Reyhan mulai membeku ketika, Alishia tiba-tiba menyipitkan matanya. Pandangan benci pada Reyhan terlihat jelas di matanya yang indah. Gadis itu mendekat ke arah pintu yang terbuka, ia mengarahkan senjata api miliknya ke arah kepala Reyhan, sehingga dua pengawal itu tidak bisa melakukan apa pun untuk menghalanginya.
Reyhan mengedip-ngedipkan matanya, ia mulai berjalan mundur menjauhi Alishia. Namun, gadis itu tampak tidak gentar melihatnya, ia tetap maju hingga membuah Reyhan terpojok di dinding ruang rawatnya.
“Hey, ap–apa yang kamu inginkan?” tanya Reyhan dengan nada bergemetar ketakutan.
Alishia mencengkeram erat dagu Reyhan dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih mengarahkan senjata api ke kepala Reyhan.
Mata Alishia benar-benar tidak bisa berbohong, ia benar-benar marah kepada Reyhan. Karena di provokasi oleh ucapan Vans yang sengaja membuat gadis itu marah pada Reyhan.
“Aku ingin membunuhmu!” pekik Alishia.
Tangan gadis itu masih mencengkeram erat dagu Reyhan yang membuat wajah pria bermata biru itu mendongak ke atas langit-langit kamarnya.
“Ke–kenapa?” tanya Reyhan.
“Karena kamu membuat orangku dihukum! Dia adalah orang baik, kenapa harus dihukum karena dirimu? Kenapa mulut kotormu membuat mereka dalam masalah, hah!” erang Alishia.
“Kamu bicara apa? Mulut kotor apa?” tanya Reyhan yang tidak mengerti dengan ucapan Alishia yang terdengar menuduhnya sebagai seorang yang tidak berberasan.
“Mulut ini!” Alishia mengarahkan senjatanya ke mulut Reyhan yang ternganga. Mata gadis itu kembali menyala ketika Reyhan berusaha untuk melawannya.
“Aku tidak pernah mengatakan hal kotor pada siapa pun, ayahku pernah memintaku untuk tetap berkata baik. Walaupun itu pada orang-orang yang membenciku,” ujar Reyhan penuh kejujuran.
“Lalu apa yang kau katakan pada Vans tentang kepala koki Lin? Kenapa dia dibawa ke ruang eksekusi?” tanyanya seraya mendorong tubuh Reyhan mendekati jendela ruang rawat itu yang terbuka.
Reyhan tidak bisa melakukan apa pun karena senjata api kini berada tepat di kepala belakangnya. Tangan gadis itu benar-benar kuat hingga Reyhan tidak bisa menghindari cengkeraman tangannya.
Mata Reyhan mulai terbelalak ketika melihat dua orang tadi ada di arena tembak yang tadi dilihatnya. Di sana mereka berdiri tegak dengan kepala ditutup kain hitam dan tangan diikat ke belakang.
Reyhan sangat tidak mengerti karena bahkan mereka tidak lari dari sana. Walaupun, kaki mereka tampak baik-baik saja tanpa diikat seperti tangan mereka.
“Apa Vans tidak bercanda?” tanyanya lirih.
“Bercanda? Kau pikir dia badut? Dia adalah orang yang berkuasa sekarang, satu-satunya yang akan didengar olehnya hanya ucapanmu!” erang Alishia.
“Kenapa?” tanya Reyhan dengan mata berkaca-kaca.
“Karena kau adalah pewaris tahta kerajaan mafia ini. Dia hanya akan tunduk pada darah keturunan Tuan Paul Luis Anderson dan Jennifer Luis Anderson!” pekik Alishia.
“Si–siapa mereka?” tanya Reyhan. Ia merasa bingung karena tidak mengenal nama Inggris dari kedua orang tuanya sendiri.
“Kau gila? Kau bahkan tidak mengenal kedua orang tuamu?” tanya Alishia.
“Orang tuaku?” tanya Reyhan lagi.
Wajah Reyhan semakin terkejut. Ternyata banyak hal tentang orang tuanya yang bahkan tidak diketahui olehnya. Nama ibunya yang semula dia tahu adalah Caroline Anastasya kini berubah menjadi Jennifer Luis Anderson.
Nama itu bukan hanya asing, tetapi juga tidak pernah didengar olehnya dari mulut sang ayah. Walaupun, ia hidup dengan sangat rukun dengan ayahnya selama lima belas tahun hidupnya.
“Anak manja yang dulu sangat dilindungi Bos besar ternyata tanya seorang pecundang! Aku bahkan tidak bisa berpikir untuk menghormati dirimu sebagaimana janjiku pada Bos besar. Karena menurutku orang seperti dirimu tidak patut untuk dihormati!” Alishia semakin menyudutkan posisi Reyhan hingga wajahnya benar-benar menempel di jeruji besi jendela ruangan itu.
Kali ini Alishia tidak main-main dengan ucapannya yang mengatakan sangat membenci Reyhan. Bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memberikan rasa hormat kepada Reyhan.
“Aku mohon bawa aku ke sana, aku akan membuat Vans menghentikan hukuman mereka. Bukan katamu tadi hanya aku yang akan didengar olehnya?” Reyhan tambak sengaja memohon pada Alishia agar segera di bawa ke bawah sana.
Alishia menarik baju belakang Reyhan, lalu membawanya keluar dari ruangan dengan posisi senjata api miliknya masih di atas kepala Reyhan. Beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu kini mengikuti langkah kaki Alishia yang membawa Reyhan menuruni tangga.
Tubuh Reyhan yang masih sangat lemas membuat langkahnya sangat pelan. Namun, Alishia terus menyeretnya dengan kasar hingga tubuh Reyhan terhuyung lemah.
“Jalan yang cepat!” pekik Alishia.
Bibir Reyhan yang pucat bahkan terasa sangat keluh untuk mengatakan bahwa kakinya masih sangat lemah. Karena menurutnya Alishia bahkan tidak peduli dengan semua itu.
Reyhan kini masuk ke dalam tempat latihan tembak tadi yang selalu digunakan untuk ruang hukuman. Di jarak dua puluh meter lima orang bersenjata laras panjang terlihat tengah membidik sasaran yang ada di depannya.
Namun, kedatangan Alishia dan Reyhan membuat senjata yang hampir saja ditembakkan pada kepala koki dan pelayanan diturunkan ke bawah oleh mereka.
“Lepaskan orangku atau kubunuh dia!” teriak Alishia.
Semua mata tertuju pada mereka berdua. Bahkan kedatangan Alishia dan Reyhan membuat senjata yang hampir saja ditembakkan pada kepala koki dan pelayanan diturunkan ke bawah oleh mereka.
“Nona Alishia apa yang ada lakukan?” tanya seorang pria tua yang berdiri di dekat Vans.
Vans melirik ke arah Alishia dengan menyeringai licik. “Gadis tengil, kau tahu siapa yang kau tawan itu?”
“Dia?” Alishia menekan senjata api miliknya ke kepala Reyhan, “pecundang yang selalu membiarkan orang-orang di sekitarnya mati karena dirinya!” pekik Alishia.
“Lepaskan dia!” titah pria tua yang kini berjalan pelan mendekati mereka.
“Jangan mendekat! Atau aku akan menarik pelatuk pistol ini, sehingga kau akan melihat pewaris tahta The King ini mati di tanganku.” Alishia tidak pernah berkata bohong. Apalagi jika dalam keadaan sangat marah, apa pun yang dikatakan olehnya adalah kebenaran dari kebodohannya.
“Dia tuanmu, Nak,” bujuk pria tua itu.
“Tuanku? Aku tidak punya Tuan seperti dia!” pekik Alishia.
Reyhan tersimpuh di lantai ketika Alishia menendang lututnya dengan keras. Reyhan menangis tersedu-sedu seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di d**a.
“Vans, aku mohon jangan lakukan hal seperti ini untuk mengguncangku lagi dan menimbulkan banyak rasa bersalah yang semakin menekan hatiku.” Reyhan memohon kepada Vans dengan sangat tulus.
Semua orang terkejut bahkan Alishia sekali pun tidak memercayai apa yang dikatakan oleh Reyhan. Ia mengedipkan matanya ketika Reyhan benar-benar mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan akan dilakukan seorang pewaris tahta yang memang menempati posisi teratas di kerajaan mafia tersebut.
Vans menundukkan kepalanya, ia merasa sangat bersalah karena harus memperlihatkan sisi emosional Reyhan di hadapan semua orang. Namun, dia memang memiliki alasannya sendiri ketika melakukan semua itu.
Aku tahu, kau memang berhati lembut, Tuan muda. Maafkan aku harus membuatmu seperti ini, karena tidak akan ada hal yang bisa aku lakukan lagi untuk membuat keras kepalamu sedikit melunak. Kecuali cara ini, batin Vans lirih.
“Aku hanya akan menuruti ucapan dari Bos besarku, dan tadi kau bilang tidak akan pernah menempati posisi itu. Jadi, apa yang membuatku harus mendengarkan ucapanmu?” tanya Vans dengan ucapan masih membuat Reyhan tertekan.
Reyhan menatapnya geram. “Lalu apa yang kamu inginkan agar bisa membebaskan mereka berdua?”
“Jadilah pemimpin The King selanjutnya dan lanjutkan balas dendam terhadap orang-orang jahat yang membunuh Bos besar kami.” Vans menatapnya dengan tajam. Begitu pun dengan Reyhan yang juga menatapnya tajam.
Kedua orang itu tampak saling memandang tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Mereka juga tampak saling melemparkan pandangan yang cukup membuat orang-orang di sana ketakutan.
Bersambung ....