Tubuh Reyhan terlentang di atas ranjang, beberapa orang dokter khusus yang berada di markas besar terus mengawasi dirinya dengan segala kemampuan yang mereka miliki untuk membuat Reyhan segera sadar. Namun, tubuh Reyhan begitu lemah hingga ketika efek obat bius itu habis, ia masih belum sadarkan diri.
“Apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian dokter ahli?” tanya Vans dengan nada tinggi. Ia sangat marah karena Reyhan belum juga sadarkan diri. Reyhan adalah hal terpenting yang dititipkan kepadanya wajar saja jika Vans sangat panik ketika mendapati calon raja mafia selanjutnya masih dalam kondisi kurang baik.
Ketiga dokter yang kini tertunduk di hadapan Vans hanya bisa berharap Reyhan segera sadar. Karena jika tidak, nyawa mereka pasti dalam masalah besar.
“Kalian sudah siap mati?” tanya Vans. “Jika dalam satu jam dia belum juga sadarkan diri, maka aku terpaksa membunuh kalian dan menyajikan tubuh kalian sebagai makanan buaya piaraan markas ini!” erang Vans yang berlalu meninggalkan ruang rawat Reyhan.
Tidak lama setelah Vans pergi, ketiga dokter itu mendengar suara gumaman yang Reyhan keluarkan. Pria yang sedari tadi ditunggu kesadaran kini terlihat sedikit demi sedikit membuka matanya.
Reyhan menyentuh bagian kepalanya yang terasa sangat berat, netranya berkeliling menatap ke segala arah tempatnya kini terbaring dengan tangan masih menyentuh bagian kepalanya.
“Di ma–mana aku?” tanya Reyhan lirih dengan sedikit tergagap.
“Tuan muda, Anda sekarang ada di markas besar milik kelompok mafia The King yang dipimpin oleh bos besar.” Seorang dokter menjelaskan dengan nada sangat sopan.
“Siapa bos besar?” tanya Reyhan.
“Ayah, Anda! Tuan Paul Luis Andersson atau yang Anda kenal sebagai Lucas Amarta,” jawab salah seorang dokter yang kini menyentuh bagian kepalanya. “Apa ini sangat sakit?” lanjutnya bertanya.
“Jadi Ayahku seorang mafia?” tanya Reyhan.
“Bukan hanya seorang mafia, tapi dia adalah the King of mafia!” Vans berdiri di ujung pintu ruangan itu dengan memasang sorot mata dinginnya. Kakinya melangkah mendekati ranjang tempat Reyhan terbaring.
Melihat Vans datang mendekati tiga dokter yang berada di sana memilih untuk bergeming di tempatnya. Mereka bahkan sangat ketakutan hingga tubuh mereka sedikit membeku.
“Kalian masih selamat! Ternyata dia sadar lebih awal dari batas waktu yang aku tentukan.” Vans menepuk bahu salah satu dokter yang berada dekat dengannya.
Reyhan menatap tajam ke arah Vans. Karena melihat kehadiran sangat mengintimidasi ketiga dokter yang tadi merawatnya. “Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu sedang mengancam?”
“Ini bukan ancaman, melainkan sebuah tuntutan dari apa yang mereka kerjakan.” Vans mengangkat satu sudut bibirnya, “mereka beruntung karena Anda sadar lebih awal dari waktu yang sudah mereka janjikan. Jika saja tidak, maka kepala mereka akan putus dan tubuh mereka akan menjadi santapan buaya piaraan markas ini!” lanjutnya mempertegas bahwa mereka memang harus memenuhi kewajiban yang sudah mereka janjikan kepada Raja mafia yang kini telah meninggal dunia. Walau begitu, mereka tetap memiliki kewajiban untuk melindungi dan memastikan Reyhan baik-baik saja.
“Kau jahat sekali!” pekik Reyhan yang menatap Vans dengan sorot mata tidak suka.
“Ini kewajiban saya,” ujar Vans dingin. Ia memerintahkan ketiga dokter itu pergi dengan ujung matanya. Mereka semua mengangguk, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Apa maumu?” tanya Reyhan.
Vans duduk di ujung ranjang tempat Reyhan terlentang. “Bagaimana perasaan Anda?”
“Kenapa kau bertanya?” Reyhan memalingkan wajahnya dari satu sudut yang memperlihatkan wajah Vans secara langsung.
“Aku hanya harus memastikan Anda baik-baik saja, sesuai dengan janji saya pada Tuan besar.” Vans bicara apa adanya, walaupun Reyhan tidak terima.
“Jadi ini sudah direncanakan ayahku?” tanya Reyhan.
“Ya, untuk melindungi Anda, dia bersedia melakukan apa pun. Termasuk mati seperti yang dilakukannya,” lanjutnya.
Reyhan kembali menatap Vans, ia sangat geram dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh tangan kanan ayahnya itu. “Kenapa dia harus mati demi diriku? Bahkan aku hanya bocah kecil yang tidak memiliki musuh!”
“Anda sekarang memang tidak memiliki musuh, hanya banyak orang yang menginginkan nyawa Anda karena darah yang mengalir ditubuh Anda membuat musuh itu datang tanpa di pinta!” Vans kembali bangkit dan berjalan mendekati jendela yang terbuka, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku–celananya. “Anda adalah satu-satunya keturunan raja mafia yang berhak mendapatkan tahta selanjutnya, sedangkan musuh Anda adalah musuh yang dimiliki oleh ayah Anda, Raja mafia yang dulu memimpin kami,” lanjutnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Reyhan.
“Anda hanya perlu tumbuh menjadi apa yang diinginkan ayah Anda, untuk membalaskan dendam atas apa yang dilakukan musuhnya,” jawab Vans tanpa menoleh ke arah Reyhan.
“Tidak! Balas dendam adalah hal yang tidak terpuji!” tukas Reyhan. Ia memang tumbuh dengan dasar pemikiran yang baik, hatinya bahkan tidak memiliki rasa dengki terhadap orang lain.
“Ini bukan pilihan melainkan kewajiban yang memang harus dipenuhi oleh Anda!” bentak Vans.
“Aku tidak ingin menjadi pria b******k seperti kalian, aku akan kembali ke rumah dan tinggal kembali bersama Paman Abimanyu!” tegasnya.
“Hahahahaha.” Vans tertawa renyah membuat tubuh Reyhan membeku seketika, ”apa kau yakin? Anda ingin kembali tinggal dengan orang-orang yang telah membuat kedua orang tua Anda mati?” tanyanya.
“Apa maksudmu?” tanya Reyhan.
“Apa Anda tahu kenapa ibu Anda mati setelah melahirkan Anda?” tanya Vans.
“Kata Kakek, dia mengalami pendarah hebat!” serunya.
“Kenyataannya bukan begitu! Ibu Anda mati karena menyelamatkan nyawa Anda yang hampir saja dibunuh Abimanyu!” pekiknya seraya menatap lekat Reyhan dari kejauhan.
“Apa? Ibuku meninggal karena ….” Kata-katanya terhenti, matanya membulat sempurna dengan bibir bergetar hebat.
“Dan apa Anda tidak ingin tahu alasan ayah Anda melakukan bom bunuh diri?” tanya Vans.
Reyhan hanya menatapnya lekat tanpa menjawab ucapannya.
“Dia juga tidak memiliki pilihan lain, jika dia memilih bertarung saat itu, dia khawatir kalau nyawa Anda dalam bahaya, Paman yang sangat Anda hormati telah bersekutu dengan musuhnya untuk melenyapkan kalian dan memutuskan darah mafia yang akan mewarisi tahta selanjutnya!” jelas Vans dengan wajah dingin.
“Aku tidak percaya! Paman Abimanyu sangat menyayangiku, juga sangat menghormati ayahku!” seru Reyhan.
“Terserah apa kata Anda, saya hanya memiliki kewajiban untuk melindungi dan memastikan kamu tumbuh seperti apa yang Tuan Lucas perintahkan.” Vans melengos pergi meninggalkan Reyhan, pria itu tampak sangat paham kondisi Reyhan dia memilih untuk membiarkan Reyhan merenung sejenak.
Perlahan Reyhan mengangkat kepalanya yang masih sangat berat, lalu menyandarkan tubuhnya di ujung ranjang. Ia memejamkan matanya untuk beberapa saat. Kemudian kembali membukanya dan menatap lekat pada jendela kamar yang terbuka. Angin segar masuk melewati besi-besi yang menghalangi jendela.
Reyhan hanya bisa termenung memikirkan sejenak apa yang baru saja didengarnya. Banyak prasangka buruk tentang Vans, tapi sorot mata pria itu tidak terlihat bercanda atau pun hanya berbual. Hal itu membuat Reyhan sedikit mempercayainya.
Bersambung ….