Dua jam setelah pembicaraan dengan Vans selesai, Reyhan masih bergeming di posisinya. Ia terus termenung karena ucapan yang Vans katakan tadi. Reyhan tumbuh dengan sangat baik, ia memiliki segala kerendahan hati dan rasa empati yang besar terhadap banyak hal di sekitarnya.
Balas dendam adalah hal yang paling dibencinya, walaupun ia tahu kenyataan sekarang. Bahwa kematian ayah dan ibunya di sebabkan oleh kelicikan pamannya, hatinya masih belum begitu yakin untuk mempercayai semua hal itu dengan pasti.
“Vans ... dia pasti hanya berbual,” ujarnya lirih. Pupil matanya terpejam, tapi bulir bening air matanya jatuh tanpa disadari olehnya. “Jika semua itu benar, apa dengan balas dendam atas apa yang dilakukan Paman Abimanyu itu bisa membuat semua yang terjadi kembali seperti dulu lagi? Apakah kedua orang tuaku bisa kembali hidup dan memelukku?” tanyanya sendiri, rahangnya mengeras dengan bibir yang bergetar hebat. Ia kembali membuka matanya dan menatap ke arah jendela yang masih terbuka lebar.
“Paman kenapa kamu sejahat itu pada kedua orang tuaku? Apa yang kurang dari semua hal yang ayahku lakukan untukmu dan keluargamu? Lalu kenapa ayah merahasiakan kematian ibuku, jika penyebabnya benar-benar Paman Abimanyu, kenapa ayah tetap memintaku untuk menghormatinya?” Reyhan mulai bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke dalam kepalanya. Ia bahkan merasakan bahwa kepalanya kembali terasa nyeri setelah beberapa pertanyaan berat itu muncul di sana.
Reyhan mencoba untuk turun dari ranjangnya, ia sangat penasaran dengan suara tembakan yang keras yang terdengar di sana. Rasa penasaran menarik tubuhnya untuk berjalan pelan dan mengintip semua di balik jendela ruang rawat itu.
Matanya membelalak melihat bahwa banyak orang dengan pakaian serba hitam tengah melakukan latihan menembak. Senapan Laras panjang yang mereka gunakan bahkan terlihat sangat menakutkan, dan membuat tubuh bocah kecil itu menggigil seketika.
“Lihatlah, bagaimana aku bisa bergabung dengan mereka? Menjadi bagian dari mereka yang memang memiliki hobby membunuh dan berperilaku kasar, aku yakin bahwa sudah banyak nyawa yang melayang karena senapan itu!” tukasnya sendiri seraya kembali berjalan menuju ranjangnya.
Reyhan merasa sangat kacau, banyak bayangan buruk tentang kelompok mafia yang ditinggalkan ayahnya itu. Ia berpikir bahwa hidup mereka hanya digunakan untuk menyakiti dan melenyapkan banyak nyawa tanpa alasan.
Namun, ia pun tidak bisa melakukan apa pun yang bisa membuktikan semua pemikirannya tersebut. Reyhan tampak sangat takut berada di tempat itu, ia berpikir bahwa bisa saja nyawanya sekarang sedang dalam bahaya.
“Bagaimana ayah bisa memintaku untuk bergabung dengan mereka? Orang-orang yang bahkan tidak memiliki nurani dan akal yang baik dalam hidupnya!” protes Reyhan dengan kedua tangannya saling meremas satu sama lain.
Reyhan berhenti berbicara dan berasumsi berlebihan. Karena semua yang dipikirkannya dan juga diucapkannya hanya membuat jantungnya berdetak kencang dan membuat kepalanya terasa semakin sakit.
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu membuat suasana hening seketika menghilang. Ada getaran ketakutan tentang apa yang ada di balik pintu, Reyhan tidak bisa menyahuti orang yang tengah menunggunya di luar karena rasa curiganya terhadap apa yang akan mereka lakukan padanya.
Karena Reyhan tidak menyahut untuk membiarkannya masuk, orang yang tengah menunggu itu pun meminta dua penjaga yang menjaga pintu ruang rawat Reyhan agar membuka pintu untuknya.
Akhirnya pintu ruangan itu terbuka, seorang dengan pakaian koki yang serba putih dan satu pelayan yang membawa nampan berisi makanan untuknya, menjadi titik fokus mata Reyhan saat ini. Pupilnya matanya tidak berhenti menatap ke arah orang itu sampai dia benar-benar berdiri di hadapannya.
“Selamat siang, Tuan muda.” Koki itu menunduk kecil ke arah Reyhan. Ia melakukan itu untuk menghormati Reyhan yang memang menjadi penerus tahta The King selanjutnya, “bagaimana perasaan Anda?” tanyanya dengan sangat sopan.
“Ak–aku baik-baik saja,” jawabnya dengan gemetar ketakutan.
“Perkenalan nama saya, Lin Fei. Anda bisa memanggil saya dengan sebutan kepala koki Lin. Di sini saya yang membuat makanan untuk semua orang, dan kali ini saya membuat sup kepala ikan tuna untuk memulihkan kembali kondisi Anda yang kurang baik,” tuturnya sopan seraya menunjuk ke arah nampan yang diletakkan pelayan itu di nakas kecil di sebelah ranjangnya.
“Aku tidak mau makan! Bawa kembali makanan itu pergi!” titahnya seraya memalingkan pandangannya ke arah lain.
Bagaimana bisa aku percaya bahwa di dalam sana tidak ada racun yang bisa membunuhku, mungkin saja setelah aku memakannya aku akan mati, batinnya lirih.
Pada saat ini Reyhan tidak berniat untuk mempercayai siapa pun. Walaupun, kepala koki Lin sangat ramah padanya, tetapi dalam hatinya masih terbesit banyak prasangka buruk tentang orang-orang di markas The King.
Kepala koki Lin bertekuk lutut di lantai. Hal itu diikuti oleh pelayan yang tadi membawa makanan untuk Reyhan, mereka berdua tampak tengah memohon ampunan pada Reyhan.
“Tuan muda, saya mohon ampun jika memang apa yang saya buat tidak menggugah selera Anda, saya pantas dihukum atas apa yang saya lakukan,” ujar kepala koki Lin seraya menundukkan kepalanya.
Mendengar itu Reyhan kembali menatap ke arah mereka, ia terkejut karena dua pria yang tadi berdiri di hadapan. Kini telah bertekuk lutut di bawah ranjangnya.
“A–apa yang kalian lakukan?” tanya Reyhan dengan wajah sedikit merasa bersalah. Ia bahkan tidak bilang jika apa yang dibuat kepala koki Lin tidak menggugah seleranya. Bahkan yang sebenarnya, di saat masuk tadi pun aroma makanan itu sudah membuat air liurnya hampir saja menetes dari mulutnya.
“Baguslah kalau kamu sadar diri!” Vans yang baru saja masuk ke dalam kamar membuat dua orang yang tengah bertekuk lutut itu membeku seketika.
“Sekali lagi, maafkan kami, Tuan. Di sini saya akan bertanggung jawab atas apa yang membuat Anda tidak suka,” ujar Kelapa koki Lin seraya bersujud pada Reyhan.
“Hey! Vans, apa yang kamu lakukan? Kenapa mereka menjadi seperti ini saat kamu masuk?” tanya Reyhan dengan tatapan tajam ke arah Vans.
“Aku sudah bilang, aku hanya bisa melakukan apa yang harus aku lakukan. Karena bahkan mereka juga sudah tahu konsekuensi dari hal ini,” ujar Vans dingin.
“Kami siap dihukum,” ujar kedua pria itu bersamaan.
“Tentu saja, aku akan menghukum kalian!” pekik Vans.
Vans melirik dua pengawal yang ada di sampingnya untuk menyeret kepala koki Lin dan pelayan itu menuju ruang eksekusi. Kedua pengawal itu mengangguk mengerti, mereka berdua berjalan seraya menodongkan senjata ke arah kepala koki Lin dan pelayan itu.
Tangan kuat pengawal itu mencengkeram kuat kerah baju keduanya. Hingga tubuh mereka berdiri dengan terhuyung dari posisinya. Tanpa rasa iba kedua pengawal itu menyeret mereka keluar dari ruangan dengan sangat kasar.
“Anda harus tahu, Tuan. Penolakan Anda terhadap apa yang dilakukan mereka membuat nyawa mereka melayang begitu saja, Anda bisa egois seperti ini. Karena Anda berhak, tapi jangan salahkan aku jika nyawa mereka menjadi taruhannya.” Vans menyeringai licik.
Reyhan menatapnya geram, rahangnya mengeras dengan wajah yang bergetar hebat karena rasa kesalnya. Bahkan Vans benar-benar bisa melakukan apa pun untuk memuaskan keinginannya, dan membunuh adalah hal kecil di matanya.
Bersambung ....