Setelah beberapa saat Reyhan melemparkan pandangannya dengan perasaan dongkol. Kini ia memejamkan matanya sejenak untuk memikirkan apa yang dikatakan oleh Vans.
Memikirkan untuk balas dendam dan memimpin kelompok mafia yang besar itu saja sudah membuat Reyhan sangat merinding. Namun, kali ini Reyhan memang tidak memiliki alasan untuk menolak Vans lagi, karena dua nyawa kini dalam bahaya karenanya.
Dia memang sengaja untuk membuatku menyerah dan mengikuti ucapannya. Vans, pasti sudah tahu bagaimana cara membuatmu menuruti perintahnya, batin Reyhan lirih.
“Baik, aku akan melakukan apa yang kamu inginkan, aku akan meneruskan tahta ayahku, juga akan ikut balas dendam atas apa yang terjadi kepada kedua orang tuaku,” ujar Reyhan lirih seraya menatap Vans penuh kebencian.
“Beri hormat kepada Bos besar!” titah pria tua yang kini tersenyum kecil ke arahnya.
Semua orang menurunkan senjata mereka dengan menundukkan kepalanya ke arah Reyhan. Kecuali, Alishia yang masih merasa tidak mau menghormati pria lemah seperti Reyhan.
“Alishia beri hormatmu!” titah Vans.
Alishia mendelik tajam. “Aku hanya akan menghormati dia ketika dia memang sudah patut untuk dihormati, aku tahu batasanku! Namun, untuk saat ini dia belum layak untuk aku hormati!”
Gadis itu melengos pergi meninggalkan tempat itu, ia memang tidak akan mengubah pikirannya sampai Reyhan memang menjadi layak dihormati olehnya.
Usia Alishia memang masih sangat muda, bahkan dia lebih muda beberapa bulan dari Reyhan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Alishia adalah seorang gadis hebat yang sudah menguasai banyak hal selama bergabung dengan kelompok ini.
Karena gen dari ayahnya Prof. Raggel yang merupakan ilmuan yang sudah menciptakan banyak keajaiban teknologi. Ia juga bertanggung jawab atas segala teknologi yang berfungsi untuk melindungi kerajaan mafia The King.
Pria tua yang sedari tadi memerhatikannya kini mendekat dan mengangkat tubuh Reyhan agar kembali bangkit. Namun, tubuh Reyhan yang lemas mengharuskan pria tua itu membopongnya menuju ke dalam markas besar.
Vans menjentikkan jarinya meminta agar melepaskan kedua orang tadi. Ia memang tidak pernah berniat untuk melukai siapa pun, hal ini dilakukannya karena tidak ada cara lain untuk membujuk tuannya yang dikenal sangat keras kepala. Namun, sisi lain Reyhan yang tidak bisa dibantah adalah rasa empatnya yang tinggi.
***
Pria tua yang merupakan kepala pelayan di markas itu membawa Reyhan menuju kamar ayahnya. Karena menurutnya keputusan Reyhan tadi mengharuskan dia tinggal di tempat ayahnya.
Mereka berdiri di depan pintu besar yang tinggi. Sebuah ruangan yang tampak sangat dijaga oleh mereka, karena Reyhan melihat dua orang pengawal bersenjata bergeming di depan sana.
“Tempat apa ini?” tanya Reyhan penasaran.
“Ini tempat Anda,” ujar pria tua itu.
“Tempatku?” tanya Reyhan penasaran.
“Masuklah Anda akan mengetahuinya ketika melihatnya,” ujar kepala pelayan itu.
Matanya melirik ke arah dua pria yang berjaga di sana. Liriknya memerintahkan dua orang itu untuk membuka pintu ruangan tersebut, kedua orang itu mengangguk dan mulai membuka pintu untuk mereka.
Ketika pintu terbuka yang pertama dilihat Reyhan adalah foto keluarganya. Di sana terlihat sosoknya yang masih sangat kecil yang tengah digendong wanita cantik yang memiliki mata biru sepertinya, di samping mereka terlihat sosok ayahnya yang tengah tersenyum lebar dengan pose memeluk erat keluarga kecilnya.
Dagu Reyhan berdenyut, ia menatap foto itu dengan tatapan sangat haru. Di usianya yang sudah menginjak lima belas tahun, ia baru kali ini melihat foto ibunya yang terlihat sangat jelas dan cantik.
“Ma! Pa,” lirih Reyhan berkata.
Pandangan matanya menarik tubuhnya untuk masuk. Di dalam ruangan itu terlihat jelas banyak kenangan indah tentang ayah dan ibunya. Foto-foto keluarga berukuran besar berjejer rapi di setiap sudut ruangan.
Reyhan tersimpuh seraya menangis tersedu-sedu. “Kenapa selama ini ayah tidak pernah membiarkan aku melihatmu, Ma? Dia selalu merahasiakan sosokmu dariku, walaupun ketika aku memohon untuk melihatnya.”
“Tuan muda.” Kepala pelayan itu menarik tangan Reyhan untuk bangkit dan mendudukkannya di atas sofa yang ada di ruangan itu.
Perasaan sangat bersalah kembali memenuhi otak Reyhan. Ia sadar bahwa kedua orang tuanya pergi hanya demi untuk menyelamatkan hidupnya. Betapa hidupnya kini sangat tidak berarti karena tidak lagi bisa memeluk keduanya untuk berterima kasih atas pengorbanan mereka.
“Tuan, semua ini dilakukan Nona Jennifer dan Tuan Paul untuk tetap membuat Anda selamat. Rasa cinta dan kasih sayang kedua orang tua Anda patut untuk Anda hormati.” Kepala pelayan itu terlihat sedikit membantu Reyhan untuk membuka hatinya agar mampu membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya.
“Kenapa bukan aku saja yang mati?” tanya Reyhan seraya menatap pria tua itu dengan tatapan memelas.
Pria itu tidak bisa menjawab ucapan yang keluar dari mulut tuan mudanya itu. Walaupun ia tahu bahwa alasan kedua orang tua Reyhan melakukan itu adalah demi menyelamatkan pewaris tahta The King selanjutnya. Kasih sayang kedua orang tua Reyhan bahkan melebihi apa yang Reyhan pikirkan.
“Tuan, tidak baik jika Anda terus membahas masa lalu. Di sini Anda harus kuat agar bisa menyelesaikan misi untuk membalas dendam berdarah dari kematian kedua orang tua Anda.” Pria itu tampak kembali meyakinkan Reyhan untuk balas dendam.
“Apa dengan balas dendam orang tuaku akan kembali dan memelukku lagi?” tanya Reyhan dengan air mata yang masih mengalir deras membasahi wajahnya.
“Hal itu tidak mungkin terjadi, tapi ketika Anda balas dendam atas kematian mereka. Aku yakin bahwa mereka merasa bangga terhadap keputusan Anda,” ujarnya kembali melanjutkan.
Reyhan menundukkan kepalanya, kedua tangannya menutupi wajahnya yang masih menangis tersedu-sedu. Dalam hatinya masih tersimpan sejuta keraguan untuk balas dendam, tetapi lambat laun Reyhan pun menetapkan hatinya untuk balas dendam atas kematian kedua orang tuanya.
Seseorang mengetuk pintu dari luar, mereka bergeming hingga kepala pelayan mempersilakan mereka masuk. Dua orang pelayan baru membawakan dua nampan berisi makanan untuk Reyhan.
Mereka meletakkan makanan itu tepat di meja yang ada di depan sofa yang diduduki Reyhan. Aroma harum makanan itu membuat Reyhan membuka tangannya dan menatap ke arah makanan itu dengan nanar.
“Makanlah, Tuan muda. Anda harus tetap sehat dan kuat, agar bisa melakukan tujuan kita untuk balas dendam,” ujar Kepala pelayan itu lirih.
Reyhan meraih sendok yang ada di atas piring nasinya. Kemudian menyuapkan satu suap besar nasi ke dalam mulutnya, ia mengunyah makanannya dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.
“Aku harus tetap kuat,” ujarnya lirih di sela kunyahan nya.
“Anda benar, bahkan Anda harus lebih kuat dari ayah Anda. Karena musuh Anda sekarang adalah orang yang paling dekat dengan Anda di masa lalu.” Kepala pelayan itu tampak mengepalkan tangannya.
Sebenarnya Kepala pelayan markas itu dulunya adalah pelayan di rumah utama keluarga Amarta. Namun, ketika ia mengetahui dan melihat langsung saat Abimanyu membunuh istri tuannya. Ia diserat dan hampir mati karena dilemparkan ke dalam jurang yang dalam.
Namun, Lucas membantunya dan menyelamatkan nyawanya hingga Pria itu masih hidup sampai saat ini. Kepercayaan Lucas atas ucapannya membuat pria itu masih bertahan di markas sebagai orang yang dipercaya olehnya.
Tuan, Anda harus tetap kuat agar bisa membalaskan dendam semua orang di sini. Bukan hanya untuk diri Anda, tetapi untuk kita semua, batin pria tua itu lirih.
Reyhan menyuapkan makanan tanpa henti ke dalam mulutnya hingga ia hampir tersedak karena tidak mengunyahnya dengan baik.
“Tuan, Anda harus makan dengan hati-hati. Jangan sampai tersedak dan menyisakan rasa sakit di tenggorokan Anda,” ujar kepala pelayan itu seraya menyodorkan segelas air putih ke arah Reyhan.
“Tersedak hanya akan menyisakan sedikit rasa sakit di tenggorokan, tapi itu akan hilang dan kembali pulih. Berbeda dengan ayah dan ibuku yang tidak akan kembali lagi untuk membuat lukaku pulih.” Reyhan menangis tanpa henti seraya menyentuh bagian hatinya yang terasa sakit.
“Ma, Pa, tunggu hingga aku membalaskan semua dendam pada orang-orang yang merenggut nyawa kalian.” Reyhan menutup kembali wajahnya dengan kedua tangannya.
Bersambung ....