Semua anggota kelompok mafia musuh sudah mengepung rumah mension, Lucas sangat bahagia karena semua terjadi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan olehnya. Sekarang Lucas tengah di kepung oleh ratusan mafia sekutu yang mengitari dirinya dengan senjata lengkap yang mereka bawa. Sedangkan Lucas sendiri hanya duduk bergeming di atas kursi tanpa membawa satu senjata pun. Bahkan tanpa adanya pengawal yang bisa membantunya melawan musuh.
“Hahahaha, jadi hanya segitu anggotamu?” Pria berkulit hitam tertawa renyah dengan senjata api yang diarahkan pada Lucas, “semua anggotamu sudah mati. Sekarang adalah giliranmu,” lanjutnya seraya menyeringai licik.
“Kenapa terburu-buru?” tanya Lucas dingin.
“Terburu-buru? Aku sudah menunggumu selama delapan belas tahun! Apa itu masih terburu-buru?” tanya Arthur yang sekarang berjalan mendekati Lucas yang masih duduk santai di kursinya.
“Arthur, kita dulu adalah sahabat baik. Tidak di sangka sekarang menjadi musuh bebuyutan seperti ini.” Lucas berdiri menatap lekat pria berkulit hitam yang ada di hadapannya, “kenapa kau begitu bodoh? Padahal jelas-jelas kau bisa lebih baik dariku tanpa harus terus mengusik ketenangan kelompokku, kau bisa tenang di Amerika dan aku pun tenang di sini, tapi kau ini memang sangat keras kepala hingga selalu berpikir untuk menjadikan lebih tinggi dariku!” erang Lucas.
“Apa kau ingat? Kau yang membuatku begini! Kau dinobatkan sebagai raja mafia, dan kau juga menikahi Jeniffer. Itu adalah dua hal yang paling aku inginkan dalam hidupku, tapi kau tidak bisa memberikannya padaku,” pekik Arthur seraya mengetuk-ngetukkan pistol yang dipegangnya ke kening Lucas, “jika saja delapan belas tahun yang lalu, aku berani menembak kepalamu tanpa memikirkan pertemanan kita, maka akulah raja mafia yang paling dihormati di Amerika,” lanjutnya.
“Hahaha, lalu jadi apa kau sekarang? Masih menjadi kacung yang siap mati karena perintah Albert, bahkan kau berani bertemu denganku seperti ini walau tahu nyawamu tidak akan selamat!” Lucas tertawa geli melihat kebodohan teman lamanya yang masih saja sama seperti dulu. Ia tidak pernah berpikir panjang, dan hanya memikirkan egonya saja. Karena itulah raja mafia, yaitu ayah mertua Lucas memilih untuk menobatkan Lucas menjadi penerusnya.
“Cukup omong kosongmu! Semua anggotaku sudah mengepung mension ini, jadi jangan harap bisa kabur dari sini.” Arthur menyeringai licik, lalu mengarahkan pistol yang di pegangnya ke arah kepala Lucas.
“Sudahlah, aku sudah bilang kau itu adalah manusia terbodoh di muka bumi ini. Berapa pun kekuatan yang kau miliki tetap saja aku yang akan mengalahkanmu, untuk Albert suatu hari nanti dia akan mendapatkan lawan sepadan yang lebih kuat dariku!” tegas Lucas.
“Kau akan mati sekarang tidak akan ada waktu untukmu bisa mengatur orang untuk melawan Tuanku!” tukas Arthur.
Namun, Lucas malah tertawa renyah seraya perlahan membuka kancing kemeja yang dipakainya satu persatu. Ia membuka kemeja itu hingga kancing terakhir yang membuat semua sekutu musuh di hadapannya terkejut, karena melihat bom yang terpasang di tubuh Lucas dengan durasi meledak hanya tinggal 10 detik lagi.
“Lucas kau gila!” Arthur berlari menjauh dari Lucas.
“Sepuluh detik tidak akan cukup untuk melarikan diri, jadi untuk apa kau pergi? Mendekatlah, kita mati bersama-sama sebagai musuh abadi,” ujar Lucas dengan tersenyum lebar.
*
Di dalam hutan Vans sudah melewati titik aman yang ditentukan Bos besarnya. Ia menghentikan langkahnya di seratus meter dari titik aman yang ditentukan.
“Kenapa berhenti di sini?” tanya Reyhan. “Apa orang-orang jahat itu sudah pergi?” tanyanya lagi.
“Berhitunglah mundur dari angka 10!” titah Vans, lalu menurunkan Reyhan yang tadi di gendong di punggungnya.
Semua kelompok mafia yang selamat juga berhenti di sana, mereka berdiri tegak untuk menyaksikan pengorbanan raja mafia yang rela mati demi mereka.
Reyhan menuruti ucapan Vans, ia menghitung mundur dari angka sepuluh. “10 … 9 … 8 … 7 … 6 … 5 … 4 … 3 … 2 … 1 ….”
BOM!
Ledakan yang sangat dahsyat memporak-porandakan semua yang ada di hadapan Reyhan. Gumpalan asap tebal membuat suasana menjadi sangat menakutkan baginya, matanya menyaksikan sendiri apa yang terjadi. Bahkan burung-burung yang berada di atas pohon tempat mereka berdiri pun beterbangan menjauh karena takut. Tanah yang mereka injak sedikit bergetar saking kuatnya ledakan di hadapannya.
“Ayah!” teriak Reyhan dengan mata berkaca-kaca. “Ayah! b******k kau! Di mana ayahku sialan!” seru Reyhan seraya menarik-narik baju yang dipakai Vans.
Vans meringis karena Reyhan mencengkeram kuat tangannya yang tadi terluka karena tertembak musuh. “Ah!”
“Kenapa kalian diam! Di mana ayahku!” seru Reyhan dengan air mata yang berhamburan keluar dari matanya.
Reyhan berlari ke arah reruntuhan, tapi Vans menahannya, ia menarik paksa Reyhan ke titik aman. Karena walaupun sudah tidak meledak lagi, bisa saja pohon-pohon di sana tumbang dan menimpa tubuh bocah kecil itu.
“Apa yang kau lakukan! Di sana sangat berbahaya!” seru Vans dengan mata menyala seakan meluapkan semua amarahnya pada bocah kecil di hadapannya. “Berhentilah bersikap bodoh, kau melihat sendiri bagaimana dahsyatnya ledakan tadi. Apa kau pikir akan ada nyawa yang masih selamat?” lanjutnya dengan memberikan pertanyaan yang membuat Reyhan semakin geram.
“Kau tega sekali berkata seperti itu! Bukankah selama ini ayahku yang merawatmu? Yang memberikan kasih sayang tulus padamu, dia bilang sudah menganggapmu sebagai adiknya dan memintaku untuk menjadikan dirimu sebagai pamanku, tapi inikah balasan yang kau berikan padanya?” tanya Reyhan.
“Ya, kau benar aku memilih hutang budi pada ayahmu. Andai saja dia bersedia menukar nyawanya dengan nyawaku, maka aku tidak akan menolak untuk mati demi dirinya!” tegas Vans, karena memang benar dia menawarkan diri untuk mati demi Lucas. Namun, Lucas bukanlah orang yang egois, ia lebih memilih mati demi mereka dari pada membuat mereka mati demi dirinya.
“Penipu!” teriak Reyhan.
Sebuah helikopter besar mendarat tidak jauh dari lokasi mereka, Vans menunjuk seseorang dengan ekor matanya. Mengisyaratkan untuk melakukan hal yang sudah direncanakan sejak awal. Orang itu mengerti dan perlahan mendekati Reyhan, lalu berdiri tepat di belakang Reyhan. Tangannya memegang sebuah saputangan yang sudah di olesi oleh obat bius.
Pria itu memeluk Reyhan dari belakang hingga membuat Reyhan tidak bisa berkutik dan pingsan seketika setelah ditempelkan obat bius ke bagian mulut dan hidungnya.
“Naikkan dia ke helikopter!” titah Vans.
Pria bertubuh besar itu melakukan apa yang Vans katakan, ia menggendong tubuh mungil Reyhan masuk ke dalam helikopter. Diikuti oleh Vans yang berjalan pelan mengikuti mereka.
Vans duduk tepat di sebelah Reyhan, ia menatap nanar wajah putra dari lelaki yang paling dihormatinya. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala Reyhan dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan aku,” ujarnya lirih.
Seorang pilot yang pilot yang membawa helikopter memberikan kode bahwa helikopter akan segera terbang. Vans mengangguk dan meminta beberapa kelompok mafia yang ada di bawah helikopter ikut naik dan sebagainya lagi diminta untuk menunggu helikopter lain datang.
Bersambung ….