Kepala koki Lin dan pelayan itu di seret menuju ruang eksekusi. Mereka bahkan tidak melawan atau memberontak untuk melawan dua pria berbadan kekar itu.
Karena mereka paham, bahwa mereka memang melakukan kesalahan yang sangat besar. Kepala koki Lin merasa sudah sangat gagal untuk memenuhi janjinya pada Lucas Amarta, pria penyelamatan yang sangat mereka hormati.
Ketika mereka sampai di lantai dasar markas besar itu, seorang gadis cantik menghadang jalan mereka. Ia membentangkan kedua tangannya di depan dua pengawal itu, wajahnya tampak menyala karena marah.
“Hei! Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menyeret orang sendiri seperti itu? Apa kesalahannya!” erang Alishia seraya menatap tajam ke arah dua orang berbadan kekar itu.
“Minggir, Nona Alishia! Jangan halangi tugas kami!” bentak salah satu dari mereka.
Alishia meniupkan udara ke wajahnya sendiri, rambutnya terlihat ikut terbang karena tertiup anginnya. “Siapa yang memberimu tugas ini? Kepala koki Lin adalah orang yang sangat bertanggung jawab, kenapa dia harus di seret begini! Katakan, b******k!”
“Nona Alishia, kami menghormati Anda karena Anda putri dari orang ketiga yang menempati posisi tertinggi di sini, tapi jika Anda menghalangi apa yang kami lakukan atas perintah Tuan Vans, maka posisi ayahmu pun tidak akan bisa membuat kami diam!” pekiknya.
“b******k! Mana mungkin Kak Vans melakukan hal seperti ini! Kalian pasti salah paham,” ujarnya dengan posisi masih menghalangi jalan mereka.
Vans tersenyum di kejauhan, ia merasa rencana yang dirancangnya sudah berjalan dengan lancar. Ia pura-pura menjadi sangat kejam di hadapan Alishia agar bisa semakin membuat emosi gadis itu memuncak.
“Ada apa ini? Kenapa kalian masih di sini?” Vans berkacak pinggang seraya menyunggingkan senyumnya yang menakutkan.
“Kak Vans, kenapa kamu mau meminta mereka untuk menyeret kepala koki sepeti ini?” Alishia mengalihkan pandangannya ke arah pria yang baru saja bicara dengan dingin pada mereka.
“Alishia, jadi kamu menghalangi mereka?” tanya Vans, pria berwajah dingin itu melangkahkan kakinya mendekati gadis mungil yang sangat menghormatinya itu.
“Kak!” erang Alishia.
“Kenapa? Alis? Jangan membuatku marah padamu,” pintanya seraya menarik tubuh gadis itu agar tidak menghalangi jalan mereka.
“Kenapa kamu membawa mereka ke ruang eksekusi? Apa kesalahan yang mereka lakukan?” berang Alishia seraya mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke arah wajah Vans.
Namun, Alishia kembali menghempaskan tangannya ke bawah. Karena mengingat posisi Vans lebih tinggi dari ayahnya, gadis itu merajuk ia memalingkan wajahnya dari pandangannya pada Vans.
“Katakan padaku apa kesalahan mereka?” tanya Alishia tanpa memandang ke arahnya.
“Gadis tengil!” Vans menepuk bahu Alishia dan membuat gadis itu sedikit menoleh padanya, “kau tahu dalam hidupku aku tidak pernah menjadi kejam kecuali pada mereka yang melakukan kesalahan. Mereka telah melakukan kesalahan dengan mengingkari janji mereka pada Bos besar, dan kesalahan itu tidak bisa ditoleransi olehku,” sambungnya dengan nada sedikit melunak.
“Lalu apa kesalahan mereka?” tanya Alishia.
“Mereka menyajikan makanan yang membuat Tuan muda merasa jijik dan enggan untuk memakannya,” timpal Vans seraya menyeringai licik.
“Siapa? Tuan muda?” tanya Alishia.
Gadis itu baru kembali lagi dari Amerika, ia ditugaskan untuk mempelajari pemrograman teknologi terbaru di sana. Ia belum tahu tentang keberadaan Reyhan dan juga tentang kematian Bos besar yang sangat disayanginya.
“Pemilik tahta The King selanjutnya,” ujar Vans.
“A–apa?” Alishia terbelalak. Ia kembali teringat ucapan Bos besarnya yang mengatakan akan mempertemukannya dengan putra tunggalnya jika memang dia sudah siap untuk mengambil alih tahta atau ketika dia sudah mati dalam peperangan.
“Bos sudah tiada,” ujar Vans dingin. Ia bahkan harus menahan dadanya yang terasa sesak karena ucapannya sendiri.
“Bo–bos? Dia pergi?” tanya Alishia masih dalam kondisi tidak percaya.
“Ya, saat Bos memintamu untuk pergi ke Amerika, di saat itu dia sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang, kematiannya adalah sebuah pengorbanan besar untuk kita. Jadi, bagaimana bisa aku membiarkan satu kesalahan pun terjadi dalam misiku menjadikannya pengganti bos besar.” Vans sengaja mengaduk-aduk emosi Alishia, dia adalah gadis yang cukup keras kepala dan sangat pemarah. Ia tidak akan pernah bisa menerima satu tindakan yang menurutnya kurang adil.
“Di mana bocah itu sekarang?” tanya Alishia seraya mencengkeram erat tangan Vans.
“Kau mau apa?” tanya Vans.
“Aku akan membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya ini bukan hal yang patut dilakukan calon pemimpin. Dia bahkan tega membuat orang-orang yang setia padanya mati begitu saja!” erangnya seraya berlari kecil menuju tangga yang akan membawanya ke lantai dua.
Vans bersedekap, matanya menatap lekat tiap langkah kaki Alishia. Ia tahu bahwa sesuatu yang besar akan terjadi di sana, karena saat ini Alishia benar-benar kehilangan akal sehatnya karena terlalu emosi.
“Maafkan aku, Tuan muda, tapi saat ini kamu harus belajar untuk mengubah dirimu. Dari seorang yang dijaga menjadi seseorang yang mampu menjaga, kami hanya bisa mengandalkanmu untuk melanjutkan tahta ini,” ujarnya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju ruang eksekusi.
*
Alishia berjalan dengan sangat cepat, ketika ia ya sampai di lantai dua. Matanya menyapu seluruh ruangan di sana untuk mencari tahu keberadaan Tuan mudanya.
Ia kembali melangkah dan mencari keberadaan Reyhan. Kakinya terhenti ketika melihat ruang rawat yang dijaga ketat oleh dua pengawal yang membawa senapan laras panjang.
Gadis itu mengepalkan tangannya, lalu berjalan mendekati mereka. Ia menatap dua pengawal itu dengan tajam seperti seekor singa yang tengah mengamati mangsanya.
“Di mana bocah sialan itu?” tanya Alishia pada dua orang pengawal itu.
“Siapa yang Anda maksud?” tanya salah satu dari mereka dengan wajah datarnya.
“Buka pintu!” titahnya.
“Maaf, Nona Anda tidak berhak memerintah kami!” pekik salah satu dari pria berbadan kekar itu.
Suara keributan itu membuat Reyhan terkejut. Ia menekuk kedua kakinya yang selonjoran tadi, lalu memeluknya dengan sangat erat. Peluhnya bahkan menetes deras membasahi seluruh tubuhnya.
“Buka!” teriak Alishia.
Namun, pintu tidak kunjung dibuka oleh kedua pengawal itu. Gadis itu semakin berang, ia mengepalkan tangannya dan mulai melayangkan tinju pada kedua pria berbadan kekar itu.
Kedua pria itu tampak bergeming, walaupun tinjauan Alishia terasa sangat menyakitkan. Mereka bahkan membiarkan Alishia menyiksa tubuh mereka sepuas hatinya.
Tendangan keras di kaki mereka membuat tubuh mereka sedikit membungkuk, tetapi mereka kembali berdiri tegak dan menahan semua yang dilakukan oleh Alishia tanpa melawan.
“Kalian ingin mati di tanganku? Hah!” pekik Alishia.
Gadis itu mengeluarkan senjata api kecil yang ada di belakang punggungnya. Ia menarik penutup geser senjatanya ke belakang, lalu memutar tubuhnya ke arah samping dari senjata, sambil terus menjaganya tetap mengarah ke bawah. Setelah pin senjata terkunci ia mengarahkan senjata itu ke kepala mereka, gadis itu tampak benar-benar marah hingga kehilangan akal sehatnya.
Mendengar suara gesekan senjata yang siap untuk ditembakkan, Reyhan bergegas turun dari ranjangnya dan berlari ke arah pintu, ia menarik hendel pintu untuk membukanya.
Pintu itu pun terbuka, Alishia dan Reyhan saling menatap satu sama lain. Mata biru milik Reyhan tampak basah karena rasa khawatirnya, ia menatap lekat ke arah wanita yang memiliki manik mata berwarna coklat tua dengan bola matanya yang berwarna kemerahan karena amarahnya.
Alishia menatap ke arah Reyhan tanpa berkedip, tangannya masih terangkat dengan senjata yang siap untuk di ledakkan ke arah depannya.
“Jangan melukai siapa pun lagi karenaku.” Reyhan bicara dengan sangat lirih, air matanya pun tiba-tiba saja jatuh membasahi pipinya.
Bersambung ....