“Ayah, kita mau ke mana?” Reyhan tampak sangat heran. Setelah perjalanan jauhnya dengan naik pesawat tadi. Lucas membawanya naik ke atas kapal feri, Reyhan juga sangat ketakutan karena melihat banyak pria berbaju serba hitam dengan membawa senjata api laras panjang yang lalu lalang di tempat mereka duduk selama perjalanan menuju ke tujuan.
“Ayah akan mengajakmu ke tempat yang tidak pernah kamu singgahi untuk terakhir kalinya.” Lucas tersenyum getir seraya menatap lekat putranya yang terlihat mengerutkan dahinya.
“Memangnya kalau sudah ke sini, Ayah tidak akan mengajakku lagi berlibur?” tanya Reyhan.
“Ayah tidak tahu, hanya kali ini akan menjadi liburan paling berkesan untuk kau kenang seumur hidupmu, Nak.” Lucas menahan air matanya agar tidak terjatuh.
“Sungguh? Tempat apa yang akan kita kunjungi?” tanya Reyhan penasaran.
“Tempat luar biasa, di mana kau akan melihat sisi lain dari ayahmu ini,” ujar Lucas seraya tersenyum kecil.
Reyhan ikut tersenyum, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi di tempat itu. Namun, sebagai seorang bocah kecil, ia hanya bisa mengikuti apa yang ayahnya katakan. Terlebih Lucas adalah orang tua tunggal yang sudah merawatnya sejak ibunya meninggal dunia.
Vans datang ke ruangan yang ditinggali oleh Lucas dan Reyhan. Ia berbisik sesuatu ke telinga Lucas yang membuat pria itu bergegas keluar meninggalkan Reyhan sendiri.
“Ayah, mau ke mana?” tanya Reyhan, tapi Reyhan tidak mendapatkan jawaban. Lucas pergi begitu saja tanpa menjawab.
*
Di sebuah ruangan yang agak jauh dari tempat Reyhan berada, Lucas dan sekelompok mafia yang di pimpinannya melihat pergerakan musuh yang sudah mulai mengikuti mereka menuju lokasi. Perbedaan keberangkatan feri yang musuh naiki sekitar tiga jam lamanya. Mereka sengaja membiarkan musuh memasang alat pelacak di feri yang mereka tumpangi untuk menjebak mereka.
“Vans, apa pun yang terjadi aku harap kau bisa menjaga putraku dengan baik. Buat dia menjadi seorang mafia sejati. Biar semua pengorbananku untuk hidupnya menjadi bukti kasih sayangku yang tulus untuknya juga untuk kalian semua.” Lucas menepuk bahu Vans dan menatap nanar ke arah kelompok mafia yang ada di ruangan itu.
“Tapi, Tuan! Kenapa harus Anda yang berkorban? Aku bisa berkorban untuk Anda.” Vans sangat terpukul dengan keputusan yang diambil Lucas. Namun, Lucas bukan orang egois yang akan membiarkan anggotanya terluka untuknya.
“Vans, anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku pada kalian. Dengarkan aku! Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh yang akan mengubah semua rencanaku, aku akan tetap melakukan apa yang sudah kita rencanakan dari awal!” tegas Lucas pada semua orang.
Semua orang hanya bisa menundukkan kepalanya, hari ini mungkin hari terakhir di mana mereka bisa melihat dengan jelas pimpinan terbaik yang pernah mereka miliki selama bergabung dengan kelompok mafia The King.
Kapal feri kini telah memasuki sebuah muara yang tenang. Dengan di suguhkan hutan belantara di sepanjang sisi aliran muara tersebut. Perjalanan ini cukup jauh dan melelahkan, tapi mereka harus tetap siap karena hanya memiliki waktu tiga jam untuk bisa mengeksekusi rencana mereka dengan matang.
Setelah hampir sampai di tujuan mereka, Lucas kembali ke tempat di mana Reyhan berada. Bola matanya menyala ketika melihat putranya tengah terlelap dalam tidurnya.
“Walaupun aku akan menghadapi kematian, rasanya begitu tenang ketika melihat wajah polos putraku yang tertidur pulas sepeti itu. Aku harap semua rencanaku berjalan sempurna, aku tahu dia akan marah padaku, tapi semua ini hanya untuk melihatnya tumbuh dewasa dan menjadi pria kuat seperti keinginan kakek dan ibunya.” Lucas melangkah kakinya mendekati bocah yang kini tengah terlelap itu. Ia mengusap lembut pucuk kepala putranya hingga membuat bocah itu menggeliat.
“Ayah?” Reyhan tersenyum kecil melihat ayahnya sudah berada di hadapannya lagi. “Ayah pergi begitu lama, aku menunggumu sampai ketiduran!” protes bocah itu.
“Ayah pergi hanya untuk memastikan, kamu bisa tumbuh dewasa dengan baik. Tanpa mengkhawatirkan apa pun.” Lucas menjawab dengan bahasa yang tidak mudah dipahami oleh putranya.
“Justru jika, Ayah pergi aku akan sangat khawatir!” tegas Reyhan.
Hati bocah itu terlaku lembut untuk tega mengetahui bahwa ayahnya akan mati demi menyelamatkan dirinya. Jadi rencana tersebut disembunyikan oleh Lucas dari dirinya.
“Nak, nanti kamu harus menuruti apa yang dikatakan oleh Paman Vans, hormati dan hargai ucapannya sebagaimana mestinya.” Lucas bangkit dari duduknya ketika feri yang ditumpanginya sudah berhenti. Ia menarik tangan putranya untuk bergegas turun dari kapan feri tersebut.
Mereka turun disambut oleh kelompok mafia The King yang berjajar di sepanjang jalan yang mereka lewati. Reyhan tampak sangat ketakutan, tak kala melihat pria-pria berbadan kekar itu mantapnya dengan datar. Mereka berjalan menuju sebuah mension tua yang cukup besar yang berdiri tepat di dalam hutan belantara.
Lucas menginstruksikan semua orang untuk siap dalam posisinya, lalu meminta Reyhan untuk mengikuti Vans masuk ke dalam mension, Reyhan menuruti semua yang diucapkan ayahnya dan berjalan ke dalam mension mengikuti Vans.
Di dalam mension, Vans memasangkan pelindung anti peluru di tubuh Reyhan, anak ini hanya diam menuruti semua perintah dari pria dingin yang ada di hadapannya. Ia juga meminta Reyhan untuk memegang satu senjata untuk melindungi dirinya ketika dalam bahaya nanti.
Sementara di ruangan lain, Lucas tengah bersiap dengan memasang bom rakitan di tubuhnya dengan bantuan beberapa anggota mafianya. Bom yang kini terpasang di tubuh Lucas memiliki kekuatan yang mampu meledak hingga menghancurkan mension yang kini mereka huni hingga area sekitar dengan mension sejauh satu kilo meter. Bom ini sengaja di rakit Lucas untuk membinasakan musuh bebuyutan yang kini mengincar nyawanya dan juga nyawa putranya. Ia sudah berpikir matang-matang, karena ini satu-satunya cara untuk membuat peperangan ini berakhir singkat.
Bom itu sudah diatur tiga puluh menit dari hitungan mendaratnya feri yang ditumpangi musuhnya. Perjalanan mereka menuju mension sudah di prediksi sekitar sepuluh menit dengan berlari. Itu juga sudah termasuk hitungan detik ketika Reyhan dan Vans berlari menuju ke dalam hutan hingga ke titik aman yang sudah Lucas tentukan bersama sebagian kelompok mafia untuk menyelamatkan diri dari ledakan dahsyat dari bom yang Lucas pasang.
Sesuai tugas yang diberikan Lucas, Vans membawa Reyhan dan sebagian besar kelompok The King untuk berlari ke dalam hutan. Bocah itu masih tidak mempertanyakan apa pun ia hanya mengikuti arahan Vans seperti pesan ayahnya yang meminta dia menuruti semua ucapan Vans.
Namun, semuanya tidak berjalan mulus. Di belakang mereka sekelompok mafia musuh sudah mengejar dan memberikan beberapa tembakan ke arah mereka.
Dor!
Dor!
Reyhan menoleh dan terus berlari cepat mengimbangi pria-pria dewasa yang berlari dengannya. Vans dan beberapa mafia lainnya menghentikan langkahnya dan membalas tembakan dari musuh agar membuat Reyhan menjauh dari bahaya.
Vans membidik satu persatu musuh dengan senapan Laras panjang yang dibawanya. Ia mampu melumpuhkan setengah musuh. Namun, Vans tidak bebas begitu saja, tangannya juga terluka karena tertembak senjata musuh, tapi Vans kembali berlari mengejar Reyhan yang terpenting untuknya adalah keselamatan Reyhan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Bos besar yang sangat dihormatinya.
Suasana semakin genting ketika musuh yang mengejar mereka terus berusaha untuk melukai Reyhan. Namun, kelompok The King yang mengikuti Vans dari belakang membuat musuh takluk dalam sekejap.
Mereka berlari terengah-engah, tapi Vans meminta mereka terus berlari hingga ke titik aman. Yaitu, Seribu meter dari area mension tadi.
Karena sudah mulai lemas, Reyhan terjatuh ke tahan. Lututnya terluka hingga tidak mampu lagi berlari. Vans dengan sigap menggendong bocah itu dipunggungnya. Karena memang sudah tidak banyak waktu tersisa lagi untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Bersambung ....