untuk memberikan hormat.
Reyhan mengikuti langkah kaki kepala Yun, ia tidak bertanya tentang tujuan mereka yang dia lakukan saat ini adalah menenangkan hatinya sendiri. Reyhan melihat sekeliling dengan jelas ketika kakinya menuruni tangga markas besar untuk kedua kalinya.
Namun, kali ini matanya benar-benar memperhatikan secara detail dari tempat itu. Ia begitu terkejut karena sebenarnya markas The King lebih besar dari yang dibayangkan olehnya.
Semua orang di bawah memberikan hormat padanya. Mereka menundukkan kepalanya seraya menurunkan senjata yang dipegangnya, terlihat semua itu membuat Reyhan merasa sangat canggung.
“Anda harus terbiasa dengan semua ini, tapi sepertinya di rumah utama Keluarga Amarta, Anda juga diperlakukan dengan sama oleh semua orang, sama seperti yang dilakukan oleh mereka kepada Anda saat ini,” celetuk Kepada pelayan Yun yang membuat Reyhan sedikit menoleh dengan kerutan yang terlihat di keningnya.
“Ya, memang benar, maka dari itu aku terlahir sangat manja dan tidak bisa hidup tanpa orang lain,” timpal Reyhan seraya tersenyum kecil.
Reyhan menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah sebuah ruangan besar dengan ruangan dipenuhi oleh warna coklat dari dekorasi yang terbuat dari kayu jati. Di sana terasa suasana yang cukup hangat karena meja makan yang panjang dengan dua belas kursi sudah diisi pemiliknya, dan hanya tertinggal satu kursi yang masih kosong.
Semua orang di sana berdiri menundukkan kepalanya untuk memberi hormat, ketika Reyhan kembali melangkah menuju kursinya. Namun, ada sosok yang membuat Reyhan sedikit menoleh karena dia satu-satunya orang yang tidak memberikan hormat padanya.
Alishia, batin Reyhan lirih.
Kepala pelayan Yun menggeserkan kursi untuk Reyhan. Ia sekarang duduk di depan semua orang dan di seberang mejanya terlihat sosok Vans yang tengah menatap ke arahnya.
“Baguslah Anda memutuskan semua dengan sangat cepat. Kalau tidak mungkin aku akan membunuh beberapa orang yang dianggap tidak becus untuk bisa meyakinkan Anda,” ujar Vans yang memecah keheningan di tempat tersebut.
Suasana hangat yang tadi terasa oleh Reyhan berubah menjadi sangat mencekam ketika Vans mengucapkan kata yang membuatnya sedikit bersalah lagi. Karena hampir saja membunuh beberapa orang yang tidak bersalah.
“Aku harap, Tuan muda menikmati makanan yang kami siapkan untuk Anda,” ujar kepala koki Lin yang kini berdiri tegak di belakangnya.
Reyhan menoleh ke belakang dan mulai menganggukkan kepalanya. “Terima kasih.”
Semua orang di meja itu tampak mengangkat segelas wine yang ada di hadapan mereka. Namun, Reyhan tidak mengikuti mereka karena ia merasa belum cukup usia untuk menikmati minuman beralkohol.
Reyhan mengikuti mereka dengan mengangkat gelas s**u miliknya. Namun, semua orang tidak mengatakan apa-apa, mereka pun mengerti bahwa cara Reyhan dididik tidak sama dengan mereka.
“Pengecut!” seru Alishia.
Profesor Ranggel yang duduk di sampingnya merasa geram ketika putri kesayangannya bicara cukup kasar pada Tuannya. Ia menatap putrinya dengan mata membulat sempurna.
“Jaga sikapmu!” seru Profesor Ranggel seraya mengangkat tangannya untuk memberi hukuman atas kelancangan putrinya.
Namun, Reyhan terlihat tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Profesor Ranggel terhadap putrinya. Ia bangkit dari duduknya membuat semua orang refleks ikut bangkit dari posisi mereka.
“Jangan!” Reyhan menarik Alishia agar menjauh dari ayahnya, “jangan pernah menyakiti siapa pun di hadapanku, aku mohon,” timpalnya seraya menyembunyikan gadis mungil itu dibalik punggungnya.
“Tu-Tuan muda, saya tidak bermaksud untuk menyakiti putri saya, saya hanya ingin menghukum mulutnya yang lancang terhadap Anda,” ujar Profesor Ranggel.
“Saya memang pantas disebut pengecut, karena saat ini saya memang tidak mengerti apa pun dan tidak terbiasa melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan. Namun, saya harap semua kebodohan yang saya miliki tidak menyakiti siapa pun yang ada di sini,” ujar Reyhan seraya menatap lekat ke setiap wajah yang ada di sana.
Vans tampak menghela napasnya, ia sadar bahwa ini adalah ujian terberat untuknya. Di mana ia harus mengubah pria lembut dan lemah menjadi pria yang gagah dan berprinsip, tetapi semua itu tidak akan membuatnya menyerah dan akan tetap memenuhi janjinya.
“Saya minta maaf, Tuan.” Profesor Ranggel menundukkan kepalanya.
Melihat ayahnya begitu buruk, Alishia pun menunduk dan merasa bersalah. Memang dia sangat membenci sosok Reyhan yang lemah, tetapi dia tidak pernah bermaksud untuk membuat ayahnya kecewa.
Bersambung ....